Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]
Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Ritme Baru
Kepalan tangan berbalut kain kasar itu meluncur. Mengarah lurus ke rahang bawah Fais.
Bau keringat masam bercampur debu matras menabrak indera penciumannya. Barak bawah tanah ini tidak punya sirkulasi udara yang bagus. Tempat ini murni berbau testosteron dan kekerasan mentah.
Fais tidak berkedip. Ia bahkan tidak menarik napas.
Dunia berhenti bernapas.
Detik jam seolah nyangkut di kerongkongan dunia.
Semuanya melambat ke titik nol. Kepalan tangan prajurit bayaran berbadan tegap di depannya itu merayap. Sangat lambat. Udara di sekitarnya mengeras menjadi jeli. Fais bisa melihat butiran keringat terlepas dari pori-pori leher pria itu, melayang tertahan di udara.
Satu detik ditarik paksa. Melar hingga nyaris putus. Fais melihat urat nadi di lengan lawannya menegang. Ia melihat arah rotasi bahu pria itu.
Layar neon biru meledak dalam pandangannya. Tanpa suara. Tanpa ampun.
[Analisis Probabilitas: Serangan mematikan dari arah jam 11. Potensi benturan 98%.]
Dunia mendadak ditarik kembali ke ritme aslinya. Suara dengusan napas kasar kembali memekakkan telinga.
Fais menggeser tumit kirinya mundur sejauh dua sentimeter. Hanya dua sentimeter.
Kepalan tangan itu lewat. Menggesek udara kosong. Angin serangannya mengusap pipi Fais, tapi kulitnya tetap utuh.
Prajurit itu kehilangan pijakan sedetik. Keseimbangannya goyah karena memukul ruang hampa.
Tangan kanan Fais naik. Tidak mengepal. Hanya jari terbuka. Punggung tangannya menghantam titik persendian di leher prajurit itu. Ringan. Presisi sinting. Tidak ada tenaga berlebih.
Bruk.
Prajurit berotot kawat itu rubuh. Lututnya mencium matras lebih dulu, disusul bahunya yang menghantam lantai ubin kusam. Pria itu tersedak ludahnya sendiri, matanya menganga menatap langit-langit beton.
Hening.
Sepi keparat membungkus seluruh barak pelatihan. Dua lusin pria berseragam loreng kotor yang tadinya berdiri melingkar kini mematung.
Mulut mereka tertutup rapat. Tawa meremehkan yang sejak tadi pagi mengudara mendadak lenyap. Ditelan ke dalam perut mereka sendiri.
Awalnya mereka mencemooh. Menganggap Fais hanya bos muda karbitan. Pemuda beruntung yang memegang uang Wawan. Mereka melihat Fais seperti anak bawang yang minta diajari cara memegang pisau.
Itu awalnya. Itu sepuluh menit yang lalu.
Sekarang, tiga orang prajurit veteran terkapar di atas matras. Fais sendirian berdiri di tengah. Napasnya bahkan tidak berubah tempo. Dadanya naik turun dengan ritme konstan.
Wawan berdiri di sudut ruangan. Asap rokok mengepul dari bibirnya yang hitam.
Mata pria paruh baya itu menyala. Mengunci setiap pergerakan Fais. Wawan membuang puntung rokoknya ke lantai dan menginjaknya perlahan.
"Lagi?" Suara Wawan memecah keheningan. Serak.
Fais menoleh. Wajahnya datar. Tidak ada kebanggaan. Tidak ada arogansi.
"Tergantung anak buahmu. Aku masih punya waktu." Fais menjawab pelan. Suaranya tidak bergema, tapi cukup memotong udara barak yang berat.
Wawan terkekeh pelan. Ia melangkah maju. Sepatu botnya berderit bergesekan dengan lantai.
"Mereka pikir kau cuma menang untung, Bos. Makanya mereka beringas. Tapi matamu... kau seperti orang yang sudah lima tahun membunuh orang setiap hari."
Fais diam. Ia tidak membantah.
Kenyataannya memang begitu. Di dalam kepalanya, memori pertempuran berdarah selama lima tahun telah dijejalkan secara paksa. Hadiah misi yang tidak masuk akal. Ototnya memiliki memori. Instingnya dikalibrasi oleh pembantaian virtual yang terasa seratus persen nyata.
Digabungkan dengan fisik yang kini melampaui batas manusia normal. Fais adalah monster yang bersembunyi di balik kulit manusia biasa. Sangat presisi. Sangat mematikan.
Seorang prajurit lain maju. Kali ini badannya lebih kurus, tapi memegang sebilah pisau kayu. Matanya waspada. Pria ini tidak lagi meremehkan.
"Silakan, Anda maju duluan," ucap prajurit itu. Nadanya berubah hormat.
Fais menatap pria itu lurus. Pupil matanya menyempit sesaat.
[Analisis Jejak diaktifkan.]
Garis-garis merah transparan merambat di udara. Keluar dari tubuh prajurit kurus itu. Membentuk bayangan pola gerakan yang belum terjadi. Layar probabilitas mencampur data tersebut. Menghitung ribuan skenario dalam pecahan detik.
Fais melihat titik tumpu lemah di kaki kanan pria itu. Ia melihat ketegangan berlebih di bahu kirinya. Semuanya telanjang di hadapan mata sistemnya.
"Kuda-kudamu cacat," ucap Fais mendadak.
Prajurit itu mengerutkan dahi. "Apa maksud Anda?"
"Kaki kirimu terlalu maju. Kau menaruh semua beban di tumit. Kalau aku menendang lutut kananmu sekarang, tulang rawanmu robek. Kau tidak akan bisa berjalan sebulan."
Prajurit itu menunduk cepat. Wajahnya pucat. Keringat dingin merembes dari pelipisnya. Instingnya mengatakan pemuda di depannya ini tidak sedang menggertak. Pemuda ini melihat rahasia anatominya dengan mata telanjang.
Fais berjalan mendekat. Langkahnya tenang. Aura veteran perang menguar pekat dari pori-porinya. Bau kematian imajiner yang menyesakkan.
Ia menyentuh bahu prajurit itu. Menggeser posturnya.
"Turunkan sikumu. Napasmu terlalu pendek. Kau kehabisan oksigen sebelum pisau ini menyentuh target."
Satu per satu prajurit di ruangan itu maju. Bukan lagi untuk menantang. Tapi untuk dianalisis.
Wawan memerhatikan dari jauh. Rasa hormat di matanya menebal. Ini bukan lagi soal uang miliaran atau jalur logistik. Di dunia bawah tanah, uang bisa dirampas. Tapi keahlian membunuh dan bertahan hidup adalah mata uang yang absolut mutlak. Pemuda ini punya keduanya. Fais bukan sekadar bos finansial. Fais adalah predator puncak.
Sistem probabilitas menyala tanpa henti di retina Fais.
Ia mengoreksi sudut pukulan. Memperbaiki kuda-kuda lemparan pisau. Menggunakan analisis jejak untuk meramal kesalahan anak buah Wawan bahkan sebelum mereka bergerak.
Itu sangat melelahkan otak. Tegangan mental murni. Tapi Fais melakukannya tanpa ekspresi keluhan. Ia butuh bidak catur yang kuat. Makanya ia turun tangan langsung.
Waktu bergulir cepat. Siang membusuk menjadi senja. Senja mati digantikan malam yang pekat.
Barak bawah tanah mulai kosong. Para prajurit beristirahat dengan tubuh memar dan ego yang hancur sekaligus dibangun ulang. Wawan sudah kembali ke markas utamanya.
Fais melangkah keluar dari gudang tersembunyi itu.
Udara malam ibu kota menampar wajahnya. Bau karbon monoksida dan uap selokan mengusir sisa bau keringat matras dari hidungnya.
Jalanan aspal terlihat basah sisa hujan ringan sore tadi. Lampu jalan kuning berkedip lambat di ujung tikungan. Sepi.
Ia tidak langsung memanggil taksi atau berjalan ke stasiun. Ia merapatkan jaket hitamnya. Tudung jaket ditarik menutupi kepala.
Layar neon menyala lagi. Angka digital merah berkedip di pojok matanya.
[Misi Harian: Lari 50 Kilometer. Status: 0/50 km.]
Fais menghela napas panjang. Asap putih keluar dari mulutnya, lebur terbawa angin malam yang dingin.
Tidak ada negosiasi dengan angka itu. Tidak peduli ia baru saja menghajar belasan prajurit bayaran seharian penuh. Sistem meminta tumbal keringat. Sistem meminta pengorbanan fisik.
Kaki kanannya melangkah. Kaki kirinya menyusul.
Awalnya pelan. Ritme jalan cepat. Lalu perlahan mempercepat ketukan. Berubah menjadi lari konstan.
Sepatu ketsnya menghantam aspal berair. Cipratan genangan kotor membasahi ujung celananya. Fais tidak peduli.
Ia berlari menyusuri pinggiran jalan raya raya sepi. Melewati deretan ruko yang tertutup rolling door karatan. Melewati gerombolan anjing liar yang mengais tumpukan sampah plastik.
Angin malam menusuk paru-parunya. Dingin. Tajam. Menggerogoti cadangan oksigennya.
Sepuluh kilometer pertama terlewati. Tubuhnya mulai memanas. Keringat membanjiri punggungnya.
Tiga puluh kilometer. Otot pahanya menjerit meminta istirahat. Fais mematikan rasa sakit itu dengan ketenangan pikiran yang ia pelajari dari simulasi pertempuran. Rasa sakit cuma ilusi sinyal saraf. Tidak lebih.
Ia terus menggerakkan kakinya. Berayun seperti mesin piston tua yang pantang rusak.
Sendirian.
Tidak ada Wawan yang memuji. Tidak ada prajurit yang menatapnya kagum. Cuma ada malam buta, napasnya sendiri, dan angka merah yang terus bergerak mundur di sudut pandangannya.
Angka itu turun perlahan.
Ritme langkahnya menggema di dinding-dinding beton gedung tinggi. Terus berulang. Irama kaki yang menghantam aspal mati.