Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.
Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.
Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Suasana pesta semakin ramai. Lampu-lampu gantung memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan, berkilau di atas meja-meja yang dipenuhi bunga dan gelas kristal.
Aroma makanan bercampur dengan wangi parfum para tamu. Tawa dan obrolan bercampur jadi satu, membentuk riuh yang terasa hidup terlalu hidup, bahkan, bagi seseorang yang sedang mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
Musik mengalun pelan, cukup untuk mengisi ruang tanpa mengganggu percakapan. Dentingnya halus, hampir seperti latar yang sengaja diciptakan untuk menutupi hal-hal yang tidak ingin disadari.
Di tengah semua itu Chaerlina berdiri anggun sebagai pengantin. Gaunnya jatuh sempurna, mengikuti setiap gerakan kecil tubuhnya.
Wajahnya bersinar bukan hanya karena riasan, tapi karena sesuatu yang lebih dalam.
Bahagia. Benar-benar bahagia. Kebahagiaan yang terlihat jelas. Tidak dipaksakan. Tidak dibuat-buat.
Fania berdiri di dekatnya bersama Livia.
Mereka sempat bergantian memeluk, memberi selamat, merasakan hangatnya momen yang seharusnya sederhana namun penuh arti.
“Finally,” ujar Livia sambil tersenyum lebar.
Chaerlina tertawa kecil, matanya berbinar.
“Finally,” balasnya. Matanya kemudian beralih ke Fania. Lebih lembut dan lebih dalam.
Seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan.
“Kau baik-baik saja.” Tentu Chaerlina menyadari bagaimana wajah keruh Fania, apalagi ia juga sudah melihat kedatangan Ronald bersama Valencia.
Fania tersenyum tipis. “Iya." Singkat.
Namun tetap ada usaha untuk terdengar tulus atau setidaknya. Ia ingin terlihat seperti itu.
Mereka bertiga kemudian bergeser ke sisi ruangan. Sedikit lebih sepi, jauh dari pusat keramaian. Cukup untuk berbicara tanpa harus meninggikan suara, cukup untuk bernapas tanpa merasa terhimpit.
Livia langsung mulai bercerita, tentang acara, tentang dekorasi, tentang betapa ribetnya persiapan pernikahan. Tentang hal-hal ringan yang seharusnya menyenangkan.
Chaerlina menanggapi dengan santai. Sesekali tertawa, sesekali menggoda. Candaan mereka mengalir, terasa akrab, seperti tidak ada yang berubah di antara mereka.
Percakapan berjalan normal dan hangat. Namun tidak sepenuhnya untuk Fania. Ia ada di sana, berdiri dan mendengar. Sesekali tersenyum di momen yang tepat.
Namun pikirannya tidak benar-benar ikut. Karena setiap beberapa detik tanpa sadar matanya kembali melirik. Ke arah yang sama Ronald dan Valencia.
Mereka masih di sana, masih bersama. Kini mereka berdiri di tengah beberapa kerabat. Lingkaran kecil terbentuk di sekitar mereka. Percakapan tampak hidup. Tawa terdengar jelas, bahkan dari jarak yang tidak terlalu dekat.
Lebih terbuka dan lebih lepas. Valencia terlihat nyaman. Sangat. Ia berdiri tanpa canggung, tanpa jarak. Seolah sudah lama menjadi bagian dari ruang itu.
Sesekali ia menyentuh lengan Ronald, refleks dan ringan. Namun berulang, dan Ronald tidak menghindar. Tidak menjauh dan tidak memberi batas yang tegas.
Ia justru membalas dengan respons yang sama santainya. Sedikit menunduk saat mendengar, sesekali tersenyum, sesekali tertawa kecil. Seolah itu hal yang biasa. Seolah tidak ada yang perlu dijaga.
Fania menelan ludah pelan, dadanya kembali terasa sesak. Bukan sakit yang tajam tapi berat. Menekan, seperti sesuatu yang perlahan memenuhi ruang di dalam dadanya tanpa bisa dihentikan. Namun ia tetap berdiri, tetap di tempatnya dan tidak bergerak.
“Fan?” Suara Chaerlina menariknya kembali.
Fania menoleh cepat. “Iya?” Refleks.
Chaerlina mengernyit tipis. “Kau hanya diam sejak tadi.”
Fania tersenyum kecil. "Aku dengar.” Alasan yang sederhana dan masuk akal. Namun tidak sepenuhnya benar.
Livia melirik sekilas ke arah yang sama dengan Fania tadi. Dan langsung mengerti.
Tanpa perlu penjelasan, tanpa perlu kata. Ia kembali menatap Fania dalam diam.Namun tatapannya cukup jelas.
Fania mengalihkan pandangan, tidak ingin terlihat dan tidak ingin terbaca. Namun terlalu terlambat.
“Masih menyangkal tak peduli?” bisik Livia pelan. Hanya untuk Fania. Nada suaranya tidak menghakimi lebih seperti memastikan.
Fania menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. “Aku fine.” Jawaban otomatis. Seperti refleks yang sudah terlalu sering dipakai. Namun suaranya sedikit goyah. Hampir tak terdengar.
Chaerlina tidak langsung menyudutkan.
Ia hanya memperhatikan. Lebih tenang dan lebih sabar.
“Kau tak harus selalu kuat, Fan,” katanya pelan. Kalimatnya sederhana namun tepat.
Namun Fania langsung menggeleng. “Ini bukan tentang kuat.” Cepat, terlalu cepat dan defensif.
“Memang aku baik-baik saja.” Kalimat itu keluar lagi. Sama seperti sebelumnya. Namun semakin diulang semakin terasa kosong.
Hening sejenak.
Percakapan mereka terhenti. Bukan karena tidak ada yang bisa dibahas melainkan karena semua yang penting
sudah terlalu jelas untuk dihindari.
Fania kembali melirik tanpa sadar. Dan lagi ia melihatnya. Ronald tertawa kecil dan Valencia mengatakan sesuatu. Orang-orang di sekitar mereka ikut tertawa. Suasana itu hidup dN ringan.
Dan yang paling menyakitkan.Ronald terlihat nyaman. Bukan sekadar basa-basi. Bukan sekadar sopan santun. Namun benar-benar terlibat. Seolah ia ingin ada di sana. Fania menelan lagi.
Dan kali ini sesuatu yang lain muncul. Bukan hanya cemburu. Namun rindu datang tiba-tiba. Tanpa izin, tanpa peringatan dan itu lebih sulit ditahan. Karena rindu tidak bisa dibantah dengan logika.
Tidak bisa disuruh pergi. Ia hanya datang dan menetap. Fania mengalihkan pandangan cepat. Seolah dengan tidak melihat ia bisa menghapus semuanya. Namun justru ingatan lain muncul.
Lebih dekat.
Lebih nyata.
Malam-malam terakhir.
Sunyi.
Sepi.
Tempat tidur yang sama namun terasa berbeda. Ronald tidak lagi sama. Dulu setiap malam selalu ada satu hal kecil yang tidak pernah berubah. Ciuman di kening, singkat, lembut namun hangat.
Seperti tanda, seperti pengingat diam-diam bahwa ia masih diperhatikan. Dan Fania selalu pura-pura tidur. Selalu. Hanya untuk merasakan itu. Tanpa harus membuka mata, tanpa harus membalas, tanpa harus mengakui apa pun. Itu cukup.
Atau setidaknya dulu ia pikir begitu. Namun seminggu ini tidak ada. Tidak sekali pun, tidak ada sentuhan itu. Tidak ada kebiasaan itu. Dan yang lebih menyakitkan ia baru benar-benar menyadarinya sekarang.
Bukan saat sendiri, bukan saat sunyi. Namun di tengah keramaian ini. Saat ia melihat Ronald memberikan kehangatan kepada orang lain. Dalam bentuk yang berbeda dan dalam cara yang berbeda. Namun cukup untuk terasa sama.
Fania menggenggam tangannya sendiri.
Lebih erat. Seolah menahan sesuatu agar tidak keluar. “Aku tak butuh itu” bisiknya, sangat pelan. Hampir tidak terdengar.
Namun suaranya retak. Karena untuk pertama kalinya ia tidak hanya menyangkal cemburu.
Ia juga menyangkal rindu. Dan keduanya—
semakin sulit disembunyikan.
“Fan.” Chaerlina memanggil lagi. Lebih pelan dan lebih hati-hati.
Fania menoleh. Matanya sedikit berkaca namun ia langsung mengedip. Menahannya, menolak jatuh. “Aku oke,” katanya cepat. Terlalu cepat.
Livia tidak bicara, namun ia menghela napas pelan. Mengerti, terlalu mengerti. Dan di tengah pesta yang seharusnya penuh kebahagiaan Fania berdiri di sana. Masih tersenyum, masih terlihat baik-baik saja.
Namun di dalam dirinya sesuatu perlahan runtuh. Pelan tanpa suara, tanpa ada yang benar-benar menyadari. Bukan karena Ronald pergi. Namun karena ia akhirnya sadar
bahwa yang ia kira sudah hilang
ternyata masih ada.
Dan sekarang ia tidak hanya harus mengakuinya. Ia juga harus melihatnya pelan-pelan berpindah ke orang lain.
NEXT .......