Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arka dan Viona
Arka terus mengobrol dengan Viona, tetapi matanya sesekali melirik ke arah pintu kamar tamu dengan rasa cemas yang luar biasa. Ia terjebak di antara dua wanita, dua dunia, dan satu kebohongan besar yang siap meledak kapan saja. Satu langkah salah,ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
Di balik pintu kamar mandi, Cantika menahan napasnya. Air mata mengalir pelan di pipinya tanpa suara. Ia tidak tahu berapa lama ia harus bersembunyi seperti ini. Yang ia tahu, hari ini adalah hari pertama dari sekian banyak hari yang akan penuh kepura-puraan.
Arka berusaha menutupi kegelisahannya ,ia tersenyum pada Viona, walupun hatinya dipenuhi kegelisahan. Ia bertanya-tanya berapa lama lagi ia bisa mempertahankan sandiwara ini sebelum semuanya hancur berantakan
Arka berusaha keras menjaga nada suaranya tetap tenang sambil memeluk pinggang Viona di sofa. “Kamu kok tiba-tiba datang malam-malam begini? Ada apa, ?” tanyanya sambil mencium kening Viona sekilas, berharap wanita itu cepat puas dan pergi.
Viona menyandarkan kepalanya di bahu Arka, tangannya bermain-main dengan kancing kemeja pria itu. “Aku kangen, Baby. Hari ini aku baru pulang dari Milan Fashion Week. Gaun ini aku beli khusus buat kamu lihat. Bagus kan?” Ia berputar sedikit, memperlihatkan gaun merah menyala yang menempel sempurna di tubuh rampingnya.
“Bagus sekali,” jawab Arka datar, pikirannya justru melayang ke kamar mandi tempat Cantika meringkuk. Berapa lama lagi ia harus menahan Cantika di sana? Udara di dalam pasti pengap, lantai dingin, dan yang lebih parah, hatinya pasti semakin hancur.
“Eh, tapi kamu kok kelihatan tegang banget sih?” Viona mengangkat wajahnya, jari-jarinya menyentuh rahang Arka. “Ada masalah di kantor? Atau … kamu lagi sembunyiin sesuatu dari aku?”
Pertanyaan itu seperti pisau yang menusuk dada Arka. Ia tertawa kecil, berusaha terdengar santai. “Enggak ada apa-apa. Cuma capek aja. Kerjaanku numpuk akhir-akhir ini.”
Viona tidak langsung percaya. Matanya kembali melirik ke arah meja makan. “Tadi kamu bilang Bayu yang makan di sini. Tapi kok ada bekas lipstik di gelas yang satunya? Bayu pakai lipstik sekarang?” Nada suaranya mulai tajam, penuh curiga.
Arka merasa jantungnya hampir copot. Ia buru-buru bangkit. “Itu … mungkin gelasnya sudah ada dari kemarin. Aku lupa cuci. Kamu tunggu di sini ya, aku ambilkan minum dulu.”
Ia bergegas ke dapur, sengaja membuka keran air keras-keras agar suara mengalir menutupi apa pun yang mungkin terdengar dari kamar mandi. Sementara itu, di dalam kamar mandi, Cantika menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya terus mengalir tanpa suara. Setiap kata yang keluar dari mulut Viona seperti tamparan keras baginya. “Makanan kampungan”, “aib”, “sembunyi” … semuanya terngiang-ngiang di kepalanya.
Cantika menggigit bibir bawahnya hingga terasa sakit. Ia bukan siapa-siapa di sini. Hanya bayangan yang harus disembunyikan. Dulu, di kampung, meski hidup susah, ia setidaknya bisa tertawa lepas bersama ibunya. Sekarang, di apartemen mewah ini, ia merasa seperti barang haram yang harus dikubur dalam-dalam.
Di luar, Arka kembali ke sofa dengan dua gelas jus jeruk. “Ini, minum dulu. Kamu pasti capek habis perjalanan jauh.”
Viona menerima gelas itu, tapi matanya masih penuh selidik. “Arka, jujur deh. Kamu nggak lagi selingkuh kan? Aku tahu kamu laki-laki sukses, banyak godaan. Tapi aku nggak mau jadi tunangan kamu yang dibohongi terus.”
Arka menelan ludah. “Enggak, Viona. Aku cuma sayang kamu.” Kata-kata itu keluar begitu saja, tapi rasanya pahit di lidahnya. Ia tahu ia sedang mengkhianati Cantika yang kini meringkuk di balik pintu hanya beberapa meter darinya
Sementara itu, di dalam kamar mandi yang gelap dan sempit, Cantika duduk meringkuk di atas lantai marmer yang dingin. Ia bisa mendengar suara tawa manja seorang wanita dari luar. Ia bisa merasakan betapa berbedanya dunia wanita itu dengan dunianya.
Cantika memeluk lututnya sendiri. Ia sadar, di apartemen mewah ini, ia bukanlah seorang istri. Ia hanyalah sebuah aib yang harus disembunyikan rapat-rapat di balik pintu kamar mandi. Rasa sesak kembali memenuhi dadanya. Ia ingin berteriak, ingin pulang ke gubuknya yang reot tapi penuh kejujuran.
Di sini, di tengah kemewahan ini, segalanya terasa palsu. Dan Cantika baru saja menyadari bahwa penjara emas ini jauh lebih menyakitkan daripada kemiskinan yang pernah ia jalani.
"Baby,aku kangen kamu."
Viona tersenyum manja dan mencium bibir Arka dengan penuh nafsu,
Arka mencoba menghindar dari ciuman Viona dengan memalingkan wajahnya ke samping. Bibir Viona hanya mendarat di pipinya.
Wanita itu mengerutkan kening, tapi senyum manja cepat kembali menghiasi wajahnya.
"Baby ,kenapa kamu menghindariku ,memang kamu nggak kangen aku ,sudah satu Minggu kita nggak bertemu ."
"Aku ..aku kangen kok viona ." jawab Arka tergagap membuat Viona merasa curiga ,ia mengerutkan dahinya melihat Arka yang terlihat gugup .
"Apakah kamu jujur padaku?"
"Tentu ,aku ..aku jujur padamu ."
"Baby ,kenapa kamu gugup seperti itu,apa ada yang kamu sembunyikan di belakangku ?" tanya Viona penuh selidik .
"Tidak,ada aku tidak menyembunyikan apapun di belakangmu,lagi pula kalau ada sesuatu yang aku sembunyikan tentu kamu tahu duluan ." jawab Arka dengan menyindir pada Viona .
Arka tahu kalau selama ini viona menyuruh orang untuk mengawasinya .
"Aku tidak suka kamu menyuruh orang mengawasiku,aku disini bukan penjahat ."
"Jadi kamu sudah tahu kalau aku mengawasimu ."
"Tentu aku tahu semua,dan jangan salahkan aku ,aku sudah menyingkirkan cecunguk surahan kamu itu ."
"Maaf kan aku,baby ,aku tidak akan melakukannya lag!,sekarang lupakan semuanya hari ini aku kangen banget sama kamu ." Viona kembali ingin mencium Arka,dan arka kembali menolaknya
“Kenapa sih, Baby? Kamu kok dingin banget hari ini?” tanya Viona sambil merapatkan tubuhnya lebih dekat. Gaun merah menyala itu semakin menempel di tubuh rampingnya yang terawat. Ia meletakkan gelas jus di meja, lalu kedua tangannya melingkar di leher Arka. “Aku kangen kamu. Sudah lama kita nggak … dekat.”
Arka merasa tubuhnya menegang. Ia meletakkan tangannya di pinggang Viona, tapi bukan untuk memeluk, melainkan untuk menjaga jarak. “Viona, aku benar-benar capek hari ini. Kerjaan numpuk, meeting dari pagi sampai malam. Besok pagi aku ada presentasi penting.”
Viona tidak mundur. Malah ia semakin agresif. Ia naik ke pangkuan Arka di sofa, gaunnya tersingkap sedikit hingga memperlihatkan paha mulusnya yang putih.
“Capek? Biar aku yang bantu relaksasi kamu,” bisiknya di telinga Arka dengan suara yang sengaja dibuat menggoda. Napasnya yang hangat menyapu daun telinga pria itu. “Kamu tahu kan, aku selalu bisa bikin kamu lupa segalanya