NovelToon NovelToon
Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Alya Senja

Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.

Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.

Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.

Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG PENYELAMAT

Pemuda itu tangguh juga dalam main-main itu. Meskipun lawan mainnya, belasan orang, dia tidak mundur, tidak takut. Terus maju dan maju sampai lawan mainnya kewalahan walaupun banyak, sedangkan dia hanya seorang diri saja tidak membuatnya mundur.

Rani menyaksikan main-main itu dengan dada dag dig dug. Dia berdoa pada Yang Maha Kuasa, supaya penolongnya tidak kenapa-kenapa.

“He, hebat kau ya. tak gentar dengan kami.”

Kata Purwo dengan nafas tersengal-sengal. Dia tidak menyangka ketemu lawan main yang tangguh. Biasanya baru digertak saja dengan pasang muka sangar, orang sudah minggir ketakutan. Baru kali ini ada orang yang tidak takut padanya dan gerombolannya, Kalajengking Hitam.

“Kau, hanya ngandelin main banyak.”

Teriak pemuda itu lantang. Purwo menggeram. Dia tidak terima hanya dianggap berani main banyak.

“Berhenti.”

Purwo menghentikan main-main tadi. Semua mata tertuju pada Purwo, ketua gerombolan mereka.

“Aku akan main denganmu. Kalau kau menang dalam main-main ini, boleh bawa perempuan itu. Tapi bila kau kalah, perempuan itu ikut aku dan kau jadi bawahanku. Gimana setuju !”

Teriak Purwo keras. Dia berharap pemuda itu bisa bergabung dengan gerombolannya, sehingga gerombolannya semakin ditakuti.

“Oke. Kau hadapi aku. Aku menang main-main, perempuan itu bebas. Aku kalah main-main, perempuan itu tetap bebas, aku mau jadi bawahanmu. Setuju !”

“Kau, berani atur-atur aku. Sapa kau !!!”

Teriak Purwo marah. Baru kali ini ada orang mau atur-atur dia. Dialah yang mengaturnya. Semua orang harus menurut pada aturan yang dia buat.

“Pokoknya itu aturannya.”

Pemuda itu tersenyum mengejek. Dia sengaja memanas-manasi lawan mainnya. Menurut kakeknya, yang mengajarinya silat, semakin lawan main kehilangan akal sehatnya dan emosian maka akan semakin mudah dikalahkan karena semua gerakannya akan mudah dibaca dan ditaklukkan.

“Eiiiit !!!”

Pemuda itu terkesiap. Tanpa aba-aba, lawan mainnya langsung melabraknya dengan cepat. Untunglah dia sigap sehingga tangan lawan mainnya lewat. Tangan yang membawa alat kerja kecil. Maka terjadilah main-main antara pemuda itu dengan Purwo, ketua gerombolan Kalajengking Hitam.

Rani sempat kaget dengan permainan Purwo yang cepat tanpa peringatan terlebih dahulu. Untungnya pemuda itu bisa sigap menghindar.

“Bisa juga kau.”

Teriak Purwo dengan marah. Dia benar-benar heran, lawan mainnya bisa menghindar cepat tangannya yang mau main ke tubuhnya. Padahal dia menyangka 99% mainnya itu pasti mengenai tubuh lawan mainnya. “Sekali gerakan cepat, menang” itulah motto yang selama ini dia anut. Dia biasa memanfaatkan kelengahan lawan main jika ada yang menantangnya main-main dengan sekali gerakan cepat langsung selesai. Tetapi pemuda ini lain. Gerakan menghindarnya luar biasa cepat dan tidak disangka-sangka.

“Boss, jangan kasih kendor lah. Masak ama anak kecil kalah main.”

Teriak pemuda kurus meyoraki bossnya untuk memberi semangat kepadanya.

“Diam kau, Didik. Mau kumainkan kau dengan ini.”

Teriak Purwo kepada pemuda kurus yang ternyata bernama Didik itu sambil memperlihatkan alat kerja kecil, diacungkan kearah Didik. Muka Didik menjadi pucat pasi. Dia ketakutan. Bahkan kedua kakinya gemetaran.

“Heeh. Kau aja belom tentu bisa main khan !”

Kata pemuda kekar itu menepuk punggung Didik keras-keras. Tubuh Didik seperti dihempaskan. Hampir saja dia jatuh ke tanah.

“Eiiii, kau jangan kurang ajar ya, Sentot.”

Kata Didik marah kepada Sentot.

Pemuda itu bersiap menghadapi main-main lagi dengan Purwo.

“Hei, bocah, namamu sapa !”

Kata Purwo dengan menatap kepada pemuda itu.

“Untuk apa kenal namaku. Toh kau juga tak akan bisa sebut di alam sono.”

“Aaaapaaaa !!!”

Teriak Purwo marah-marah. Dia merasa direndahkan oleh pemuda itu. Maka tanpa peringatan lagi, dia menerjang kearah pemuda itu.  Maka main-main kembali terjadi.

Muka Rani menegang. Main-main itu seru karena mereka bertaruh diri mereka. Siapa yang lebih dulu tumbang dan yang tetap berdiri. Rani tidak mau dijadikan barang taruhan, tetapi keadaan memaksa seperti itu. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa menentang kondisi yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Purwo terjengkang kena terjangan pemuda itu. Alat kerja kecilnya terlepas. Alat kerja kecil itu kemudian dipegang pemuda itu.

“Kau bangga bawa alat kerja kecil ini ya. Nih kukembalikan!”

Sambil berucap demikian, pemuda itu melempar alat kerja kecil kearah Purwo. Purwo berteriak. Dia pegangi perutnya yang kena alat kerja kecil itu. Mukanya merah padam karena marah. Dia segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk bergerak meneruskan main-main itu. Maka serentak gerombolan itu maju dan mengepung pemuda itu.

“Heeh, kau brani-brani sakiti boss. Bangga kau !”

Teriak Didik mendelik ke pemuda itu. Pemuda itu dengan tenang memandang kepada Didik.

“Bossmu, yang nngak ati-ati. Main-main ini bahaya.”

Kata pemuda itu dengan ringan.

“Udah, ayuk bikin dia jadi pepesan !”

Teriak pemuda gondrong yang hidungnya pakai tindikan. Segera terjadi main-main yang seru. Belasan orang main-main dengan pemuda itu. Purwo yang tadinya terbaring memegang perutnya segera bangkit dan sambil menyeringai menerjang ke pemuda itu. Terjangan tiba-tiba Purwo mengejutkan pemuda itu, bertahanannya sedikit goyah. Lalu dengan tangkas Purwo mengayunkan tangannya yang sudah bawa alat kerja kecil. Pemuda itu berusaha menghindar. Tetapi segaris melintang sebagai tanda dari alat kerja kecil dari Purwo. Pemuda itu mengusap mukanya.

“Ha….ha…..ha……Kau udah kena. Gimana rasanya.”

Kata Purwo sambil tertawa. Dia puas sekali dengan kerjanya.

Tiba-tiba pemuda itu ambil ancang-ancang mau main-main lagi. Semuanya bersiap, tetapi pemuda itu lari sambil menggandeng Rani.

“Ayuk, lari cepet.”

Pemuda itu berkata kepada Rani supaya mengikuti larinya. Rani segera mengikuti langkah pemuda itu lari sekencang mungkin.

“Hei, berhenti kau !!!”

Teriak Purwo marah. Dia tidak bisa ikut lari, dia memegang perutnya yang sakit. Segera Sentot menolongnya.

“Kau, kejarlah mereka jangan sampe lolos !”

Teriak Purwo kepada Sentot.

“Tapi, boss. Kau ini kena sakit di perut.”

“Tak pa. Cepet kejar mereka.”

Akhirnya Sentot ikut mengejar pemuda itu dan Rani.

“Terima kasih atas pertolonganmu.”

Kata Rani terengah-engah. Mereka berhenti sejenak di tempat tersembunyi di lorong panjang itu.

“Sssssttttt. Jangan bicara keras-keras, mereka kejar kita.”

Kata pemuda itu. Dia juga kelelahan karena habis main-main, sekarang berlari kencang cukup menguras tenaganya.

Lalu gerombolan itu muncul disamping mereka. Pemuda itu memepetkan tubuhnya ke Rani supaya tidak terlihat mereka. Rani yang dipepet tubuh pemuda itu merasa aneh. Perasaannya seperti senang terlindungi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Menepuk-nepuk dahinya keras-keras. Pemuda itu tidak begitu memperhatikan ulah Rani. Dia fokus kepada sampingnya, mewaspadai kalau-kalau gerombolan itu melihat dirinya.

Mereka bersembunyi di balik pohon besar yang menjulang menaungi pojok lorong panjang itu. Pohon beringin tua. Sudah tua usianya. Batangnya besar sehingga dapat menyembunyikan keduanya dari pandangan gerombolan itu.

“Kau, mau kemana.”

Kata pemuda itu singkat.

“Aku mau pulang ke rumah. Ibuku sakit. Adik-adikku kelaparan butuh makan.”

Kata Rani sambil menyeka matanya yang merah habis menangis. Bukan menangis sedih tetapi menangis lega dirinya luput dari gerombolan itu.

“Mari kuantar ke rumah kau.”

“Terima kasih.”

Rumah kecil itu ada di gang yang sempit. Itu rumah Rani. Tepatnya rumah kontrakannya. Di rumah itu ada ibunya yang sakit dengan tiga adiknya yang kecil-kecil. Ketiga adiknya segera menyambut kedatangan Rani dengan gembira. Sedari tadi mereka menahan lapar, menunggu kedatangan kakaknya, Rani yang membawa makanan buat mereka. Rani membagikan bungkusan makanan itu kepada mereka. Mereka segera menyambutnya dan membukanya dengan cepat. Pemuda itu melihatnya dengan sedih. Dia teringat juga dirinya yang sering menahan lapar jika belum dapat uang dari kerja rutinnya.

“Nak, terima kasih ya udah mau nganterin Rani.”

Kata ibu usia 45-an tahun tetapi seperti sudah berusia 60 tahun, karena sakit yang dideritanya menggerogoti tubuhnya yang rentan.

“Yak, bu.”

Jawab pemuda itu singkat.

“Kalau boleh tau. Nama anak ini sapa.”

kata ibu itu lagi.

“O ya. tadi lupa kenalin nama. Namaku Madun bu.”

Kata pemuda itu yang ternyata bernama Madun.

“Nak, obati dulu mukamu itu, yang garis melintang itu.”

Kata ibu itu lagi. Dia menoleh kepada Rani yang sedang membantu adik-adiknya makan. Kelihatan ketiga adiknya makan dengan lahap. Rani dengan sabar membantu mereka untuk menyiapkannya di piring supaya lebih mudah memakannya.

“Ran, tolong obati anak ini.”

Rani menghentikan kerjanya, menganggukkan kepalanya dan mendatangi Madun.

“Duduklah.”

Kata Rani pelan. Madun segera duduk di kursi kayu. Rani memeriksa muka Madun yang garis melintang, kena alat senjata kecik milik Purwo tadi. Madun memperhatikan wajah cantik Rani.

“Cantik.”

Desis Madun pelan.

“Ada apa. Sakit ya.”

Kata Rani yang mengolesi obat ke garis melintang di muka Madun.

“Nngak. Enak khok.”

Kata Madun salah tingkah.

“Enak ? bukankah harusnya sakit.”

Kata Rani heran.

“Eh, iya sakit….sakit…”

Kata Madun kemudian mengaduh.

“Eiii, paling juga seneng dia.”

Kata Rani dalam hatinya.

Demikianlah awal perkenalannya dengan Madun yang menolongnya dari gerombolan Kalajengking Hitam yang ditakuti di wilayahnya.

Bersambung

1
gendiz
semangat ya
Alya Senja: Terima kasih kak sudah mampir
total 1 replies
MayAyunda
keren
Alya Senja: Makasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Alya Senja
ya terima kasih mau mampir kak. Kita langsung ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!