Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Pernikahan Tanpa Cinta
Suara denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen tipis itu terdengar seperti lonceng kematian bagi kebebasan Selena Putri.
Di ruang makan kediaman utama keluarga Hermawan yang megah, aroma truffle dan anggur merah mahal menguar, namun bagi Selena, udara di sana terasa mencekik, seolah-olah oksigen telah habis disedot oleh ego orang-orang yang duduk mengelilingi meja panjang tersebut.
Di seberangnya, Biru Hermawan duduk dengan punggung tegak, setelan jas gelapnya tanpa cela, seakan-akan ia baru saja melangkah keluar dari sampul majalah bisnis. Wajahnya datar, sepasang matanya yang tajam menatap kosong ke arah gelas kristal di depannya. Tidak ada kehangatan, tidak ada binar kehidupan, hanya ada kalkulasi yang dingin.
"Jadi, kapan kalian akan meresmikan ini?" Suara bariton kakek Biru, sang patriark keluarga Hermawan, memecah kesunyian yang kaku.
Selena merasakan jemarinya di bawah meja meremas gaun satinnya hingga kusut. Ia melirik Biru, berharap pria itu akan memberikan jawaban yang telah mereka sepakati di balik pintu tertutup semalam.
Biru meletakkan serbetnya dengan gerakan lambat. "Minggu depan. Kami tidak butuh pesta besar. Cukup catatan sipil dan KUA, makan malam keluarga inti."
"Jangan konyol, Biru," sahut ibunya, Widya dengan nada tinggi yang dipaksakan ceria. "Pernikahan ahli waris Hermawan Group adalah peristiwa besar. Dunia perlu tahu ini meskipun latar belakang calon istrimu belum jelas."
Selena memaksakan sebuah senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Tante, kami rasa kesederhanaan akan lebih... elegan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu ini. Bukankah begitu, Biru?"
Biru mengalihkan tatapannya pada Selena. Untuk sesaat, mata mereka bertemu—dua pasang mata yang sama-sama menyimpan skeptisisme mendalam terhadap konsep cinta. Bagi Selena, cinta adalah rantai yang digunakan ayahnya untuk mengontrol ibunya hingga akhir hayat. Bagi Biru, cinta hanyalah variabel tidak relevan yang sering kali merusak neraca keuangan.
Tapi entah kenapa dada mereka berdua berdebar asing hanya dengan tatapan itu.
"Benar," jawab Biru pendek. "Fokus kita adalah stabilitas, bukan sirkus media."
Semua orang yang ada di meja makan itu langsung menghela nafas. Mereka semua mengenal Biru yang sangat dingin dan tak suka publikasi yang terlalu heboh.
Dua jam kemudian, di balkon lantai dua yang menghadap ke taman labirin keluarga Hermawan, Selena akhirnya bisa bernapas. Ia melepas sepatu hak tingginya, membiarkan kakinya menyentuh marmer yang dingin. Angin malam Jakarta yang lembap menerpa wajahnya.
"Kau berakting cukup baik di dalam," suara berat Biru muncul dari kegelapan di belakangnya.
Selena tidak berbalik. "Aku seorang penulis, Biru. Menciptakan fiksi adalah keahlianku. Dan pernikahan ini... adalah fiksi terbaik yang pernah aku tulis."
Biru berjalan mendekat, menyandarkan sikunya di pagar balkon, beberapa jengkal dari Selena. Bau parfumnya yang beraroma kayu cendana dan citrus memenuhi ruang di antara mereka. "Ingat kesepakatan kita, Selena. Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan emosional. Di depan keluarga kita adalah pasangan, di belakang pintu ini, kita adalah rekan bisnis."
"Aku tidak akan melanggarnya," sahut Selena tajam. "Jadi jangan selalu mengingatkan aku tentang itu. Aku hanya butuh perlindungan namamu agar keluargaku berhenti menjodohkanku dengan investor-investor tua bangka itu. Hanya itu. Aku tidak butuh hatimu, apalagi drama rumah tangga."
Biru mengangguk, tampak puas dengan jawaban itu. Namun, Selena tidak menyadari betapa pucatnya wajah pria itu di bawah cahaya bulan yang redup. Biru meremas pagar balkon dengan tangan kirinya, buku-buku jarinya memutih, menahan denyut nyeri yang tiba-tiba menyerang dadanya—sebuah pengingat bahwa waktu bukanlah sesuatu yang ia miliki dalam jumlah banyak.
"Bagus," bisik Biru. "Karena aku juga tidak punya apa-apa untuk diberikan padamu selain jaminan finansial dan nama belakangku."
*
Hari-hari menjelang pernikahan berlalu seperti montase film yang bisu. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Selena tetap tenggelam dalam draf novelnya di kafe-kafe tersembunyi, sementara Biru seolah-olah mengubur dirinya dalam tumpukan dokumen legal dan akuisisi perusahaan.
Sehari sebelum hari-H, Biru memanggil Selena ke kantor pribadinya di penthouse pusat kota. Ruangan itu minimalis, didominasi warna abu-abu dan hitam, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang tanpa kompromi.
"Tanda tangani ini," Biru mendorong sebuah map kulit ke arah Selena.
Selena membukanya. Itu bukan hanya perjanjian pranikah biasa. Matanya membelalak saat membaca poin-poin di dalamnya. "Biru, ini... ini berlebihan."
"Jika terjadi sesuatu padaku dalam masa pernikahan ini, atau jika kita bercerai setelah satu tahun, kau berhak atas empat puluh persen saham di anak perusahaan Hermawan dan properti di Singapura serta London," jelas Biru tanpa ekspresi, seolah sedang membicarakan harga bahan pokok.
"Kenapa kau memberikan sebanyak ini? Aku hanya butuh status, bukan ingin merampok hartamu."
Biru memalingkan wajah, menatap keluar jendela besar yang menampilkan kelap-kelip lampu Jakarta yang seperti lautan api.
"Keluargaku adalah sekumpulan hiu, Selena. Jika aku tidak memberimu 'senjata' yang cukup, mereka akan mengulitimu hidup-hidup jika aku tidak lagi bisa melindungimu. Anggap saja ini premi asuransi untuk ketenanganku."
Selena menatap punggung Biru. Ada sesuatu dalam nada bicara pria itu yang terdengar seperti perpisahan, namun ia segera menepis pemikiran itu.
Jangan baper, Selena, bisiknya pada diri sendiri. Ini hanya transaksi.
Ia mengambil pena dan membubuhkan tanda tangannya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Malam pernikahan itu berlangsung sunyi namun megah di sebuah kapel pribadi. Selena mengenakan gaun putih sederhana tanpa banyak payet, rambutnya disanggul modern yang rapi. Biru tampak gagah, namun Selena menyadari bahwa setiap kali Biru harus berdiri lama untuk berfoto, pria itu akan sedikit bertumpu pada asistennya yang tampak sangat setia atau mencari sandaran.
Setelah acara selesai, mereka pulang ke rumah baru mereka—sebuah rumah modern dengan konsep terbuka yang terlalu luas untuk dua orang yang tidak ingin saling bersentuhan.
"Kamar kita terpisah, seperti perjanjian kita," kata Biru sambil melonggarkan dasinya saat mereka masuk ke lobi rumah. "Kamarmu di sayap kanan, milikku di sayap kiri."
"Terima kasih," jawab Selena singkat. Ia merasa canggung. Kini, setelah mereka resmi menikah, keheningan di antara mereka terasa berbeda. Ada berat yang tak kasat mata.
"Selena," panggil Biru sebelum wanita itu melangkah pergi.
Selena menoleh. Biru berdiri di bawah lampu gantung kristal yang cahayanya berpendar. Untuk pertama kalinya, Selena melihat kerentanan di mata pria itu, meski hanya sekejap sebelum Biru kembali memakai topeng dinginnya.
"Jangan pernah jatuh cinta padaku," ucap Biru, suaranya hampir menyerupai bisikan. "Itu akan membuat segalanya menjadi sangat sulit."
Selena mendengus pelan, mencoba menutupi detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. "Jangan khawatir, Biru Hermawan. Hatiku sudah lama membeku. Kau aman."
Saat Selena berjalan menjauh, ia tidak mendengar suara batuk kecil yang diredam Biru dengan saputangan. Ia juga tidak melihat noda merah yang tertinggal di kain putih bersih itu. Biru menatap punggung Selena dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa bersalah dan kelegaan yang getir.
Di kamar masing-masing, dua orang skeptis itu mencoba tidur. Di sayap kanan, Selena mulai membayangkan plot baru untuk novelnya, tanpa menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam plot paling tragis yang pernah ada. Di sayap kiri, Biru menelan beberapa butir obat dengan air putih, berdoa agar jantungnya yang lemah setidaknya bisa bertahan cukup lama untuk memastikan Selena tidak akan pernah kekurangan satu sen pun saat ia pergi nanti.
Kejutan terbesar dalam hidup mereka baru saja dimulai, dibungkus dalam kemasan pernikahan yang sempurna tanpa cinta—setidaknya, itulah yang mereka percayai malam itu.
***
jin ouch jin sentuh itu selena...