Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Fragmen Kayu dan Peringatan
Keheningan di ruang kelas XI-IPA 1 terasa memekakkan telinga.
Selama hampir satu menit penuh, tidak ada satu pun tarikan napas yang terdengar wajar. Tiga puluh pasang mata masih terpaku pada serpihan kayu jati yang berserakan di atas lantai ubin abu-abu. Kayu solid yang seharusnya mampu menahan beban puluhan kilogram itu kini hancur layaknya remah biskuit murahan, menyisakan ujung meja yang bergerigi kasar.
Dara masih berdiri membeku dengan punggung menempel pada papan tulis. Di kulit lehernya, tepat di titik di mana hidung Indra Bagaskara tadi berhenti, masih tersisa jejak hawa panas yang membakar. Panas itu tidak menyakitkan, melainkan menembus pori-porinya, merambat melalui pembuluh darah, dan secara aneh mengunci seluruh rasa panik yang biasanya akan membuat Dara pingsan.
Otak rasional Dara sedang berperang hebat dengan insting murninya. Itu tidak mungkin, jerit logikanya. Manusia tidak bisa menghancurkan kayu sekeras itu hanya dengan satu remasan. Manusia tidak memancarkan uap panas dari kulitnya.
Namun, darah di nadinya merespons dengan cara yang berbeda. Darahnya seolah berbisik, Dia mengenali kita. Dan kita mengenalinya.
"Ehm..." Pak Budi berdehem keras, suaranya sedikit gemetar, memecah kesunyian yang mencekik itu. Guru paruh baya itu dengan kikuk meletakkan spidolnya kembali ke laci, menghindari tatapan murid-muridnya. "Meja... meja ini memang sudah sangat tua. Rayapnya pasti sudah merusak struktur bagian dalamnya. Ya, sudah keropos sejak lama."
Itu adalah sebuah kebohongan yang sangat transparan. Meja guru itu terbuat dari kayu jati solid yang diwariskan dari era kolonial, tak tersentuh oleh rayap mana pun. Namun, Dara bisa melihat dengan jelas bagaimana seluruh murid di kelas itu secara serempak menerima kebohongan tersebut. Mereka mengangguk pelan, beberapa mengembuskan napas lega yang dipaksakan.
Dara menyadari sesuatu yang mengerikan di detik itu: Orang-orang di desa ini memilih untuk buta. Mereka memilih untuk menutupi keanehan klan Bagaskara dengan rasionalisasi yang tidak masuk akal, semata-mata demi mempertahankan kewarasan mereka sendiri.
"Santi, tolong panggilkan petugas kebersihan nanti saat istirahat untuk membereskan ini," lanjut Pak Budi, berusaha mengembalikan otoritasnya. "Dara, silakan duduk di bangkumu. Kita... kita lanjutkan pelajaran."
Dengan kaki yang masih terasa seperti jeli, Dara melangkah perlahan menuju bangku kosong di sebelah Santi. Saat ia duduk, Santi langsung menggenggam tangan Dara di bawah meja. Tangan Santi sedingin es dan berkeringat.
"Kamu punya nyawa cadangan, ya?" bisik Santi dengan suara yang nyaris tak terdengar, matanya melebar penuh horor. "Apa yang kamu lakuin sampai Kak Indra nyamperin kamu kayak tadi?"
"Aku nggak tahu, San. Sumpah, aku bahkan belum pernah bicara sama dia," balas Dara dengan bisikan yang sama pelannya.
"Pasti ada alasannya, Ra. Keluarga Bagaskara nggak pernah berurusan sama anak-anak biasa. Mereka itu kasta tertinggi di sini. Maksudku, kamu lihat sendiri kan mejanya? Preman mana pun nggak akan berani cari mati sama Kak Indra." Santi menelan ludah, melirik sisa meja guru yang hancur. "Kamu mending hati-hati. Tatapan Kak Indra tadi... dia kayak mau nelan kamu hidup-hidup."
Bukan menelan, batin Dara. Dia sedang menahan diri untuk tidak merobekku. Sisa pelajaran Matematika itu berlalu seperti bayangan buram bagi Dara. Ia mencatat rumus-rumus di papan tulis secara mekanis, namun pikirannya tertinggal pada sepasang mata keemasan yang menyala liar, pada aroma daun pinus bercampur darah kering, dan pada jejak kaki raksasa di halaman belakang rumah Kakek Danu.
Teka-teki ini mulai membentuk sebuah pola yang ganjil, dan Dara berada tepat di pusatnya.
Begitu bel istirahat berbunyi, hujan gerimis mulai turun, membawa serta kabut tebal yang menutupi lapangan basket sekolah. Suhu udara anjlok secara drastis, membuat napas siapa pun yang berbicara berubah menjadi kepulan uap putih.
Santi menyeret Dara menuju kantin yang terletak di bagian belakang sekolah. Kantin itu berupa bangunan semi-terbuka dengan bangku-bangku kayu panjang, dipenuhi oleh aroma soto ayam, mi rebus, dan kopi saset. Suasananya sangat riuh, namun entah mengapa, Dara merasa seolah ia sedang diamati oleh ratusan mata. Setiap kali ia melewati sekelompok murid, percakapan mereka mendadak mereda, digantikan oleh bisik-bisik dan lirik-lirikan tajam ke arahnya.
"Abaikan saja mereka," kata Santi sambil menyodorkan semangkuk bakso urat yang mengepul panas ke hadapan Dara. Gadis berambut ekor kuda itu duduk di seberangnya. "Berita soal kejadian di kelas tadi pasti udah menyebar ke satu sekolah. Anak-anak cuma penasaran."
Dara mengaduk baksonya tanpa selera. "San, kamu bilang keluarga Bagaskara itu... aneh. Aneh yang bagaimana maksudmu?"
Santi mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan suaranya seolah sedang membagikan rahasia negara. "Banyak rumornya, Ra. Keluarga mereka itu pemilik perkebunan kopi terbesar di lereng timur Marapi. Tanah mereka luas banget, sampai masuk ke area hutan yang dilarang buat warga biasa. Tapi bukan cuma soal kaya..."
Santi melirik ke kiri dan ke kanan sebelum melanjutkan.
"Mereka nggak pernah kelihatan makan di kantin. Nggak pernah ikut kegiatan fisik yang berat di siang bolong, tapi kalau pelajaran olahraga pagi hari, mereka nggak ada tandingannya. Terus, ini yang paling aneh..." Santi menunjuk ke arah kulit lengannya sendiri. "Suhu tubuh mereka. Beberapa anak yang pernah nggak sengaja bersentuhan sama Kak Raka atau Kak Maya bilang kulit mereka panas banget, kayak orang yang lagi demam tinggi. Apalagi Kak Indra. Dan mata Kak Indra... kadang warnanya bisa kelihatan terang banget kalau lagi marah."
Dara terdiam. Fakta yang disebutkan Santi sangat cocok dengan apa yang ia alami.
"Mereka bukan... yah, mereka bukan manusia biasa kan?" pancing Dara pelan, mencoba melihat seberapa jauh warga desa mempercayai mitos mereka.
Santi mendadak pucat. Ia buru-buru meletakkan sendoknya. "Sst! Jangan ngomong gitu keras-keras, Ra! Orang sini percaya kalau keluarga Bagaskara itu punya 'pegangan' dari leluhur mereka. Ilmu keturunan, atau apalah itu. Selama kita nggak mengganggu wilayah mereka, mereka bakal melindungi desa ini. Udah, mending jangan dibahas lagi."
Dara tidak mendesak lebih jauh. Ia menyadari bahwa batas pengetahuan Santi hanya sebatas rumor dan ketakutan manusiawi. Santi tidak tahu tentang geraman di tengah malam. Santi tidak tahu tentang transformasi.
"Aku mau ke toilet sebentar, San. Mau cuci muka," kata Dara, bangkit dari bangku kayu panjang itu. Kepalanya mulai berdenyut akibat terlalu banyak informasi dan ketegangan emosional.
"Mau kutemani? Jarak toilet perempuan di sayap barat agak jauh lho, dekat perpustakaan lama," tawar Santi.
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Sekalian mau cari udara segar."
Dara berjalan meninggalkan kantin yang bising, menyusuri koridor-koridor panjang peninggalan Belanda yang jendelanya berukuran raksasa. Semakin jauh ia berjalan menuju sayap barat, suasana semakin sepi. Lampu pijar di lorong ini tampaknya banyak yang mati, menyisakan keremangan yang dipenuhi oleh bayangan pilar-pilar batu.
Hawa dingin dari luar menyusup masuk melalui kaca jendela nako yang tidak tertutup rapat. Dara merapatkan jaket wolnya.
Saat ia melewati pintu ganda kayu jati bertuliskan Perpustakaan, langkah Dara terhenti. Ujung matanya menangkap sebuah pergerakan di dalam ruangan gelap tersebut.
Dara menoleh. Perpustakaan itu tampaknya sedang tidak dijaga, hanya diterangi oleh sedikit cahaya kelabu dari jendela. Namun, di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi, bersandar pada salah satu rak kayu, berdirilah seorang pemuda.
Raka Bagaskara.
Adik Indra yang sebelumnya berjalan di sebelah kanan formasi klan tersebut. Raka mengenakan sweter turtleneck hitam di balik kemeja seragamnya yang tidak dikancingkan. Ia tengah membolak-balik sebuah buku tua dengan ekspresi santai.
Dara berniat mempercepat langkahnya untuk menghindar, namun suara Raka tiba-tiba menghentikannya. Suara pemuda itu tidak keras, namun bergema aneh di lorong yang sepi.
"Kamu tahu, refleksmu cukup mengagumkan untuk ukuran manusia kota."
Dara menegang. Ia memutar tubuhnya menghadap pintu perpustakaan yang terbuka. Raka menutup bukunya dan berjalan mendekat, menyenderkan bahunya pada kusen pintu. Senyum simpul bertengger di wajah pemuda itu, senyum yang sangat menawan namun tidak pernah mencapai matanya.
"Refleks apa?" tanya Dara waspada.
"Saat bola basket itu nyaris menghantam kepalamu tadi pagi," Raka menunjuk pelipisnya sendiri. "Kebanyakan anak perempuan akan menjerit dan diam membeku. Tapi kamu menunduk bahkan sebelum otakmu memproses arah bola itu. Insting bertahan hidup yang sangat... murni."
Dara mengerutkan kening. "Kamu memperhatikanku?"
"Kami semua memperhatikanmu, Dara Kirana," jawab Raka santai. Ia melangkah keluar dari perpustakaan, berdiri sekitar satu meter di hadapan Dara.
Sama seperti Indra, Dara bisa merasakan radiasi panas yang samar memancar dari tubuh Raka. Namun panas Raka terasa lebih terkendali, lebih stabil, seperti api unggun kecil dibandingkan dengan letusan gunung berapi yang dibawa oleh kakaknya.
Raka memiringkan kepalanya, mengamati wajah Dara dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan. "Kak Indra... dia biasanya adalah makhluk yang paling mengandalkan kendali diri di keluarga kami. Dia tidak pernah meledak tanpa alasan. Tapi hari ini, dia menghancurkan sebuah meja jati murni di depan puluhan saksi mata hanya karena dia tidak bisa menahan reaksi tubuhnya saat berada di dekatmu."
"Aku tidak melakukan apa-apa padanya!" sahut Dara defensif. Detak jantungnya kembali meningkat.
"Oh, justru itu masalahnya," Raka tersenyum lebih lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan entah mengapa terlihat sedikit terlalu runcing. "Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Keberadaanmu saja sudah menjadi pemicu bagi kami. Baumu... aromamu... itu seperti melempar sebongkah daging segar yang berlumuran darah ke dalam kandang predator yang sudah berpuasa selama puluhan tahun."
Kalimat Raka membuat darah di tubuh Dara serasa membeku. Pemuda ini menggunakan analogi binatang buas tanpa sedikit pun keraguan.
"Siapa kalian sebenarnya?" suara Dara nyaris bergetar. Keberaniannya mencoba menembus rasa takut, didorong oleh insting Pawang di dalam darahnya yang menolak untuk tunduk. "Apa yang ada di dalam hutan itu?"
Senyum Raka perlahan memudar. Matanya yang berwarna cokelat gelap—berbeda dengan mata keemasan kakaknya—menatap Dara dengan keseriusan yang mematikan.
"Kamu cucu Danu, kan? Seharusnya kakek tua itu sudah mengajarimu aturan di tempat ini." Raka maju selangkah, menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Dara. "Dunia ini tidak hanya diisi oleh manusia yang berjalan di bawah matahari, Dara. Ada dari kami yang memiliki sejarah lebih tua dari aspal yang kau injak. Saran dariku: jangan pernah mencoba mendekati Kak Indra. Kalau dia kehilangan kendali lagi saat tidak ada aku atau Kak Maya... dia akan mengoyakmu hingga tidak bersisa."
KRAK.
Suara hak sepatu kulit yang menginjak ranting patah di ujung lorong membuat Raka dan Dara serempak menoleh.
Dari balik bayang-bayang pilar koridor, Maya Bagaskara muncul. Gadis itu berjalan dengan keanggunan seorang model runway, namun dengan aura membunuh seorang pembunuh bayaran. Rambut hitam lurusnya berkibar pelan. Matanya yang tajam menatap tajam ke arah Dara, memancarkan permusuhan yang sangat absolut.
"Raka. Mundur," perintah Maya. Suaranya dingin, datar, dan tajam seperti silet.
Raka menghela napas pelan, mengangkat kedua tangannya menyerah, lalu mundur selangkah menjauhi Dara. "Aku cuma mengobrol, May. Menjelaskan sedikit etika pada tamu baru kita."
Maya tidak memedulikan Raka. Ia berjalan mendekati Dara hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Tubuh Maya lebih tinggi dari Dara, dan gadis itu menggunakan postur tubuhnya untuk mengintimidasi.
"Dengarkan aku baik-baik, Anak Kota," desis Maya, setiap suku katanya ditekankan dengan kebencian. "Kakekmu mungkin punya perjanjian lama dengan tetua kami, dan itu satu-satunya alasan kenapa kau masih bisa bernapas di tanah ini. Tapi perjanjian itu tidak berlaku jika kau menjadi ancaman bagi kewarasan calon pemimpin klan kami."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu," kata Dara, berusaha keras agar suaranya tidak bergetar. Ia balas menatap mata Maya. "Aku bahkan tidak ingin berurusan dengan kalian! Kakakmu yang datang ke kelasku dan menghancurkan meja itu!"
Mata Maya berkilat marah. "Kakakku sedang berjuang melawan insting yang dikutukkan pada garis keturunannya! Dan kau... darah di dalam nadimu itu... kau adalah racun sekaligus penawarnya. Indra sedang berada di fase yang tidak stabil, dan baumu akan membuatnya gila!"
Dara tertegun. Racun sekaligus penawar. Kalimat itu menggema di kepalanya. Jadi darahnya bukanlah sekadar memancing monster itu, melainkan memiliki fungsi yang jauh lebih kompleks.
Tangan kanan Maya bergerak secepat kilat, mencengkeram kerah jaket wol Dara. Kekuatan gadis itu luar biasa besar, membuat kaki Dara sedikit berjinjit. Hawa panas yang ekstrem langsung merambat dari kulit tangan Maya ke leher Dara, membuat gadis itu mengaduh pelan.
"Kalau kau tidak ingin mati muda seperti orang tuamu di dalam kecelakaan pesawat itu," bisik Maya kejam, sengaja menusuk titik paling rapuh di hati Dara, "jangan pernah menatap matanya lagi. Jangan pernah mencoba menjadi pahlawan di desa ini. Kalau kau memicu transformasi Indra di luar waktu yang seharusnya, aku sendiri yang akan memastikan mayatmu tidak akan pernah ditemukan di dalam hutan Marapi."
Maya menghempaskan tubuh Dara ke belakang hingga punggung gadis itu menabrak dinding koridor dengan cukup keras.
Dara terengah, mencengkeram dadanya yang terasa sesak akibat rasa sakit fisik dan emosional. Sindiran tentang orang tuanya menghancurkan benteng pertahanan yang sudah susah payah ia bangun sejak pagi.
Maya memberikan tatapan jijik untuk terakhir kalinya sebelum membalikkan badan. "Ayo, Raka. Kita harus memastikan Indra tidak melompat dari tebing akibat migrainnya."
Raka menatap Dara dengan tatapan simpati yang aneh, seolah ia benar-benar kasihan pada takdir yang menimpa gadis itu. "Hati-hati di jalan pulang, Dara. Hutan sedang tidak bersahabat menjelang bulan baru," ucapnya pelan, sebelum menyusul Maya berjalan menjauh dan menghilang di belokan koridor menuju ruang medis.
Dara merosot perlahan hingga terduduk di atas lantai ubin yang dingin. Ia memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di antara lengannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, bercampur dengan kebingungan, amarah, dan rasa frustrasi yang luar biasa.
Keluarga Bagaskara bukanlah manusia. Mereka adalah monster-monster yang bersembunyi di balik seragam sekolah dan kekayaan. Dan entah bagaimana, garis keturunan Dara, darah yang mengalir dari ibunya, mengikatnya secara mistis dengan monster paling berbahaya di antara mereka.
Kakek, kau membawaku ke neraka, batin Dara pedih.
Gadis itu tidak tahu bahwa peringatan Maya dan Raka hanyalah permulaan. Di balik lebatnya Hutan Marapi, sesuatu yang jauh lebih gelap dari klan Harimau tengah mencium aroma kedatangan Dara. Sebuah kekuatan kuno yang membeku dari era kolonial kini perlahan mulai membuka matanya, menanti saat yang tepat untuk merebut Pawang Rimba terakhir dari tangan cakar-cakar keemasan.
Pintu menuju realitas yang selama ini disembunyikan oleh dunia telah didobrak paksa bagi Dara, dan tidak ada jalan kembali selain terus melangkah masuk ke dalam perut sang monster.