NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Malam di Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya bagi Tuan Mahendra. Di dalam ruang kerja pribadinya yang luas, hanya ada suara detak jam dinding antik dan desis pendingin ruangan. Pria yang biasanya menggetarkan bursa saham itu kini tampak rapuh. Di tangannya, selembar kertas putih dari Laboratorium Genetik Internasional tampak bergetar.

Hasilnya mutlak: 99,99%.

"Satu banding sejuta kemungkinan kesalahan..." bisik Tuan Mahendra dengan suara parau. "Dan satu banding sejuta itu adalah putriku yang asli."

Dokter Hadi, yang berdiri di seberang meja, menunduk dalam. Ia telah menjadi saksi bagaimana keluarga Mahendra membangun dinasti, namun ia tidak pernah menyangka akan menjadi orang yang menghancurkan ilusi kebahagiaan mereka.

"Tuan, saya telah menelusuri arsip lama di gudang Rumah Sakit Medika Utama. Suster yang bertugas di malam persalinan itu adalah Maya Sastro. Dia adalah suster yang sama yang Anda laporkan ke pihak berwajib tujuh belas tahun lalu karena kasus pencurian obat-obatan mahal."

Tuan Mahendra memejamkan mata. Kenangan itu menghantamnya seperti palu godam. Ia ingat wanita itu—wanita yang berlutut di kakinya, memohon ampun agar tidak dipenjara karena ia mencuri demi biaya operasi ibunya yang sekarat. Namun, Hendra Mahendra saat itu adalah pria muda yang kaku dan menjunjung tinggi hukum di atas segalanya. Ia tetap menjebloskan Maya ke penjara.

"Maya Sastro menyimpan dendam yang membara," lanjut Dokter Hadi. "Dia keluar dari penjara tepat sebelum masa persalinan istri Anda. Dari keterangan seorang mantan rekan kerjanya, Maya pernah bersumpah akan membuat Anda merasakan kehilangan yang sama seperti dia kehilangan ibunya. Dia menukar bayi Anda yang sehat dengan bayi dari seorang wanita tunawisma yang meninggal saat melahirkan di bangsal kelas tiga."

Tuan Mahendra menghantam meja jati mahoninya dengan kepalan tangan. "Brengsek! Jadi selama tujuh belas tahun ini, aku memanjakan anak dari orang asing, sementara darah dagingku sendiri... dia hidup dalam penderitaan?"

Pikiran Hendra langsung melayang pada Adel. Gadis yang pagi tadi ia lihat berlutut di lobi sekolah dengan seragam penuh noda kopi. Gadis yang menyelamatkan nyawa Clarissa dengan mengorbankan tubuhnya sendiri. Setiap hinaan yang pernah Clarissa lontarkan pada Adel di hadapannya kini terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya.

"Di mana dia sekarang, Hadi?" tanya Tuan Mahendra, suaranya kini mengandung otoritas yang mematikan. "Cari dia sekarang juga. Aku tidak peduli berapa biayanya, bawa aku kepadanya dalam satu jam!"

---

Di sisi lain kota, di sebuah gang sempit yang hanya cukup dilewati satu motor, Adel sedang berjuang melawan takdirnya yang paling rendah. Hujan rintik-rintik mulai turun, membasahi gang yang sudah becek dan berbau sampah.

"Sudah kubilang, Adelard! Aku tidak peduli kau habis kecelakaan atau hampir mati! Ini bisnis, bukan yayasan sosial!" teriak Ibu Ratna, pemilik kontrakan kumuh itu.

"Tolong, Bu... hanya sampai minggu depan," Adel memohon, suaranya serak. Lengan kirinya yang terbalut perban tampak kotor karena rembesan darah dan debu. "Saya akan bekerja lembur di kafe begitu jahitan saya kering. Saya janji."

"Janji, janji! Janji tidak bisa dipakai untuk bayar listrik!" Ibu Ratna dengan kasar melempar dua kardus dari dalam kamar Adel ke atas tanah yang becek. *Brak!* Buku-buku pelajaran Adel yang ia kumpulkan dengan susah payah kini berserakan di atas genangan air. "Pergi kau sekarang! Cari orang tuamu yang tidak tahu diri itu! Mungkin mereka sedang mengemis di perempatan!"

Pintu kayu yang lapuk itu terbanting menutup, meninggalkan Adel sendirian di tengah kegelapan gang. Adel terpaku. Ia menatap dua kardus isinya yang kini basah kuyup. Di dalamnya ada satu-satunya foto masa kecilnya di panti asuhan, dan sketsa kalung matahari yang selalu ia jaga.

Adel perlahan berlutut. Ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk menangis dengan suara keras. Air matanya jatuh dalam diam, bercampur dengan rintik hujan. Ia memunguti bukunya yang basah satu per satu. Kenapa dunia begitu kejam? Kenapa setelah ia melakukan hal benar dengan menyelamatkan Clarissa, ia justru dibuang seperti sampah?

"Ibu... Ayah... jika kalian masih ada, tolong lihat aku sekali saja..." bisik Adel. Tubuhnya mulai menggigil karena demam akibat luka yang belum sembuh.

Tiba-tiba, sebuah cahaya terang yang menyilaukan membelah kegelapan gang. Suara deru mesin mobil yang halus namun bertenaga besar terdengar mendekat. Penduduk gang mulai mengintip dari balik jendela mereka yang kusam. Sebuah mobil Rolls Royce hitam—kendaraan yang seharusnya hanya ada di layar televisi bagi orang-orang di sini—berhenti tepat di depan Adel.

Adel menutupi matanya yang silau. Ia mengira itu adalah musuh Clarissa atau penagih hutang yang salah alamat.

Pintu mobil terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah turun tanpa memedulikan sepatu kulit mahalnya yang kini terendam air lumpur. Tuan Mahendra berdiri di sana, menatap pemandangan yang menghancurkan sisa-sisa harga dirinya. Putrinya, pemilik sah takhta Mahendra, sedang bersimpuh di tanah kumuh, memeluk kardus basah.

"Adel..." suara itu bergetar hebat.

Adel mendongak. Rambutnya lepek, wajahnya pucat, dan bibirnya membiru karena kedinginan. "Tuan... Mahendra? Kenapa Anda di sini? Apa Clarissa mengirim Anda untuk mengusir saya lebih jauh lagi?"

Mendengar kata-kata itu, Tuan Mahendra merasa hatinya robek menjadi dua. Tanpa peduli pada pakaiannya yang bersih, ia langsung berlutut di atas lumpur, tepat di hadapan Adel.

"Tidak, Nak... Tidak ada yang bisa mengusirmu lagi," isak Tuan Mahendra. Ia menarik Adel ke dalam pelukan yang sangat erat. "Ayah di sini. Ayah datang menjemputmu pulang."

Adel membeku. Tubuhnya yang menggigil mendadak merasa hangat oleh pelukan itu. "Ayah? Apa maksud Anda, Tuan? Saya... saya tidak punya ayah. Saya anak panti."

Tuan Mahendra melepaskan pelukannya perlahan, tangannya yang bergetar memegang pipi Adel yang dingin. Ia mengeluarkan kertas hasil tes DNA yang sudah sedikit basah. "Kau adalah putriku, Adelard. Kau adalah darah dagingku yang dicuri tujuh belas tahun lalu. Aku adalah ayahmu... ayah yang sangat bodoh karena tidak mengenalimu sejak awal."

Adel menatap kertas itu dengan pandangan nanar. Huruf-huruf di sana seolah menari di matanya. Ia melihat namanya bersanding dengan nama Hendra Mahendra.

"Ini... ini tidak mungkin..." bisik Adel. "Saya hanya pelayan. Clarissa adalah putri Anda. Dia cantik, dia kaya, dia..."

"Dia bukan siapa-siapa!" Tuan Mahendra memotong dengan tegas. "Kau adalah satu-satunya putri keluarga Mahendra. Mulai malam ini, dunia akan tahu siapa kau sebenarnya. Tidak akan ada lagi yang berani menghinamu, tidak akan ada lagi yang berani membuatmu menangis."

Hendra berdiri, lalu dengan kekuatan penuh, ia menggendong Adel yang lemas di pelukannya. Ia menatap Ibu Ratna yang kini mengintip ketakutan dari balik pintu.

"Pak Jajang!" panggil Tuan Mahendra pada supirnya. "Bawa semua barang-barang putriku. Dan pastikan wanita pemilik rumah ini tahu bahwa dia baru saja mengusir pemilik gedung tempat dia tinggal sekarang!"

Pak Jajang segera bergerak dengan sigap, membawa kardus-kardus Adel ke dalam bagasi mewah.

Di ujung gang, dari dalam mobil Range Rover hitam yang membuntuti, Devan Dirgantara menyaksikan seluruh adegan itu dari balik kaca mobil yang gelap. Ia menyesap rokoknya, membiarkan asap mengepul di dalam kabin.

"Begitu rupanya," gumam Devan dengan senyum yang sangat tipis dan misterius. "Gadis pelayan itu ternyata seorang putri yang tertidur. Ini akan menjadi musim yang sangat menarik di Garuda Nusantara."

Devan melihat mobil Rolls Royce itu meluncur pergi, membawa Adel menuju kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kehidupan yang penuh dengan emas, namun juga penuh dengan pisau yang siap menusuk dari belakang.

Di dalam mobil yang nyaman dan hangat, Adel menyandarkan kepalanya di bahu Tuan Mahendra. Ia terlalu lelah untuk berpikir. Namun, saat ia memejamkan mata, ia teringat wajah Clarissa yang sombong.

'Kau bilang aku sampah, Clarissa,' batin Adel di sela-sela kesadarannya yang mulai menghilang karena demam. 'Mari kita lihat, apa yang akan kau lakukan saat kau tahu bahwa aku adalah pemilik rumah tempat kau tidur malam ini.'

Tuan Mahendra membelai rambut Adel dengan kasih sayang yang belum pernah ia berikan pada siapa pun. "Tidurlah, Nak. Saat kau bangun nanti, kau sudah berada di istanamu."

Mobil itu terus melaju menembus hujan, meninggalkan masa lalu Adel yang pahit di gang kumuh itu, menuju sebuah babak baru yang penuh dengan dendam, cinta, dan perebutan takhta yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!