Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Terlalu Kejam
"Pa! Kamu dari mana saja? Kenapa sampai selarut ini?"
Zoya marah karena perubahan sikap suaminya. Semenjak kejadian di pesta itu membuatnya nyaris tidak pernah memperhatikannya. Wiryo berubah menjadi dingin dan juga angkuh, bahkan sangat jarang sekali mau diajak bicara.
"Dengan menghempaskan tubuhnya di sofa dia menjawab. " Aku mau pulang atau tidak itu nggak ada urusannya sama kamu! Urus aja dirimu sendiri."
Zoya tercengang menatapnya penuh dengan pertanyaan, kenapa suami yang dulu begitu perhatian kini mulai dingin dan ucapannya begitu menyakitkan. Hal apa kiranya yang membuatnya begitu berubah?
"Pa! Kok kamu ngomongnya kayak gitu? Apa salahnya aku mengkhawatirkanmu? Aku kan istrimu, bukan selingkuhanmu?!"
Wiryo menatapnya dingin dengan seringainya. "Iya, kau memang istriku, tapi hasil merebut dari istriku yang terdahulu. Harusnya kau sadar diri akan posisimu. Kau tak lain hanyalah perebut, bukan pemilik!"
"Heh! Jaga ucapanmu!" Wanita itu beranjak dengan tatapan melotot sembari telunjuknya mengarah pada Wiryo. "Bisa-bisanya kau mengatakan seperti itu!" Dia benar-benar termakan emosi oleh ucapan suaminya. "Kalau bukan aku yang membantuku, hidupku masih tetap miskin seperti dulu. Apa kau tidak ingat dengan asal usulmu?"
Tak peduli kalaupun Wiryo marah saat kembali diingatkan pada masa lalunya yang begitu kelam. Bahkan Wiryo sendiri bilang dengan kehidupannya yang begitu memprihatinkan sangatlah banyak orang yang menghinanya.
"Kau datang padaku hanya memakai pakaian satu setel saja, dan itu pun sangat lusuh tidak layak pakai. Sekarang kau sudah memiliki kedudukan sebagai CEO, dan kau bisa bersikap seenaknya sendiri padaku?"
Pria itu menunduk tak bisa menjawabnya. Semua yang dikatakan oleh Zoya memang ada benarnya, dulu dirinya hanyalah laki-laki miskin yang selalu diremehkan, kini ia sudah hidup berkecukupan menjadi pria sukses berdampingan dengan kalangan elite.
Wanita itu bergerak lebih dekat padanya. "Aku tanya sekali lagi padamu. Selarut begini kamu pulang dari mana? Tidak biasanya kamu pergi seenaknya sendiri seperti ini. Atau..., jangan-jangan kamu memiliki selingkuhan di luar sana?"
Wiryo mendongak dengan netranya tajam. "Jangan ngaco kamu! Main tuduh aja!" Dia membantah tak terima dengan tuduhan itu. Tapi gelagatnya cukup membuatnya curiga.
"Aku tidak mengacau! Aku hanya tanya kebenarannya," bantah Zoya. "Bicara saja sejujurnya, karena dengan sikap kamu yang seperti ini justru membuatku tak lagi percaya padamu!"
Pria itu menarik nafasnya penuh tekanan. Otak kecilnya tak lagi mampu menyimpan banyak beban. Mungkin ini sudah waktunya ia memberikan penjelasan meskipun hasilnya tak menjamin akan lebih baik.
"Aku tadi keluar buat menemui pak Hermawan."
Zoya mengerutkan keningnya. "Buat apa? Bukankah pak Hermawan sudah memutuskan rantai kerjasama dengan perusahaan kita?"
Wiryo mengangguk. "Iya, itu benar. Pak Hermawan sudah tidak lagi percaya padaku, dan semua itu terjadi karena ulah keponakanmu!"
Zoya mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Ia diam-diam berpikir, jika saja Maura tidak bertindak ceroboh mungkin hubungannya dengan perusahaan Adijaya grup masih bisa dipertahankan, namun ia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Maura, bahkan saat kejadian itu ia juga ikut andil untuk menyerang anaknya Hermawan.
"Apa yang kau dapatkan setelah bertemu dengan beliau?"
Setelah cukup lama sama-sama diam dia kembali bertanya, masih penasaran obrolan apa yang didapat oleh suaminya setelah menemui orang yang berpengaruh di kotanya.
"Banyak hal yang aku dapatkan, termasuk perceraian."
Bola mata Zoya terbelalak. "Maksudnya?" Mukanya tercengang. "Perceraian siapa?"
Diam. Suasana kembali hening. Sama-sama berkecamuk dengan pikirannya masing-masing.
"Perceraianku dengan istriku."
Deg,, cukup tersinggung saat Wiryo menyebut wanita lain sebagai istrinya.
"Istrimu hanya aku saja Mas Wiryo, tidak ada orang lain," cetusnya geram.
Wiryo menarik ujung bibirnya. "Kamu yakin istriku hanya kamu saja?"
Zoya terdiam. Ia tahu betul siapa wanita yang pernah dinikahi oleh Wiryo, hanya saja ia sudah melupakannya. Bahkan dulu Wiryo sempat mengajaknya dan mengenalkannya pada sosok yang dianggap istri oleh suaminya.
"Tapi kan itu sudah berlalu! Kenapa masih diungkit-ungkit lagi," bantah Zoya kembali buka suara.
"Iya! Kejadian itu memang sudah berlalu," desisnya. "Tapi hingga kini di hatiku hanya ada kata sesal!"
Zoya memicingkan matanya penuh kejengkelan. " Sesal kau bilang? Kenapa baru sekarang kau bilang menyesal? Bahkan setelah perusahaanku nyaris bangkrut kau baru bilang menyesal. Kau benar-benar tidak punya hati! Kau pikir aku ini apa? Ladang uang bagimu? Kau ingin memanfaatkanku hum?"
Perdebatan mereka terdengar begitu keras hingga seisi rumah terbangun. Maura yang tengah terlelap langsung terjaga dan bergerak keluar untuk mencari penyebabnya.
"Aku tidak pernah memanfaatkanmu, Zoya! Kamu sendiri yang selalu mengiming-imingi kedudukan padaku. Kamu bahkan menawarkan kerjasama, jika aku mau menikah denganmu dan mau menjadi ayah dari keponakanmu maka aku akan mendapatkan hadiah besar dari orang tuamu! Di sini kita sama-sama saling menguntungkan. Kau dapat aku.., dan aku dapat jabatan, itu adil kan?"
"Terus kamu maunya gimana?" tanya Zoya dengan wajah kesalnya.
"Aku hanya ingin kamu menjadi istri yang baik sekaligus ibu sambung yang baik buat anakku," tegas Wiryo.
Refleks Zoya mendelik. "Apa kau bilang?" Dia benar-benar terkejut mendengar penjelasan dari suaminya. "Kau ingin aku menjadi ibu dari anakmu?" Wanita itu menggeleng. "Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakui anakmu sebagai anak sambungku! Jangan mimpi kamu!"
"Oh..., jadi seperti itu prinsip kamu? Ya udah nggak apa-apa, kalau kamu memang tidak ingin mengakui anakku sebagai anak sambung kamu, aku tidak keberatan, tapi aku ingin kita berpisah secara baik-baik."
Wajahnya seketika merah padam. Ia yakin suaminya sudah termakan oleh hasutan dari luar hingga membuatnya berubah kejam terhadapnya. "Berpisah? Kau ingin kita bercerai dengan baik-baik?" Seutas senyuman getir mewarnai wajahnya. "Mana ada perpisahan secara baik-baik. Bahkan aku sudah memberikan kepercayaan padamu untuk mengelola perusahaan milik almarhum orang tuaku, dan sekarang kau malah ingin menceraikanku karena aku tidak mau berurusan dengan anak kandungmu?" Zoya tak menyangka suaminya bakalan tega mengkhianatinya. Ia begitu yakin pria itu sudah bertemu kembali dengan mantan istrinya dan dibujuk untuk kembali padanya.
"Seperti yang kukatakan tadi, aku mendapatkan hadiah dari orang tuamu jika kita benar-benar menikah, dan ternyata terbukti kita bisa menikah, itu artinya perusahaan Roya Grup sudah menjadi milikku sepenuhnya. Bukankah itu hadiah yang ayahmu janjikan padaku, Zoya?"
Tangan wanita itu mengepal dan dilayangkan padanya, namun dengan kecepatannya Wiryo menahan serangan mendadak dari istrinya.
"Jangan main-main denganku Zoya!" Wiryo memberikan peringatan pertama untuknya, mungkin itu juga akan menjadi peringatan yang terakhir. "Aku sudah mengikuti apa yang direncanakan oleh keluargamu. Selama ini aku menikahimu hanya demi jabatan, bukan karena keinginan."
Zoya terduduk lemas. Begitu tersayat hatinya. Pria yang selama ini diagungkan ternyata begitu kejam ucapannya.