"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"
Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.
Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.
Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Denting sendok yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara di ruang makan megah itu. Bau masakan yang Maya siapkan selama tiga jam sup iga kesukaan Arlan dan tumis sayur segar seolah menguap sia-sia, kalah oleh hawa dingin yang memancar dari ujung meja.
Arlan, dengan kemeja kantor yang lengannya digulung hingga siku, sama sekali tidak menyentuh piringnya. Ia justru sibuk meniup sesendok bubur halus untuk mahluk kecil di sampingnya.
"Ayo, sayang, buka mulutnya. Sedikit lagi," suara Arlan lembut, jenis nada bicara yang sudah setahun ini tidak pernah Maya dengar ditujukan untuknya.
Di samping kursi anak itu, Sarah duduk dengan wajah pucat yang tampak sengaja dipulas agar terlihat lebih menderita. Ia mengaduk teh hangatnya dengan gerakan lemah yang dibuat-buat.
"Kak Arlan, maafkan aku," bisik Sarah pelan. "Seharusnya aku yang menyuapi Dion. Aku tidak ingin merepotkanmu, apalagi mbak Maya sepertinya sudah lelah memasak."
Arlan melirik Maya sekilas. Tatapan matanya yang tajam dan sedingin es menusuk tepat ke jantung Maya. "Dia hanya memasak, Sarah. Itu sudah kewajibannya. Jangan merasa tidak enak. Kau sedang sakit kepala, jangan dipaksakan."
Maya meletakkan garpunya dengan tangan bergetar. "Aku tidak merasa direpotkan kalau Arlan membantumu, Sarah. Tapi Arlan, hari ini aku ingin bicara soal tagihan rumah sakit Ibu..."
"Bisa kau diam?" potong Arlan kasar. Suaranya rendah tapi penuh ancaman. "Kau lihat Sarah sedang tidak sehat? Dion juga sedang rewel. Bisakah kau tidak membahas uang di saat seperti ini? Kau benar-benar tidak punya empati."
"Ibu sedang butuh operasi, Mas! Itu bukan drama, itu darurat!" suara Maya sedikit meninggi karena putus asa.
"Brak!"
Arlan menggebrak meja hingga air dalam gelas Sarah tumpah sedikit. Pria itu berdiri, menatap Maya dengan kebencian murni.
"Uang, uang, dan uang. Hanya itu yang ada di otakmu. Kau iri karena aku baru saja membelikan Sarah mobil baru untuk mengantar Dion ke sekolah? Kau cemburu pada janda adikku sendiri?"
"Ini bukan soal mobil, Arlan! Ini soal orang tuaku..."
"Cukup!" Arlan beralih ke arah Sarah yang mulai terisak kecil. Dengan gerakan posesif, ia merangkul bahu Sarah, mencoba menenangkannya. "Lihat apa yang kau lakukan? Kau membuat Sarah terguncang. Kau tahu dia masih trauma sejak kepergian almarhum adikku, dan kau terus-menerus menciptakan ketegangan di rumah ini."
"Kak Arlan, jangan marahi Mbak Maya... ini salahku, aku akan pergi ke kamar saja," isak Sarah sambil menutupi wajahnya.
"Tidak, Sarah. Tetap di sini," perintah Arlan. Ia lalu menoleh kembali pada Maya, wajahnya mengeras seolah Maya adalah sampah yang mengotori lantainya. "Masuk ke kamarmu. Dan jangan keluar sampai kau bisa belajar cara menghargai orang lain di rumah ini. Aku tidak akan mentransfer sepeser pun sampai kau meminta maaf pada Sarah."
"Minta maaf?" Maya tertawa getir, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Untuk apa? Untuk menjadi istri yang kau abaikan di rumahnya sendiri?"
Arlan maju selangkah, mencengkeram rahang Maya dengan satu tangan, memaksa istrinya mendongak. "Kau bukan korban di sini, Maya. Kau hanya wanita egois yang beruntung masih aku biarkan menyandang nama belakangku. Pergi. Sekarang."
Maya terdiam, rahangnya terasa sakit, tapi hatinya jauh lebih hancur. Ia melirik Sarah dari sudut matanya. Di balik telapak tangan yang menutupi wajahnya, Sarah memberikan tatapan kilat ,sebuah senyum kemenangan yang sangat tipis, yang hanya bisa dilihat oleh Maya.
Dengan sisa harga diri yang hancur, Maya berbalik, meninggalkan ruang makan yang kini terasa seperti penjara bawah tanah. Di belakangnya, ia mendengar suara lembut Arlan kembali membujuk Sarah untuk makan, seolah-olah dunia baru saja kembali ke porosnya yang benar.
Dunia di mana Maya hanyalah sebuah kesalahan yang harus disingkirkan.
Maya melangkah gontai menyusuri lorong rumah yang terasa semakin asing baginya. Setiap langkah kaki yang menyentuh lantai marmer dingin itu seakan menggemakan kekosongan dalam dadanya. Ia tidak menuju kamar utama yang dulu penuh kehangatan, melainkan ke kamar tamu di sudut paling belakang tempat yang selama tiga bulan terakhir telah menjadi "istana" pengasingannya.
Di belakangnya, sayup-sayup terdengar suara Arlan yang begitu lembut, kontras dengan bentakan yang baru saja ia terima.
"Sudah, Sarah. Jangan menangis lagi. Dion jadi takut melihat ibunya sedih. Makanlah, demi kesehatanmu."
Maya menutup pintu kamar dengan pelan. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai. Isak tangis yang tadi ia tahan sekuat tenaga kini pecah tanpa suara. Sesak.
Ia meraih ponselnya, menatap layar yang menampilkan pesan singkat dari ayahnya.
“Maya, bagaimana? Rumah sakit sudah menanyakan biaya deposit operasi ibumu. Kalau sulit, tidak apa-apa, Ayah akan coba cari pinjaman lain.”
Jemari Maya bergetar. Bagaimana ia harus menjawabnya? Arlan telah memblokir semua akses kartu kreditnya sejak Sarah mengadu bahwa Maya sengaja merusak gaun mahal pemberian Arlan ,yang padahal justru Sarah sendiri yang mengguntingnya di depan mata Maya sambil tersenyum sinis.
Baru saja Maya hendak mengetik balasan, pintu kamarnya diketuk dengan kasar. Bukan ketukan, melainkan hantaman.
"Buka!" Suara berat Arlan menggelegar.
Maya menghapus air matanya dengan kasar, berusaha mengatur napas sebelum membuka pintu. Di ambang pintu, Arlan berdiri dengan wajah yang masih memerah karena amarah. Di tangannya, ia memegang sebuah amplop cokelat.
"Ini yang kau mau, kan?" Arlan melemparkan amplop itu ke dada Maya hingga jatuh ke lantai. "Uang untuk ibumu."
Maya tertegun. Ia memungut amplop itu dengan harapan yang sempat membuncah, namun kata-kata Arlan selanjutnya membekukan darahnya.
"Aku sudah membayar seluruh biaya operasinya. Tapi ingat satu hal, Maya. Uang itu bukan hadiah. Itu adalah harga untuk harga dirimu yang sudah hilang. Mulai besok, kau tidak perlu lagi berakting menjadi istri yang perhatian. Fokus saja mengurus urusan dapur dan pastikan Sarah tidak merasa terganggu dengan kehadiranmu."
"Mas Arlan, kenapa kau begitu membenciku?" bisik Maya, suaranya parau. "Apa salahku sampai kau lebih percaya pada orang asing daripada istrimu sendiri?"
"Sarah bukan orang asing! Dia istri almarhum adikku, amanah terakhir yang ditinggalkan untukku sebelum dia meninggal!" Arlan mencengkeram bahu Maya, menekannya ke kusen pintu. "Sedangkan kau? Kau hanyalah wanita yang aku pilih karena kupikir kau cukup dewasa untuk mengerti tanggung jawabku. Ternyata aku salah. Kau hanya parasit yang cemburu pada seorang janda."
"Dia memanipulasimu, Mas! Dia tersenyum saat kau membentakku tadi!"
"CUKUP!" Arlan melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar. "Sekali lagi kau memfitnahnya, aku akan memastikan ibumu dipindahkan ke bangsal umum dan tidak mendapatkan perawatan apa pun. Mengerti?"
Arlan berbalik pergi tanpa menunggu jawaban. Namun, di ujung lorong, langkahnya terhenti saat Sarah muncul dari balik dinding, memegang segelas air putih dengan tangan yang sengaja dibuat gemetar.
"Kak Arlan... apakah kalian bertengkar lagi karena aku?" tanya Sarah dengan suara yang terdengar sangat menyesal.
Arlan segera menghampirinya, merangkul pundak Sarah dengan protektif. "Bukan karena kamu. Masuklah, istirahat. Biarkan wanita itu merenungkan kesalahannya."
Sebelum mereka menghilang di balik pintu kamar tamu yang letaknya bersebelahan dengan kamar utama, Sarah menoleh. Ia memastikan Arlan tidak melihatnya saat ia menjulurkan lidah dan memberikan tatapan mengejek pada Maya.
Maya mengepalkan tangannya di balik amplop cokelat itu. Ia memiliki uang untuk menyelamatkan ibunya, namun di saat yang sama, ia baru saja menandatangani kontrak untuk hidup dalam neraka yang lebih dalam.
Di bawah lampu lorong yang temaram, Maya menyadari bahwa di rumah ini, kebenaran tidak memiliki suara, dan cinta telah lama mati, terkubur di bawah bayang-bayang masa lalu yang diagungkan Arlan.