Sulaiman, penebang pohon yang disegani, bersama tim pekerjanya, tanpa sadar menyeberangi batas dunia nyata dan terjebak di dalam Kerajaan Gaib. Di rimba yang tak dikenal; aturan alam runtuh, waktu berhenti, dan setiap sudut dipenuhi dendam kuno.
Teror tidak hanya datang dari makhluk mengerikan, melainkan serangan psikis yang perlahan mendobrak dan mencoba menghancurkan akal sehat. Halusinasi ekstrem, bisikan provokasi, dan ilusi mengerikan membuat batin mereka tersiksa.
Mereka harus berjuang, bertahan melawan berbagai kegilaan sebelum jiwa mereka ditelan selamanya oleh hutan misterius yang tak pernah membiarkan tamunya pulang.
PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Setelah puas tertawa, petani tua itu menapak maju selangkah. Tanah di bawah kakinya berubah menjadi lumpur merah kental. Dia mengangkat cangkulnya lagi, tapi kali ini, cangkul itu bukan lagi alat pertanian.
Di mata Sulaiman, cangkul itu berubah menjadi sepasang rahang raksasa, penuh gigi-gigi tajam yang berkarat dan berlumuran darah kering. Adapun di mata Deri, cangkul itu berubah menjadi tangan raksasa dengan kuku-kuku panjang yang hitam dan kotor.
"Ambil ini..." bisik petani tua itu.
Tiba-tiba, udara di sekitar mereka menjadi padat. Sulaiman merasakan ada sesuatu yang sangat dingin menyentuh bahunya. Sentuhan itu tidak hanya dingin, tapi terasa... menggerogoti. Dia menjerit kesakitan saat melihat kulit di bahunya tiba-tiba menghitam, mengelupas, dan membusuk seolah terkena penyakit yang sangat ganas dalam hitungan detik.
"AAAAAAAGHEEEEEIIIIIKK!!" Sulaiman memukul bahunya sendiri sekuat tenaga, mencoba menghilangkan sentuhan itu, tapi rasa perihnya semakin menjadi-jadi, semakin menggila-gila, semakin membara-bara. "BAU NYAAAA! ITU BAU MAYAT BUSUK! SIAL!!!
Bau itu kini begitu pekat, begitu menyengat hingga masuk ke dalam paru-paru, membuat mereka ingin muntah hingga isi perut keluar. Petani tua itu tidak hanya menyerang pikiran, dia membuat mereka merasakan hal-hal yang seharusnya tidak mungkin dirasakan. Rasa sakit itu nyata. Luka itu nyata. Ketakutan itu nyata.
"Pak... tolong... kita mati saja ya? Aku tidak kuat lagi..." isak Deri. Tubuhnya meluncur ke tanah, dia merangkak mundur, matanya melotot melihat bayangan-bayangan yang berlarian di antara barisan tanaman kepala babi.
Bayangan itu berbentuk manusia, tapi berjalan dengan tangan dan kaki empat, melompat-lompat di atas pohon, menginjak-injak tanaman kepala babi hingga pecah menghamburkan otak yang bercampur ratusan belatung. Bayangan liar itu mengeluarkan suara cekikikan yang mengerikan. Mereka adalah jiwa-jiwa terkutuk dari sebagian manusia bejat yang sebelumnya mati, kini menjadi anjing-anjing penjaga yang siap mencabik-cabik korban baru yang sama berdosanya.
Tiba-tiba, pandangan Sulaiman kabur. Dia melihat Herman berdiri di samping pria tua itu. Herman tersenyum lebar, senyuman yang sama mengerikannya dengan si penjaga kebun, dan dia ikut memegang sebilah cangkul kecil yang tajam.
"Kau... kau mau apa, Herman?!" teriak Sulaiman, matanya membelalak. Paranoia dan gangguan psikis telah memutarbalikkan fakta, menyuap isi perasaan.
"Aku bosan, Pak. Lebih baik kita bunuh apak saja ya, terus kita ikut Pak Tua ini menanam sayur..." jawab Herman dengan suara yang aneh, datar, dan tanpa jiwa.
"BRENGSEK!!! KAU BERANI BERKHIANAT?!"
Sulaiman yang sudah kehilangan kendali akan logika, langsung menerjang ke arah Herman. Dia memukul anak buahnya sendiri dengan keras tepat di wajah.
BUGH!
"AWAS PAK! INI AKU! HERMAN!" teriak Herman kesakitan, hidungnya berdarah, terguling di tanah. "KENAPA BAPAK PUKUL AKU?!"
Tapi Sulaiman tidak mendengar. Di matanya, Herman baru saja mencoba menikamnya dari belakang. Dia terus memukul, menendang, melepaskan semua ketakutannya menjadi amarah yang buta.
"Sudah... sudah... pecah belah kalian sendiri... Pecah... pecah... sudahlah belah tubuh kalian sendiri... hihihi," suara petani tua itu terdengar santai, dia hanya berdiri mematung sambil mengamati pertengkaran itu, cangkulnya siap menebas siapa saja yang lengah. "Begini lebih enak. Daging yang penuh emosi rasanya lebih gurih."
Deri menangis histeris melihat atasan dan seniornya berkelahi sendiri. "JANGAN! JANGAN BOS! ITU MUSUHNYA DI SANA! BUKAN ANAK BUAH SENDIRI! HEEEH HEEEH HEEEH...!
Kebun itu kini hidup. Benar-benar hidup, dan melelahkan jiwa.
Tanah-tanah gundukan bergerak-gerak seperti ada sesuatu yang besar berenang di bawahnya. Suara krak krak krak tulang bergesekan terdengar tak henti. Dan di tengah kekacauan itu, suara bisikan kembali datang, tapi kali ini bukan bisikan, tapi... hmmmm... teriakan langsung di dalam kepala mereka.
KASAR...
KEJAM...
MATI...
JADI PUPUK...
CANGKUL... CANGKUL...
CANGKUL YANG DANGKAL...
Kata-kata itu diputar ulang dengan kecepatan tinggi, semakin keras, semakin cepat, hingga kepala mereka terasa mau meletus. Sulaiman berhenti memukul Herman, dia memegang kepalanya dengan kedua tangan, menjambak rambutnya sendiri hingga sebagian rontok.
"DIAMMMM!!! DIAMMMM SEKARANG!!!"
Petani tua itu berjalan mendekat perlahan. Langkahnya tenang, berwibawa, mematikan. Dia mengangkat cangkulnya tinggi-tinggi di atas kepala Sulaiman yang sedang berjongkok kesakitan. Mata cangkul itu mengkilap memantulkan cahaya merah dari langit yang kian gelap.
"Sudah waktunya panen..." gumamnya pelan.
Sulaiman sadar saat hembusan angin dari ayunan cangkul itu menyentuh rambutnya. Dia mengelak secepat kilat.
WUUUUSSSH! TRAAANG!
Cangkul itu menghantam tanah tepat di samping kepalanya, getarannya mengguncang rahang dan giginya. Tanah yang keras itu pecah, dan dari celah yang terbuka, terlihat jelas apa isi di dalamnya.
Bukan akar tanaman.
Bukan pupuk kandang.
Tapi tumpukan pakaian manusia, sepatu bot, tulang-belulang yang masih utuh, dan rambut-rambut panjang yang menjalar keluar seperti cacing. Kebun ini ditanam di atas kuburan massal. Ribuan orang dikubur di sini, dihancurkan, dicampur tanah, diolah seperti adonan, untuk menyuburkan tanaman-tanaman iblis itu.
"LIHAT!" teriak petani tua itu dengan wajah yang kini berubah total. Wajah keriputnya mengelupas, memperlihatkan daging merah yang berdenyut di bawahnya. Matanya melotot keluar, meneteskan darah kental. "INI AKAN MENJADI TEMPAT TIDUR KALIAN! KALIAN AKAN MENJADI TANAH! KALIAN AKAN MENJADI MAKANAN!"
Deri sudah tidak bisa bergerak lagi. Dia duduk terpaku, air mata dan air seni bercampur membasahi celananya. Otaknya sudah mencapai batas maksimal teror. Dia melihat kematian sedang menatapnya tepat di muka, dan dia tidak punya daya untuk melawan.
Herman mencoba menarik Sulaiman. "Pak! Lari! Kita lari sekarang juga!"
Tapi Sulaiman terpaku menatap mata pria tua itu. Dia melihat sesuatu di sana. Dia melihat keabadian kesakitan. Dia melihat bahwa kematian di sini bukanlah akhir, tapi awal dari penderitaan yang tak berujung sebagai bagian dari kebun mengerikan ini.
"Kau tidak bisa lari..." desis petani tua itu, suaranya kini berubah menjadi ribuan suara sekaligus, suara anak-anak, wanita, dan pria yang menangis bersamaan. "Hutan ini sudah menelan kalian. Pintu sudah tertutup. Jadi... percuma kalian lari..."
Petani tua itu mengangkat cangkulnya untuk ketiga kalinya. Kali ini tidak ada ampun. Tidak ada harapan. Teror psikis telah menghancurkan mental mereka, memecah belah mereka, membuat mereka lemah dan putus asa.
Kini, tibalah waktunya untuk teror fisik yang sesungguhnya.
"SIAPKAN DIRI KALIAN..."
Cangkul itu meluncur turun dengan kecepatan mematikan, disertai raungan ribuan jiwa yang menderita, membelah udara yang tegang dan berbau darah.
WUUUUUUUUUSSSHHH!!!