NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Dua Panggilan di Siang Hari

Padahal sudah siang bolong tapi Darren masih saja terduduk kaku di ruang tamu utama kediaman keluarga Han yang orang bilang seperti istana itu. Seo yeon menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal yang tampak berisi dokumen atau tumpukan uang tepat di depan batang hidungnya. Adapun Wonyoung duduk di samping sang kakak, menyunggingkan senyuman manis yang membuat suasana sedikit lebih mencair.

“Ini untukmu,” kata Seo yeon dengan enteng. “Anggap saja sebagai ucapan terima kasih atas dedikasimu menyelamatkan nyawa kami semalam.”

Bukan karena sungkan, tapi Darren segera menggelengkan kepala, menolak dengan sopan. “Tidak perlu, Nona. Aku hanya menjalankan tugas sebagai asisten Anda. Perlindungan terhadap keselamatan Anda dan Nona Wonyoung sudah menjadi bagian dari tanggung jawabku.”

Wonyoung ikut membujuk. “Oppa, terima saja pemberian ini. Percayalah, kakakku tidak pernah memberikan hadiah spesial semacam ini kepada siapa pun sebelumnya.”

Kendati demikian, Darren tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Dia merasa bahwa menerima imbalan tambahan atas tugas yang memang seharusnya dia lakukan itu hanya akan mencederai harga dirinya.

Oleh sebab itu, Wonyoung yang mulai merasa frustrasi akhirnya melontarkan usulan baru. “Kalau begitu, bagaimana jika Oppa menjadi kekasih rahasiaku saja? Fans dan pihak agensi di Korea tidak akan pernah tahu soal hubungan kita, kok.”

Seo yeon yang sedari tadi bersikap tenang mendadak berubah ekspresi dan menarik amplop cokelat itu kembali, menggoreskan pena di atas selembar cek dengan nilai yang melipat ganda, lalu menyodorkannya lagi ke arah Darren.

“Ambil ini sekarang,” perintah Seo yeon dengan nada bicara yang tidak bisa ditawar sedikit pun.

Sedangkan Darren masih memberikan gelengan kepala. “Sekali lagi aku mohon maaf, Nona. Aku tidak bisa menerimanya.”

“Kau ini juga masih saja terlalu formal—“ Seo yeon memijat dahinya, mendesah dengan kelelahan yang nyata. “Baiklah. Ayah kami akan menemuimu secara langsung malam ini. Beliau baru saja mendarat di Jakarta beberapa jam yang lalu.”

Darren kaget mendengar penuturan itu. “A-apa? Tuan Han Jin Ho? Beliau ada di sini dan ingin bertemu saya malam ini?”

Wonyoung memberikan anggukan gembira. “Ayah akan membersihkan namamu dari segala tuduhan pengejaran semalam. Mungkin Oppa bahkan akan mendapatkan hadiah yang jauh lebih spesial dari keluarga Han setelah aksi heroikmu itu.”

Masalahnya Darren merasa bahwa upayanya menjauhkan Seo yeon dan Wonyoung dari maut hanyalah sebuah kewajiban, bukan aksi heroik yang patut dibesar-besarkan. Namun, kedua gadis di depannya itu sudah menyudutkan dirinya begitu jauh hingga dia tidak memiliki ruang untuk berkelit lagi. Seo yeon akhirnya menyuruhnya masuk ke kamar untuk beristirahat dan mempersiapkan diri menghadapi pertemuan besar nanti malam.

Dan karena itulah, Darren nurut saja masuk ke dalam kamarnya, lalu merebahkan tubuh sembari berguling-guling di atas kasur yang empuk. Dia benar-benar tidak bisa memejamkan mata karena pikirannya melayang ke berbagai kemungkinan buruk. Kekacauan macam apa lagi yang akan menyambutnya malam ini? Han Jin Ho merupakan pria dengan akumulasi utang keberuntungan mencapai Rp340 miliar. Pria itu memiliki tatapan mata yang jauh lebih tajam dibandingkan silet, atau mungkin lebih mengerikan dari moncong senapan kemarin malam.

Dirinya menyadari bahwa dia tidak bisa mengandalkan bantuan sistem secara maksimal jika terjadi keadaan darurat. Masa penalti akibat penggunaan fitur di luar level masih berjalan, menyisakan enam hari lagi sebelum dia bisa melakukan penarikan paksa. Darren mencoba membuka antarmuka sistem hanya untuk sekadar melakukan pengecekan rutin. Fitur radar ternyata masih bisa dioperasikan, namun dengan radius yang jauh lebih pendek dan tetap memotong saldo Debit Kolektor yang kini hanya tersisa 25 poin.

Tapi muncul lagi kepermukaan tentang satu hal yang masih mengganjal, dan tidak lain adalah William.

Kenapa sistem error saat membaca utang William? Apa yang melindunginya?

“Mungkinkah dia juga pengguna sistem kayak gue?” batin Darren. “Kalau benar, itu orang bisa nagih orang-orang di luar sana, sementara gue nggak bisa. Huft, kalau William terus-menerus menagih utang keberuntungan orang di luar sana tanpa sepengetahuan gue, bisa-bisa gue ketinggalan jauh. Tapi belum tentu juga sih. Bisa jadi ada faktor lain. Sistem nggak pernah ngejelasin detail soal ini.”

Di sela kegelisahan yang memuncak, Darren meraih ponsel pintarnya. Pikirannya kini tertuju pada Cello, anak laki-lakinya yang kini berada di Singapura. Sudah satu minggu berlalu sejak Rina terakhir kali memberikan kabar. Biasanya, mantan istrinya itu cukup rutin mengirimkan video atau melakukan panggilan video setiap dua hari sekali.

Darren sangat menyadari bahwa jika dia yang memulai panggilan, Rina sering kali enggan mengangkatnya. Akan tetapi, rasa khawatir terhadap kondisi Cello mengalahkan ego pribadinya. Jempolnya mulai menekan nomor internasional Rina. Baru satu kali nada dering terdengar, sambungan itu segera diangkat.

Namun, bukan suara sapaan hangat yang menyambut telinganya. Darren justru mendengar suara gelas yang dibanting dengan keras, diikuti bunyi pintu yang dihantam secara kasar. Tak lama kemudian, suara seorang pria terdengar membentak-bentak emosi. Lantas saja Darren langsung mengenali pemilik suara itu sebagai Alvino Chandra.

“Kamu hamil? Terus sekarang memaksaku untuk bertanggung jawab? Aku sama sekali tidak pernah menjanjikan apa pun kepadamu!” kata Alvino dengan penuh amarah.

Sementara Rina terdengar menangis tersedu-sedu. “Ini adalah anakmu! Kamu tidak bisa bertindak seenaknya melepaskan tanggung jawab begitu saja!”

“Anakku? Buktikan dulu secara medis!” balas Alvino ketus.

Keributan itu terus berlangsung selama beberapa saat dan memaksa Darren untuk menggenggam ponselnya dengan sangat erat, memilih membisu dan mendengarkan. Hingga Rina akhirnya berteriak dengan parau.

“Aku akan pergi sekarang! Aku lebih baik tidur di hotel daripada terus berada di sini!”

“Pergi saja sana! Aku tidak peduli ke mana pun kamu pergi!” sergah Alvino.

Terdengar suara langkah kaki yang menjauh secara terburu-buru, lalu bunyi pintu kembali dibanting dengan keras. Setelah itu, hanya ada keheningan yang menyesakkan.

“Mas? Mas Darren? Halo? Kamu nelpon Mas?” tanya Rina terdengar kaget.

Adapun Darren tidak memberikan jawaban karena masih mematung di tempatnya duduk.

“Mas, kamu masih mendengarkan di sana?” tanya Rina lagi.

“Bagaimana kabar Cello sekarang?” tanya Darren dengan lirih.

“Cello baik-baik saja. Dia sedang berada di kamar, sudah tertidur lelap.”

Darren mengembuskan napas panjang karena merasa lega. Setidaknya sang anak tidak perlu menyaksikan kekacauan orang tuanya.

“Mas, ada hal yang ingin aku ceritakan kepadamu mengenai—“

Sebelum Rina menyelesaikan kalimatnya, Darren segera memutus sambungan telepon itu. Dia meletakkan ponselnya di atas kasur dengan perasaan yang hancur.

“Hamil,” bisik Darren. “Rina ternyata hamil anak Alvino.”

Dadanya terasa sangat sesak seolah dihimpit beban yang sangat berat. “Kenapa perasaanku masih bisa sehancur ini? Bukankah aku sudah berusaha untuk melupakannya dan fokus pada hidupku sendiri?” Batinnya sembari merutuki dirinya sendiri. “Apakah aku benar-benar sebodoh itu karena masih memiliki kepedulian terhadapnya?”

Baru saja kantuk datang menghampirinya, pintu kamarnya diketuk dari arah luar.

“Pak Darren,” kata seorang pelayan dari balik pintu. “Tuan Han Jin Ho sudah tiba di kediaman. Beliau saat ini sudah menunggu kehadiran Anda di ruang tamu.”

Darren membuka kedua matanya yang tadi terpejam. Raut wajahnya mendadak berubah menjadi sangat tegang. Pria dengan akumulasi utang Rp340 miliar itu sudah menantinya. Sosok yang sejak awal pertemuan tidak pernah menyukai keberadaan Darren di sisi putrinya.

“Baik. Beritahu beliau bahwa saya segera menuju ke sana,” jawab Darren sembari bangkit berdiri untuk menghadapi kenyataan yang ada di depan mata, dia tidak habis pikir ini lebih cepat dari yang mereka katakan sebelumnya.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!