Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Keesokan harinya, matahari terbit dengan sangat cerah, menyinari seluruh penjuru kediaman Duke Vane dengan cahaya keemasan yang hangat. Embun pagi masih menempel di ujung daun dan bunga-bunga taman, membuat seluruh halaman belakang terlihat seperti lukisan indah yang hidup.
Udara pagi terasa segar dan menenangkan. Sayangnya, Freya sama sekali tidak merasa tenang.
Gadis itu berdiri di depan cermin besar di kamarnya sambil menatap pantulan dirinya sendiri dengan ekspresi sangat serius, seolah sedang mempersiapkan diri menghadapi perang besar.
Dan memang benar. Hari ini adalah hari yang sangat penting.
Hari ini ia akan bertemu Aria Elowen. Female Lead. Pusat dunia novel ini. Penyelamat masa depannya. Atau… sumber kehancurannya kalau semuanya gagal.
"Nona… kenapa wajah Nona serius sekali?" tanya Lily hati-hati dari belakang.
Freya masih menatap cermin.
"Aku sedang memikirkan hidup dan kematian."
Lily langsung pucat.
"EH?"
Freya menghela napas panjang dramatis.
"Kalau hari ini gagal… mungkin masa depanku tamat."
"Nona jangan bicara menyeramkan begitu…"
Freya tidak menjawab. Karena sebenarnya ia serius.
Di novel asli, hubungan Freya dan Aria benar-benar buruk. Sangat buruk sampai mustahil diperbaiki.
Freya asli itu sering menghina Aria, mempermalukannya, menjebaknya berkali-kali, bahkan menyuruh orang menyakitinya. Dan semua itu berujung pada satu hal.
Kehancuran Freya sendiri.
Makanya sekarang… Ia harus mengubah semuanya.
Freya kembali fokus pada pantulan dirinya di cermin.
Hari ini ia sengaja memilih gaun putih sederhana dengan aksen biru muda di bagian lengan dan leher. Tidak ada perhiasan mencolok. Tidak ada mahkota besar. Tidak ada sarung tangan mahal penuh permata seperti yang biasa dipakai Freya asli.
Rambut emas panjangnya juga hanya diikat sederhana menggunakan pita biru muda. Polos. Lembut. Tidak mengintimidasi. Karena target hari ini adalah tidak membuat Aria pingsan ketakutan.
"Gimana?" tanya Freya sambil memutar tubuh pelan. "Aneh gak?"
Lily langsung berbinar. "Cantik sekali, Nona."
"Beneran?"
"Nona terlihat seperti putri dari dongeng."
Freya langsung senang.
"Hehehe… baguslah."
Lalu wajahnya kembali serius.
"Ingat ya Lily."
"Baik, Nona."
"Nanti kalau bertemu Aria, jangan pasang wajah galak."
Lily langsung refleks merapikan ekspresi wajahnya. "Saya memang terlihat galak?"
"Sedikit."
Lily syok.
Freya menepuk bahu pelayannya itu pelan. "Tenang. Kita datang dengan damai."
"…Kenapa rasanya seperti mau perang ya?"
"Karena memang perang." Perang melawan death flag.
Setelah semuanya siap, Freya akhirnya berjalan keluar kamar bersama Lily.
Begitu melewati lorong utama mansion, para pelayan yang melihatnya langsung terdiam.
Beberapa bahkan sampai hampir menjatuhkan nampan.
"Eh…"
"Itu Nona Freya?"
"Kok… berbeda sekali?"
Biasanya Freya selalu berjalan dengan dagu terangkat tinggi sambil memarahi siapa saja yang dianggap menghalangi jalannya.
Tapi hari ini?
Ia malah tersenyum lembut sambil mengangguk kecil pada para pelayan.
"Selamat pagi."
DOR.
Efeknya luar biasa. Para pelayan langsung membeku.
Freya hampir tertawa melihat reaksi mereka.
'Astaga… image Freya asli separah apa sih?'
Ia terus berjalan santai melewati lorong. Dan semakin jauh ia melangkah, semakin banyak orang yang diam-diam memperhatikannya.
"Cantik sekali…"
"Warna putih ternyata cocok untuk Nona."
"Apa benar beliau berubah?"
Freya pura-pura tidak dengar. Padahal dalam hatinya. 'Bagus. Bagus. Bangun citra positif perlahan.'
Ia butuh semua orang percaya bahwa dirinya berubah. Karena semakin sedikit musuh, semakin besar peluang hidupnya.
Hari ini, Freya berencana mencari Aria ke Akademi terlebih dahulu. Jika tidak bertemu di sana, maka ia akan mencari di tempat lain yang biasa dikunjungi Aria.
Setibanya di Akademi, Freya masuk melewati pintu gerbang yang megah ditemani oleh Lily. Di sini tidak ada peraturan bangsawan tidak boleh membawa pelayan. Mereka diperbolehkan membawa pelayan tapi tidak boleh masuk ke area dalam akademi. Jadi, pelayan hanya akan menunggu di area depan, tempat khusus untuk para pelayan bangsawan menunggu majikan mereka selama belajar di akademi.
Freya berjalan ke sana ke mari mencari keberadaan Aria. Begitu tiba di taman belakang, langkah Freya perlahan melambat. Taman itu sangat indah di pagi hari. Bunga-bunga bermekaran dengan warna-warni lembut.
Air mancur kecil di tengah taman memantulkan cahaya matahari dengan cantik.
Dan di bawah pohon besar dekat ujung taman, ada seorang gadis sedang duduk membaca buku.
Freya langsung mengenalinya.
Aria Elowen.
Jantungnya mendadak berdebar sedikit lebih cepat.
'Wow…'
Freya menatap gadis itu cukup lama. Aria benar-benar cantik. Bukan tipe cantik tajam dan mencolok seperti Freya.
Tapi cantik yang lembut dan menenangkan. Rambut cokelat panjangnya bergerak pelan tertiup angin pagi. Gaun krem sederhana yang dipakainya membuat Aria terlihat makin hangat. Dan ekspresi wajahnya saat membaca buku terlihat begitu damai.
'Pantes jadi female lead… Kalau aku cowok juga aku pilih dia sih.'
Freya langsung sadar. Tidak heran Freya asli iri setengah mati. Karena Aria memang tipe orang yang disukai semua orang secara alami.
Freya menarik napas panjang pelan. Oke. Saatnya misi dimulai.
Ia mulai berjalan mendekat dengan langkah pelan dan hati-hati. Jangan terlalu cepat. Jangan terlalu agresif. Jangan terlihat seperti mau membunuh orang.
Saat suara langkah kaki terdengar, Aria perlahan mengangkat kepala dari bukunya. Dan detik mata mereka bertemu, wajah Aria langsung pucat. Benar-benar pucat.
Tubuh gadis itu langsung menegang. Buku di tangannya hampir jatuh.
"N-Nona Freya…"
Suaranya kecil. Dan gemetar. Aria buru-buru berdiri dari bangku batu. Bahkan tanpa sadar ia mundur selangkah. Matanya jelas dipenuhi ketakutan.
"S-Saya minta maaf…" katanya cepat sambil menunduk. "Saya tidak bermaksud memakai taman ini terlalu lama… saya akan pergi sekarang…"
Melihat reaksinya, dada Freya terasa sedikit sesak.
Ya. Trauma Aria memang sebesar itu. Freya asli benar-benar keterlaluan.
"Tidak." Freya buru-buru mengangkat kedua tangan. Aria langsung makin tegang.
Eh. Salah gerakan. Freya langsung panik dalam hati. 'Astaga jangan-jangan dia pikir aku mau mukul dia?'
"A-Aku gak marah." katanya cepat.
Aria berkedip bingung.
Freya menarik napas panjang lalu memaksakan senyum paling lembut yang bisa ia buat.
"Maaf… aku cuma… aku cuma ingin bicara sebentar."
Aria tampak ragu. Tubuhnya masih tegang. Tatapannya terus waspada seperti kelinci kecil yang siap kabur kapan saja.
Freya langsung sadar. Ia tidak boleh mendekat terlalu cepat. Jadi ia berhenti beberapa langkah dari Aria. Menjaga jarak aman.
"Aku tidak akan menyakitimu," katanya pelan.
Aria menggigit bibir bawahnya gugup.
"Tapi…"
"Aku serius."
Freya menatapnya tulus.
"Aku datang bukan untuk mencari masalah."
Hening beberapa detik.
Angin pagi berhembus pelan di antara mereka. Lalu akhirnya Freya memberanikan diri bicara lagi.
"Aku datang untuk meminta maaf."
GLEK.
Aria langsung membeku. Matanya melebar.
"Hah…?"
"Aku minta maaf."
Freya menundukkan kepala perlahan. Dan kali ini ia benar-benar tulus.
"Mungkin selama ini aku sudah mengatakan banyak hal jahat padamu."
'Banyak banget malah.'
"Aku juga sering membuatmu takut."
'Dan itu dosa Freya asli.'
"Tapi sekarang aku sadar aku salah."
Aria masih diam. Seolah otaknya belum bisa memproses situasi ini.
Freya melanjutkan pelan. "Waktu aku jatuh dari kuda kemarin… aku banyak berpikir."
'Sangat banyak. Termasuk cara supaya gak mati dipenggal.'
"Aku sadar selama ini aku terlalu egois."
Freya mengangkat wajah perlahan. Tatapannya lembut.
"Dan aku benar-benar menyesal."
Aria terlihat sangat bingung. Ia terus menatap Freya seolah sedang mencoba memastikan apakah semua ini nyata atau mimpi.
"T-Tapi…" suara Aria kecil sekali. "Kenapa tiba-tiba…"
Freya tertawa kecil pahit. "Karena aku bodoh."
Aria langsung panik. "Eh? T-Tidak, saya tidak pernah berpikir begitu..."
"Aku memang bodoh." Freya memotong sambil tersenyum kecil. "Aku menyakiti orang yang tidak pernah berbuat jahat padaku."
Aria langsung terdiam lagi. Freya bisa melihat jelas gadis itu mulai goyah. Takutnya belum hilang. Tapi sekarang bercampur bingung dan penasaran.
'Bagus. Setidaknya Aria belum kabur.'
"Aku tidak berharap kamu langsung memaafkanku," kata Freya jujur. "Kalau kamu masih takut, itu wajar."
Dan memang wajar.
'Kalau ada orang yang dulu suka membully tiba-tiba datang minta maaf, siapa juga yang langsung percaya?'
"Tapi…" Freya tersenyum kecil. "Aku ingin berubah."
Hening lagi. Lalu perlahan... Aria akhirnya memberanikan diri menatap mata Freya.
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, ketakutan di matanya mulai sedikit berkurang.
"…Beneran?"
Freya langsung mengangguk cepat.
"Beneran."
"Bukan karena Nona sedang merencanakan sesuatu?"
"Enggak..." Freya refleks menjawab terlalu cepat.
Lalu buru-buru batuk kecil menjaga image anggun. "Maksudku… tidak."
Aria tampak sedikit terkejut. Dan entah kenapa, ia terlihat ingin tertawa kecil.
Freya langsung sadar.
'Eh? Barusan image elegannya rusak ya?'
"Aku serius," katanya lagi lebih pelan. "Aku ingin memperbaiki semuanya."
Lalu setelah ragu beberapa detik, Freya mengulurkan tangan perlahan.
"Jadi…" Ia tersenyum hati-hati. "Maukah kamu jadi temanku?"
Aria membeku lagi. Matanya menatap tangan Freya lama sekali. Jelas terlihat ia sedang bimbang.
Freya mulai deg-degan.
'Ayolah…Please…Aku gak mau mati tragis…' Namun tentu saja mulutnya tidak mengatakan itu.
Akhirnya Aria bicara pelan. "Saya… ingin percaya pada Nona."
Freya langsung fokus mendengarkan. "Tapi saya masih sedikit takut…"
NAH.
Ini masuk akal. Dan justru membuat Freya lega. Karena berarti Aria bukan karakter bodoh yang langsung percaya begitu saja.
Freya tersenyum kecil. "Itu tidak apa-apa."
Aria berkedip.
"Kamu boleh takut." Freya menatapnya lembut. "Aku yang salah duluan."
Mata Aria sedikit melembut.
"Tapi…" Freya melanjutkan pelan. "Aku akan membuktikan kalau aku benar-benar berubah."
Dan kali ini, Aria benar-benar bisa merasakan ketulusan itu. Perlahan gadis itu mengangkat tangannya sendiri. Dengan ragu-ragu, ia menyentuh tangan Freya.
Hangat. Aria terlihat sedikit terkejut. Lalu perlahan… ia menggenggam tangan itu balik.
Freya langsung bersorak dalam hati. 'YESSSSS. MISSION CLEAR.'
Namun luar biasa ajaibnya, di balik semua strategi bertahan hidup itu… Freya juga merasa senang sungguhan. Karena Aria memang gadis yang baik.
"Terima kasih…" kata Aria pelan sambil tersenyum kecil.
Dan senyum itu benar-benar manis. Freya hampir kena critical damage. 'Ya ampun lucu banget.'
"Kalau begitu…" Freya ikut tersenyum. "Mulai sekarang kita berteman?"
Aria mengangguk kecil.
"Iya."
"Dan panggil aku Freya saja."
Aria langsung panik.
"E-Eh? Tidak sopan…"
"Kita teman."
"Tapi…"
"Freya."
Aria ragu beberapa detik.
Lalu akhirnya, "…Freya."
DOR.
Freya langsung kena mental. 'Astaga lucu banget.'
Ia hampir refleks memeluk Aria karena gemas. Untung masih sadar diri. Keduanya akhirnya duduk berdampingan di bangku batu.
Awalnya suasana agak canggung. Namun perlahan mulai nyaman. Freya sengaja membicarakan hal-hal ringan seperti bunga, buku, makanan, cuaca. Dan Aria ternyata sangat mudah diajak bicara kalau sudah merasa nyaman. Gadis itu bahkan mulai tersenyum lebih sering.
Lily yang melihat dari jauh sampai hampir menangis haru. Karena ini benar-benar seperti keajaiban. Freya dan Aria. Duduk bersama. Tanpa perang dunia.
Namun tepat saat suasana mulai hangat, suara deheman pelan terdengar dari belakang.
"Ehem."
Freya langsung membeku. Aria juga tersentak. Keduanya menoleh bersamaan.
Dan detik berikutnya, Freya merasa hidupnya memendek lima tahun. Karena di sana berdiri dua pria.
Yang pertama, Zevian Aldric Arkwright. Tetap dengan aura dingin dan tatapan tajamnya yang menyeramkan.
Dan di sampingnya, seorang pria tampan berambut hitam kecokelatan sedang tersenyum lebar penuh rasa penasaran. Mata emasnya berbinar nakal. Ares Caelum Blackwood.
'Oh tidak. OH TIDAAAAK. Sejak kapan mereka berdiri di sana? Dan yang lebih penting...BERAPA BANYAK YANG MEREKA DENGAR?'