Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka di Lengan, Perban di Hati
Malam itu, Mansion Vancort tidak lagi terasa seperti benteng yang angker, melainkan lebih menyerupai rumah sakit darurat yang dipenuhi aroma antiseptik dan sisa-sisa bubuk mesiu. Setelah pertempuran di panti asuhan, Leon tidak mengizinkan Ailen pergi ke rumah sakit umum. Baginya, keamanan Ailen hanya bisa dijamin jika gadis itu berada dalam jangkauannya, di bawah pengawasan tim medis pribadinya sendiri.
Leon duduk di tepi tempat tidur di kamar utama. Jas mahalnya sudah lama dibuang ke lantai, menyisakan kemeja putih yang robek di bagian lengan kanan, memperlihatkan balutan perban yang mulai merembeskan warna merah. Peluru Raka sempat menyerempet lengannya saat ia melindungi Ailen di aula tadi. Namun, Leon seolah tidak merasakan perih fisik itu; matanya terus terpaku pada sosok Ailen yang duduk di depannya dengan wajah murung.
"Sini, biar saya ganti perbannya," suara Ailen terdengar pelan, nyaris berbisik. Tangannya yang mungil gemetar saat memegang botol alkohol dan kasa steril.
"Biarkan tim medis yang melakukannya, Ailen. Kau perlu istirahat," tolak Leon lembut, mencoba meraih botol itu dari tangan Ailen.
"Nggak! Ini gara-gara saya Mas terluka begini. Kalau saya nggak nekat lompat dari plafon, Mas nggak perlu pasang badan buat saya," Ailen bersikeras. Setitik air mata jatuh ke punggung tangan Leon, terasa lebih panas daripada luka tembak itu sendiri.
Leon terdiam. Ia membiarkan Ailen mulai membuka perban lamanya dengan sangat hati-hati. Saat kulit yang terkoyak itu terekspos, Ailen meringis, seolah rasa sakit itu berpindah ke tubuhnya sendiri.
Sambil membersihkan luka Leon, Ailen terus menunduk. Rambutnya yang berantakan menutupi wajahnya, tapi isakannya tidak bisa disembunyikan.
"Mas Leon tahu nggak? Selama hidup di panti, saya selalu mikir kalau saya itu sendirian. Saya belajar lari cepet biar nggak dipukul anak nakal, saya belajar bohong biar nggak dihukum Ibu Pengasuh kalau telat pulang. Saya ngerasa nggak ada orang yang bakal rela berdarah-darah cuma buat saya," ucap Ailen lirih.
Ia mengusapkan alkohol ke pinggiran luka Leon. Pria itu sedikit menegang, namun tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Tapi hari ini... Mas bikin saya takut. Saya lebih milih diculik Vigo sepuluh kali lagi daripada liat Mas kena peluru kayak tadi. Luka di lengan Mas ini... rasanya kayak bikin perban di hati saya robek semua," lanjutnya.
Leon mengangkat tangan kirinya, menggunakan jempolnya untuk mengangkat dagu Ailen agar mereka saling bertatap mata. "Luka ini akan sembuh dalam seminggu, Ailen. Tapi melihatmu menangis karena menyalahkan diri sendiri... itu luka yang tidak bisa disembuhkan oleh obat mana pun."
"Kenapa Mas baik banget sama saya? Saya ini cuma gadis semprul yang nemu Mas secara nggak sengaja di trotoar. Saya beban buat Mas," tangis Ailen akhirnya pecah.
Leon menarik Ailen ke dalam pelukannya, mengabaikan rasa perih di lengannya yang baru saja dibersihkan. "Kau bukan beban. Kau adalah satu-satunya bagian dari hidupku yang tidak memiliki harga, karena kau tak ternilai. Dunia mafia mengenalku sebagai pria tanpa hati. Tapi hari ini, di aula itu, aku baru sadar bahwa hatiku tidak hilang—hatiku hanya pindah ke dalam dirimu. Jadi, jika kau terluka, aku pun hancur."
Di tengah suasana yang melankolis itu, Marco masuk setelah mengetuk pintu dengan sopan. Ia membawa sebuah map cokelat tua yang tampak sangat rahasia. Leon memberikan kode agar Marco bicara, meski Ailen masih ada di sana.
"Tuan, mengenai profil latar belakang Nona Ailen yang Anda minta untuk diperdalam... kami menemukan sesuatu yang krusial dari arsip lama panti asuhan yang berhasil kami amankan sebelum dihancurkan musuh," ucap Marco serius.
Ailen melepaskan pelukannya, menatap map itu dengan bingung. "Nama saya? Emangnya ada apa sama nama saya?"
Leon membuka map itu. Di dalamnya terdapat sebuah surat kelahiran yang sudah menguning dan sebuah foto kecil seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Ailen, namun dengan tatapan yang lebih dingin.
"Ailen... kau selalu bilang bahwa kau ditinggalkan di depan gerbang panti tanpa identitas, bukan?" tanya Leon.
Ailen mengangguk. "Iya, cuma ada selimut dan kalung perak kecil yang udah hilang pas saya umur sepuluh tahun."
"Kalung itu tidak hilang," Leon mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil berisi kalung perak dengan liontin berbentuk sayap elang—lambang yang sangat familiar di dunia hitam. "Ibu pengasuh menyimpannya karena ia tahu kalung ini berbahaya. Kalung ini adalah simbol dari keluarga Gavrilov, salah satu klan mafia tertua di Eropa Timur yang musnah dalam pembersihan besar-besaran dua puluh tahun lalu."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Ailen. "Maksud Mas... saya... saya anak mafia juga?"
Leon mengangguk pelan. "Namamu bukan sekadar pemberian panti. Kau adalah pewaris terakhir yang selamat dari pembantaian itu. Ayahmu, Andrei Gavrilov, adalah sekutu dekat kakekku sebelum ia dikhianati oleh Black Cobra—kelompok yang menyerang kita tadi. Mereka tidak menyerang panti hanya karena kau tunanganku, Ailen. Mereka menyerang karena mereka baru menyadari siapa kau sebenarnya. Kau adalah bukti hidup dari dosa masa lalu mereka."
Ailen terhuyung mundur, duduk di sofa dengan lemas. Kenyataan bahwa darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah yang sama dengan orang-orang yang ia benci—orang-orang yang penuh kekerasan—membuatnya merasa mual.
"Jadi selama ini... alasan saya sendirian bukan karena orang tua saya nggak sayang saya?" bisik Ailen dengan suara gemetar.
"Mereka mencintaimu lebih dari nyawa mereka sendiri, Ailen," Leon mendekat, berlutut di depan Ailen, mengabaikan luka di lengannya yang kembali berdarah sedikit karena gerakannya. "Ayahmu mengirimmu ke Indonesia, ke panti asuhan terpencil, agar kau bisa tumbuh menjadi gadis biasa yang penuh tawa—gadis yang tidak perlu memegang pistol atau melihat darah. Dia ingin kau bebas."
Ailen menatap foto ibunya. Segala kepingan puzzle dalam hidupnya mulai menyatu. Bakatnya dalam melarikan diri, instingnya yang tajam di tengah bahaya, dan ketertarikan anehnya pada Leon Vancort—ternyata semuanya sudah tertulis di dalam genetikanya.
"Tapi sekarang mereka tahu siapa saya. Saya bakal tetep jadi incaran, kan?" tanya Ailen takut.
Leon menggenggam kedua tangan Ailen, menatapnya dengan janji yang lebih kuat dari sumpah apa pun. "Mungkin kau lahir sebagai Gavrilov yang penuh luka. Tapi hari ini, kau adalah bagian dari Vancort. Luka di lengan ini adalah bayaran murah untuk melindungimu. Aku akan membalut hatimu yang terluka dengan seluruh kekuasaanku. Mereka harus melewati mayatku sebelum bisa menyentuhmu."
Ailen akhirnya mulai tenang. Ia kembali fokus membalut luka di lengan Leon, kali ini dengan tangan yang lebih stabil. Ada kekuatan baru yang muncul dalam dirinya. Jika ia memang berasal dari garis keturunan pejuang, maka ia tidak akan membiarkan dirinya terus-menerus menjadi pihak yang dilindungi.
"Mas Leon," panggil Ailen saat perban terakhir sudah terpasang rapi.
"Ya?"
"Ajari saya menembak. Secara resmi," ucap Ailen mantap.
Leon tertegun. "Ailen, aku ingin kau tetap menjadi gadis yang hanya tahu cara menggunakan sandal jepit sebagai senjata."
"Nggak bisa lagi, Mas. Kalau saya tahu cara pake pistol, saya bisa jagain punggung Mas pas kita lagi dikeroyok. Saya nggak mau cuma jadi perban buat Mas, saya mau jadi perisai juga."
Leon menatap mata Ailen yang kini penuh determinasi. Gadis semprul yang hobi makan kerupuk itu kini telah bertransformasi. Tragedi hari ini telah mencabut kepolosannya, namun memberikan keberanian yang luar biasa.
"Baiklah. Besok pagi, kita mulai di ruang latihan bawah tanah," jawab Leon akhirnya.
Malam itu, mereka tertidur di sofa yang sama, saling bersandar satu sama lain. Luka di lengan Leon sudah terbalut rapi, dan meski hati Ailen masih terasa perih karena rahasia masa lalunya, kehadiran Leon di sampingnya bertindak sebagai perban yang paling nyaman.
Di sudut ruangan, lampu meja yang masih menyala menyinari foto lama keluarga Gavrilov dan rencana pembangunan panti asuhan yang baru. Sebuah masa lalu yang pahit dan masa depan yang penuh harapan kini berada di meja yang sama.
"Mas Leon... tidur?" bisik Ailen di tengah keheningan malam.
"Belum. Kenapa?"
"Makasih ya udah ngasih tahu kejujurannya. Walaupun pahit, tapi lebih baik daripada saya ngerasa nggak punya siapa-siapa di dunia ini."
Leon mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala Ailen untuk terakhir kalinya sebelum terlelap. "Kau punya aku, Ailen. Selalu."
Di luar, hujan mulai turun, membasuh sisa-sisa darah yang tertinggal di halaman mansion. Perang mungkin akan semakin besar, rahasia-rahasia lain mungkin akan terungkap, tapi bagi Leon dan Ailen, malam ini adalah tentang menyembuhkan satu sama lain—luka demi luka, perban demi perban.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍