Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 11
Pukul lima sore, langit Selasa itu dilapisi warna jingga yang hangat, seolah ikut menahan langkah seseorang yang hendak pergi.
Halaman depan rumah besar itu tampak tenang, hanya suara burung yang sesekali melintas dan deru mesin mobil yang sudah di nyalakan sejak tadi. Range Rover putih- salah satu mobil milik keluarga mereka terparkir rapi di depan, mengilap di bawah cahaya senja. Koper hitam milik Dipta sudah lebih dulu dimasukkan ke bagasi oleh Pak Vito- sopir setia keluarga yang berdiri tak jauh dari sana, memberi ruang bagi perpisahan kecil itu.
Dipta berdiri di hadapan tiga orang yang paling berarti dalam hidupnya.
Rana.
Alaric.
Masayu.
Pria itu menarik napas pelan, menatap satu per satu wajah di depannya. Ada jeda yang terasa lebih panjang dari biasanya.
"Ayah pergi sebentar ke Jakarta," ucapnya akhirnya, suaranya tenang namun tak sepenuhnya ringan.
Alaric yang berdiri di sisi ibunya langsung menatap ke atas.
"Berapa lama, Yah?"
"Toga... mungkin lima hari," jawab Dipta, lalu berjongkok agar sejajar dengan putranya.
"Jaga Bunda, ya."
Alaric mengangguk mantap, meskipun sorot matanya menyiratkan enggan.
"Iya. Mas Al bisa."
Masayu yang sejak tadi memeluk kaki Rana, mengangkat wajah kecilnya.
"Ayah...ikut..." gumamnya pelan, suaranya sedikit serak, seperti menahan tangis yang belum benar-benar jatuh.
Hati Dipta seperti diremas.
Ia mengulurkan tangan, mengangkat putri kecilnya kedalam pelukannya.
"Ayu gak bisa ikut sekarang, sayang. Nanti ayah cepat pulang, ya."
"Cepat?" tanya Masayu polos.
"Iya. Cepat sekali." Dipta tersenyum tipis, mengecup kening anaknya lama, seolah ingin menyimpan hangat itu untuk bekal di perjalanan.
Masayu memeluk leher ayahnya erat-erat. "Jangan lama."
"Iya," bisik Dipta pelan.
Setelah itu, ia perlahan menurunkan Masayu kembali. Tangannya sempat merapikan rambut Alaric, lalu... tatapannya beralih pada Rana.
Untuk sesaat, dunia seperti mengecil hanya menjadi mereka berdua.
"Mas berangkat," ucap Dipta, suaranya lebih rendah dari tadi.
Rana mengangguk kecil. Wajahnya tenang, anggun seperti biasa, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan.
"Hati-hati di jalan."
Dipta menatapnya sejenak lebih lama.
"Kamu...jaga kesehatan. Jangan lupa makan. Aku titip anak-anak."
Rana sedikit tertegun- kalimat sederhana, tapi terasa berbeda keluar dari mulut pria itu.
"Iya. Mas gak usah khawatir, aku pasti jagain anak-anak."
Ada jeda lagi. Tidak canggung, tapi juga belum sepenuhnya nyaman. Seperti dua orang yang sedang belajar kembali menemukan ritme.
"Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku," tambah Dipta.
Rana mengangguk lagi. "Kamu juga, Mas."
Pak Vito membuka pintu belakang mobil dengan hormat.
"Tuan..."
Dipta menarik napas, lalu akhirnya berbalik. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang, membiarkan Pak Vito menutup pintu dengan pelan.
Mesin mobil kembali terdengar lebih jelas.
Dari balik jendela, Dipta menoleh.
Rana berdiri tegak dengan Masayu dalam gendongan dan Alaric di sampingnya. Siluet mereka disapu cahaya senja- hangat, utuh...rumah.
Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman.
Masayu melambaikan tangan kecilnya.
"Dadah, Ayah!"
Alaric ikut mengangkat tangan.
"Hati-hati!"
Rana tidak ikut melambaikan tangan.
Namun matanya mengikuti mobil itu sampai benar-benar hilang dari pandangan.
Dan entah sejak kapan, rasa rindu itu menyeruak memenuhi seluruh relung jiwanya.
~
Mobil Range Rover putih itu melaju keluar dari kawasan Hyarta residence, meninggalkan deretan rumah megah yang yang perlahan tertelan senja. Lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan garis panjang cahaya di sepanjang aspal.
Di dalam mobil, suasana sunyi.
Dipta duduk di kursi penumpang, tubuhnya sedikit bersandar, namun pikirannya jelas tidak setenang sikapnya. Tatapnya lurus ke depan, tapi kosong- seolah tertinggal di halaman rumah tadi.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya ia membuka suara.
"Pak Vito..."
"Ya, Tuan," jawab pria berusia lima puluh enam tahun itu sigap, tetap fokus pada jalan.
"Ada satu tempat yang harus kita datangi sebelum berangkat..., dia...akan ikut ke Jakarta juga."
Pak Vito sedikit melirik lewat kaca spion, tapi tidak bertanya.
"Baik, Tuan. Kemana?"
Dipta menyebutkan sebuah alamat. Singkat. Jelas.
Namun setelah itu, ada jeda lagi. Sampai akhirnya suara Dipta kembali terdengar, kali ini lebih pelan, lebih berat.
"Dan...soal ini," ia berhenti sejenak. "Jangan sampai Rana tahu."
Tangan Pak Vito yang menggenggam kemudi sedikit mengencang. Bukan karena terkejut, tapi karena memahami arti itu.
Sudah bertahun-tahun ia menjadi sopir pribadi keluarga itu. Sejak Dipta masih mahasiswa, bahkan sebelum di kenalkan dengan seorang putri dari keluarga priyayi. Ia tahu kapan harus bertanya, dan kapan cukup diam.
"Baik, Tuan," jawabnya akhirnya.
Mobil pun berbelok, meninggalkan jalur menuju arah tujuannya dan masuk ke jalan yang lebih sempit. Lampu kota mulai berganti dengan deretan ruko, warung, dan kontrak sederhana.
Tidak ada lagi gerbang tinggi atau taman rapi. Hanya gang dengan jalanan yang sedikit retak dan lampu seadanya.
Mobil melambat.
"Di sini, Pak." Ucap Dipta pelan.
Pak Vito menghentikan mobil di depan sebuah bangunan kontrakan dua lantai yang catnya mulai pudar. Ia menoleh sedikit, memastikan.
Namun saat pandangannya kembali ke depan...
Ia melihat seseorang yang berdiri di teras.
Seorang wanita.
Rambutnya tergerai sederhana, mengenakkan pakaian yang tidak mencolok, tapi wajah itu-
Pak Vito mengenalnya.
Matanya sedikit membesar, meski ia segera menunduk kembali, menjaga sikap.
laras.
Ingatan lama seperti tersibak begitu saja. Sosok dulu yang sering dijemputnya di kampus, yang duduk di kursi belakang bersama Dipta, tertawa tanpa beban.
Kakak tingkat sekaligus guru les Dipta saat masih seorang siswa.
Seseorang yang... pernah begitu dekat.
Pak Vito tidak berkata apa-apa. Tapi kini ia mengerti, kenapa alamat ini harus dirahasiakan.
Dipta membuka pintu mobil, keluar dengan langkah tenang, seolah ini hanya pertemuan biasa.
Namun saat ia berdiri di depan wanita itu, ada sesuatu yang tak bisa sepenuhnya disembunyikan- jejak masa lalu yang belum benar-benar selesai.
"Laras," ucap Dipta.
Wanita itu tersenyum kecil, "seharusnya aku naik kereta saja."
"Tidak ada yang tertinggal?" tanya Dipta.
Perempuan itu menggeleng.
Dari dalam mobil, Pak Vito diam-diam memperhatikan mereka. Apakah tuan muda benar-benar akan mengkhianati istrinya? Lalu bagaimana dengan Tuan muda Al dan nona kecil?
...****************...
Bersambung...
Hallo👋 sebelumnya makasih udah mampir dan aku harap cerita ini dapat menghibur kalian semua, btw jangan lupa vote, komen, subscribe, dan like biar aku semangat update bab baru....