Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjaga kedaulatan
Setelah melewati kancah neraka di Surabaya, di mana desing peluru menjadi nyanyian sehari-hari, hati Sidik kini hanya punya satu tujuan: kembali ke pelukan rumah. Pikirannya melayang jauh, menembus kabut peperangan, menuju sebuah tempat di mana tidak ada suara meriam, melainkan suara tawa bayi yang merindukan ayahnya.
Tanpa seragam, hanya berbekal sisa tenaga dan kerinduan yang membuncah, Sidik menempuh perjalanan darat dari Surabaya menuju Purwodadi. Setiap derap langkahnya kini terasa lebih ringan. Ia tidak lagi memikirkan strategi gerilya, yang ada di benaknya hanyalah wajah Maryam dan bayinya yang mungkin sudah mulai belajar merangkak.
Setiap melihat anak kecil di jalanan, hatinya selalu bergetar. "Apakah bayiku sudah sebesar ini?" batinnya. Perang telah merampas waktu berharganya untuk melihat pertumbuhan buah hatinya, dan kini, ia berjanji akan membayar semua waktu yang hilang itu.
***
Fajar di tepi hutan Purwodadi pecah dengan keanggunan yang magis, menyingkap kabut tipis yang menyelimuti kandang-kandang kayu milik Mbah Sidik. Di bawah siraman cahaya emas yang menerobos celah pepohonan jati, wedhus kibas peliharaan sang veteran tampak seperti gumpalan awan putih yang turun ke bumi; bulu-bulu mereka yang tebal dan bersih berkilau tertimpa embun, memantulkan kesucian di tengah tanah yang pernah bersimbah darah.
Di kejauhan, kepak sayap burung-burung hutan yang melesat membelah langit biru seolah menjadi saksi bisu atas kedamaian yang dibayar mahal, sementara suara lenguhan ternak yang lembut beradu dengan desis angin, menciptakan simfoni alam yang dramatis—sebuah harmoni kehidupan yang tetap tumbuh subur di atas ingatan akan ledakan meriam dan gema teriakan puputan yang takkan pernah pudar dari sanubari.
***
Sore itu, Purwodadi diselimuti warna jingga yang hangat. Sidik berdiri di depan rumah mertuanya dengan langkah yang ragu. Bajunya kusam penuh debu perjalanan, wajahnya lebih kurus dari terakhir kali ia pergi, namun matanya memancarkan sinar kedamaian yang luar biasa.
Maryam yang sedang menyuapi bayi mereka di teras rumah, tertegun saat melihat sosok lelaki yang sangat ia kenali berdiri di halaman. Kitab di tangannya terjatuh. Ia tidak bertanya mengapa suaminya datang, ia hanya berlari kecil, mengabaikan rasa lelah, dan memeluk Sidik seerat-eratnya.
Bayi mereka, yang kini tampak lebih gemuk dan sehat, menatap Sidik dengan mata bulat yang polos. Sidik mengambil bayinya, mendekapnya ke dada yang masih terasa bekas luka tembakan Surabaya. Ia menangis. Bukan tangis seorang komandan yang kalah perang, melainkan tangis seorang ayah yang bersyukur bisa kembali pulang dalam keadaan hidup.
"Bapak pulang, Nak," bisik Sidik di sela isak tangisnya, menciumi kening buah hatinya yang wangi susu dan bedak bayi. "Dunia di luar sana sedang sibuk menghitung korban, tapi di sini, dunia Bapak sudah utuh kembali."
***
KH Mansur memandangnya dengan penuh rasa haru. Beliau tahu, menantunya telah melewati ujian yang jauh lebih berat daripada ujian silat manapun. "Sidik, pulanglah ke rumahmu sendiri. Mulailah kehidupanmu sebagai manusia merdeka yang sebenarnya."
Aku pulang dari Surabaya yang membakar jiwa,
Membawa sisa abu di atas baju yang penuh noda.
Namun saat kulihat kau di ambang pintu rumah,
Segala dendam dan letih seolah lebur dan musnah.
Bayiku menatapku dengan mata yang jernih,
*Menghapus kenangan tentang kawan-kawan yang tertatih.
Aku bukan lagi prajurit yang haus akan kemenangan,
Aku hanyalah lelaki yang sedang memungut kedamaian.
Maryam, biarkan aku berhenti berlari,
Di tanah ini, mari kita bangun hari-hari yang murni.
Tak ada lagi peluru, tak ada lagi jerit di kejauhan,
Hanya ada doa yang kita panjatkan dalam keheningan.
Mbah Sidik tersenyum menatap Ahmad, seolah bayangan masa itu baru saja terjadi kemarin. "Saat itulah, Ahmad, Bapak sadar bahwa kemenangan terbesar seorang prajurit bukanlah saat ia menang di medan perang, melainkan saat ia bisa pulang ke rumah dan mendapati keluarganya masih ada di sana."
"Jadi Bapak benar-benar pensiun dari dunia tentara setelah itu?" tanya Ahmad.
"Siapa bilang Bapak pensiun, Ahmad?" suara Mbah Sidik kembali berat dan penuh wibawa. "Bapak memang rindu Maryam, Bapak memang ingin menimang bayi. Tapi sumpah prajurit itu sudah menyatu dengan tulang dan sumsum. Sekali melangkah di jalan ksatria, kaki ini tidak akan pernah berhenti sebelum ajal menjemput."
**
Setelah rindu terobati dan luka-luka Surabaya mulai mengering, Sidik kembali melapor ke kesatuannya. Nama Sidik kini harum di markas besar. Ia bukan lagi Rosyid yang menyamar, melainkan Letnan Sidik, perwira veteran yang punya pengalaman tempur di rimba Kalimantan hingga neraka Surabaya.
***
Jakarta memberikan perintah baru. Indonesia memang sudah merdeka, tapi Belanda (NICA) masih mencoba merongrong di berbagai daerah. Sidik dipercaya untuk memimpin pasukan khusus yang bertugas menjaga keamanan wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.
"Bapak tetap jadi tentara, Ahmad. Tapi kali ini, Bapak bertempur dengan cara yang berbeda. Bapak menjadi pelindung bagi rakyat di Purwodadi dan Jepara agar mereka bisa bertani dan berdagang dengan tenang," kenang Mbah Sidik.
Kehidupan Sidik kini terbagi dua. Di satu sisi, ia adalah seorang perwira TNI yang disegani, yang rutin melakukan patroli dan mengatur koordinasi pertahanan wilayah. Di sisi lain, ia tetap menjadi sosok yang membumi; seorang ayah yang tetap mengaji di pesantren KH Mansur dan pengrajin tanah liat saat sedang cuti tugas.
Anak buahnya di militer sangat hormat padanya karena Sidik bukan komandan yang hanya duduk di belakang meja. Ia sering turun langsung ke pelosok desa, memastikan tidak ada sisa-sisa penjajah atau perampok yang mengganggu warga.
"Seragam ini," kata Sidik sambil mengelus lencana di dadanya, "adalah titipan rakyat. Selama rakyat masih butuh perlindungan, bapak tidak akan pernah melepaskannya. Maryam pun paham, suaminya bukan hanya milik keluarga, tapi milik tanah air."
***
Meski sudah resmi menjadi tentara pusat, Sidik tetap merahasiakan beberapa misi khususnya. Ia menggunakan keahlian strateginya untuk membangun jaringan intelijen di pasar-pasar dan desa-desa. Bagi orang awam, ia mungkin tampak seperti warga biasa, namun bagi musuh negara, ia adalah bayangan yang sangat ditakuti.
Ia membuktikan bahwa menjadi tentara tidak harus jauh dari keluarga jika hati sudah tertanam pada bakti. Maryam menjadi kekuatan di balik layar, mendoakan setiap langkah Sidik saat sang suami harus pergi bertugas memadamkan pemberontakan atau menghalau patroli Belanda yang masih nekat masuk ke wilayah kedaulatan RI.
Kepulangan bukan berarti sebuah garis akhir,
Sebab panggilan negara selalu datang mengalir.
Kulepas cangkul, kukembali memegang senapan,
Menjaga fajar agar tetap cerah di masa depan.
Pangkat di bahu bukan untuk sebuah kesombongan,
Tapi tanda tanggung jawab di atas segala kenangan.
Di siang hari aku memimpin barisan prajurit,
Di malam hari aku bersujud di atas sajadah yang sempit.
Ahmad, lihatlah bapakmu yang tak pernah lelah,
Berjuang demi kedaulatan agar tak lagi dijajah.
Tentara itu bukan soal pensiun atau jabatan,
Tapi soal kesetiaan yang dibawa sampai liang ke makam.
Mbah Sidik tersenyum bangga, menunjukkan seragam lamanya yang tersimpan rapi di dalam lemari jati. "Jadi, Ahmad, Bapak tetap berdiri tegak sebagai prajurit sampai rambut Bapak memutih. Karena kemerdekaan ini terlalu mahal untuk ditinggal tidur."
"Berarti Bapak adalah tentara seumur hidup ya, Pak?" tanya Ahmad penuh kekaguman.
"Benar," jawab Mbah Sidik singkat. "Tentara yang hatinya tertambat di rumah, tapi jiwanya terbang menjaga angkasa Indonesia."
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
q berasa kaya lagi ngaji thor
siapa kah sebenarnya kang sidik ?