Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 18
TURUN-TEMURUN
Sisilia
Langkah sepatu hak bergema di lorong sempit penjara bawah tanah. Dingin, lembap, dan bau besi karat menyatu dengan suara tetesan air dari langit-langit. Para tahanan lain menunduk saat sosok itu lewat. Tak ada yang berani menatap terlalu lama.
Sipir wanita itu berjalan tenang. Seragamnya rapi, rambut digelung tinggi, wajahnya cantik tapi datar. Di tangannya ada sebuah amplop cokelat tebal dan kotak beludru hitam kecil.
Dia berhenti di depan jeruji paling ujung. Sel nomor tujuh. Satu-satunya sel yang lampunya tidak pernah dimatikan.
Di dalam, seorang pria tua duduk di ranjang besi. Rambutnya sudah memutih, tapi punggungnya tetap tegak. Matanya tajam seperti pisau lama yang tak pernah tumpul. Tidak ada borgol di tangannya. Tidak ada rantai di kakinya. Dan tubuhnya penuh tatto itu tertutup oleh baju tahanan.
Sipir itu membuka pintu jeruji. Tidak dikunci. Tidak pernah dikunci.
“Tuan, ada surat untukmu,” sapanya pelan. Suaranya halus, tapi tidak ada hormat di dalamnya. Hanya formalitas.
Pria tua itu mengangkat wajah. Keriput di sudut matanya bertambah dalam saat dia tersenyum tipis. “Kau datang lebih cepat dari biasanya, Senorita.”
Senorita melangkah masuk. Dia meletakkan amplop cokelat di meja kecil yang reyot. Lalu membuka kotak beludru hitam itu. Di dalamnya ada cincin perak dengan ukiran kepala singa. Logamnya masih basah oleh darah yang belum kering sempurna.
“Ada titipan,” kata Bianca datar. Dia menaruh kotak itu di samping amplop. “Dari Milan.”
Nama kota itu membuat rahang Don Vito mengeras sepersekian detik, mengingat. Emilio de Santis. Teman lamanya. Saudara seperjuangan yang dulu berbagi peluru dan meja makan yang sama. Sampai dua puluh tahun lalu, pria itu menjebaknya masuk ke sini dengan kasus penyelundupan.
Semua karena Don Vito tahu terlalu banyak soal malam ketika Leonor mati. Adik perempuannya sendiri.
“Ini milik Giorgio.” kata Don Vito mengamati cincin berdarah itu.
Dan mereka tahu bahwa anak buah Don Vito si pemilik cincin itu sudah tewas lewat benda kecil tersebut.
“Siapa yang melakukannya?” tanya Don Vito menatap Senorita.
“Lorenzo de Santis. Dia tahu, dan dia membunuhnya.” kata Senorita yang membuat Vito terdiam mengingat nama pria itu yang merupakan keponakan nya sendiri.
“Anak buah Anda... Gagal, karena dia memantau terlalu dekat.”
Vito tak bergeming dan hanya menyeringai kecil. “Bagaimana dengan de Santos yang lainnya?”
“Mereka baik.”
“Dan masih suka main kotor,” gumam Don Vito. Jarinya yang penuh bekas luka mengambil cincin itu, memutarnya pelan.
“Tenang saja Tuan, Giorgio tidak buka mulut sebelum mati.” ucap Senorita yang masih membuat Vito terdiam memikirkan sesuatu.
Hening. Hanya suara tetesan air yang jatuh ke lantai.
Don Vito menutup kotak itu pelan. Tidak ada amarah di wajahnya. Hanya sesuatu yang lebih dingin dari itu. Janji yang sudah menunggu dua puluh tahun.
Dia meraih amplop, membuka segelnya dengan kuku. Selembar foto lama di dalamnya. Leonor, Emilio, dan dirinya sendiri. Tertawa di kebun anggur Sicily. Don Vito membakar foto itu dengan korek yang tiba-tiba muncul di tangannya. Api kecil memakan kertas itu sampai jadi abu.
“Balasannya?” tanya Senorita.
Don Vito menatapnya lekat. “Bilang pada Lorenzo de Santis... Aku ingin bertemu dengannya, sudah waktunya dia tahu siapa yang membunuh ibunya. Dan bilang pada Emilio, aku bosan menunggu di sini.”
Senorita mengangguk sekali. Tidak ada catatan. Tidak ada pertanyaan. “Baik, Don Vito.”
Dia berbalik tanpa pamit. Pintu jeruji dibiarkan terbuka saat dia keluar. Langkahnya sama tenangnya seperti saat datang. Para sipir lain di pos jaga hanya menunduk dan membukakan gerbang untuknya.
Di dalam sel, Don Vito bersandar. Matanya menatap abu foto di lantai. Dua puluh tahun dia diam karena Lorenzo masih remaja. Sekarang anak itu sudah jadi kepala keluarga dan akan memiliki keturunan, tapi masih ada banyak musuh disekitarnya.
“Sudah waktunya tagih hutang lama, Emilio,” bisiknya pelan. “Aku tahu, kalian semua bajingan akan mati.”
Di luar, malam semakin gelap. Dan darah belum selesai tertumpah. Don Vito dulu mengira bahwa Lorenzo benar-benar membunuh ibunya sendiri, tapi ternyata.... semua itu hanyalah permainan para pelicik.
...***...
Keesokan paginya, Aria yang yang sudah selesai mandi dan rambut basahnya langsung digelung asal. Ia memilih segera keluar dari kamar menuju dapur dengan pakaian santai selengan berwarna krem.
“Di mana Teresa?” tanya Aria kepada pelayan lain yang sibuk mengelap meja.
“Saya belum melihatnya, Nyonya.” kata pelayan itu penuh hormat.
Aria terdiam, dia melihat ke sekitarnya berharap Lorenzo tidak datang menemuinya, sungguh, dia masih berdebar karena kejadian semalam yang begitu mengejutkan.
“Aria.” Sapa seseorang yang seketika membuat Aria menoleh.
Adriana tersenyum kecil menatapnya seperti biasa. Salah satu de Santos yang mau berbicara dengannya cukup ramah.
“Adriana... Apa kau... Mau bertemu Lorenzo? Ini cukup pagi!” katanya sedikit bingung dan sungkan.
Wanita cantik berambut hitam lurus yang digelung rendah itu tersenyum kecil. “Bukan dia. Aku ingin menemui mu! Rumah ini terlalu besar untuk ditinggali sendirian kan.”
Aria mengangguk setuju. Hingga akhirnya mereka berdua memutuskan duduk di sofa ruang tamu.
Hanya ad keheningan saat Aria bingung harus bicara apa. Hingga Adriana yang memperhatikan wajah tegang Aria yang sedikit pucat, ia berkernyit heran.
“Kau ingin bertanya sesuatu? Tanyakan saja? Aku harap Lorenzo tidak membuatmu kesal berlebihan dalam kondisi mu saat ini.” kata Adriana.
Aria tersenyum tipis namun seketika dia mulai penasaran dan mengingat sesuatu untuk dibicarakan oleh Adriana. “Aku ingin bertanya sesuatu soal lorenzo.”
Wanita di depannya itu menyipitkan matanya dan dn tersenyum kecil. “Soal apa?”
“Entahlah... Tapi... Aku melihatnya membunuh, dan dia bilang pekerjaannya sangat menguntungkan dan kriminal. Aku tidak tahu... Ini membuatku takut dan bingung.” kata Aria bak orang gugup dan kebingungan.
Adriana terdiam, lalu menunduk dan tersenyum kecil menatap Aria.
“De Santos mempunyai perusahaan legal, dan dibaliknya, ada bisnis lain yang sudah turun-temurun.” kata Adriana yang kini didengarkan oleh Aria. “Bisnis ilegal. Dan Lorenzo mengelolanya karena dia ahlinya dan paman Emilio yang memintanya untuk menjadi tangan kanannya.” kata Adriana yang seketika membuat Aria menganga kecil.
“Ja-jadi... Itu benar. Lalu kenapa dia suka membunuh?”
Wanita itu terkekeh kecil. “Lorenzo tidak membunuh sembarang orang. Dia hanya membunuh musuh atau orang-orang yang membuat bisnisnya dalam bahaya. Selebihnya, tidak.” jelas Adriana dengan santai.
Aria terdiam sesaat, hingga wanita di sampingnya itu menyentuh lengannya.
“Santai saja. Lorenzo tidak akan membahayakan mu, dia adalah dinding rumah ini dan keluarga ini. Dia selalu di depan sebagai tameng. Dan itu terkadang membuat ku sedih.” kata Adriana diakhir kalimatnya yang membuatnya ikut prihatin karena Lorenzo harus menjadi semua itu karena sebuah janji dan kematian ibu kandungnya sendiri.
Aria curiga dan penasaran hingga dia ingat akan luka membekas di punggung suaminya itu. “Lalu luka Lorenzo itu?”
“Luka?” tanya balik Adriana yang seolah tak pernah tahu. Hingga akhirnya Aria menggeleng sembari tersenyum.
“Bicara soal bisnis turun temurun. Aku sudah mendengar toko roti mu. Aku ingin berkunjung ke sana.” kata Adriana yang pandai mencairkan suasana.
“Tapi toko itu tutup karena aku ada di sini.”
Adriana berkerut alis dan masih tersenyum. “Itu tidak tutup..toko mu masih beroperasi. Lorenzo sudah mencari orang untuk dipekerjakan di sana atas nama mu.” kata Adriana tersenyum kecil.
Tapi Aria yang mendengarnya pun tak percaya. “Benarkah?”
“Ya.”
“Kenapa aku tidak diberitahu— ”
“Untuk apa aku memberitahumu?” tiba-tiba suara pria dingin dan berat langsung menyahut dan membuat Aria menoleh ke arahnya. Sementara Adriana hanya tersenyum kecil memperhatikan Aria yang nampak gelagapan bertemu Lorenzo. Mungkin karena efek pemandangan ekstrim semalam.