NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA YANG TUMBUH

BAB 9 — RAHASIA YANG TUMBUH

Pagi pertama Keisha di negeri asing ini justru dimulai dengan serangan rasa mual yang begitu hebat.

Bahkan sebelum ia sempat membuka matanya sepenuhnya, gelombang aneh dan tidak nyaman sudah naik dari perutnya hingga ke tenggorokan. Dengan langkah terhuyung, Keisha buru-buru berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan apa pun yang tersisa di perutnya sampai tubuhnya terasa lemas dan gemetar.

Air mata keluar bukan karena menangis, melainkan karena rasa perih di kerongkongan dan kepala yang terasa berat.

Tubuhnya terasa dingin dan lunglai saat ia akhirnya terduduk di lantai keramik yang dingin.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Keisha? Kamu tidak apa-apa, Nak?” suara Bibi Rina terdengar sangat cemas dari balik pintu.

“Aku... aku enggak apa-apa, Bi...” jawabnya lirih, berusaha menormalkan napas.

Namun begitu pintu dibuka, Bibi Rina langsung masuk dan mendapati keponakannya itu sedang duduk di lantai dengan wajah pucat pasi dan bibir yang kehilangan warna.

“Oh sayangku...” wanita itu langsung berjongkok di sampingnya, membantu menyeka keringat dingin di dahi Keisha. “Morning sickness ya?”

Keisha hanya bisa mengangguk pelan, wajahnya memerah karena rasa malu campur lelah.

Bibi Rina mengusap punggungnya perlahan dan lembut, memberikan kenyamanan.

“Ini memang akan terasa berat di awal kehamilan, Nak. Tapi ingat ya... kamu tidak sendirian menjalani ini semua.”

Kalimat itu terdengar sederhana, namun cukup untuk membuat pertahanan diri Keisha runtuh kembali. Matanya kembali basah, air mata haru dan rasa syukur bercampur menjadi satu.

 

Hari-hari berikutnya, Keisha mulai berusaha menyesuaikan diri dengan ritme hidup barunya.

Rumah Bibi Rina sangat hangat, tenang, dan penuh perhatian. Wanita itu memperlakukannya seperti anak sendiri. Namun tetap saja, ada sebuah kehampaan besar di sudut hatinya yang tak bisa diisi oleh apa pun.

Ia rindu rumah.

Sangat rindu.

Rindu suara ibunya yang memanggil dari arah dapur.

Rindu ayahnya yang selalu cerewet menanyakan apakah ia sudah makan atau belum.

Rindu kamarnya sendiri yang penuh dengan kenangan.

Bahkan anehnya, ia mulai merindukan udara panas dan lembap khas Jakarta.

Tapi ia sudah memilih jalan ini.

Ia yang memutuskan untuk pergi menjauh.

Dan sekarang, ia harus kuat menjalaninya sampai akhir.

 

Beberapa hari kemudian, Bibi Rina mengajaknya pergi ke sebuah klinik kecil yang tidak jauh dari rumah untuk memeriksakan kandungan dan memastikan kondisi janinnya sehat.

Keisha duduk dengan tubuh tegang di ruang tunggu. Jemarinya saling meremas kuat-kuat, keringat dingin mulai keluar di telapak tangan. Ia merasa sangat kecil dan tak berdaya, seperti anak kecil yang tersesat di dunia orang dewasa yang penuh aturan dan ketidakpastian.

Saat namanya akhirnya dipanggil, jantungnya berdegup begitu kencang seakan ingin melompat keluar dari rongga dada.

Seorang dokter perempuan berusia sekitar lima puluh tahun menyambutnya dengan senyum ramah dan menenangkan.

“Pertama kali periksa kehamilan, Nak?”

Keisha mengangguk pelan, matanya menatap lantai.

“Jangan takut ya. Kita hanya akan memastikan semuanya berjalan baik dan bayinya sehat.”

Beberapa menit kemudian, Keisha berbaring di atas kursi periksa sambil menatap layar monitor hitam putih di depannya dengan napas tertahan.

Dokter menggerakkan alat probe di perutnya yang diolesi gel dingin.

Dan tiba-tiba...

Duk-duk-duk-duk-duk...

Suara kecil namun sangat cepat dan jelas terdengar memenuhi ruangan.

Tubuh Keisha membeku sesaat.

“Itu suara detak jantung bayi kamu, Sayang,” ujar dokter dengan senyum lebar. “Dengar itu... sangat kuat dan sehat.”

Air mata Keisha langsung meluncur deras tanpa bisa ditahan lagi.

Nyata.

Sungguh nyata adanya.

Ada kehidupan di dalam dirinya.

Bukan sekadar dua garis merah di alat tes.

Bukan sekadar ketakutan dan beban.

Tapi benar-benar ada seorang manusia kecil yang sedang berjuang tumbuh dan bernapas di sana.

Secara refleks, tangan Keisha terangkat menyentuh perutnya perlahan.

“Halo...” bisiknya sangat pelan, hanya untuk didengar oleh dirinya dan bayi di dalam sana. “Halo, sayangku...”

Bibi Rina yang berdiri di samping tempat tidur periksa pun ikut menyeka sudut matanya, ikut terharu menyaksikan momen ajaib itu.

 

Malam harinya, Keisha duduk di tepi ranjangnya sambil memegang selembar kertas hasil cetak USG-nya.

Gambar itu mungkin terlihat abstrak dan sulit dimengerti oleh orang lain, namun baginya, gambar itu adalah harta paling berharga di dunia saat ini.

Ia tersenyum tipis. Senyum tulus dan damai untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Kanada.

Namun senyum itu perlahan pudar saat sebuah nama yang tak diundang kembali muncul begitu saja di benaknya.

Arsen.

Ia bertanya-tanya dalam hati.

Apakah pria itu pernah sekalipun memikirkannya?

Apakah ia bahkan masih ingat wajah seorang gadis bernama Keisha?

Atau mungkin... ia sudah melupakannya begitu saja sejak hari itu?

Dan yang paling menyakitkan... apakah ia tahu bahwa di belahan dunia lain ini, ada seseorang kecil yang sedang tumbuh, yang membawa setengah dari darah dan gennya?

Keisha menunduk menatap foto hitam putih itu lagi, matanya berkaca-kaca.

“Maafkan Mama ya, Nak...” bisiknya lirih. “Mama belum bisa kasih kamu seorang Ayah yang ada di samping kita seperti keluarga lain.”

 

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di Jakarta, suasana di sebuah ruangan kantor yang megah justru dipenuhi oleh aura kemarahan yang mencekam.

Arsen berdiri di belakang meja kerjanya yang besar dengan wajah dingin membeku layaknya es. Beberapa berkas kertas berserakan di atas meja mewah itu.

“Jadi... ini saja hasil kerja kalian?” suaranya terdengar pelan namun sangat menakutkan.

Tiga pria berjas hitam berdiri dengan tubuh tegang dan kepala tertunduk di hadapannya, tak berani mengangkat wajah.

“Maaf sekali, Tuan Arsen. Kami sudah mencari ke mana-mana, tapi kami hanya berhasil menemukan nama depannya saja. Data lengkapnya sulit sekali dilacak.”

“Bagaimana dengan teman-temannya? Teman wanita yang bersamanya waktu itu?” tanya Arsen lagi, nadanya mulai meninggi.

“Sangat sulit dilacak, Tuan. Dia... dia sepertinya memang sengaja menghapus semua jejaknya atau berpindah tempat. Seperti menghilang ditelan bumi.”

Arsen tertawa pendek.

Bukan tawa bahagia.

Itu adalah tawa dingin yang sangat berbahaya.

“Seorang gadis berusia delapan belas tahun... bisa menghilang begitu saja dari mata kalian yang disebut detektif handal?” hardiknya.

Tak ada satu pun yang berani menjawab atau membela diri.

Dengan gerakan kasar, Arsen meraih gelas kristal mahal di atas meja lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah dinding.

PRANG!!!

Pecahan kaca berhamburan ke mana-mana membuat ketiga pria itu tersentak kaget dan mundur selangkah.

“CARI LAGI!” teriak Arsen.

“Tuan—”

“Cek data di bandara! Cek daftar mahasiswa di semua kampus! Cek semua media sosial! Selidiki segalanya! Aku mau tahu dia ada di mana sekarang!”

Matanya menyipit tajam, memancarkan aura dominan dan posesif yang luar biasa.

“Aku tidak suka... kehilangan sesuatu yang sudah menarik perhatianku. Apalagi kalau ditinggalkan begitu saja.”

Ketiga pria itu hanya bisa mengangguk patuh dengan wajah pucat lalu segera berbalik dan keluar dari ruangan itu secepat mungkin seolah dikejar hantu.

Setelah ruangan kembali sunyi senyap, Arsen tetap berdiri mematung menghadap jendela kaca besar yang memperlihatkan gemerlap kota Jakarta di malam hari.

Entah kenapa rasa kesal dan marah ini begitu besar menguasai dirinya.

Bukan semata-mata karena anak buahnya gagal menemukan gadis itu.

Tapi karena kenyataan bahwa Keisha berhasil pergi... dan berhasil membuatnya merasa... ditinggalkan.

Perasaan yang sangat ia benci sepanjang hidupnya.

 

Malam semakin larut merambat.

Di Kanada, Keisha akhirnya tertidur pulas sambil memeluk kertas hasil USG itu erat-erat di dadanya, seolah takut ada yang merebutnya.

Di Jakarta, Arsen masih berdiri mematung menatap rintik hujan yang turun dari balik kaca tebal gedung pencakar langitnya.

Dua orang itu kini berada di dunia yang berbeda, dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer dan waktu.

Namun, satu rahasia kecil terus tumbuh diam-diam di dalam rahim seorang ibu muda.

Dan rahasia itu... cepat atau lambat, akan menjadi takdir yang memaksa mereka untuk bertemu kembali.

Bersambung...

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!