"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.
Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.
Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Malam Penuh Cinta
Matahari telah benar-benar terbenam, digantikan oleh malam yang tenang dan hangat. Suasana di rumah besar itu kini terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi kesan dingin dan angker, melainkan suasana yang penuh kehangatan dan kasih sayang.
Di kamar tidur utama, suasana terasa begitu intim. Lampu tidur dipasang pada cahaya yang paling redup, menciptakan nuansa yang romantis dan menenangkan.
Kirana duduk di tepi ranjang, jantungnya berdegup kencang tak karuan. Malam ini adalah malam pertama mereka benar-benar berbagi ranjang sebagai suami istri yang sesungguhnya, tanpa topeng, tanpa jarak, dan tanpa rasa takut.
Arga keluar dari kamar mandi. Ia baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah dan meneteskan air, menambah kesan maskulin yang sangat kuat. Ia hanya mengenakan celana santai panjang dan kaos oblong tipis berwarna putih yang menempel sempurna di tubuhnya yang kekar dan atletis.
Kirana menelan ludah, wajahnya langsung memerah padam. Ia buru-buru menundukkan pandangan, memilin ujung selimut dengan tangan yang gemetar.
Arga tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang masih saja polos dan mudah malu itu. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang tepat di samping Kirana.
"Kenapa menunduk terus? Aku kan suamimu," goda Arga pelan, suaranya terdengar rendah dan berwibawa.
"I... iya tahu," jawab Kirana terbata-bata. "Cuma... malu aja."
Arga terkekeh pelan. Ia mengangkat tangannya, perlahan menyentuh dagu halus itu dan mengangkat wajah Kirana agar menatap dirinya.
"Lihat aku, Sayang," panggilnya lembut.
Kirana membuka matanya perlahan, menatap bola mata hitam pekat yang kini penuh dengan kasih sayang dan kelembutan. Tatapan itu membuat Kirana merasa terhipnotis, merasa aman, dan merasa sangat diinginkan.
"Malam ini..." Arga memulai pembicaraan, suaranya terdengar serak dan berat. "Malam ini kita benar-benar menjadi satu. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi jarak. Kamu siap, Kan?"
Pertanyaan itu penuh penghormatan. Arga tidak mau memaksakan kehendak. Ia ingin Kirana memberikannya dengan tulus dan ikhlas.
Kirana menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang seakan mau meledak. Ia menatap mata suaminya dalam-dalam, lalu mengangguk pelan namun penuh keyakinan.
"Aku siap, Arga. Aku siap menjadi milikmu seutuhnya," bisiknya lirih.
Mendengar jawaban itu, senyum lebar terukir di wajah Arga. Rasa bahagia yang meledak-ledak memenuhi seluruh relung hatinya. Ia tidak menyangka akan merasa sebahagia ini.
"Terima kasih, Kirana. Makasih sudah hadir dan mewarnai hidupku," ucap Arga tulus.
Perlahan, dengan sangat hati-hati layaknya sedang memegang benda paling berharga di dunia, Arga mendekatkan wajahnya. Ia menatap bibir merah alami itu sejenak, lalu perlahan menundukkan kepalanya.
Ciuman pertama yang sungguh-sungguh mendarat lembut di bibir Kirana.
Sensasi itu meledak di seluruh tubuh Kirana. Tubuhnya terasa lemas, matanya otomatis terpejam rapat. Ciuman itu tidak terburu-buru, tidak kasar, melainkan sangat lembut, penuh rasa rindu dan rasa sayang yang terpendam lama.
Arga mencium istrinya dengan penuh perasaan, seolah ingin menyerap seluruh kelembutan yang ada pada diri wanita itu. Tangannya yang besar bergerak mengelus punggung ramping itu, menarik tubuh Kirana semakin dekat hingga tak ada celah sedikit pun di antara mereka.
Kirana awalnya kaku dan tegang, namun perlahan-lahan ia mulai bisa mengimbangi sentuhan suaminya. Tangan kecilnya naik memeluk leher Arga, membiarkan dirinya hanyut dalam lautan kasih sayang yang selama ini hanya ia impikan.
Malam itu, di bawah naungan selimut yang hangat, dua hati dan dua tubuh itu akhirnya bersatu menjadi satu. Jerat pernikahan yang tadinya terasa seperti belenggu, kini berubah menjadi ikatan suci yang manis dan indah.
Arga memperlakukan Kirana dengan sangat lembut dan penuh perhatian. Ia tidak membiarkan istrinya merasa sakit atau takut sedikit pun. Setiap sentuhan, setiap bisikan kata cinta, semuanya dilakukan dengan penuh ketulusan. Ia menunjukkan pada Kirana betapa berharganya wanita itu di matanya, betapa ia mencintai dan menyayanginya melebihi apa pun.
Hingga akhirnya, keheningan malam kembali menyelimuti ruangan. Hanya terdengar suara napas mereka yang memburu namun mulai teratur kembali.
Kirana berbaring lemas di dada bidang Arga. Kepalanya bersandar di sana, mendengar detak jantung suaminya yang berirama kuat dan menenangkan. Tangan besar Arga masih setia mengelus punggung dan rambutnya dengan penuh kasih sayang, seolah tidak ingin melepaskan istrinya sedetik pun.
"Arga..." panggil Kirana pelan, suaranya terdengar manja dan lelah.
"Hmm... kenapa, Sayang?" jawab Arga serak, mencium ubun-ubun istrinya penuh cinta.
"Aku sayang banget sama kamu," ucap Kirana tulus, kata-kata itu keluar begitu saja dari hati yang paling dalam. "Aku nggak nyangka bisa sebahagia ini."
Arga tersenyum lebar, ia mengeratkan pelukannya.
"Aku juga, Sayang. Aku sayang kamu lebih dari yang bisa aku ungkapin," jawab Arga. "Maafin aku ya yang dulu pernah jahat dan dingin sama kamu. Sekarang aku sadar, kehilangan kamu itu adalah hal paling menakutkan yang bisa terjadi dalam hidupku."
Kirana tersenyum bahagia, air mata haru menetes perlahan membasahi dada suaminya. Malam ini adalah malam terindah dalam hidupnya. Segala rasa takut, rasa sedih, dan rasa ragu telah hilang lenyap, digantikan oleh rasa cinta yang begitu besar.
Pagi harinya, sinar matahari pagi menyelinap masuk menyentuh wajah mereka berdua.
Kirana terbangun lebih dulu. Ia membuka matanya perlahan, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan suaminya yang sedang tidur pulas di hadapannya.
Arga tidur dengan wajah yang sangat damai. Senyum tipis masih terukir di bibirnya, seolah sedang bermimpi indah. Tangan pria itu masih melingkar erat di pinggang Kirana, menjadikan tubuh wanita itu sebagai bantal peluknya.
Kirana tersenyum sendiri melihatnya. Ia merasa sangat dicintai dan sangat dilindungi. Ia tidak berani bergerak banyak, takut membangunkan suaminya yang terlihat sangat lelah namun bahagia itu.
Perlahan, tangan Kirana terangkat, dengan sangat hati-hati ia menyentuh wajah Arga, mengusap alis yang tegas, hidung yang mancung, hingga bibir yang tebal dan merah.
'Dia suamiku. Hanya milikku,' batinnya bangga.
Tiba-tiba, tangan Arga bergerak menangkap tangan yang sedang bermain di wajahnya itu. Arga membuka matanya perlahan, tatapannya masih mengantuk namun langsung melembut saat melihat Kirana.
"Pagi, Cantik..." sapa Arga dengan suara serak khas pagi hari yang sangat seksi.
"Pagi..." jawab Kirana tersenyum malu. "Maaf ya, aku ganggu tidur kamu."
"Enggak. Justru senang banget bangun tidur langsung lihat wajah istriku yang cantik," jawab Arga manis, lalu ia menarik tubuh Kirana mendekat dan mendaratkan ciuman singkat namun manis di bibir wanita itu.
"Mmmuach!"
"Argaaa..." Kirana memukul pelan dada suaminya, wajahnya memerah. "Masih pagi-pagi sudah gombal."
"Memang benar kok," Arga tertawa kecil. "Gimana perasaan kamu hari ini? Badan enakan? Sakit nggak?" tanyanya penuh perhatian, memeriksa wajah dan tubuh istrinya dengan tatapan khawatir.
Kirana mengangguk cepat. "Alhamdulillah, enak kok. Nggak sakit apa-apa. Kamu kan yang ngurusinya pelan-pelan," jawabnya polos.
Arga tersenyum puas dan bangga. "Syukurlah kalau begitu. Mulai sekarang, kamu adalah ratu di hatiku dan di rumah ini. Apa pun yang kamu mau, aku akan usahakan."
Hari itu, suasana rumah benar-benar berubah 180 derajat. Arga menjadi suami yang sangat perhatian, manja, dan romantis. Ia tidak segan-segan menunjukkan kasih sayangnya di depan Bi Sumi, bahkan terlihat sangat bangga memiliki istri sebaik Kirana.
Saat sarapan, Arga sendiri yang menyuapi Kirana dengan alasan "istriku harus dirawat". Bi Sumi yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum lebar, bahagia melihat majikannya yang dulu dingin kini berubah menjadi pria yang sangat penyayang.
Namun, di tengah kebahagiaan yang sedang meluap-luap ini, ada firasat aneh yang sedikit mengganggu pikiran Kirana. Entah kenapa, ia teringat lagi pada tatapan benci yang diberikan Natasha saat diusir dari rumah ini tempo hari. Wanita itu tidak terlihat seperti tipe orang yang akan menyerah begitu saja.
'Semoga saja Natasha tidak membuat masalah lagi,' batin Kirana berdoa dalam hati. 'Aku tidak mau kebahagiaan kami ini rusak oleh siapa pun.'
Arga seolah bisa membaca pikiran istrinya. Ia menggenggam tangan Kirana di atas meja makan.
"Jangan mikir yang aneh-aneh ya. Fokus sama kebahagiaan kita. Siapa pun yang coba ganggu, aku yang akan hadapi. Janji?" ucap Arga tegas dan yakin.
Kirana tersenyum lega dan mengangguk. "Iya, janji."
Mereka berdua belum sadar, bahwa badai sebenarnya belum benar-benar usai. Dan ujian terbesar bagi cinta mereka baru saja akan dimulai.