"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.
"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.
Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.
Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.
Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.
Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DELAPAN BELAS
Andra:
"Sayang, aku tau kamu belum tidur. Aku juga tau kalau kamu pasti masih marah, tapi please jangan begini. Makan dulu setelah itu kamu istirahat lagi di kamar, kamu boleh lanjut marah. Atau kalau kamu memang nggak mau keluar, aku anterin ya makanannya ke kamar."
"Aku nggak laper. Kalian aja yang makan."
Balas Kanaya cepat, ia kembali meletakan ponselnya di atas meja rias dan mengaplikasikan langkah terakhir di rangkaian perawatan malamnya.
Niat Kanaya, ia ingin langsung tidur dari pada tetap terjaga dan harus mendengarkan segala ocehan Samira.
Ting!
Lagi, terdengar suara pesan baru masuk.
Kanaya hendak mengabaikannya, tetapi nama yang muncul membuat wanita itu tertegun sesaat.
Esmeralda.
Tanpa pikir panjang, Kanaya langsung meraih kembali benda pipih tersebut dan membuka pesan dari Esmeralda dengan tidak sabaran. Senyumnya merekah saat melihat lampiran foto di dalam pesan tersebut.
Esmeralda:
"Lapor, Miss. Lagi diajak makan malam fancy, fine dining ala-ala di restaurant. Dia pake parfume nyengat banget sampe kepala aku kleyengan. Tapi nggak apa-apa, dia kasih aku duit lagi sebelum pergi fine dining. Foto terlampir ya, Miss."
Kanaya memperbesar foto yang baru saja dikirim Esmeralda dan memang benar saja, terlihat Daris ayah mertuanya yang begitu rapi dengan jas mahal dan rambut klimis menatap ke arah kamera sembari tersenyum.
Kanaya:
"Bagus, lanjut lagi kerjaan kamu. Ini foto live report, kan? Maksud aku ini kamu masih sama dia sekarang makan malam?"
Esmeralda:
"Iya, Miss. Live report ini, dia aja sekarang lagi cemburu karena aku main handphone terus balesin chat dari Miss. Dia kira aku chat-chat gadun lain. Agak posesif ya bapak mertuanya, Miss."
Kanaya:
"Sabar dan Puas-puasin aja dulu sekarang, udah kecintaan itu dia sama kamu. Bentar lagi kalo kamu minta dinikahin juga pasti diiyain."
Esmeralda:
"Aman, Miss. Operasi ikan buntal siap lanjut lagi, nanti saya kabarin lagi ya."
Kanaya tersenyum puas sampai tak sadar kalau pintunya sudah diketuk-ketuk kembali.
Kali ini, Kanaya tak berniat sama sekali untuk mengurung diri.
Sekarang, ia ingin menghampiri ibu mertuanya dan melihat Samira secara langsung. Senyum picik di wajah Kanaya masih terukir, ia puas bukan main.
"Sayang? Kanaya, please jangan begini. Aku-" Bujukan Andra seketika terhenti saat Kanaya membuka pintu dengan cepat.
Tanpa melirik sama sekali ke arah sang suami, karenanya berjalan menuju ruang makan di mana ibu mertua nya dan Nisrin sedang duduk.
Kanaya hampir saja tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah Samira, ia teringat kembali dengan foto yang baru saja dikirimkan oleh Esmeralda.
"Nah, akhirnya keluar juga tuan putri." Sindir Samira penuh dengan rasa tidak suka.
"Bener kan apa yang ibu bilang tadi, kalau lapar dia pasti keluar sendiri."
Lanjut samira sambil menatap ke arah sang putra yang berjalan di belakang mengikuti Kanaya.
"Udah, Bu." Pungkas Andra meminta sang ibu untuk tidak terus menerus menyindir Kanaya.
"Oh, Ayah nggak ada? Ke mana? Tumben, biasanya Ayah selalu ikut kalau Ibu berkunjung ke sini." Ucapkan saya sambil menarik kursi yang akan ia duduki.
"Ya kerja lah. Suami Ibu kan punya bisnis dan urusannya sendiri, dia bukan pengangguran yang kerjanya leyeh-leyeh dan ongkang-ongkang kaki kaya kamu." Jawaban samira sama sekali tidak menyinggung Kanaya.
Justru, ia semakin ingin tertawa puas terbahak-bahak mendengarnya.
"Oh, kerja ya. Hmm,..." Gumam Kanaya sambil mengulum senyum.
Jika tak bisa menahan diri, Kanaya mungkin sudah menunjukkan foto yang baru saja dikirimkan oleh Esmeralda kepadanya tepat di depan wajah Samira, ia sangat penasaran dengan bagaimana reaksi ibu mertuanya saat tau bahwa suami yang dia bangga-banggakan itu kini tengah makan malam bersama perempuan muda di luar sana.
Kalau saja ibu mertuanya itu tidak jahat, Kanaya mungkin akan merasa iba dan kasihan.
Tapi Samira adalah salah satu orang yang sangat berperan dalam sakit hatinya dan bahkan menyepelekan perasaannya, perempuan itu pantas untuk merasakan apa yang Kanaya rasakan.
"Ini, makan dulu. Aku sengaja pesenin makanan kesukaan kamu, Sayang."
Andra menyodorkan satu piring berisi makanan yang memang adalah kesukaan Kanaya.
Sesuatu yang dulu sering kali membuat Kanaya merasa terharu, tapi rasa sakit hatinya atas apa yang dilakukan Andra telah menghapus perasaan tersebut hingga ia tak terkesan sama sekali dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Oke, makasih." Ucap Kanaya basa-basi.
Sepanjang mereka makan malam, Samira tak henti-hentinya menyindir Kanaya dan mengomentari semua yang wanita itu lakukan dengan komentar negatif.
Samira juga terlihat tidak terima saat Andra memperlakukan dirinya dengan baik, ia secara terang-terangan meminta putranya untuk berhenti berbicara dengan lembut pada Kanaya dan menyuruhnya untuk melakukan hal itu pada Nisrin saja.
Tapi Kanaya tidak peduli sama sekali, ia bertingkah seolah ibu mertuanya itu hanya kaleng rongsok yang berisik karena dilempar-lempar.
Ironis sekali memang mengingat dulu ia pernah cukup dengan Samira, tapi sikap wanita itu berubah drastis saat Kanaya tak bisa memenuhi ekspektasinya.
"Liat, ini lah hasilnya kalau kamu terlalu memanjakan
dia. Di depan kamu pun dia berani kurang ajar sama Ibu. Bayangin kalau nanti Ibu makin tua dan kamu nggak ada di rumah, mungkin dia udah jahatin Ibu!" Ucap Samira yang hanya ditanggapi dengan tarikan nafas lelah oleh Andra.
Sementara Kanaya masih terlihat tidak peduli, ia benar-benar menulikan telinganya.
Selain itu, suasana hati Kanaya sedang cukup baik, jadi semua kalimat yang keluar dari mulut Samira sama sekali tidak mempengaruhinya.
"Udah ya, Bu. Kanaya cuma lagi makan, Ibu juga makan ya."
"Tuh, kamu juga lebih milih buat belain dia dibanding Ibu. Untung ada Nisrin, seenggaknya Ibu masih punya orang yang beneran peduli sama Ibu."
Samira berucap dramatis, ia mengusap bahu Nisrin dan menyandarkan kepalanya pada menantu baru kesayangannya itu.
"Bukan begitu, Bu. Aku cuma minta Ibu buat-"
"Aaaah, kenyang. Eeeu,..."
Andra menatap Kanaya yang bangun dari kursi sambil mengusap perutnya, aksi wanita itu jelas membuat ucapan Andra pada Samira terhenti sebelum sempat ia selesaikan.
"Nggak sopan ya kamu!! Sendawa di depan orangtua!!!" Samira menunjuk Kanaya yang tetap terlihat acuh tak acuh.
"Selamat malem semuanya, aku istirahat duluan ya."
Sama sekali tak menanggapi Samira, Kanaya malah
Tersenyum dan pergi begitu saja meninggalkan meja makan.
Sepenuhnya mengabaikan Samira yang semakin emosi sampai bangun dari kursi menunjuk-nunjuknya sambil mengomel.
"Bodo amat, emang gue pikirin." Ucap Kanaya sambil menutup dan mengunci pintu kamar rapat-rapat, meredam suara Samira yang masih tak berhenti mengumpat.