NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Ruangan itu terasa semakin menyempit. Oksigen seolah tersedot keluar, digantikan oleh aroma maskulin Everest yang mendominasi dan hawa panas yang membakar sisa-sisa kewarasan Catherina. Tangan Everest masih berada di sana, di balik kain dress porselen yang kini kusut, menuntut akses lebih dalam ke wilayah yang selama ini terkunci.

"Mendes*hlah, Cathe... Kumohon, aku merindukannya," bisik Everest tepat di ceruk leher Catherina. Suaranya serak, penuh dengan rasa lapar yang tertahan sekian lama. "Biarkan aku mendengar suara yang selalu menghantuiku setiap malam."

Catherina menggeleng lemah, matanya terpejam rapat saat ia merasakan sentuhan kasar namun memabukkan itu. "Tidak, Everest... kumohon, berhenti," rintihnya. Tangannya yang gemetar masih memeluk Liam, seolah bayi itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam badai nafsu pria di depannya.

Tiba-tiba, Everest menarik tangannya dengan sentakan kasar. Ia menjauhkan tubuhnya sedikit, menatap Catherina dengan tatapan yang penuh luka dan amarah yang berkilat.

"Kau menolakku lagi, Cathe?" tanyanya dengan nada rendah yang berbahaya. "Apa tidak cukup kau menghancurkanku? Apa kau masih ingin menyiksaku sekarang?"

"Aku tidak ingin menyakiti siapa pun, Everest!" teriak Catherina dengan suara pecah. "Pikirkan istrimu... pikirkan keluargamu! Aku tidak mau menjadi wanita yang merusak kebahagiaan orang lain."

Everest tertawa getir, sebuah tawa sarkastik yang bergema di sudut-ruang kerja yang sunyi itu. "Persetan dengan kata istri!" gertaknya, membuat Catherina tersentak. "Aku belum menikah, Cathe! Aku tidak punya istri! Aku masih menantimu, aku masih mencintaimu... apa itu kurang jelas bagimu?!"

Catherina mematung. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada. "Tapi... Serline? Kau bilang kau punya anak perempuan bernama Serline! Kau bilang dia secantik ibunya!"

Everest mengusap wajahnya dengan kasar, tampak frustrasi karena Catherina terus-menerus menahan tangannya saat ia mencoba menarik pakaian dalam wanita itu. Ia merosot duduk di samping Catherina, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memejamkan mata.

"Oh, Serline... putri kita," gumam Everest dengan nada yang sangat frustrasi.

Catherina mengerutkan kening, merasa bingung sekaligus terhibur di tengah ketegangannya. "Putri kita? Bagaimana bisa?"

"Sayang... kumohon, aku menginginkan ini. Aku sangat merindukanmu, Cathe. Please..." Everest mencoba kembali mendekat, tangannya kembali merayap di paha Catherina yang mulus.

"TIDAK!" Catherina menepis tangan itu dan dengan cepat menarik turun dress-nya yang tersingkap. "Kembalikan harga diriku, Everest. Aku kedinginan. Dan jelaskan padaku siapa Serline!"

Everest menghela napas panjang, lalu menatap Catherina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Serline itu anak Duck, Sayang. Putri kita. Kau ingat Duck? Anjing yang dulu kita perebutkan namanya karena kau ingin menamainya 'Duck' padahal dia bukan bebek?"

Mata Catherina melebar. "Apa?"

"Duck sudah melahirkan sebelum dia mati. Seekor anak anjing yang sangat menggemaskan, dan aku menamainya Serline," jelas Everest dengan nada datar namun menyimpan kepedihan.

"Kenapa kau menamainya Serline?" tanya Catherina, suaranya kini melunak.

"Lalu kau sendiri, kenapa kau menamai putra kita Liam?" Everest balik bertanya dengan nada menuduh. "Nama itu tidak cocok untuknya. Dia seharusnya memiliki nama belakang Cavanaught."

Catherina terdiam sejenak, lalu tawa kecil keluar dari bibirnya—tawa yang tulus untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di gedung ini. "Kau gila, Everest! Kau benar-benar gila! Kau membuatku ketakutan setengah mati, membuatku mengira kau sudah punya keluarga baru, hanya karena seekor anak anjing?"

"Aku tidak berbohong," bela Everest dengan wajah serius. "Dia memang putriku. Dia satu-satunya yang menemaniku di London saat aku merasa ingin mati karena merindukanmu."

Catherina terus tertawa, meski air mata masih membekas di pipinya. "Aku membencimu... kau menganggapku orang asing saat pertemuan makan malam itu. Kau bersikap seolah aku hanya debu yang mengganggu pemandanganmu."

Everest menunduk, meraih jemari Catherina dan mencium punggung tangannya dengan lembut. "Aku menghukum diriku sendiri, Cathe. Aku berusaha bersikap dingin karena aku tidak ingin jatuh lagi pada pesonamu. Aku takut jika aku tersenyum sedikit saja padamu, aku akan langsung berlutut dan memohon agar kau meninggalkan Adrian malam itu juga."

Everest kemudian beralih menatap Liam yang kembali terlelap. "Liam... nama yang buruk," gumamnya cemburu. "Tapi wajahnya... dia benar-benar penyelamatku, Cathe. Terima kasih sudah menjaganya, meski kau harus melewati neraka bersama pria brengsek itu."

Catherina terdiam, menatap Everest yang kini tampak jauh lebih manusiawi. Kebenaran tentang Serline bukan hanya menghapus kecemburuannya, tapi juga meruntuhkan tembok pertahanan yang ia bangun selama ini. Ternyata, di balik kemegahan dan kedinginan Everest, pria itu masih terjebak di masa lalu yang sama dengannya.

"Jadi... tidak ada istri?" bisik Catherina memastikan.

"Hanya ada kau, Cathe. Selalu hanya kau," jawab Everest, kali ini tanpa nada dingin, hanya ada kejujuran yang telanjang di matanya. "Dan sekarang, tidak akan ada lagi pria lain yang boleh menyentuhmu atau liam kita. Mengerti?"

Catherina hanya bisa mengangguk pelan, membiarkan dirinya ditarik kembali ke dalam pelukan hangat pria yang ternyata tak pernah benar-benar melepaskannya.

Di luar, langit Los Angeles mungkin masih mendung, tapi di dalam ruangan itu, mendung di hati Catherina perlahan mulai tersibak oleh kebenaran yang konyol namun menyelamatkan.

Everest mengembuskan napas panjang, sebuah kombinasi antara gairah yang tertahan dan rasa sayang yang meluap. Ia menatap Catherina yang masih bersikeras menarik helai demi helai kain dress porselennya untuk menutupi tubuh. Wajah wanita itu merah padam, antara malu, marah, dan sisa-sisa rangsangan yang belum tuntas.

"Baiklah, Sayang... aku menyerah," gumam Everest parau.

Dengan gerakan yang jauh lebih lembut, Everest membantu Catherina merapikan pakaiannya. Jemari panjang pria itu dengan telaten menarik ritsleting di punggung Catherina, memastikan kain itu jatuh sempurna membungkus tubuh ringkih yang sangat ia rindukan. Sesekali, Everest mencuri kecupan di bahu polos Catherina, membuat wanita itu bergidik.

"Berhenti, Everest. Liam bisa bangun," bisik Cathe, meski ia tidak lagi mendorong tangan Everest.

"Dia sedang mimpi indah, Cathe. Dia tahu ayahnya sedang menjaga ibunya," jawab Everest dengan nada sombong yang khas.

...----------------...

Sesuai kesepakatan—atau lebih tepatnya paksaan halus Everest—mereka meninggalkan gedung Cavanaught Tower menuju penthouse pribadi Everest. Everest bersikeras menggendong Liam sendiri. Ia menolak membiarkan pelayan atau asistennya menyentuh bayi itu.

Namun, cara Everest menggendong Liam membuat jantung Catherina hampir copot. Everest membawa Liam dengan satu lengan yang kokoh, menyangga tubuh bayi itu di pinggangnya seolah sedang membawa tas olahraga atau... seekor anak anjing yang lincah.

"Everest! Oh Tuhan!" teriak Catherina saat mereka melangkah masuk ke dalam apartemen mewah yang didominasi marmer hitam dan kaca-kaca besar. "Jangan menggendongnya seperti anak anjing, Everest! Kau menyakiti putraku! Dasar kau ini!"

Catherina dengan cepat merebut Liam dari dekapan Everest. Ia menatap bayinya dengan cemas, memastikan tidak ada tulang yang bergeser. "Kau pikir dia Serline? Dia manusia, Everest! Dia bayi satu bulan!"

Everest tertawa kecil, suara basnya menggema di ruangan yang luas itu. Ia melonggarkan dasinya dan melemparkannya ke atas sofa kulit. "Dia tidak menangis, Cathe. Itu artinya dia merasa aman. Darah Cavanaught tidak selemah itu."

"Darah Cavanaught apa? Dia putra Adrian, Everest! Berhenti mengatakan hal-hal gila sejak tadi," semprot Catherina, meski jauh di lubuk hatinya, ia sendiri mulai meragukan kata-katanya.

Everest melangkah mendekat, mengunci tubuh Catherina di antara dirinya dan meja marmer di lorong masuk. Ia menatap mata Catherina dengan intensitas yang sanggup meluluhkan logam.

"Kau bisa terus membohongi dirimu sendiri dengan menyebut nama si brengsek Adrian itu, Cathe. Tapi lihat wajahnya," Everest menunjuk Liam yang kini menggeliat nyaman di pelukan ibunya. "Dia memiliki tatapan sombongku. Dia memiliki caraku mengerutkan kening. Adrian hanyalah figuran dalam drama ini, dan kau tahu itu."

Catherina memalingkan wajah, enggan mengakui kebenaran yang terpampang nyata. "Terserah apa katamu. Di mana kamar untuk Liam? Aku ingin menidurkannya."

"Kamar di sebelah kamarku sudah kusiapkan. Semua perlengkapan terbaik sudah ada di sana sejak satu jam yang lalu," ujar Everest sambil mengusap kepala Liam dengan ibu jarinya. "Dan jangan berpikir untuk mengunci pintu, Catherina. Karena di apartemen ini, tidak ada satu inci pun tempat yang terlarang bagi pemiliknya. Termasuk kau."

Catherina mendengus, mencoba terlihat kesal padahal hatinya menghangat. "Kau benar-benar tidak berubah. Tetap sombong dan pemaksa."

"Dan kau tetap bidadariku yang paling keras kepala," Everest mengecup kening Catherina lama, seolah sedang menandai kembali miliknya yang sempat hilang. "Selamat datang di rumah yang sesungguhnya, Cathe. Kali ini, tidak akan ada pelarian lagi. Tidak untukmu, dan tidak untuk jagoan kecilku ini."

Malam itu, di bawah temaram lampu apartemen mewah, Catherina merasakan sesuatu yang sudah lama hilang: rasa aman. Meski ia masih bersikeras bahwa Liam adalah anak Adrian, namun berada di sisi Everest membuatnya merasa bahwa badai telah berakhir. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di sidang perceraian nanti, tapi melihat Everest yang kini sibuk mencoba membedong Liam dengan canggung, Catherina tahu ia telah pulang ke tempat yang tepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!