Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelamatkan Tunangan Arsita
"Kalo Ghaffar bilang, Ghaffar tau. Kakak percaya?" Arimbi langsung menegakkan kepalanya, menatap Ghaffar.
"Abang percaya" Arimbi dan Ghaffar, langsung menoleh ke arah pintu masuk.
"Bang" panggil keduanya
"Abang percaya kamu tau, bahkan abang juga tau... kalo kamu tau penyebab kematiannya." lanjut bang Abraham, Ghaffar tersenyum dan mengangguk.
"Tapi dalam hukum, semua ucapanmu tidak bisa menjadi bukti konkrit. Karena mereka, takkan percaya dengan hal-hal ghaib. Karena itulah, ada yang namanya spesialis forensik. Untuk di jadikan bukti kuat, karena di sertai dengan bukti-bukti yang jelas dalam ilmu kedokteran." jelas bang Abraham
"Iya bang, Ghaffar mengerti. Hukum dunia, takkan sama dengan hukum di akhirat nanti. Siapa tau dari cerita korbannya langsung, abang juga dapat petunjuk. Mau dengar?" bang Abraham dan kak Arimbi saling tatap, lalu keduanya mengangguk. Arimbi segera menyelesaikan pekerjaannya, ia sudah mengambil sampel untuk di proses. Dan juga, sudah mengambil darah yang menempel di kuku korban.
.
Kini ketiganya sudah duduk di depan jenazah, dengan beberapa cemilan dan minum di tengah mereka. Siapa lagi kalo bukan kak Arimbi yang membawanya, karena di ruangannya memang tersedia banyak cemilan dan soft drink.
"Jadi... arwah korban, ada di sini?" tanya kak Arimbi, Ghaffar mengangguk. Arimbi gegas merapatkan duduknya, pada sang abang. Kepalanya celingukan ke sana kemari, lihat mayat tak masalah kalo setiap hari. Tapi... kalo arwah...
"Namanya Arsita Maulani, usianya 28 tahun. Dia bekerja di bagian perbankan, sebagai teller bank. Memiliki seorang tunangan, yang usianya 2 tahun di atasnya. Mereka sudah 8 tahun bersama, rencana menikah bulan depan. Semua persiapan hampir rampung, bayaran pun sudah lunas. Tunangannya bisa di bilang, cukup berada. Karena semua persiapan, dia yang bayar." ucap Ghaffar
"Jangan bilang pelakunya adalah tunangannya, Ghaff?" tanya kak Arimbi
"Tidak secara langsung, namun memang dia akar permasalahannya." jawab Ghaffar, membuat kak Arimbi semakin mantap untuk tidak menikah.
'Pria memang merepotkan, lebih baik fokus pada karir.' gumam kak Arimbi pelan, yang langsung mendapat getokan di keningnya.
TAK
"AWWW... SAKIT ABANG" teriak kak Arimbi, ia mengusap keningnya yang terasa nyeri
"Abang yang bakal cari jodoh buat kamu, supaya kamu dapetin laki-laki yang tepat." ucap bang Abraham
"Teman abang yang mana? Si Gingsul? Si Brem ? Apa si Ali agrem? Dih... ga ada yang bener, ogah." protes kak Arimbi, bang Abraham menghela nafas.
Adiknya ini, enak saja ganti nama orang. Gingsul, nama aslinya Samsul. Brem, nama aslinya Bramanatyo. Sedangkan Ali Agrem, nama aslinya Ali Gemilang. Intinya, kak Arimbi tidak mau mempunyai suami seorang aparat. Banyak berita negatif, yang ia dengar. Meski abangnya tidak seperti itu, namun tak ada pria sebaik abang dan ayahnya menurut Arimbi.
Ohhh... Sekarang nambah Ghaffar, si brondong ganteng.
"Kalo bang Devan gimana?" tanya Ghaffar santai, kak Arimbi menaikkan salah satu alisnya.
"Dihh... ga deh, kenapa sih kalian tuh malah nyariin jodoh buat aku. Lanjutin yang tadi Ghaff.." kak Arimbi berdecak kesal
"Beberapa bulan yang lalu, sahabat korban datang. Dia menumpang hidup padanya, karena sahabatnya belum memiliki pekerjaan. Juga belum mendapatkan tempat tinggal, korban mengijinkan. Karena kebetulan, dia juga hanya tinggal sendirian di apartemen. Kedua orang tuanya, masih tinggal di kota ini. Hanya saja cukup jauh, bila dari apartemen. Korban mengenalkan sahabatnya, pada tunangannya. Menurut kakak?"
"Sahabatnya suka sama tunangan korban, lalu merencanakan pembunuhan ini." Ghaffar mengangguk
"Apa sahabatnya, yang membunuh korban secara langsung?" tanya bang Abraham, Ghaffar menggelengkan kepalanya.
"Sahabatnya mencuri perhiasan korban, lalu ia pakai untuk membayar seorang pembunuh. Yang tak lain, kekasihnya." jawab Ghaffar
"Kekasihnya? Lah terus, kalo emang punya kekasih. Kenapa malah pengen tunangan orang?" tanya kak Arimbi
"Karena kekasih dari sahabatnya, sama brengsek nya kak. Keduanya memiliki kekasih lain, yang bisa di poroti hartanya. Dan target sahabat Arsita, yaaa.. tunangan Arsita." jawab Ghaffar
"BRENGSEK" ucap kak Arimbi, dengan nada sedikit keras.
Yang satu mokondo, yang satu momodo. Hiiii...
"Di kuku Arsita ada darah pelaku, yang menempel. Karena saat pelaku hendak memperkosanya, ia mencakar pelaku." ucap Ghaffar, kak Arimbi mengangguk
"Kakak udah ambil sampel darahnya, kita akan tau sebentar lagi. Sekarang gimana kabar si sahabat sama tunangan korban?" tanya kak Arimbi, Ghaffar menoleh
"Tunangannya setia, meski sahabat Arsita beberapa hari ini menempel." jawab Ghaffar
'Tolong, tolong tunanganku. Wanita brengsek itu ingin menjebaknya, ia akan memberikan obat perangsang pada tunangan ku. Jangan sampai tunangan ku tidur dengannya, wanita itu positif HIV.'
DEG
Ghaffar langsung bangun dari duduknya, membuat kak Arimbi terjengkang karena terkejut. Bang Abraham hampir saja, kelepasan tertawa.
"Kamu kenapa sih Ghaff? Kakak kaget" tanya kak Arimbi, yang di bantu bangun oleh sang kakak
"Kak, bang.... kita harus segera menyelamatkan tunangan Arsita, wanita itu mau menjebaknya. Dia ingin tunangan Arsita tidur dengannya, wanita itu positif HIV." ucap jawab Ghaffar
"APA?!" teriak keduanya
"Cepat cepat... kita harus menolongnya" ucap kak Arimbi, ia membuka pakaian kebesarannya. Dan menarik kedua pria itu, untuk keluar dari kamar khusus otopsi.
"Dimana Ghaff? Takutnya ga keburu, abang bisa meminta bantuan pada anak buah abang. Yang dekat dengan posisi tunangan korban.." tanya bang Abraham, seraya berjalan
"Ada di luar kota bang, tunangan Arsita sedang ada seminar. Dan wanita itu memata-matainya, sehingga ia menyusul ke sana. Kota xxx, hotel xxx, kamar xx." bang Abraham langsung menghubungi anak buahnya, yang bertugas di kota yang di maksud. Ia langsung menyebutkan lokasi, meminta anak buahnya untuk segera menyelamatkan tunangan Arsita.
"Abang akan ke sana, kalian tunggu saja di sini." Ghaffar mengangguk, ia juga tak bisa ikut kalo harus ke luar kota. Karena besok sekolah, tambah lagi... ia sudah berjanji untuk menolong salah saru arwah, yang di jenazahnya di tahan oleh hantu air.
"Aku ingin ikut bang, ih" ucap kak Arimbi
"Jangan macam-macam kamu, tugas kamu belum selesai. Sebaiknya segera dapatkan data, untuk memperkuat bukti. Agar wanita itu bisa di tahan, juga kekasihnya yang sudah membunuh korban." adik nya pun tercerahkan
"Iya juga ya, aku lupa masalah ini. Ya udah, kabarin Arimbi gimana-gimananya ya bang. Kalo si cewe brengsek itu ketangkep, aku pengen liat mukanya kek apa? Sampe bikin rusak wajah korban, hingga sulit di kenali." bang Abraham mengangguk, ia langsung berlari keluar rumah sakit.
"Kalo gitu, Ghaffar juga pamit pulang ya kak. Ini sudah terlalu malam, besok Ghaffar harus sekolah." pamit Ghaffar
"Oh iya, hati-hati ya. Kabarin kakak kalo udah sampe rumah" balas kak Arimbi
"Iya kak, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"
Arimbi menghembuskan nafas panjang, sembari menatap punggung Ghaffar yang semakin menjauh.
'Kayanya bakal ada petualangan seru, mulai sekarang. Asiiikkkk... hidup ini makin berwarna, semenjak kenal Ghaffar si ganteng. Uhuuuyy... untung jadi ade angkat...' ucap Arimbi dalam hati
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰
tumben thooor