Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Pulang Yang Tak Menenangkan
"Udah sampai bang, masih ingat nggak rumah ini?" Radi menggodaku.
Mobil yang dikendarai Radi tiba di sebuah rumah mewah bertingkat dua. Setelah tiga kali lebaran aku tidak pernah melihat rumah Mama lagi. Rumah dimana aku dibesarkan Mama dengan kasih sayang. Mama yang berprofesi sebagai seorang guru dan papa adalah seorang perangkat desa yang cukup disegani.
Aku turun dari mobil Radi. Dari pintu Kania berlari ke arahku.
"Bang Raka?" Gadis itu memeluk erat tubuhku. Ia satu-satunya anak perempuan Mama, adik bungsuku. Pelukannya cukup kuat membuat aku sulit untuk bernapas. Aku berusaha melepas cengkeramannya, sebelum ia dengan sukarela melepasnya.
"Kenapa sih bang, baru ingat pulang sekarang?" Celetuknya dengan bibir manyun. Aku mengusal kelapanya. Mengecup lembut keningnya. Melihat rumah ini aku serasa berada di zaman dulu SMA, dimana semuanya terasa indah. Keluarga yang harmonis dan penuh cinta. Tapi sejak mengenal Ningsih di Jakarta, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ningsih. Bahkan rela tak mudik lebaran hanya demi menemani Ningsih. Apakah ini juga yang menyebabkan Mama membencinya?
Bukde Ijah keluar bersama sosok cantik di sebelahnya. Mama? Desisku. Wanita yang selalu ku tantang belakangan ini hanya demi membela perempuan yang aku cintai. Wanita itu tampak sumringah menyambutku dengan senyuman hangat, tak ada amarah di sorot matanya. Wanita teduh yang selalu menyambutku dengan cinta sekalipun banyak hal buruk yang aku perbuat di belakangnya. Dia adalah mamaku, wanita yang telah melahirkan dan membesarkanku.
Aku berlari kearahnya, menyalami dan memeluknya.
"Maafkan Raka, Ma." Ucapku terbata.
"Mama juga minta maaf, sudah egois kepadamu." Balasnya mengusap lembut punggungku. Darahku memompa begitu cepat. Sangat hangat.
"Maafkan Mama, Raka. Mama tidak bisa menerima wanita pilihanmu." Ujarnya kemudian. Melepaskan pelukannya dariku. Ia tampak menyeka air mata yang turun di sudut matanya.
"Masuklah dulu, nanti kita bincang. Mama tahu kamu masih capek."
Ia berjalan meninggalkanku, mendekati bukde Ijah yang sedang mengemas barang-barang bawaanku.
"Udahlah bang, ayo masuk. Kamarmu udah rindu tuh," timpal Kania kemudian menyenggol lenganku dengan sengaja.
Radi berjalan menghampiriku. Menepuk pelan pundakku. Kebiasaan yang memang sering kami lakukan dari kecil. Karena antara Radi dengan aku hanya selisih dua tahun saja.
"Oh, iya bang. Aku hanya mengantarmu sampai disini. Nanti malam aku piket jadi harus kembali."
Ia memelukku sebelum meninggalkan aku kembali.
"Ok, bro. Kapan kamu libur?" Balasku menatapnya. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ceritakan dengannya.
"InsyaAllah, besok aku libur bang. Pas banget dengan waktu lamaranmu. Nggak usah grogi, akan aku temani," Balasnya mengerling jahil. Kemudian menghilang dibalik pintu mobil.
Mobilnya melaju cukup kencang.
Aku melangkahkan kaki ke rumah yang semuanya masih tampak sama dengan tiga tahun lalu. Taman yang masih penuh dengan bunga koleksi Mama dan sebuah kolam ikan kecil kepunyaan papa.
"Hei, Raka?" Seorang laki-laki tua menyambutku hangat. Dialah pak Anas, laki-laki yang telah membesarkan dan menjadikan aku seperti sekarang. Jiwa bisnisku adalah keturunan papa. Keras kepalaku adalah warisan mama.
Aku memeluknya, tiga tahun aku hanya menghabiskan waktu di Jakarta bersama Ningsih. Dan aku hampir lupa kalau disini ada keluarga yang selalu menanti kepulanganku.
"Bagaimana dengan permintaan mamamu?" Ucapnya sebelum aku sempat merebahkan tubuh di sofa tamu.
"Aku nggak bisa berbuat banyak, Pa." Ucapku lesu.
"Raka, papa tidak memaksamu dan tidak juga memihakmu. Mungkin mama punya alasan tersendiri dengan pilihannya."
Perbincangan kami mulai serius, aku merebahkan tubuhku di sofa.
"Pa, Ningsih sebenarnya wanita baik-baik. Hanya saja dia sudah pernah menikah dan memiliki anak." Aku mengusap mukaku.
"Itulah yang akan menjadi aib kita, Raka. Kamu masih bujangan menikahi janda beranak. Lagian sejak kamu mengenal perempuan itu, kamu tidak lagi ingat mudik saat lebaran. Kamu lupa punya kami disini." Papa tidak protektif seperti mama, tidak memaksa tapi dalam ucapannya bisa aku tarik kesimpulan. Papa juga tidak menyukai Ningsih. Hidup di tengah kampung yang masih sakral adat istiadat dan tradisi, menikahi janda bagi seorang bujangan seperti aku seolah itu aib.
Aku menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan hati yang masih gundah.
"Pa, Raka mau ke kamar dulu. Nanti setelah istirahat kita lanjutkan lagi pembahasan ini."
Aku tidak menunggu laki-laki itu menjawab.
Aku pergi begitu saja meninggalkannya. Berjalan ke arah kamar pribadiku di lantai dua.
Tidak ada yang berubah sama sekali dari ornamen rumah Mama, masih estetik seperti tiga tahun yang lalu. Foto keluarga juga masih terpampang seperti biasa. Hanya saja cat dinding lantai atas ada sedikit perubahan.
Aku mengayunkan kaki ke kamar tengah yang berjejer antara tiga kamar.
Aku membuka pintu perlahan, semua masih sama. Foto-foto SMAku dan semua pernak-pernik yang pernah ku tempeli masih tertata rapi, tidak berdebu sama sekali. Bahkan aroma terapi yang sangat kusukai langsung tercium saat aku melangkah masuk. Mama memang sudah mempersiapkan kepulanganku.
"Bang Raka!" teriak Kania cukup keras membuat aku terperanjat. Aku menoleh adikku, ada rasa kesal yang bercampur.
"Eh, kebiasaan, ya. Coba kalau masuk itu baca salam." Umpat ku kesal.
Kania cengengesan, langsung membantingkan badannya ke ranjangku.
"Tahu nggak bang, selama abang nggak di rumah? Nggak ada yang berani tidur di kamar ini!"
Kania yang berbaring—tiba-tiba duduk berceloteh.
"Emang kenapa? Takut? Ada hantu?" Cemoohku. Menarik hidung mancungnya. Ia menepis tanganku.
"Yee, bukan itu sih bang. Mama tuh, kamar anak kesayangannya nggak boleh dihuni,"
Kania menatapku sambil mencibir.
"Kamu tuh kesayangan, Mama. Anak satu-satunya perempuan." Balasku mengejek.
"Mana ada. Eh iya bang, abang udah tahu belum calon dari mama?" Mata Kania tampak berbinar. Tapi tidak dengan perasaanku. Saat Kania membahas perjodohan ada desiran yang tiba-tiba merayap. Gelisah menyerang seketika. Ningsih, hadir tiba-tiba di benakku.
"Malah bengong, bang," Kania mengibaskan tangannya ke mukaku.
"Pasti mikirin kak Ningsihkan?" Ucapnya sok tahu. Ya, benar juga sih jawabannya.
"Sok tahu kamu," bentakku kesal.
"Alah pasti tu, kata mama kan, Bang Raka bucin amat sama perempuan Sunda itu." Kania terus saja mencerocos tak peduli perasaan aku, abangnya.
"Kalau kamu mau ikut campur urusan abang, mending cabut deh keluar,"
Aku mulai muak dengar ocehannya.
"Eit, tunggu dulu. Abang janganlah marah-marah sama, Nia." Mukanya memelas. Triknya cukup pintar untuk membuat aku luluh. Aku mendekati adik perempuanku itu.
"Abang udah kenal belum sama calon kakak iparku?"
Matanya kembali berbinar. Kugempalkan tangan. Menahan emosi yang turun naik oleh Kania.
"Kata Mama sih, wanita kampung sebelah. Dengar-dengar juga wanita karir bang, cantik.."
Sebelum panjang lebar ia menjelaskan, aku menyumbat mulutnya dengan sebelah tanganku. Ia meronta berusaha melepaskan. Memukul dan mencubit tanganku. Aku tetap menahannya.
"Aw.." Ringisku kesakitan. Kania menggigit jari telunjukku cukup kuat. Sebelum sumpah serapah ku keluar, ia berlari dari kamar sambil tersenyum mengejek dipintu lalu menghilang.
Ponselku berdering, aku meraihnya. Nama Ningsih muncul di layarnya. Aku hanya membisukan suara ponsel, tenagaku tidak lagi tersisa untuk menjelaskan hal yang belum aku temukan jawabannya. Aku menutup mata, membiarkan suara rumah ini menelanku.
Di tempat aku dibesarkan dengan cinta,
aku justru harus memilih siapa yang akan paling terluka karenaku.