Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JADI BAHAN GOSIP
Daster bunga-bunga. Sandal jepit warna merah. Rambut dikuncir asal pakai karet gelang.
Itu Santi. Dia selalu berpenampilan sederhana dan lugas. Baginya untuk apa berpenampilan glowing kalau hanya sekedar pamer tetapi aslinya tidak punya.
Tepat pukul 08.00 WIB, dia berdiri di lobi PT Gumilang Perkasa dengan status baru: Nyonya Dody. Waktu ditanda tangani kontrak, Dody paginya jam 6 sudah mengajak pengesah nikah dan menikahinya dengan status siri. Dia tidak protes. Dia tidak marah. Baginya itu bukanlah pernikahan tetapi hanya formalitas cairnya uang buat pengobatan anaknya. Anaknya sangat butuh biaya banyak untuk pengobatan penyakitnya. Dia tidak tega melihat Nonik selalu kesakitan. Sehingga dia rela menjual harga dirinya.
Masalahnya, semua orang masih kenal dia sebagai Santi, OB lantai 15.
Langkah Santi gontai saat melewati meja resepsionis. Mbak Tiwik yang biasanya menyapa ramah, sekarang menunduk. Berbisik-bisik sama OB baru di sebelahnya. Ada gosip baru. Dia menjadi bahan pergunjingan seluruh kantor. Dia sudah tutup telinga tutup mata. Dia tidak peduli dengan segala omongan orang tentangnya. Yang penting hanya satu Nonik mendapat pengobatan dan sembuh dari sakitnya.
Tujuannya satu ruang HRD. Mau membalikkan seragam OB dan ID card. Sekalian resign baik-baik. Pagi itu Dody bilang, "Urus sendiri." Dingin. Tanpa penjelasan. Pak Dody yang dingin dan kejam tidak mengenal kasihan sama sekali. Tetapi Santi tidak mengeluh semuanya dia terima dengan ucapan Syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dia selalu berdoa setiap subuh dengan satu permintaan Nonik sembuh.
Baru tiga langkah, suara melengking menghentikan langkahnya.
"Lihat siapa yang datang! ob kita yang terhormat!"
Wati. HRD. Senior. Ratu gosip kantor. Dia berdiri di depan pintu ruangannya, tangan berkacak pinggang. Kacamata bingkai merahnya melotot. Di belakangnya, 5 staf HRD jadi penonton gratis. Mereka kelihatannya bekerja tetapi diam-diam melihat kearahnya dan Wati yang galak.
Santi menelan ludah.
"Bu Wati... saya mau balikin seragam"
PLAK!
ID card biru milik Santi ditampar Wati sampai jatuh ke lantai. Foto Santi dengan seragam OB menghadap ke atas. Kusut. Santi terdiam. Dia tidak mengeluarkan suara. Hanya dalam diam. Dia biasa mendapat perlakuan itu sejak dia menampakkan kakinya di perusahaan ini.
"Balikin? Enggak usah!" Wati menjerit. Suaranya menggema di seluruh ruangan. Kepala-kepala mulai muncul dari balik bilik kerja. "Orang kayak kamu tuh Rendah! Kemarin ngepel lantai ini, sekarang mau ngepel ranjang calon suami orang?!"
Calon suami.Dua kata itu kuncinya. Dody dan Wandy sudah tunangan dua tahun. Belum nikah. Wandy sekarang di negara S mengurus bisnis keluarga. Dody mendapatkan kesempatan dengan perginya Wandy ke negara S Dimana perusahaan keluarganya berada. Di negara I hanya cabang dari perusahaannya.
Tetapi satu kantor tidak tahu Santi nikah kontrak sama Dody buat membatalkan tunangan itu. Di mata mereka, Santi merebut Dody dari Wandy.
"Bu... bukan gitu..."
Santi mau menjelaskan. Tetapi mana bisa. Isi kontrak rahasia. Tidak boleh orang tahu. Tetapi ternyata Wati tahu dari pengawasannya ketika pak Dody mendatanginya di rumah sakit dan menanda tangani kontrak dengan jempol anaknya. Wati tahu semuanya itu sebenarnya karena dia sudah curiga dengan Gerak-gerik Dody yang aneh dan penuh misteri, sejak Wandy pergi dari kota S.
"Bukan gitu apanya?!" Wati maju dua langkah. Jari telunjuknya hampir nyentuh hidung Santi. "Satu kantor udah tau! Lo goda Pak Dody sampe tunangannya, Bu Wandy, nangis ke negara S! Dasar penggoda! Dasar OB rendah!"
KRIEK!
Wati nginjak ID card Santi pake high heels 12 cm. Plastiknya retak. Foto Santi pecah jadi dua.
Satu kantor diam. Tapi HP pada keluar. Rekam. Status WA hari ini ada gosip baru. OB mengoda pak Ceo. Sampai pak Ceo meninggalkan tunangannya demi OB.
Dada Santi sesak. Air mata sudah di ujung. Tetapi dia tahan. Jangan nangis. Jangan di sini. Jangan memberi mereka tontonan. Karena dia tahu bahwa mereka semuanya biang gosip. Sekalipun diam-diam selalu ada saja yang menjadi bahan gosip mereka. Sekarang dia yang menjadi bahan gosip mereka.
Dari ujung lorong, suara langkah berat mendekat.
DOK. DOK. DOK.
Dody. Jas Armani hitam. Dasi merah marun. Wajah datar tanpa emosi. CEO berusia 34 tahun itu jalan seperti nggak terjadi apa-apa. Di tangannya ada map cokelat.
Wati langsung pasang muka melas. "Paaak Dody... lihat Pak... OB ini nggak tau diri. Dia ngerusak hubungan Bapak sama Bu Wandy. Tunangan Bapak... dia—"
"Berisik."
Satu kata. Pelan. Tetapi semua orang merinding. Dody bahkan tidak melihat Wati. Matanya lurus ke depan, ke lift.
"Urus urusan kalian. Jangan ganggu jam kerja saya."
Dody bicara sambil jalan terus. Tidak berhenti. Tidak menoleh ke Santi yang lagi disalahkan. Tidak membela. tidak marah. Kosong.
Tapi Santi lihat.
Di saku jas Dody, tangan kanannya mengepal. Kuat sekali sampai buku-bukunya putih.
Lima detik. Dody masuk lift. Pintu menutup.
Hening.
Terus Wati ketawa. Melengking. Puas. "Dengar itu?! Pak Dody aja tidak senang sama kamu! Dia nggak belain! Karena kamu emang rendah! Tunangannya aja dibela-belain, kamu diacuhkan!"
Kali ini pertahanan Santi jebol. Air mata tumpah. Dia jongkok, memungut pecahan ID card-nya dengan tangan gemetar.
"Maaf... maafkan saya Bu..."
bisiknya. Untuk apa? Dia tidak tahu. Dia hanya mau ini berhenti.
Dia lari.
Melewati tatapan menghakimi. Melewati bisikan "penggoda". Melewati rekaman kamera HP.
Tujuannya satu toilet lantai 15. Toilet yg kemarin dia pel setiap jam 7 pagi.
BRUK!
Pintu toilet dibanting. Santi mengunci diri di bilik paling ujung. Di situ, dia tidak lagi Nyonya Dody. Dia Santi lagi. Santi OB. Santi yg dihina. Santi yang selalu sendiri menghadapi masalah. tidak ada yang membelanya. Semua menyalahkannya. Semua mentertawakannya.
Tangisnya pecah. Bukan suara. Hanya getaran di dada. Di tangannya, pecahan ID card menggores telapak. Dia memejamkan mata. Tetapi tidak sesakit dadanya.
Di luar bilik, suara Wati masih sayup-sayup:
"... harus kita laporin ke Bu Wandy... biar tau kelakuan tunangannya..."
Di lantai 20, di ruang CEO paling ujung, Dody berdiri di depan jendela kaca sebesar dinding. Map cokelat di tangannya diremas sampai rusak.
Dari saku jas lain, dia mengeluarkan benda kecil.ID card. Milik Santi yang baru. Dengan foto Santi pakai dress selutut, bukan seragam OB. Jabatan nyonya. Tetapi status nikah siri. Dengan mudah nanti bisa diceraikan bila tidak suka.
Di ID card itu, ada tanda. Cairan yang membeku sebeku hati Dody yang telah lama membatu. Dia merasakan rasa sakit dihatinya. Perlakuan Wati kepada Santi mengingatkannya ketika Wati memperlakukannya pada waktu kecil dengan buruk. Tidak pernah memperlakukannya dengan manis. Kontras sebagai pewaris satu-satunya perusahaan Gumilang Perkasa.
telapak tangan Dody terasa sakit. Tetapi dia menahan semuanya itu. Seperti yang sering dia lakukan memendam rasa sakit sendirian. Karena dari tadi dia mengepal terlalu kuat menahan emosi. Menahan tidak memarahi Wati ke HRD detik itu juga. Salah satu isi kontrak. "Dilarang menunjukkan pembelaan di depan publik selama 30 hari pertama."
Kalo dilanggar, Santi tidak dapat uang buat operasi Nonik. Itu membuat kondisi Santi memburuk. Dody tidak ingin menambah kondisi Santi yang sudah memburuk itu.
"Bertahan, Santi."
Bisiknya ke jendela. Ke kota S di bawah. Suaranya hanya dia yang mendengar. "24 hari lagi. Setelah itu, giliran aku yang bertindak."
BERSAMBUNG