Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bubur Fana di Atas Panci Suci
Matahari kembar di langit Benua Awan Surgawi kini telah sepenuhnya terlepas dari pelukan cakrawala, memancarkan sinar jingga keemasan yang membakar sisa kabut pagi. Cahaya terik itu menembus dedaunan pohon pinus biru, menciptakan bayangan-bayangan tajam yang menari liar di atas tanah merah lereng gunung.
Angin sejuk berhembus membawa aroma embun yang menyegarkan, namun seketika terkontaminasi oleh bau hangus dari kayu bakar yang dipaksakan menyala. Di halaman paviliun mewah yang baru dibangun itu, suasana terasa lebih mencekam daripada kuburan massal di tengah malam buta.
Asap tipis mengepul dari dalam Panci Naga Pembelah Langit, artefak suci warisan leluhur sekte yang kini nasibnya sungguh tragis dan memalukan. Panci perunggu gelap yang biasanya memancarkan aroma pil keabadian itu kini justru mengeluarkan bau bubur beras fana yang sangat murahan.
Tetua Yao, Kepala Balai Alkimia yang sangat dihormati, masih berlutut di atas tanah berlumpur dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Pria tua berjubah hijau zamrud itu mengalirkan api spiritual ungunya ke dasar panci, wajahnya basah oleh air mata keputusasaan yang mengalir deras.
Setiap kali gelembung bubur beras itu meletup di dalam panci sucinya, bahu Tetua Yao berguncang keras seakan ada pisau yang menusuk jantungnya. Dia menggigit bibir bawahnya yang pucat hingga berdarah, mencoba menahan isak tangis agar tidak terdengar oleh pemuda iblis yang sedang mengawasinya.
Beras fana yang mendidih di dalam artefak dewa itu menghasilkan buih-buih putih kotor, menodai ukiran naga mistis di dinding bagian dalam panci. Tetua Yao memejamkan matanya rapat-rapat, tidak sanggup lagi melihat mahakarya peninggalan gurunya dinodai oleh bahan makanan manusia rendahan.
"Aduk bubur itu dengan benar, kakek tua, jangan sampai bagian bawahnya gosong dan merusak cita rasa sarapanku pagi ini," bentak Li Zhen dari beranda. Suara lantang pemuda itu memecah keheningan yang menyiksa, menggema memantul pada pilar-pilar emas spiritual di paviliun megah tersebut.
Mendengar teguran keras itu, Tetua Yao terlonjak kaget hingga api ungu di telapak tangannya sempat berkedip tidak stabil karena kepanikan. Dia buru-buru mengambil sebuah sendok kayu sederhana dari dalam cincin spasialnya, lalu mulai mengaduk bubur tersebut dengan gerakan yang sangat kaku.
Tangan keriputnya mencengkeram gagang sendok kayu itu dengan sangat kuat, buku-buku jarinya memutih menahan rasa hina yang meremukkan harga dirinya. Alkemis tingkat atas yang tangannya diasuransikan seharga sebuah kota itu kini resmi beralih profesi menjadi juru masak bubur jalanan.
Li Zhen duduk santai di atas kursi malas berlapis beludru merah yang baru saja dia beli dari sistem menggunakan Poin Sampah. Pemuda itu menyilangkan kaki kanannya di atas lutut kiri, mengayun-ayunkan ujung sepatunya yang bolong dengan irama yang sangat mengejek.
Matanya menyipit menatap kerumunan elit sekte yang masih berdiri mematung dalam formasi melingkar di sekeliling paviliun mewahnya. Para kultivator ranah Inti Emas dan Jiwa Baru Lahir itu terlihat seperti sekumpulan patung tanah liat yang menunggu untuk dihancurkan.
Kepala Sekte Zhao Wuji masih berada di barisan terdepan, wajahnya memucat pasi dengan lingkaran hitam tebal yang menghiasi kantung matanya. Pria paruh baya itu mencengkeram ujung jubah emasnya dengan kuat, perut buncitnya terus bergejolak menahan siksaan dari korset baja yang ketat.
"S-Senior Agung, bubur beras fana ini sepertinya sudah matang dan siap untuk Anda hidangkan," lapor Tetua Yao dengan suara parau yang menyedihkan. Dia memadamkan api ungunya perlahan, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menyodorkan semangkuk bubur panas menggunakan kedua tangannya yang gemetar.
Li Zhen bangkit dari kursi beludrunya, melangkah menuruni anak tangga giok putih dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh arogansi. Uap dingin dari lantai giok menyapu ujung jubah kasarnya, memberikan efek dramatis yang membuat para tetua semakin menahan napas mereka.
Dia berhenti tepat di depan Tetua Yao, menundukkan pandangannya untuk menatap mangkuk porselen berisi bubur putih kental yang masih mengepulkan asap. Li Zhen mendecakkan lidahnya keras-keras, mengernyitkan dahi seolah-olah dia baru saja disuguhi semangkuk racun tikus cair.
"Warnanya sangat pucat dan tidak menarik, persis seperti wajah ketakutan kalian semua pagi ini," kritik Li Zhen tanpa kenal belas kasihan. Dia meraih mangkuk itu dari tangan Tetua Yao dengan kasar, membuat beberapa tetes bubur panas terciprat mengenai punggung tangan sang alkemis.
Tetua Yao meringis menahan perih, namun dia tidak berani mengusap tangannya yang melepuh merah karena takut menyinggung perasaan majikan iblisnya. Pria tua itu hanya bisa bersujud kembali ke tanah merah, menggesekkan dahinya ke lumpur sebagai bentuk kepatuhan mutlak tanpa syarat.
Li Zhen meniup permukaan bubur itu pelan, lalu menyesap sedikit isinya untuk menguji hasil masakan dari Panci Naga Pembelah Langit. Rasa hambar seketika memenuhi rongga mulutnya, tidak ada sensasi gurih sama sekali karena beras itu dimasak tanpa bumbu apa pun.
"Bubur ini rasanya seperti air cucian baju yang direbus dengan kapas basah, sungguh tidak bisa ditelan oleh manusia beradab," omel Li Zhen sambil meludah. Dia membuang sisa bubur di mulutnya ke tanah, tepat di sebelah sepatu emas milik Kepala Sekte Zhao Wuji yang langsung berjengit mundur.
Tetua Yao membelalakkan matanya ngeri, seluruh tubuhnya langsung bergetar sehebat daun kering yang diterpa angin badai topan. "H-hamba mohon ampun, Senior Agung, hamba tidak berani menambahkan herbal spiritual ke dalamnya karena takut merusak kemurnian makanan Anda," ratapnya panik.
Li Zhen menggelengkan kepalanya dramatis, memutar bola matanya dengan sangat muak melihat kebodohan kultivator yang tidak mengerti seni kuliner fana. Dia memanggil layar biru sistem di kepalanya, lalu mengeluarkan kotak bumbu fana miliknya yang langsung mendarat di atas telapak tangannya.
"Buka telinga tuamu lebar-lebar dan perhatikan baik-baik, aku akan mengajarimu cara membumbui makanan yang layak dikonsumsi," perintah Li Zhen tegas. Dia menaburkan sejumput garam laut murni dan merica hitam tumbuk ke dalam mangkuk bubur tersebut dengan gaya yang sangat sombong.
Tetua Yao menelan ludah dengan susah payah, matanya menatap butiran bumbu hitam dan putih itu dengan pandangan penuh kebingungan dan horor. Dalam benak sang alkemis, mencampurkan benda asing fana ke dalam hasil masakan panci sucinya adalah sebuah penodaan yang tidak termaafkan.
"Aduk ini sampai rata, dan pastikan tidak ada gumpalan garam yang tersisa di bagian dasarnya," titah Li Zhen sambil menyodorkan kembali mangkuk itu. Tetua Yao menerimanya dengan tangan gemetar, mengaduk bubur berbumbu itu dengan sendok kayunya sambil terus meneteskan air mata kepedihan.
Aroma gurih yang sangat menggugah selera perlahan mulai menguap dari mangkuk porselen tersebut, memancing perut kosong para tetua lain untuk ikut berbunyi. Suara keroncongan bersahut-sahutan terdengar dari barisan kultivator elit itu, membuat wajah mereka memerah padam karena rasa malu yang amat sangat.