Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Hujan Panah dan Lukisan Kuno
Udara di lantai empat terasa jauh lebih dingin dan lembap dibandingkan lantai-lantai sebelumnya. Bau apek dari batu tua dan debu tebal menyambut kedatangan mereka. Cahaya obor yang dibawa para prajurit bergetar, memantulkan bayangan menakutkan di koridor batu yang sempit.
Aura memimpin, diikuti oleh Kieran, Falix, Jack, dan sisa tentara yang masih bertahan. Keheningan di lantai ini terasa memekakkan, tidak seperti lantai tiga yang penuh dengan monster menjijikkan. Keheningan ini terasa seperti tarikan napas predator sebelum menerkam.
“Tetap waspada,” bisik Aura, suaranya tegang. Ia merasakan ada yang salah. Energi di sini terasa mati, seolah segala sesuatu telah dipersiapkan dengan cermat.
Tepat saat kaki Jack menginjak ubin batu yang tampak sedikit lebih gelap, suara klik mekanis yang cepat dan mengerikan memecah keheningan.
“Menghindar!” teriak Kieran, suaranya pecah, dipenuhi kepanikan mendadak.
Di detik yang sama, seluruh koridor berubah menjadi neraka. Dari dinding samping, dari langit-langit, bahkan dari celah-celah lantai, ratusan panah kayu bermata besi menghujani mereka. Ini bukan serangan makhluk hidup, ini adalah jebakan mekanis yang mematikan, tersembunyi dengan sempurna.
Hujan Panah!
“Formasi Pertahanan!” perintah Falix, matanya membesar karena terkejut.
Kieran segera melompat, menarik Aura untuk berlindung di balik kolom batu besar yang retak. Wajah Aura pucat, detak jantungnya menggila. Ia merasakan angin dari panah yang nyaris mengenai telinganya.
“Aura!” teriak Kieran, suaranya serak karena khawatir. Ia menahan tubuh Aura, memastikan gadis itu aman.
Falix dan Jack bereaksi dengan insting terlatih. Falix mengeluarkan perisai besar dari punggungnya dan menggunakannya untuk melindungi dua prajurit di belakangnya. Panah-panah itu menghantam perisai dengan bunyi tak, tak, tak yang memekakkan telinga.
“Sialan! Panahnya tidak ada habisnya!” raung Jack, menggunakan pedangnya untuk menangkis rentetan anak panah yang datang dari atas. Setiap tangkisan memercikkan bunga api. Ia bergerak bagai penari kematian, menangkis apa pun yang mengancam nyawanya atau prajurit di dekatnya.
Para prajurit yang tersisa menunjukkan keberanian luar biasa. Mereka menghalau panah, sebagian menggunakan baju zirah mereka sebagai tameng, dan sebagian lagi mundur perlahan, mencari celah. Namun, satu prajurit tidak beruntung. Sebuah panah menembus bahunya, menyebabkan ia menjerit kesakitan dan terjatuh.
“Bertahan! Cari sumbernya!” teriak Falix, otot lengannya menegang menahan perisai.
Aura, meski gemetar, segera mengeluarkan kemampuan visualisasinya, mencari mekanisme pemicu jebakan. Panah-panah itu datang dari lubang-lubang kecil yang tersebar di sepanjang dinding.
“Di bawah ubin yang baru saja kita injak! Itu pemicunya!” teriak Aura.
Kieran, yang melihat prajurit yang jatuh, merasakan amarah membakar dirinya. Ia melepaskan Aura, mengambil busur panah, dan menembakkan tiga anak panah sekaligus ke arah lubang terbesar di dinding. Panah itu menghantam lubang, menyebabkan suara krek yang teredam.
Perlahan, rentetan panah mulai melambat, berhenti dengan bunyi desis mekanis yang menandakan sistem jebakan telah rusak.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, kali ini dihiasi napas terengah-engah dan tetesan darah di lantai.
“Semua aman?” tanya Falix, menurunkan perisai dengan hati-hati. Wajahnya berkeringat, namun matanya masih memancarkan kewaspadaan.
“Satu terluka,” lapor Jack, berlutut memeriksa prajurit yang bahunya tertembus panah.
Kieran bergegas mendekati Aura. “Kamu baik-baik saja, Aura?” Suaranya dipenuhi rasa lega dan ketakutan yang belum hilang.
Aura mengangguk, napasnya masih memburu. “Aku baik-baik saja, Kieran.” Ia menatap ubin gelap yang menjadi pemicu jebakan. “Mereka mempersiapkan ini dengan sangat rapi.”
“Kita tidak bisa terus begini,” kata Falix, menatap prajurit yang terluka. “Perjalanan masih panjang. Kita butuh istirahat dan memulihkan tenaga.”
Mereka memutuskan untuk mencari tempat aman. Tak jauh dari lokasi jebakan, mereka menemukan sebuah ruangan besar yang anehnya kosong, tanpa jebakan atau monster. Ruangan itu terasa seperti tempat perlindungan yang sunyi.
Para tentara segera mendirikan kamp darurat. Mereka menyalakan api kecil di tengah ruangan untuk menghangatkan diri dan mengobati luka. Aura, meski tubuhnya lelah, tidak bisa beristirahat. Perasaannya mendesak.
Ia berjalan mengelilingi ruangan. Ruangan itu benar-benar kosong, kecuali satu hal, sebuah Lukisan Besar yang terukir langsung di dinding batu. Ukiran itu menempati sebagian besar dinding, menampilkan detail yang luar biasa.
Aura mengeluarkan kamera digital kecil yang ia bawa dan mengambil gambar ukiran itu. Ia mendekat, menatapnya dengan saksama. Cahaya api menari di atas ukiran, menghidupkan kisah yang tergambar.
Ukiran itu menampilkan adegan yang terasa sangat personal bagi Aura. Terukir dengan indah di dinding itu adalah wajah dua wanita kembar. Mereka tampak tersenyum, berinteraksi dengan seekor makhluk mitologis, seekor naga kecil yang Aura kenali dari mimpinya,” Asaarmata.”
Aura merasakan sensasi aneh. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, melainkan karena rasa kerinduan yang mendalam. Ia merasa mengenal kedua wanita itu.
Siapa sebenarnya wanita ini? Dialog internal Aura bergejolak. Kenapa wajah ini terasa tidak asing?
Ia menelusuri garis wajah salah satu wanita itu. Ada kemiripan yang mencolok dengan dirinya, seolah ia sedang melihat pantulan dirinya di masa depan. Wajah yang dewasa, kuat, namun juga lembut.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di belakangnya. Aura sudah mendengarnya, itu langkah Kieran. Ia menoleh, senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Kieran, berdiri di belakangnya. Suaranya sudah kembali tenang, tetapi matanya memancarkan kehangatan yang meyakinkan.
“Tidak ada,” jawab Aura. Ia tidak ingin berbagi penemuan ini dulu. Ini terasa terlalu pribadi dan ajaib.
Ia segera kembali ke kelompok, duduk di dekat api yang hangat. Ia mencoba bersikap santai, tetapi pikirannya terus tertuju pada ukiran di dinding.
Saat ia duduk, ia mengangkat pandangannya ke langit-langit, tepat di atas tempat mereka beristirahat. Di sana, ia melihat ukiran lain yang tersembunyi, berbeda bentuk dan kisah dari yang pertama. Ukiran ini tidak terukir dengan keindahan, melainkan dengan kekejaman yang brutal.
Ukiran itu berbentuk seorang wanita berwajah dingin, seorang ratu atau dewi, yang sedang bersiap memenggal seorang bayi di tangannya. Ekspresi wanita itu kejam dan tanpa emosi. Di samping bayi yang tak berdaya itu, terdapat dua sosok lain yang sedang berlutut, memohon dengan putus asa.
Kengerian merayapi punggung Aura. Ukiran ini sangat kontras dengan ukiran pertama yang menampilkan Asaarmata dan wanita kembar yang tersenyum.
Aura merasakan dingin menjalar di dalam hatinya. Ia ingat fragmen mimpi yang ia lupakan. Mimpi tentang seorang Ratu yang sangat kuat tetapi dikuasai kegelapan, seorang Ratu yang melakukan pengorbanan kejam demi kekuasaan.
Dia kejam... seperti apa yang aku baca di dalam mimpi waktu itu, batin Aura, matanya terpaku pada ukiran mengerikan itu.
Kisah di lantai empat ini mulai terkuak, dan itu adalah kisah yang menyedihkan dan gelap. Ia melihat masa lalu, masa depan, dan kekejaman yang terukir abadi di dinding batu. Kedua ukiran itu adalah dua sisi dari mata uang yang sama: satu adalah harapan dan keindahan, yang lain adalah keputusasaan dan kejahatan.
Aura menyentuh liontin di lehernya. Ia tahu, teka-teki labirin ini jauh lebih rumit daripada sekadar mencari harta karun. Ini adalah perjalanan untuk menemukan identitas dirinya yang hilang, sebuah identitas yang terikat erat dengan darah dan kekuasaan kuno yang terpahat di dinding ini.
Aku harus tahu siapa wanita-wanita ini, dan kenapa aku merasa seperti telah melihat segalanya di sini.