NovelToon NovelToon
Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.

​"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."

​Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

candu di balik rasa bersalah

Waktu beranjak siang, namun atmosfer di dalam rumah itu masih terasa menyesakkan bagi Tyas. Ia duduk di ruang tengah, menatap televisi yang menyala tanpa benar-benar memperhatikannya. Pikirannya justru melayang pada sosok Angga yang kini sedang berada di ruang kerjanya.

​Tyas tidak bisa memungkiri kenyataan yang perlahan mulai ia akui dalam hati kecilnya. Jika dibandingkan, Angga memang jauh lebih matang, tampan, dan gagah daripada Satya. Ada karisma pria dewasa yang begitu kuat yang tidak dimiliki oleh pemuda labil seperti mantan pacarnya itu. Terlebih lagi, kenangan akan "kehebatan" Angga di ranjang tadi malam meninggalkan bekas yang sulit untuk dihapus dari ingatannya. Ada sensasi yang jauh lebih mendalam, penuh kendali, dan memuaskan yang diberikan oleh kakak iparnya tersebut.

​Namun, setiap kali rasa puas itu muncul, bayangan wajah Mbak Rani—kakak kandungnya yang begitu menyayangi dan mempercayainya—seketika menyerang batin Tyas. Rasa bersalah itu menusuk-nusuk, membuat dadanya terasa sesak. Bagaimana aku bisa melakukan ini pada Mbak Rani? batinnya berteriak. Namun di saat yang sama, ada bagian dari dirinya yang justru merasa tertantang dan ketagihan dengan dinamika terlarang yang baru saja ia mulai.

​Tyas menyentuh bibirnya sendiri, teringat bagaimana Angga tadi membelainya. Ia tahu, setelah semua yang Angga lakukan untuknya—menyelamatkan masa depannya dari ancaman Satya—ia telah kehilangan hak untuk berkata tidak. Dia kini telah sepenuhnya menjadi milik Angga, baik secara paksa maupun atas dasar kepuasan yang mulai ia nikmati sendiri.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Tyas menoleh dan mendapati Angga sudah keluar dari ruang kerjanya, kini mengenakan pakaian santai rumah yang membuatnya tampak jauh lebih intim. Pria itu berdiri di sana, menatap Tyas dengan pandangan yang seolah bisa membaca setiap gejolak di pikiran adik iparnya.

​Angga tidak berkata apa-apa. Ia hanya memberikan senyuman tipis yang penuh arti sebelum berjalan melintasi ruang tengah. Saat ia melewati Tyas, tangannya sempat mengusap bahu gadis itu dengan tekanan yang lembut namun posesif, sebuah gestur yang menegaskan siapa yang memegang kendali di rumah ini selama Rani tidak ada.

​Tyas hanya bisa memejamkan mata sesaat, membiarkan sentuhan itu menyalakan kembali api yang seharusnya ia padamkan. Ia terjebak dalam kontradiksi yang memuakkan namun candu; ia membenci dirinya sendiri karena berkhianat, tetapi ia tidak sanggup melepaskan diri dari pesona terlarang yang kini menjadi bagian dari hidupnya.

Setelah Angga berpamitan untuk pergi ke bank karena ada urusan pekerjaan mendadak, suasana rumah kembali sepi. Tyas menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir sisa-sisa kegundahan yang menggelayuti pikirannya. Ia melirik layar ponselnya dan melihat sebuah notifikasi masuk dari aplikasi perbankan. Angga baru saja mentransfer sejumlah uang yang cukup besar ke rekeningnya.

​Uang itu sebenarnya adalah amanah dari Mbak Rani sebelum berangkat kerja ke luar kota, yang dititipkan melalui Angga untuk keperluan uang saku dan persiapan kuliah Tyas. Mengingat hal itu, perasaan Tyas menjadi sedikit lebih tenang. Mbak Rani pasti tidak akan menaruh curiga sedikit pun. Di mata kakaknya, Angga hanyalah seorang suami teladan yang sedang menjalankan tugasnya menjaga sang adik ipar dengan penuh tanggung jawab.

​Rasa aman semu itu membangkitkan kembali gairah Tyas untuk menikmati sisa hari selasanya. Ia segera beranjak ke kamar, menanggalkan piyama satin maroon-nya, dan memilih pakaian yang modis namun santai untuk pergi ke mall. Setelah merapikan rambut pendek sebahunya dan memoles riasan tipis di wajahnya, Tyas merasa siap untuk melupakan sejenak kerumitan hubungan terlarangnya di rumah.

​Sesampainya di pusat perbelanjaan, gemerlap lampu toko dan deretan pakaian bermerek langsung mengalihkan dunia Tyas. Dengan uang di tangan, ia mulai menjelajahi satu demi satu gerai kosmetik dan pakaian. Setiap kali ia menggeser kartu untuk membayar belanjaannya, ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan—sebuah pelarian instan dari rasa bersalah yang terus mengintai batinnya.

​Namun, di tengah keriuhan mall dan tumpukan kantong belanjaan di tangannya, bayangan Angga dan Mbak Rani tidak pernah benar-benar hilang. Setiap kali ia melihat pantulan dirinya di cermin toko, Tyas teringat betapa hidupnya kini telah berubah total dalam waktu semalam. Ia melangkah menyusuri lorong mall dengan perasaan ganda: merasa berkuasa karena memiliki segalanya sekarang, namun juga menyadari bahwa ia sedang berjalan di atas lapisan es tipis yang bisa hancur kapan saja.

1
Anonim
Kurang ajar banget si angga dan si tyas ini,buat rani tau lebih cepat thor tentang kebangsatan suami dan adik nya
Anonim
Lama bener thor muter nya ,si rani kapan sadar perselingkuhan adik nya sama suami nya jangan kelamaan
Anonim
Si rani kenapa oneng sih g bisa liat sekilas model ade nya kek apaan dah ,cuek apa emang buta dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!