Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelaparan
"Assalamualaikum!"Itu suara Elang. Suara yang kini terasa seperti melodi penyelamat di tengah malam yang dingin. Arumi segera bangkit dengan sisa tenaga yang ada, berusaha menahan perih di perutnya yang terus melilit. Dengan tangan gemetar sedikit, ia membuka pintu kos yang sederhana itu.
"Waalaikumsalam, Mas," jawab Arumi berbinar, meski wajahnya masih pucat.
"Maaf, aku pergi terlalu lama. Tadi ada obrolan sedikit dengan pemilik kos soal tagihan listrik bulan ini," ujar Elang sedikit berbohong , saat melangkah masuk sambil membawa helm di tangan kanannya. Ia menutup pintu dengan pelan, lalu menatap Arumi lebih saksama.
Arumi hanya mengangguk kecil, namun tangannya tak lepas dari perut yang terus melilit seperti ada yang memilin-milin dari dalam. Wajahnya mungkin terlihat pucat pasi seperti mayat hidup, bibirku kering, dan keringat dingin menetes di pelipis.
"Kamu kenapa, Arumi? Perutmu sakit?" tanya Elang seketika. Raut wajahnya berubah panik dalam sekejap. Ia mendekat dengan langkah cepat, menatap kearah Arumi dengan sorot mata penuh kekhawatiran yang tulus, alisnya bertaut, dan tangannya hampir terulur untuk menyentuh dahi Arumi .
"Iya, Mas ... sedikit perih," jawab Arumi sambil meringis, berusaha tersenyum tipis agar tidak terlihat terlalu lemah.
"Ayo kita ke dokter! Sekarang juga! Aku takut kamu kenapa-napa," katanya dengan nada mendesak yang membuat hati Arumi berdegup kencang. Elang sudah bersiap untuk membalikkan badan kembali ke motor, tangannya meraih kunci yang masih tergantung di pinggang celananya.
Melihat kepanikan di wajahnya yang biasanya tenang itu, hati Arumi terasa hangat sekali. Aneh sekali. Pria yang baru ia kenal ,bahkan baru beberapa jam menjadi suaminya secara sahnya ,begitu khawatir melihat Arumi kesakitan. Sementara ayah kandung Arumi sendiri sering tidak peduli ketika ia jatuh sakit di rumah. Bahkan dulu, saat demam tinggi, Ayah hanya bilang, "Minum obat saja, biar cepat sembuh," lalu pergi ke warung kopi dengan teman-temannya. Tapi Elang berbeda ia langsung panik seperti ini.
"Tidak usah ke dokter, Mas. Aku tidak apa-apa, sungguh," Arumi mencoba menenangkan Elang , suaranya pelan dan sedikit bergetar.
"Mana bisa sembuh sendiri kalau tidak diobati? Ayo, jangan keras kepala," desak Elang lagi, suaranya semakin mendesak sambil tangannya sudah memegang gagang pintu.
Arumi menundukkan kepala, merasa malu harus mengakui ini di depan pria yang baru saja menikahinya secara siri malam ini. Pipinya terasa panas, seperti ada api kecil yang menyala di sana."Bukan begitu,Mas ... perutku sakit bukan karena penyakit. Tapi karena ... aku sangat lapar."
Suasana hening sejenak. Arumi bisa merasakan Elang menatapnya lekat-lekat, matanya melebar sedikit karena terkejut. Lalu perlahan raut paniknya berubah. Ia tersenyum tipis, hampir seperti tawa kecil yang tertahan di tenggorokannya.
"Oh, jadi kamu sakit karena kelaparan?" tanyanya lembut, nada suaranya berubah menjadi penuh kehangatan yang membuat Arumi semakin malu.
"Hehe, iya Mas.Terakhir makan jam dua belas siang tadi. Bakso bakar yang kubeli juga tidak sempat kumakan karena tertinggal di rumah Ayah," Arumi menjelaskan dengan wajah merona merah karena malu. ia menunduk lebih dalam, jari-jarinya saling meremas ujung baju kaos longgar yang ia pakai. ("Ya Tuhan, malunya bukan main. Baru saja menikah, sudah merepotkan suami karena kelaparan seperti anak kecil yang lupa makan.")
Elang tertawa kecil, suara tawanya terasa sangat renyah di telinga, seperti angin sejuk yang menyapu kegelisahan Arumi "Ya sudah, sebentar. Sepertinya ada sisa nasi dari makan soreku tadi, tapi maaf, lauknya sudah habis. Cuma ada sambal terasi sedikit di kulkas."
"Tidak apa-apa, Mas! Pakai nasi putih saja tidak masalah, yang penting perutku terisi agar aku bisa tidur nyenyak malam ini," sahut Arumi cepat, masih dengan wajah yang memerah. ia berusaha tersenyum, tapi pasti terlihat kikuk sekali.
"Jangan hanya nasi putih, mana enak? Tunggu sebentar, sepertinya stok bakso bakarku masih ada beberapa tusuk di gerobak dagangan. Biar aku hangatkan sebentar untukmu," ujarnya penuh perhatian sambil sudah berbalik ke arah pintu. Ia tidak terlihat kesal sama sekali, malah matanya berbinar seperti senang bisa membantu.
"Terima kasih, Mas ... maaf kalau merepotkan," kata Arumi pelan, suaranya hampir hilang karena rasa malu yang semakin menumpuk. ("Kenapa aku harus lapar di malam pertama seperti ini? Harusnya aku bisa lebih siap. Sekarang Mas Elang pasti menganggapku anak kecil yang tidak bisa jaga diri.")
Elang kembali tersenyum manis senyum yang membuat Arumi terpaku sejenak. Dalam balutan kaos sederhana berwarna hitam yang sedikit kusut karena seharian bekerja, dan cahaya lampu neon yang redup di kamar kos ini, ia terlihat sangat tampan. Ada ketulusan yang memancar dari wajahnya yang tegas tapi lembut. Rahangnya yang tegas, mata sipit yang hangat, dan senyum yang sedikit miring di sudut bibir.
("Gila, senyumnya benar-benar berbahaya. Aku hampir lupa kalau dia ini suamiku sekarang. Kok bisa ya, pria seperti ini mau nikahin aku yang cuma ...") batin Arumi sambil terbengong, mata tak lepas dari wajah Elang
"Heh,malah melamun lagi! Malam-malam begini jangan bengong, nanti kesambet lho!" goda Elang sambil menyentuh bahu Arumi pelan dengan ujung jarinya. Sontak Arumi tersentak, tubuhnya seperti tersengat listrik kecil. Sentuhan itu ringan, tapi terasa hangat menjalar ke dada.
"E-eh, maaf Mas!" sahut Arumi kikuk, pipinya semakin panas seperti tomat matang. ia cepat-cepat menunduk, tangan kanannya mengusap-usap lengan baju sendiri untuk menyembunyikan kegugupan. ("Ya ampun, Arumi! Kenapa kamu melamun di depannya? Pasti dia pikir aku aneh atau ... atau suka banget sama dia. Padahal baru beberapa jam tahu dia sebagai suami.")
"Kenapa harus minta maaf ,kamu kan nggak salah ."
"Aku merepotkan mas ,dan mulai sekarang aku akan menjadi beban untuk Mas Elang ."
Elang tersenyum lembut ,dan menggelengkan kepalanya ."Aku tidak merasa direpotkan ,dan kamu juga bukan menjadi beban ,kamu adalah istriku ,sudah kewajibanku sebagai suamimu ."
Arumi ,terdiam dan tak mampu berkata -kata
"Ya sudah, aku ke depan dulu sebentar ya. Mau ambil sisa bakso dan sekalian memasukkan tabung gas ke dalam rumah. Takut hilang kalau ditinggal di luar semalaman," pamit Elang sambil melangkah keluar menuju motornya yang diparkir di halaman kos. Suaranya masih terdengar riang, seolah-olah kejadian tadi tidak membuatnya terganggu sama sekali.
Arumi menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu. Bahunya lebar, langkahnya mantap meski lelah setelah seharian berjualan bakso bakar keliling. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arumi merasa bahwa mungkin ,hanya mungkin keputusan nekatnya malam ini adalah langkah awal menuju kebahagiaan yang selama ini hilang dari hidupnya Kabur dari rumah, menikah siri dengan Elang yang baru ia kenal beberapa menit semua terasa gila. Tapi melihat perhatiannya tadi ... rasanya ada harapan kecil.