NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Bau Karbol dan Titah Sang Panglima

Deru mesin sepeda motor Seno membelah pekatnya malam, meninggalkan jejak kekhawatiran di sepanjang aspal yang mereka lintasi. Angin malam yang biasanya terasa sejuk kini menampar wajah Jenawa layaknya sembilu. Di balik dada bidang pemuda itu, badai amarah tengah berkecamuk hebat, berbenturan dengan sisa-sisa manis es krim vanila yang belum sepenuhnya memudar dari ingatannya.

Bangunan kecil bercat putih pudar dengan plang bertuliskan "Klinik Pratama Pak Husin" menyambut kedatangan mereka. Bau menyengat karbol dan obat-obatan seketika merasuk ke dalam indra penciuman Jenawa begitu ia melangkah melewati pintu kaca. Di salah satu ranjang perawatan, Bimo terbaring dengan pelipis yang telah diperban rapi, menyisakan bercak kemerahan yang tembus di balik kasa. Dua anak kelas sepuluh lainnya duduk tertunduk di kursi tunggu, wajah mereka memar dan seragam putih abu-abu mereka kotor oleh noda tanah dan darah.

Melihat presensi sang panglima, Bimo berusaha bangkit, namun ringisan tertahan meluncur dari bibirnya.

"Tetaplah berbaring, Bimo," titah Jenawa dengan suara berat yang menekan emosi. Ia melangkah mendekati tepi ranjang, menatap nanar kawan yang selalu setia berada di barisannya itu. "Bagaimana kejadiannya?"

"Maafkan kami, Bang Jenawa," lirih Bimo, suaranya bergetar menahan perih. "Kami sedang dalam perjalanan pulang sehabis kerja kelompok. Kami sengaja menghindari jalan utama dan lewat gang utara seperti instruksimu agar tak berpapasan dengan anak Pelita. Tapi... Agam dan belasan anak buahnya sudah mencegat kami di sana. Mereka sengaja mencari celah di saat kau tidak bersama kami."

Rahang Jenawa mengeras. Buku-buku jarinya memutih akibat kepalan tangan yang terlampau kuat. Sebuah tikaman rasa bersalah menghujam relung hatinya. Jika saja sore ini ia memimpin barisannya untuk pulang bersama... tidak, pikiran itu segera ditepisnya. Ia tidak menyesali kebersamaannya dengan Sinaca, namun ia mengutuk kelicikan Agam yang tak kenal ampun.

"Kau tak perlu meminta maaf. Ini bukan kelalaianmu," ucap Jenawa mutlak. Ia menepuk bahu Bimo pelan, menyalurkan ketegaran. "Beristirahatlah. Biaya klinik dan urusan lukamu, biarkan menjadi tanggung jawabku seutuhnya."

Tanpa berlama-lama, Jenawa membalikkan badan dan berjalan keluar klinik dengan langkah tegap, disusul oleh Seno yang mengekor dalam diam. Udara malam di pelataran klinik terasa jauh lebih mencekik.

"Kita ke Kedai Pak Dirman sekarang," desis Jenawa. "Keluarkan motormu, Seno."

Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi mereka untuk tiba di gang belakang sekolah. Suasana Kedai Pak Dirman malam itu tak ubahnya seperti barak tentara yang bersiap menyongsong perang. Puluhan anak SMA Bangsa berkumpul dengan wajah beringas. Balok kayu, rantai besi, dan gir motor yang telah dimodifikasi tergeletak di atas meja-meja kedai. Sumpah serapah dan makian bergema, merencanakan penyerangan buta ke markas SMA Pelita malam itu juga.

Brak!

Suara pintu kedai yang ditendang hingga terbuka lebar membungkam seluruh keriuhan dalam sekejap mata. Seluruh pasang mata menoleh ke arah pintu.

Jenawa Adraw berdiri di ambang pintu bagaikan dewa perang yang baru saja turun ke bumi. Sorot matanya sedingin es namun memancarkan kilat amarah yang sanggup membakar nyali siapa pun yang berani menantangnya.

"Siapa yang memberikan perintah untuk mengumpulkan senjata-senjata kotor ini?" suara Jenawa tak berteriak, namun bergema mengisi seluruh sudut ruangan dengan wibawa yang tak tertandingi.

Seorang siswa kelas tiga yang bertubuh besar melangkah maju. "Kami tak bisa tinggal diam, Wa! Bimo masuk klinik! Agam telah menginjak-injak harga diri kita. Kita serbu markas mereka sekarang juga!"

"Dan membiarkan kalian semua diangkut oleh pihak berwajib lalu dikeluarkan dari sekolah esok paginya?" potong Jenawa tajam. Ia melangkah masuk, meraih sebuah balok kayu dari atas meja dan membantingnya ke lantai hingga patah menjadi dua. Suara patahan itu membuat beberapa siswa berjengit mundur.

"Dengarkan aku baik-baik," geram Jenawa, menyapu pandangannya ke seluruh barisan kawan-kawannya. "Kita adalah barisan yang menjunjung tinggi harga diri, bukan sekumpulan preman pasar yang menyerang membabi buta di tengah malam! Agam sengaja memancing emosi kita agar kita menyerang markas mereka dan terlihat sebagai pembuat onar. Jika kalian menyerbu malam ini, kalian hanya akan masuk ke dalam perangkap liciknya!"

Keserentakan napas tertahan memenuhi kedai itu. Ego dan darah muda mereka menolak untuk diam, namun tak ada satu pun yang berani membantah kebenaran dari ucapan sang panglima.

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Wa?" tanya Seno yang kini berdiri di samping Jenawa. "Kita tak mungkin membiarkan pelipis Bimo robek tanpa balasan."

"Pembalasan akan selalu ada, Seno. Namun dengan caraku," jawab Jenawa dingin. Tatapannya menajam, menembus bayang-bayang di luar kedai. "Besok pagi, kirimkan utusan ke SMA Pelita. Sampaikan pesan tantangan terbuka dariku untuk Agam. Jika ia benar-benar memiliki nyali, minta ia menemuiku di tanah lapang pabrik tua belakang stasiun esok petang. Hanya barisan depan kita dan barisan depannya. Tanpa senjata kotor, murni adu kepalan tangan layaknya laki-laki sejati."

Bisik-bisik persetujuan mulai terdengar. Rencana Jenawa jauh lebih terhormat dan memiliki risiko yang lebih terkontrol dibandingkan tawuran massal.

"Jika ia menolak?" tanya salah satu siswa.

"Jika ia menolak dan memilih bersembunyi di balik kawan-kawannya, maka seluruh kota ini akan tahu bahwa pemimpin SMA Pelita hanyalah seorang pecundang," pungkas Jenawa mutlak. "Sekarang, simpan kembali semua rongsokan ini dan pulanglah ke rumah masing-masing. Simpan tenaga kalian untuk esok petang."

Satu per satu, anak-anak SMA Bangsa mulai membubarkan diri, menuruti titah pemimpin mereka tanpa bantahan lebih lanjut. Ketika kedai perlahan sepi, Jenawa menyandarkan tubuhnya pada meja kayu. Ia merogoh saku kemejanya yang kini terasa kosong. Saputangan putih beraroma melati itu telah ia kembalikan pagi tadi, dan wangi manis dari es krim sore tadi kini terasa pudar, tergantikan oleh bau keringat dan dendam.

Di dalam kesunyian malam itu, Jenawa memejamkan matanya. Terbayang jelas raut wajah Sinaca saat memintanya untuk tidak memantik api perseteruan.

"Kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa keras kau memukul, Jenawa."

Kalimat gadis itu kembali terngiang. Dada Jenawa terasa sesak. Ia telah berjanji, namun keadaan memaksanya untuk kembali melanggar janji tersebut. Esok petang, ia akan kembali menjadi monster jalanan yang dibenci oleh gadis itu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Jenawa Adraw, ia merasa takut. Bukan takut akan tinju Agam, melainkan takut akan tatapan kecewa dari sepasang mata kecokelatan milik Sinaca Tina.

1
Purnamanisa
badboy nih... seru keknya 😁😁
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!