(SEASON 2)
Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kulit Sang Utusan
Senja di atas Hutan Perak Kematian perlahan digantikan oleh malam yang pekat. Di pelataran Pos Tambang Paviliun Tembaga Merah, keheningan hanya dipecahkan oleh suara kepakan sayap Burung Rajawali Besi yang tampak gelisah.
Shen Yuan berdiri menatap kerangka layu Zhou Yan. Senyum sedingin es terukir di wajahnya. Dengan satu lambaian tangan, jubah perak bersulam pedang hitam yang membalut tulang belulang utusan itu terlepas dan melayang ke tangannya. Ia membersihkan debu dari jubah itu menggunakan hawa murninya, lalu melepas jubah hitam kusamnya sendiri dan mengenakan pakaian kebesaran utusan alam atas tersebut.
Pakaian itu pas di tubuhnya. Namun, mengenakan jubah saja tidak cukup untuk menipu ratusan ahli Peleburan Jiwa di markas musuh.
"Leluhur," batin Shen Yuan, memejamkan mata. "Sutra Penelan Surga mampu menghisap dan mencerna esensi. Bisakah ia juga meniru riak hawa murni yang telah ditelannya?"
"Tentu saja, Bocah," tawa Leluhur Darah bergema penuh kebanggaan. "Hawa murnimu adalah kaisar dari segala energi. Selama kau memiliki sisa-sisa ingatan dan esensi murni dari Zhou Yan di dalam Dantian-mu, kau bisa memaksakan hawa murni iblismu untuk meniru irama dan warna dari pancaran aura pria itu. Untuk urusan wajah... Tubuh Emas Gelap-mu sudah cukup lentur untuk sedikit mengubah susunan tulang pipi dan rahangmu."
Shen Yuan mengangguk. Ia memusatkan kesadaran spiritualnya. Di dalam Dantian-nya, Lautan Qi iblis yang kini telah mencapai Setengah Langkah Ranah Peleburan Jiwa mulai beriak. Perlahan-lahan, kabut merah kehitaman yang biasa mengelilinginya ditarik ke dalam, digantikan oleh pendaran cahaya perak gelap yang sangat identik dengan milik Zhou Yan.
Bahkan tekanan yang ia pancarkan diturunkan sedikit, meniru dengan tepat Ranah Peleburan Jiwa Tahap Awal, menyembunyikan fondasi monsternya yang sesungguhnya.
Krek... krek...
Suara tulang wajah yang bergeser terdengar pelan. Shen Yuan mengubah susunan otot dan rahangnya. Garis wajahnya yang muda dan tegas berubah menjadi sedikit lebih tirus dan dewasa. Rambutnya yang hitam kelam diikat rapi ke belakang dengan gaya yang persis ada di dalam ingatan sang utusan.
Saat ia memutar tubuhnya dan bercermin pada genangan darah yang mulai mengering di lantai batu, sosok yang terpantul di sana bukan lagi Shen Yuan sang pengelana, melainkan Zhou Yan, Utusan Luar Istana Pedang Besi.
"Penyamaran yang nyaris sempurna," gumam Shen Yuan, suaranya pun telah diubah meniru nada serak Zhou Yan. Ia menyematkan plakat giok putih di pinggangnya.
Lu Qi dan penambang gemuk yang sedari tadi mengintip dari balik tiang bangunan bergetar hebat. Mereka baru saja menyaksikan seorang pemuda merubah wujudnya menjadi utusan yang baru saja ia bunuh! Teror ini jauh melebihi pembantaian mana pun.
Shen Yuan menoleh ke arah kedua penambang itu. Matanya memancarkan peringatan mematikan.
"Tetap di sini. Teruslah menambang seolah tidak terjadi apa-apa," perintah Shen Yuan dengan suara Zhou Yan. "Jika ada yang datang bertanya, katakan Pengawas Ma dan aku telah kembali ke markas utama. Jika kalian berani membocorkan satu kata pun tentang malam ini... kalian tahu apa yang bisa dilakukan oleh sisa hawa murniku di jantung kalian."
"B-Baik, Tuan Utusan! Kami buta dan tuli! Kami tidak tahu apa-apa!" Lu Qi langsung bersujud mencium tanah, tak berani mendongak sedikit pun.
Shen Yuan memutar tubuhnya dan melangkah keluar menuju pelataran. Burung Rajawali Besi yang sedari tadi meringkuk ketakutan tiba-tiba mengangkat kepalanya. Siluman terbang tingkat tinggi itu kebingungan; sosok di depannya memiliki bau darah yang menakutkan, namun hawa murninya adalah hawa murni majikannya.
"Tunduk," desis Shen Yuan pelan, melepaskan setitik aura penelanan murni ke arah burung tersebut.
Burung Rajawali Besi itu memekik tertahan dan langsung merendahkan sayapnya, tunduk pada keunggulan mutlak sang pemangsa puncak. Shen Yuan melompat naik ke atas punggung siluman tersebut.
"Ke Istana Pedang Besi."
Burung itu mengepakkan sayap bajanya, menciptakan hembusan angin kencang yang menyapu pelataran, lalu melesat membelah langit malam, terbang tinggi di atas tajuk-tajuk pohon perak.
Duduk di atas punggung burung yang terbang dengan kecepatan kilat, Shen Yuan menutup matanya. Ia mulai membongkar seluruh ingatan Zhou Yan yang telah ia serap.
Istana Pedang Besi terletak sekitar lima ribu li ke arah timur, di jantung Wilayah Besi Berdarah. Markas mereka dibangun di atas Gunung Karang Hitam, sebuah gunung yang kaya akan bijih besi spiritual.
"Pemimpin Istana Pedang Besi, Tie Wuhen... Puncak Ranah Pemisahan Duniawi," Shen Yuan menelaah ingatan itu, alisnya sedikit berkerut memikirkan ranah yang begitu tinggi. "Ratusan Tetua di berbagai tahap Peleburan Jiwa. Zhou Yan ini ternyata hanyalah pesuruh untuk mengumpulkan pajak dari pos-pos tambang luar. Kedudukannya cukup rendah di antara para utusan, sering dihina karena kultivasinya yang mandek di Tahap Awal."
Shen Yuan menyeringai di dalam kegelapan. Kedudukan yang rendah justru adalah penyamaran yang paling sempurna. Tidak ada yang akan menaruh curiga berlebih pada sosok yang biasa diremehkan, hingga pisau itu akhirnya menggorok leher mereka dari belakang.
Perjalanan melintasi langit malam memakan waktu sekitar tiga jam. Saat fajar mulai menyingsing, cakrawala timur menampakkan sebuah pemandangan yang luar biasa bengis dan megah.
Sebuah gunung yang sepenuhnya terbuat dari batu karang berwarna hitam legam menjulang menembus awan. Di sekujur lereng gunung itu, dibangun benteng-benteng pertahanan dari besi merah yang memancarkan hawa panas. Asap tebal dari ribuan tungku peleburan membubung ke angkasa, menutupi sinar matahari dan membuat udara di sekitar gunung itu terasa sesak dan berbau logam berdarah.
Di puncak tertinggi gunung tersebut, bertengger sebuah istana raksasa yang atapnya dipenuhi oleh ribuan pedang besi yang tertancap mengarah ke langit—Istana Pedang Besi.
"Sarang yang cukup besar," batin Shen Yuan saat Rajawali Besi mulai menukik turun menuju pelataran pendaratan siluman di lereng bawah gunung.
Begitu burung itu mendarat, beberapa pelayan berpakaian abu-abu bergegas maju untuk mengikat rantainya. Shen Yuan melompat turun dengan gaya angkuh, persis seperti kebiasaan Zhou Yan.
"Utusan Zhou! Anda telah kembali," sapa seorang penjaga berseragam perak dengan nada basa-basi yang terdengar setengah hati.
Shen Yuan hanya mendengus pelan, menepuk kantong di pinggangnya, dan melangkah melewati penjaga tersebut tanpa menjawab. Ia berjalan menyusuri anak tangga besi yang mengarah ke Balai Penyerahan Pajak. Di sepanjang jalan, ia bisa merasakan belasan kesadaran spiritual menyapu tubuhnya. Namun, penyamaran hawa murni dari Sutra Penelan Surga bekerja tanpa celah; tidak ada satu pun riak iblis yang bocor.
Saat ia tiba di depan pintu Balai Penyerahan Pajak, langkahnya dihadang oleh sesosok pria berwajah tirus yang memegang kipas besi. Pria itu mengenakan jubah perak yang sama, namun sulaman pedangnya lebih rumit. Ia adalah Utusan Li, saingan Zhou Yan yang berada di Ranah Peleburan Jiwa Tahap Menengah.
"Ah, bukankah ini Si Penagih Pajak Pemalas, Zhou Yan?" sapa Utusan Li dengan senyum merendahkan, menghalangi pintu. "Aku dengar dari pos lain bahwa kau menghabiskan waktu dua hari lebih lama dari jadwal di Paviliun Tembaga Merah. Apa kau tertahan oleh arak murahan dan pelayan wanita rendahan di sana? Hati-hati, Penatua Balai Hukuman tidak suka jika jatah bulanan terlambat."
Dalam ingatan Zhou Yan, Utusan Li selalu menindasnya karena perbedaan satu tingkat kultivasi. Jika Zhou Yan yang asli berada di sini, ia pasti akan menunduk dan meminta maaf.
Tetapi orang yang berdiri di balik wajah ini adalah sang Iblis Penelan Surga.
Shen Yuan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Utusan Li. Alih-alih menunduk, Shen Yuan melepaskan sebersit hawa murni Peleburan Jiwa yang sangat berat, meminjam kepadatan Inti Emas Iblisnya yang telah mencapai batas Setengah Langkah Peleburan Jiwa, dan menekankannya langsung ke dada Utusan Li.
Deg!
Utusan Li tiba-tiba merasa seolah dadanya dihantam palu tak kasat mata. Napasnya tercekat, dan matanya membelalak tak percaya. Tekanan ini... ini bukan sekadar Tahap Awal! Kepadatan hawa murninya terasa jauh lebih kejam dan mematikan!
"Menyingkir dari jalanku, Li," suara Shen Yuan mendesis rendah, penuh ancaman. "Aku sedang tidak ingin meladeni gonggongan anjing pagi ini."
Wajah Utusan Li memucat. Ia tanpa sadar mundur selangkah, memberi jalan. Ia tidak mengerti dari mana Zhou Yan mendapatkan keberanian dan hawa murni seberat itu, namun naluri bertahannya memperingatkan bahwa pria di depannya ini baru saja mengalami semacam terobosan yang mengerikan.
Shen Yuan mendengus dingin dan melangkah masuk ke dalam balai, meninggalkan Utusan Li yang masih berdiri membeku di ambang pintu.
Di dalam, Shen Yuan menyerahkan jatah Tembaga Merah dan sebagian Batu Roh Spiritual kepada para petugas balai, menyisakan sebagian besar rampasan di dalam Kantong Qiankun pribadinya—sebuah tindakan penggelapan yang biasa dilakukan oleh para utusan dan dimaklumi asalkan jatah utama terpenuhi.
Setelah urusan pelaporan selesai, Shen Yuan keluar dari balai dan berjalan menuju kawasan asrama utusan yang terletak di sisi timur gunung.
Sambil melangkah, ia memetakan seluruh pertahanan sekte ini menggunakan ingatan Zhou Yan. Sasarannya bukan sekadar membuat kekacauan. Ia ingin menghancurkan fondasi Istana Pedang Besi dari dalam, sebelum Kuil Dewa Perak menyadari apa yang terjadi.
"Gudang Pusaka Utama dijaga oleh tiga Penatua Puncak Peleburan Jiwa," pikir Shen Yuan. "Tapi yang lebih menarik... di bawah istana ini terdapat 'Kolam Darah Bumi', tempat Pemimpin Istana, Tie Wuhen, melakukan pengasingan. Energi dari kolam itu terhubung dengan seluruh susunan aksara pertahanan gunung ini."
Senyum tipis terukir di bibir Shen Yuan. Mata hitamnya berkilat tajam di bawah sinar matahari pagi.
"Jika aku bisa meracuni atau menyedot Kolam Darah Bumi itu... seluruh gunung ini akan runtuh tanpa aku perlu menghunus pedang."
Serigala telah masuk ke dalam kandang domba, dan ia telah menemukan urat nadi yang akan ia putuskan pertama kali.