Ara di jodohkan dengan Aib, bukan dengan laki-laki, Ia di tatap jijik oleh keluarga nya sendiri.
ini kisah tentang pernikahan Tampa pesta, Tampa restu dan Tampa wali, tapi ada Tuhan jadi saksi dan luka jadi maharnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delvi Binti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN PERTAMA
setelah puas menangis Ara keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur untuk memasak makan siang untuk mereka, namun saat Ara hendak pergi ke dapur tatapan nya berhenti ke arah nenek yang sudah menatap nya seolah siap untuk menyerang kapan saja , nenek yang baru pulang dari Arisan, ternyata sudah mendapatkan laporan sekaligus asutan dari tante Rianti soal pertengkaran nya dengan Ara tadi.
"Ara sejak kapan kamu menjadi seorang pembangkang hah? mau kualat kamu sama kami yang sudah membesarkan kamu hah?."
"Aku engga ngelawan nenek, tapi tante yang. "
" diam kamu. "
Seketika itu Ara berhenti berbicara karna kaget mendengar bentakan dari tante Rianti dari luar rumah.
" emang dasar nya ni anak engga tau terimakasih mah." bentak tante Rianti sambil menatap Ara dengan tatapan merendahkan.
" udah sekarang kamu kedapur masak makan siang, nenek sudah paper. "
Ara kembali melangkah menuju ke dapur dengan perasaan yang sangat kecewa yang harus Ia tahan, hatinya benar-benar hancur saat itu.
Waktu menunjukkan 16 :00 , saat Ara sudah menyelesaikan pekerjaan rumah nya, Ia berniat untuk jalan - jalan sore , untuk menghilangkan rasa kecewa dan sakit hati yang saat ini Ia rasakan karna perkataan tante Rianti dan nenek nya tadi.
Ara berjalan ke sebuah sungai kecil yang tidak jauh dari rumahnya, tempat itu adalah satu-satunya tempat Ia menenangkan diri saat Ia merasa sedih , kecewa.
Di perjalanan , meski dengan suasana hati yang sedang tidak baik, Ia tetap menyapa warga yang Ia temui, Ara tersenyum ke arah mereka, seolah tidak ada yang terjadi padanya, karna itu warga di kampung tempat Ia tinggal selalu menganggap Ara orang yang sangat ceria , mereka tidak tau apa yang sebenarnya Ara rasakan karna Ia berusaha untuk menutupi nya.
namun meski begitu ada juga beberapa warga yang tau akan penderitaan Ara, tidak jarang mereka menghibur Ara, namun selalu di balas dengan senyuman oleh Ara. Ia sering mengatakan bahwa ia tidak apa - apa.
Setelah sampai di sungai kecil itu Ara berdiri di pinggir sungai menatap langit sore, dan memejamkan mata.
" mama Ara kangen sama mama, mama baik - baik ajakan di sana, mama pasti udah bahagia ya," batin Ara sambil menahan tangis yang hampir tumpah.
di sisi lain Dimas dan Doni sedang berencana untuk memancing ikan,
" heh Dim, mancing yok bosen ni," tawar Doni
" ayuk, tapi mau mancing dimana kita Don."
" di anak sungai dekat sini aja, nih gua udah siapin umpan sama pancingan nya. "
" uiii mantap Don, gass lah. "
Mereka pun berangkat ke anak sungai itu, sesampainya di sana Dimas dan Doni mencari tempat yang bagus untuk mereka menurunkan umpan pancing mereka.
"ee disini bagus, kita mancing di sini aja, pasti banyak ikan nya, " kata Doni sambil menunjuk ke arah pinggir sungai tempat mereka akan memancing
"yakin luh Don, di sini banyak ikan nya?." Jawab Dimas dengan ragu.
"Iya gua yakin. " timpal Doni
mereka pun mulai menurunkan umpan di tempat itu, baru beberapa menit mereka berada di sana, Doni tak sengaja melihat keberadaan Ara
" ee Dim, itu si Ara kan yaa?. "
"mana." jawab Dimas
" itu loh di sana,"
" ee iya, ngapain dia di sini, "
" lah mana gua tau, udah samperin sana, kata nya luh mau pdkt kan ini waktu nya, maju Dim, "
" tapi Don gua. "
"alah ngga usah pake tapi- tapi sana samperin kalau memang luh suka sama dia. " jawab Doni sambil mendorong Dimas
Dimas dengan langkah ragu perlahan mendekati Ara dan dengan jantung yang berdetak tidak karuan, Dimas mengumpulkan keberanian untuk menyapa Ara.
" haii, Kamu Ara kan?. " kata Dimas canggung
Ara yang mendengar ada seseorang yang berbicara di dekat nya pun kaget dan membuka mata.
"iya, hmm kamu siapa ya kok tau nama aku. " jawab Ara ada rasa takut karna ini adalah pertemuan pertama nya dengan Dimas.
" Aku Dimas aku tinggal di kampung sebelah, aku tau nama kamu Dari Doni, kami lagi mancing ikan di sini ee ngga sengaja liat kamu, jadi aku berniat buat nyapa kamu. " jawab Dimas
namun belum sempat Ara menjawab terdengar suara tante Rianti yang memanggil nama Ara, Ara yang mendengar itu langsung berpamitan dan pergi meninggalkan Dimas.
Kita lanjut di next bab yaa aku capek ngetik soalnya