Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka Itu Benar-benar Kosong
Sudah tujuh hari sejak Florence raib.
Vila di pulau itu tak lagi terasa takhta. Ia menjelma mausoleum. Dingin, senyap, berpenghuni hantu.
Lucifer tak terlelap. Tak mampu. Setiap kali kelopaknya jatuh, yang muncul hanya kursi besi penyok bekas dihantamkan ke kepala pengawal. Setiap kali ia terjaga, yang menatapnya hanyalah bilik hampa di ujung lorong.
Bilik Florence.
Titahnya pertama usai pulang: Jangan ada yang menginjak kamar itu. Jangan ada yang menjamah isinya.
Maka bilik itu dibiarkan seperti saat Florence pergi.
Tiga puluh tiga torehan di dinding masih ada. Seprai terkoyak masih teronggok di bawah ranjang. Vas berisi abu mawar yang remuk masih berdiri di nakas.
Dan yang paling menyiksa… aromanya.
Aroma Florence masih tertinggal. Samar. Lembut. Perpaduan sabun murah dari panti, peluh yang lahir sebab demam, dan sesuatu yang khas miliknya saja. Sesuatu yang menenangkan.
Tiap malam, Lucifer melanggar titahnya sendiri. Ia masuk ke bilik itu. Duduk di tepi ranjang yang telah dingin. Membisu.
Di sanalah kenangan menyerangnya, tanpa ampun. Tak seperti musuh yang bisa ia habisi dengan timah.
Ia terkenang wajah Florence saat pertama tersadar di pulau ini. Pucat, namun sorotnya melawan.
Ia terkenang senyumnya. Senyum langka yang sempat muncul sekali, ketika Florence tak sadar Lucifer memerhatikannya dari jauh kala memberi makan kucing liar dekat beranda. Senyum itu bukan untuknya, namun sanggup menyesakkan dadanya.
Ia terkenang tangisnya. Di kapel. Di lantai ini. Linang yang jatuh bukan sebab takut, melainkan kecewa. Kecewa padanya.
Ia terkenang gentarnya. Setiap kali Lucifer mendekat, setiap kali ia mengangkat dagunya paksa. Gentar yang bercampur benci, yang entah mengapa tampak indah di matanya.
Sial.
Lucifer meremas rambutnya sendiri, gusar. Ia bangkit, melangkah ke gudang. Ia ingat lukisan yang pernah Florence buat diam-diam. Lukisan wajahnya.
Kain penutupnya ia singkap. Wajahnya ada di sana. Dingin, letih, tetapi… manusiawi. Florence melukisnya bukan sebagai iblis, melainkan sebagai lelaki.
Itu tak cukup. Hanya satu. Ia ingin lebih.
---
*Hari ke-10*
“Lukis dia,” titah Lucifer kepada lima pelukis terbaik yang ia datangkan dari Italia, Prancis, dan Jepang. Disodorkannya foto Florence yang ia ambil sembunyi-sembunyi selama ini. Foto kala terlelap, kala menatap laut, kala murka.
“Lukis sesempurna mungkin. Aku tak peduli harganya.”
Para pelukis itu bekerja siang malam. Dalam tiga hari, belasan kanvas memenuhi ruang kerjanya.
Ada Florence sedang tersenyum. Ada Florence sedang membaca. Ada Florence sedang menatap jendela.
Lucifer memeriksa satu per satu. Matanya menyipit. Rahangnya mengeras.
“Hancurkan.”
Satu kanvas ia cabik dengan tangan telanjang.
“Ini bukan dia. Matanya kurang hampa.”
Kanvas kedua ia hempas.
“Bibirnya. Bibirnya tak seindah aslinya saat ia menahan tangis.”
Kanvas ketiga, keempat, kesepuluh. Semua luluh.
“BODOH! KALIAN SEMUA BODOH!” bentaknya. “TAK ADA YANG MAMPU MENANGKAP SOROT MATANYA! TAK ADA YANG MAMPU MENANGKAP CARA DIA MENGGIGIT BIBIR SAAT MENAHAN TANGIS! KELUAR! KALIAN SEMUA TAK BERGUNA!”
Para pelukis itu diusir. Ruang kerjanya kini penuh serpihan kanvas dan kayu patah. Persis seperti isi kepalanya.
Dia gila. Sungguh gila.
Frustrasi sebab tak menemukan Florence di seluruh kepulauan sudah cukup menyiksa. Namun frustrasi sebab tak menemukan Florence bahkan di dalam ingatannya sendiri… itu lebih kejam.
Tak ada lukisan yang sesempurna aslinya. Tak ada ingatan yang sedetail kenyataan. Tak ada wangi parfum mahal apa pun yang sanggup menggantikan sisa aroma Florence di bilik itu.
Lucifer melangkah ke beranda. Hujan turun lagi. Sama seperti hari ia pertama mencium Florence di kapel. Bedanya, dulu ia murka. Kini, ia hanya… hampa.
Ditatapnya laut lepas. Di suatu tempat di luar sana, ada malaikat tanpa sayap yang lari dari jahanamnya. Mungkin kedinginan. Mungkin kelaparan. Mungkin lukanya belum sembuh.
Pikiran itu saja cukup membuat tinjunya menghantam dinding beranda hingga berdarah. Lagi.
“Di mana kau, Florence?” bisiknya pada angin dan hujan. Suaranya tak lagi milik Raja Neraka. Hanya milik lelaki yang kehilangan satu-satunya benda yang entah sejak kapan menjadi nadi.
“Mawar layu itu… ternyata akarnya sudah membelit neraka ini. Dan kini nerakanya ikut mati.”
Dikeluarkannya bubuk mawar dari saku. Sudah hampir tandas. Dibukanya telapak tangan, dibiarkannya hujan melumat sisa-sisa terakhirnya. Hanyut. Lenyap.
Sama seperti Florence.