Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Pelajaran di Aspal Jalanan
Lampu jalanan Jacob Tower mulai menyala satu per satu, menandakan hari kerja telah usai. Devan dengan tergesa-gesa merapikan meja asistennya. Ia melirik jam tangan; sudah pukul 18:30. Sesuai rencana liciknya, ia sengaja menahan beberapa dokumen agar Vanya tetap di kantor, namun ternyata Vanya bekerja jauh lebih cepat dari dugaannya.
"Vanya! Tunggu!" teriak Devan saat melihat sosok anggun itu berjalan menuju lobi bawah.
Vanya tidak menoleh. Langkahnya tetap stabil, ketukan sepatunya berirama tegas di atas lantai marmer. Ia langsung menuju mobil sedan hitam yang sudah terparkir di depan lobi. Pak Hans sudah membukakan pintu untuknya.
"Vanya! Aku belum naik!" Devan berlari keluar, tangannya melambai ke arah mobil.
Namun, mesin mobil menderu. Tanpa menunggu sedetik pun, mobil itu melaju kencang meninggalkan lobi, menyisakan kepulan asap tipis dan debu yang menerpa wajah Devan. Devan terpaku di pinggir jalan, menatap lampu belakang mobil yang semakin menjauh dan menghilang di balik tikungan jalan protokol.
"Sebenci itu kamu sama aku, Vanya?" bisik Devan lirih. Bahunya merosot. Rasa sesak di dadanya bukan lagi karena amarah, melainkan rasa bersalah yang kini mulai menggerogoti ego besarnya.
Ia menunduk, menatap kartu identitas asisten magang yang masih tergantung di lehernya. "Baiklah... kalau ini yang kamu mau. Aku akan buktikan aku bisa berubah. Aku akan tunjukkan aku mau jadi suami yang baik, meskipun aku harus memulainya dari titik nol."
Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi seorang Devan Jacob. Pria yang selama puluhan tahun hidup dalam kemewahan, yang tidak pernah tahu warna jok angkutan umum, kini harus berdiri di halte bus yang pengap.
Ia mengantre di antara para buruh pabrik dan pegawai kantoran lainnya. Bau keringat, bisingnya knalpot, dan desak-desakan di dalam bus kota membuatnya hampir mual. Devan terpaksa berdiri, berpegangan pada tiang besi yang lengket, sementara jas mahalnya terjepit di antara penumpang lain.
Setelah turun dari bus, ia masih harus berjalan kaki sejauh dua kilometer menuju gerbang Mansion Jacob karena tidak ada taksi yang lewat di jalur pemukiman elit itu pada jam tersebut. Kakinya yang biasa dibungkus sepatu kulit mahal kini terasa lecet dan perih.
Di sisi lain, di dalam mobil yang melaju tenang beberapa kilometer di depan, Pak Hans melirik dari spion tengah. Wajahnya tampak ragu.
"Nona... apa tidak apa-apa meninggalkan Tuan Devan seperti itu? Jaraknya cukup jauh dan ini sudah malam," ucap Pak Hans pelan.
Vanya menatap keluar jendela, melihat gemerlap lampu kota yang memantul di kaca. Wajahnya tanpa ekspresi, namun jemarinya saling bertautan erat di pangkuan.
"Aku juga kasihan, Pak Hans," ucap Vanya pelan, hampir tak terdengar. "Tapi kalau tidak begini, dia mau jadi apa? Dia harus tahu bahwa dunia tidak berputar di sekeliling telunjuknya saja. Dia harus belajar merasakan sulitnya hidup agar dia bisa menghargai apa yang dia miliki."
Vanya memejamkan mata sesaat. Ia sebenarnya tidak benar-benar tega, namun luka tiga tahun tidak bisa sembuh hanya dengan permintaan maaf satu malam. Mobil itu terus melaju, membawa sang ratu kembali ke istananya.
Satu jam kemudian, Devan sampai di rumah. Penampilannya sangat mengenaskan. Rambutnya berantakan, kemejanya keluar dari celana, dan sepatunya berdebu tebal.
"Astaga, Devan! Kamu kotor banget! Kamu habis ngapain?" seru Olivia yang sedang duduk di ruang tengah sambil mengipasi wajahnya.
"Iya, aku naik bis dan jalan kaki buat sampai rumah, Ma," jawab Devan lemas. Ia ambruk di sofa terdekat, memijat kakinya yang berdenyut.
"Naik bis? Jalan kaki?" Olivia melotot. "Kenapa kamu tidak bareng istrimu? Kan kalian satu kantor!"
"Shuut..." Devan segera menutup mulut ibunya dengan tangan saat melihat Vanya turun dari tangga dengan gaun malam yang sangat cantik. Vanya tampak begitu bersinar, siap untuk pergi kencan dengan Billy.
"Kamu mau pergi?" tanya Devan, suaranya parau.
"Iya, Billy sudah menjemput di depan," jawab Vanya singkat tanpa melirik ke arah kondisi Devan yang berantakan.
"Vanya... aku ini..." Devan menggantung kalimatnya.
"Apa? Mau bilang 'aku ini suamimu' gitu?" potong Vanya dengan nada dingin yang menusuk. "Aku tahu. Makanya aku bilang kan, aku mau pergi. Urus dirimu sendiri, Devan."
Vanya berjalan melewati mereka dengan sangat elegan. Wangi parfumnya yang mewah seolah mengejek bau debu yang menempel di tubuh Devan. Ia keluar pintu tanpa menoleh lagi, masuk ke dalam mobil Billy yang sudah menunggu dengan sabar.
Olivia mendengus kasar setelah pintu tertutup. "Lihat itu! Semakin lama istrimu itu semakin semena-mena, Devan! Dia memperlakukan kita seperti pengemis di rumah sendiri!"
Devan bangkit perlahan, mengabaikan omelan ibunya. Ia menatap pintu yang tertutup itu dengan tatapan kosong.
"Bukan salah dia, Ma," ucap Devan pelan. "Aku yang memulai semua ini. Aku yang lebih dulu menyakiti hatinya selama tiga tahun. Jadi kalau sekarang dia membalas, itu hal yang wajar."
Devan berjalan gontai menuju tangga, menuju kamarnya yang sepi. Malam ini ia belajar satu hal: fisik yang lelah karena jalan kaki tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa lelah di hati Vanya yang telah ia abaikan selama ini. Ia harus bertahan, karena perjuangannya untuk mendapatkan kembali hati Vanya baru saja dimulai
Suasana di dalam mobil mewah Billy Hutama terasa begitu kontras dengan kondisi Devan di rumah. Keheningan yang menyelimuti kabin mobil itu terasa berat, meski alunan musik jazz terdengar lembut dari speaker. Vanya duduk menyamping, menatap gemerlap lampu Jakarta dari balik jendela, namun pikirannya tertinggal pada wajah kuyu Devan yang ia lihat sekilas tadi.
"Turunkan aku di apartemen Sesilia, Billy," ucap Vanya tiba-tiba, memecah kesunyian.
Billy menginjak rem sedikit mendadak karena terkejut. Ia menoleh ke arah Vanya dengan kening berkerut. "Lho? Kita nggak jadi nonton? Aku sudah pesan tempat tidur velvet yang paling nyaman di bioskop itu, Vanya."
"Gak, aku lagi nggak mood," jawab Vanya datar tanpa menoleh.
Billy menghela napas panjang, menepikan mobilnya di bahu jalan yang agak sepi. Ia menatap Vanya dengan tatapan menuntut penjelasan. "Vanya... kamu selalu gini kenapa sih? Kadang kamu kasih aku harapan dengan tawa kamu di kantor, tapi sedetik kemudian kamu menarik diri sejauh ini. Apa karena asisten magang itu?"
Vanya akhirnya menoleh. Matanya yang tajam menatap Billy dengan kejujuran yang menyakitkan. "Kan aku sudah bilang berkali-kali, Billy. Aku tuh nggak ada perasaan sama kamu. Kita deket tuh cuma sebatas rekan bisnis. Kamu hebat, kamu tampan, tapi hatiku bukan untuk dijadikan ajang negosiasi bisnis."
"Tapi suami kamu itu nggak berguna, Vanya! Dia cuma beban!" seru Billy frustrasi.
Vanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat lelah. "Berguna atau tidak, itu urusan rumah tanggaku. Terima kasih ya sudah mau antar sampai sini. Aku bisa panggil taksi atau minta Sesil jemput."
Tanpa menunggu balasan Billy, Vanya membuka pintu mobil dan turun di trotoar. Udara malam yang dingin menerpa wajahnya, namun ia merasa jauh lebih lega daripada harus memaksakan diri tertawa di dalam bioskop.
"Makasih ya," ucap Vanya singkat sebelum menutup pintu mobil.
Billy terdiam di balik kemudi, matanya menatap punggung Vanya yang berjalan menjauh menuju gedung apartemen sahabatnya. Rasa gengsi dan amarah bergejolak di dadanya.
"Sial!" umpat Billy sambil memukul setir mobilnya dengan keras. "Kenapa sulit sekali menaklukkan wanita itu?! Apa yang dia lihat dari si pecundang Devan?"
Billy menginjak gas dalam-dalam, meninggalkan tempat itu dengan deru mesin yang berisik, sementara Vanya terus melangkah, menyadari bahwa meski ia berusaha menghukum Devan, ia sendiri tidak sanggup untuk benar-benar berpaling.