NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Kepergian Abi Sasongko dan Umi Mamik meninggalkan keheningan yang kembali merayap di dalam kamar perawatan nomor 304.

Fathan menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir kecanggungan yang mencekik dadanya.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut menimbulkan suara yang bisa mengganggu istrinya, Fathan membuka bungkusan makanan yang dibawanya.

Ia menuangkan sop ayam kampung yang masih mengepulkan uap hangat itu ke dalam mangkuk keramik putih yang tersedia di atas meja dorong, lalu menaruhnya tepat di samping brankar.

Aroma kaldu yang gurih dan rempah yang wangi seketika memenuhi ruangan, menyamarkan bau obat-obatan yang tajam.

Fathan mengambil sendok, lalu menatap wajah pucat istrinya dengan sorot mata yang penuh dengan permohonan.

"Humairah, ayo dimakan dulu. Aku sudah membelikanmu sop ayam kampung," ucap Fathan dengan nada suara yang begitu lembut, jauh dari kesan dingin yang biasa ia tunjukkan selama dua bulan ini.

Humairah terdiam dan menggelengkan kepalanya perlahan.

Ia sama sekali tidak menyentuh, bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah mangkuk yang disodorkan suaminya.

Tatapannya lurus menatap kosong ke arah langit-langit kamar rumah sakit.

"Nyai Latifah melarangku untuk makan mewah seperti ini, Ustadz," sahut Humairah dengan nada suara yang sangat datar, namun setiap katanya membawa hantaman emosi yang dingin.

"Beliau sering memberikan aku kepala dan tulang yang kadang sudah basi."

Deg!

Tangan Fathan yang sedang memegang sendok seketika mematung di udara.

Kilasan ingatan tentang bungkusan kresek hitam berisi tulang ayam busuk yang disodorkan ibunya tadi pagi kembali berputar di kepalanya.

Jantung Fathan berdegup kencang, disergap rasa bersalah yang teramat sangat.

"Jadi, Umi selalu memberikan makanan itu kepadamu?" tanya Fathan dengan suara yang mendadak serak, ada getaran kepedihan yang tak mampu ia sembunyikan.

Humairah perlahan menoleh, menatap lurus ke dalam netra mata Fathan.

Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak di matanya yang sembap, yang ada hanyalah kehampaan yang teramat dalam.

"Bukankah Ustadz juga tahu? Tapi Ustadz hanya diam dan tidak membelaku," sindir Humairah lirih, melayangkan tamparan telak pada ego dan harga diri Fathan sebagai seorang suami.

Fathan menggelengkan kepalanya dengan cepat, wajahnya memucat.

"Humairah, aku kira kamu membuangnya. Aku pikir kamu tidak memakannya..." rintih Fathan membela diri, meski ia tahu pembelaan itu terdengar sangat rapuh dan konyol.

Humairah menggelengkan kepalanya, setetes air mata perlahan lolos dari sudut matanya, membasahi bantal rumah sakit.

"Aku makan di pojokan dapur, Ustadz. Di pojokan dapur."

Humairah menarik napasnya yang terasa sesak, seolah ingatan dua bulan terakhir kembali mencekik lehernya.

"Aku makan di pojokan dapur, Ustadz. Di pojokan dapur, di dekat tempat sampah," ucap Humairah dengan suara yang bergetar hebat, menekankan setiap kalimatnya tepat di lubuk hati Fathan yang paling dalam.

"Sambil memegang tulang-tulang sisa itu, aku terus menangis dan bertanya pada Allah, apa dosa yang sudah aku perbuat sampai suamiku sendiri tega membiarkanku dihina serendah itu."

Kalimat terakhir Humairah runtuh bersama isak tangis yang kembali pecah.

Bahunya yang kecil dan rapuh terguncang hebat di atas brankar.

Mendengar pengakuan yang begitu menyayat hati, pertahanan Fathan runtuh sepenuhnya. Mangkuk di tangannya diletakkan kembali dengan gemetar.

Air mata Fathan luruh tanpa bisa ditahan lagi. Dada pria itu serasa dihantam godam besar hingga hancur berkeping-keping.

Ia membayangkan wanita lulusan S2 Mesir peraih cumlaude, wanita yang pernah menyelamatkan nyawanya saat kecil, harus duduk bersimpuh di lantai pojok dapur yang kotor, memakan sisa tulang ayam basi di dekat tempat sampah, sementara ia sendiri duduk dengan angkuh di meja makan tanpa peduli.

Ia bukan lagi seorang imam; ia adalah monster yang telah menanam neraka di hidup istrinya sendiri.

Tangisan Humairah yang memilukan terus menggema di dalam kamar perawatan nomor 304, mengoyak sisa-sisa harga diri Fathan hingga tak berbekas.

Setiap isakan istrinya terasa seperti jarum-jarum tajam yang menusuk langsung ke ulu hatinya.

Fathan jatuh berlutut di sisi tempat tidur, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata di atas seprai rumah sakit yang dingin.

"Aku minta maaf, Humairah. Demi Allah, aku minta maaf," ratap Fathan dengan suara yang pecah dan parau.

Ia mendongak, menatap wajah pucat wanita yang telah ia zalimi itu dengan sorot mata yang dipenuhi penyesalan mendalam.

"Aku sudah gagal menjadi suamimu. Aku telah membiarkanmu merangkak di lantai dapurku sendiri tanpa pernah mengulurkan tangan. Dosaku teramat besar kepadamu, Humairah. Tapi aku mohon, sekarang makanlah. Tubuhmu butuh asupan agar demammu tidak naik lagi."

Fathan kembali menyodorkan sendok berisi kuah sop ayam yang masih hangat dengan tangan yang gemetar hebat. Namun, Humairah langsung memalingkan wajahnya ke arah dinding, menolak mentah-mentah perhatian yang datang terlambat itu.

"Aku tidak mau, Ustadz," sahut Humairah, suaranya terdengar serak dan begitu dingin, memutus sisa harapan di hati Fathan.

"Humairah, tolong, makanlah sedikit saja," bujuk Fathan lagi, air matanya menetes melewati pipi.

"Hukum aku sesukamu setelah ini, tapi tolong jangan siksa tubuhmu sendiri."

Melihat Humairah yang tetap bergeming dalam isak tangisnya yang kian hebat, ketakutan yang luar biasa seketika menyergap dada Fathan.

Ia takut kehilangan wanita ini. Ia takut dinding es yang dibangun Humairah akan mengunci mati kesempatan terakhirnya.

Didorong oleh rasa panik dan keinginan egois untuk menenangkan batin istrinya, Fathan bangkit dari berlututnya.

Tanpa aba-aba, Fathan memeluk tubuh istrinya yang tengah menangis sesenggukan di atas brankar.

Ia merengkuh bahu rapuh itu dengan erat, mencoba menyalurkan rasa bersalah dan kehangatan yang selama dua bulan ini ia sembunyikan di balik tembok traumanya.

Humairah tersentak, tubuhnya seketika menegang sempurna dalam dekapan Fathan.

Rasa sesak, trauma disakiti secara fisik malam sebelumnya, dan rasa muak bercampur menjadi satu di dalam dadanya.

Ia mencoba memberontak dengan sisa tenaga yang ada, namun Fathan yang dilingkupi rasa putus asa justru semakin menundukkan wajahnya.

Fathan mencium bibir istrinya. Sebuah kecupan yang penuh dengan kepanikan, air mata, dan permohonan maaf yang tersumbat di tenggorokan.

Pria itu mengira, keintiman fisik bisa mencairkan gunung es yang menjulang di antara mereka.

PLAKKK!!

Suara tamparan yang begitu keras dan nyaring seketika memutus keheningan kamar perawatan.

Tangan kiri Humairah yang bebas dari infus melayang cepat, mendarat telak di pipi kanan Fathan hingga wajah pria itu tertoleh ke samping.

Napas Humairah memburu hebat, matanya yang bengkak melotot sempurna dengan kilat kemarahan dan rasa jijik yang tak lagi bisa disembunyikan. Tubuhnya bergetar hebat di atas ranjang.

"Jangan sentuh aku, Ustadz!!" teriak Humairah dengan suara yang melengking parau, memecah kesunyian rumah sakit.

"Jangan berani-berani mengotori tubuhku lagi dengan bibirmu yang semalam menyebutku wanita murahan! Pergi!! Aku muak melihat wajahmu!" jerit Humairah, air matanya luruh kian deras membasahi pipinya yang pucat.

Fathan terdiam seketika. Tamparan keras itu tidak seberapa sakit dibandingkan dengan tatapan mata Humairah yang sarat akan rasa jijik terhadap dirinya.

Sentuhan dingin dan penolakan mutlak dari istrinya menyadarkan Fathan akan satu hal: ia tidak sedang menyembuhkan luka, ia justru baru saja mengorek kembali trauma kekerasan yang ia lakukan malam kemarin.

Ia kembali bertindak egois tanpa memikirkan kesiapan batin Humairah.

Rasa malu yang teramat sangat dan rasa bersalah yang menghimpit membuat lidah Fathan kelu.

Ia melangkah mundur perlahan dengan tubuh yang gemetar, menatap tangannya sendiri yang kaku di udara.

Tanpa sepatah kata pun, dengan air mata yang terus mengalir deras mengecap perih di pipinya, Fathan membalikkan badan.

Ia melangkah gontai dan keluar dari kamar perawatan, menutup pintu kayu itu dengan sangat perlahan, meninggalkan Humairah yang kembali menangis histeris seorang diri di dalam kamar.

Di lorong rumah sakit yang sepi dan dingin, Fathan menyandarkan punggungnya pada pintu kayu kamar 304 yang baru saja ia tutup.

Pipi kanannya masih terasa panas bekas tamparan Humairah, namun rasa perih itu sama sekali tidak sebanding dengan hancurnya dada Fathan mendengar jeritan jijik dari istrinya sendiri.

Ia meraup wajahnya yang basah oleh air mata, menyadari bahwa ia telah melangkah terlalu jauh dan kembali melukai batin wanita yang sedang mencoba ia pertahankan.

Namun, belum sempat Fathan menata napasnya yang memburu, suara langkah kaki yang tergesa-gesa kembali menggema di koridor.

Fathan mendongak. Sepasang matanya yang merah seketika menajam saat menangkap sosok pria yang melangkah lebar ke arahnya.

Kedatangan Abraham untuk kedua kalinya di rumah sakit ini benar-benar memantik kembali ketegangan yang sempat diredam oleh Kyai Umar semalam.

Abraham berhenti tepat dua langkah di depan Fathan.

Wajahnya yang bengkak akibat pukulan kemarin kini tampak mengeras, dilingkupi oleh nekat dan keras kepala yang tak lagi memedulikan batas adat maupun dosa.

"Lepaskan dia, Kak," ucap Abraham tanpa basa-basi, suaranya terdengar berani dan menghunjam langsung ke harga diri Fathan.

Abraham menatap pintu kamar tempat Humairah berada, lalu kembali menghujamkan pandangannya pada sang kakak.

"Ceraikan Humairah, dan aku yang akan menikahinya lagi. Aku yang akan mengambilnya kembali dari tanganmu."

Mendengar kalimat lancang itu meluncur dari bibir adiknya sendiri, darah Fathan seketika mendidih.

Rasa bersalah dan kerapuhan yang tadi menyelimutinya seolah menguap, digantikan oleh insting seorang imam yang merasa miliknya yang paling berharga sedang diancam.

Fathan maju satu langkah, mempersempit jarak di antara mereka hingga tatapan keduanya beradu dengan sengit.

"Tidak akan pernah, Abraham."

Kata-kata Fathan keluar dengan suara yang rendah, dalam, namun penuh dengan penekanan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

Rahangnya mengetat, sepasang tangannya mengepal kuat di sisi tubuh.

"Humairah adalah istriku yang sah di hadapan Allah dan manusia. Dosaku memang besar kepadanya, tapi itu urusanku dengan istriku! Siapa kamu, hah?!" tanya Fathan dengan kilat amarah yang menyala di matanya.

"Kamu menganggap pernikahan ini main-main? Kamu membuangnya seperti barang yang tidak berharga di hari pernikahan, dan sekarang setelah tahu dia adalah mutiara yang berilmu, kamu datang lagi ingin merebutnya?"

Abraham mengepalkan tinjunya, tidak mau kalah. "Tapi kamu menyiksanya, Kak! Kamu tidak mencintainya sejak awal! Kamu menjadikannya pelampiasan atas traumamu pada Zakia! Humairah hancur karena perbuatanmu!"

"Aku suaminya!" bentak Fathan, memotong kalimat Abraham sebelum adiknya itu melangkah lebih jauh. "Dan aku tidak akan pernah melepaskannya untuk pria pengecut seperti kamu! Jika aku harus merangkak di bawah kakinya untuk memohon maaf, akan aku lakukan. Tapi menyerahkannya kepadamu? Langkahi dulu mayatku, Abraham!"

Koridor rumah sakit itu kembali mencekam. Dua pria sedarah itu berdiri saling berhadapan dengan napas yang memburu, siap meledakkan kembali badai amarah yang bisa meruntuhkan sisa-sisa ketenangan Humairah di dalam kamar perawatan.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!