Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat Buruk
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruang kerja Elvano terbuka tanpa menunggu izin. Sosok wanita paruh baya dengan pakaian couture dan tas bermerek mahal melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang tidak senang.
Mama Zoya.
"Elvano! Mama sudah meneleponmu sepuluh kali!" suara Mama Zoya memenuhi ruangan, membuat Yudha segera membungkuk pamit dan keluar dengan langkah seribu.
Elvano menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Aku baru saja keluar dari ruang operasi, Ma. Ada keadaan darurat."
"Keadaan darurat selalu jadi alasanmu. Semalam kau tidak datang ke makan malam keluarga. Papa sudah menunggu. Investor dari Singapura juga ada di sana. Kau membuat kita terlihat tidak profesional!" seru mama Zoya.
"Aku seorang dokter, Ma. Profesiku adalah menyelamatkan nyawa, bukan menjamu investor." balas Elvano datar.
"Narendra Hospital tetap berjalan dengan baik tanpa kehadiranku di meja makan semalam." lanjutnya dengan dingin.
Mama Zoya berjalan mendekat, menatap putranya dengan tatapan yang mulai melembut namun tetap penuh tuntutan.
"Sampai kapan kau mau menghukum diri sendiri, Vano? Kau memberikan hibah jutaan dolar untuk anak-anak asing, tapi kau tidak mau memberikan sedikit waktu untuk keluargamu sendiri." seru mama Zoya dengan ketus.
"Hibah itu adalah urusan pribadiku." Elvano memalingkan wajah menuju jendela, menatap awan mendung yang mulai menggantung di langit Jakarta.
"Aku hanya mencoba menyeimbangkan neraka yang mungkin sudah kupesan di masa lalu."ucapnya.
"Jangan bicara omong kosong tentang neraka! Kejadian malam itu... itu sudah lewat hampir empat tahun! Wanita itu pun entah di mana. Kau sudah mencari, kau sudah membayar detektif, kau sudah melakukan segalanya. Jika dia ingin ditemukan, dia pasti sudah muncul untuk menuntut harta kita!" Mama Zoya mendengus sinis.
"Wanita kelas bawah biasanya sangat cepat jika melihat peluang uang." lanjut mama Zoya tanpa sadar membangkitkan kemarahan sang anak.
Rahang Elvano mengeras. Kata-kata ibunya selalu terasa seperti gesekan logam yang memekakkan telinga.
"Tidak semua orang memiliki otak seperti pebisnis, Ma. Ada orang yang memiliki harga diri. Dan fakta bahwa dia tidak pernah muncul justru membuatku semakin merasa bersalah." ucapnya tegas.
"Sudahlah! Mama lelah berdebat denganmu," Mama Zoya meletakkan sebuah map di meja Elvano. "Ini profil putri pemilik jaringan hotel ternama. Dia lulusan luar negeri, cerdas, dan cantik. Dia akan datang ke rumah sakit minggu depan untuk melakukan medical check-up. Mama mau kau sendiri yang menanganinya."
Elvano menatap map itu tanpa minat. "Suruh dia ke bagian poli umum. Aku hanya menangani bedah jantung."
"Elvano!" teriak mama Zoya marah.
"Ma, silakan keluar. Aku punya pasien kritis yang akan segera tiba dari daerah. Aku butuh fokus penuh," Elvano berdiri, memberikan sinyal bahwa percakapan telah berakhir.
Mama Zoya menghentakkan kakinya dengan kesal. "Kau akan menyesal jika terus hidup seperti pertapa di rumah sakit ini, Elvano. Kau membuang masa mudamu untuk bayangan yang tidak nyata!"
Setelah ibunya keluar dengan bantingan pintu, keheningan kembali merayap di ruangan itu. Elvano menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa emosi negatif yang dibawa ibunya. Ia kembali menatap catatan medis pasien bernama Leonardo yang diberikan Yudha tadi.
Tetralogy of Fallot. Usia tiga tahun.
Ia membayangkan seorang bocah kecil yang harus berjuang untuk setiap embusan napasnya di tengah keterbatasan fasilitas desa.
Entah mengapa, ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk segera melihat pasien ini. Seolah-olah ada magnet yang menarik perhatiannya lebih kuat dari biasanya.
"Dokter Elvano," Yudha kembali masuk setelah memastikan Mama Zoya sudah pergi.
"Ambulans dari Sukabumi sudah melewati gerbang tol. Mereka akan sampai dalam tiga puluh menit. Petugas IGD sudah bersiap di lobi rujukan." seru Yudha.
Elvano bangkit, merapikan jas dokternya, dan mengambil stetoskopnya yang melingkar di leher.
"Ayo kita ke bawah. Aku ingin melihat kondisinya secara langsung saat tiba." ucap Elvano.
"Anda tidak mau istirahat dulu, Dok? Anda baru saja operasi enam jam."
"Nanti saja." jawab Elvano singkat.
Langkah kaki Elvano terdengar tegas di koridor rumah sakit saat ia menuju lobi utama.
Di luar, hujan mulai turun dengan deras, membasahi kaca-kaca gedung Narendra Hospital yang megah. Ia tidak tahu bahwa di dalam ambulans yang sedang melaju menembus hujan itu, ada seorang wanita yang sedang memeluk anaknya dengan ketakutan, yaitu wanita yang menjadi alasan di balik sifat dinginnya selama ini.
Ia juga tidak tahu bahwa nama Leonardo yang ia baca di kertas medis adalah nama yang diberikan wanita itu untuk putra mereka.
Elvano menunggu di ruang administrasi IGD sambil menunggu kedatangan pasien tersebut sambil mendengar informasi yang diberikan oleh dokter IGD tentang kondisi sang pasien dan siap menyambut sebuah pertemuan yang akan meruntuhkan seluruh dinding es yang telah ia bangun dengan susah payah selama tiga tahun terakhir.
Di saat yang sama, ia merasa sebuah debaran yang asing di jantungnya. Debaran yang biasanya hanya ia rasakan saat menghadapi operasi paling sulit. Namun kali ini, debaran itu terasa lebih... personal. Seolah-olah alam semesta sedang membisikkan sesuatu yang belum sanggup ia mengerti.
"Siapkan unit perawatan intensif anak nomor satu. Jangan biarkan ada prosedur yang tertunda," perintah Elvano pada kepala perawat IGD.
Dunia Elvano yang teratur dan dingin sebentar lagi akan berbenturan dengan kenyataan pahit dari Sukabumi.
Dan di bawah lampu IGD yang terang benderang, sang Elang apakah akan menemukan apa yang selama ini ia cari di tempat yang paling tidak terduga yaitu di dalam pelukan seorang pasien kecil yang membawa separuh dari jiwanya.
Ambulans rujukan itu membelah kemacetan Jakarta dengan raungan sirine yang memekakkan telinga.
Di dalamnya, Ashela duduk bersimpuh di samping tandu Leo, tangannya tak pernah lepas menggenggam jemari mungil putranya yang terasa semakin mendingin.
Di luar jendela, pemandangan pepohonan hijau Sukabumi telah sepenuhnya berganti menjadi deretan gedung pencakar langit yang angkuh dan hutan beton yang menyesakkan.
Semakin dalam mobil itu memasuki jantung ibu kota, semakin hebat pula debaran di dada Ashela. Jantungnya berpacu, bukan hanya karena mencemaskan kondisi Leo yang kian melemah, tapi karena sebuah firasat buruk yang mulai merayapi akal sehatnya.
Jakarta terasa seperti monster besar yang siap menelannya bulat-bulat, mengingatkannya pada malam di mana ia kehilangan segalanya.
"Mama... ini di mana?" gumam Leo lemah di balik masker oksigennya. Matanya setengah terbuka, menatap langit-langit ambulans yang berguncang.
"Kita hampir sampai, sayang. Leo harus kuat, ya? Dokter hebat di sini akan menyembuhkan jantung Leo." bisik Ashela, mencoba menenangkan suaranya agar tidak terdengar bergetar, meski air matanya nyaris tumpah lagi.
Ia mencoba fokus pada wajah Leo, namun pikirannya terus melayang. Ia menatap ke luar jendela, melihat jalanan yang terasa sangat familier.
Setiap sudut jalan, setiap papan reklame, dan setiap persimpangan seolah membangkitkan memori yang selama tiga tahun ini ia kubur dalam-dalam. Ia merasa seperti seorang kriminal yang kembali ke tempat kejadian perkara yaitu penuh rasa bersalah, ketakutan, dan keinginan untuk segera menghilang.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kok el gk peka,atau ingin mencari tau siapa leo sebenarnya...😡
karna biasanya perempuan menggunakan logika dari pada perasaan...
asyilla cobalah menggunakan hati mu untuk leo
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
next...