Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: RUNTUHNYA SINGGASANA KEBOHONGAN
Aula Utama Klan Han yang biasanya megah dan penuh dengan aura otoritas, kini terasa seperti kotak kayu yang siap remuk di bawah tekanan badai. Utusan Liu dari Sekte Pedang Langit, yang selama ini diagungkan sebagai ahli tak tertandingi di wilayah utara, merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Pedang perak di tangannya, yang merupakan pusaka tingkat tinggi, bergetar bukan karena ketakutan pemiliknya, melainkan karena resonansi frekuensi yang dipancarkan oleh tulang-tulang Han Jian.
"Anak muda, kau terlalu sombong!" Liu berteriak, mencoba mengusir keraguan di hatinya. "Teknik pedangku adalah hukum di wilayah ini. Seni Pedang Langit: Sembilan Matahari Menghunjam!"
Liu mengayunkan pedangnya dalam gerakan melingkar yang rumit. Sembilan bola energi api yang sangat panas terbentuk di udara, masing-masing membawa kekuatan yang sanggup melelehkan logam dalam sekejap. Dengan satu perintah, sembilan bola api itu melesat ke arah Han Jian dari berbagai sudut, mengunci semua jalan keluar.
Han Jian menatap serangan itu tanpa berkedip. Mata peraknya berkilat dingin. Ia tidak menghindar, tidak pula memasang posisi bertahan. Sebaliknya, ia melangkah maju dengan tenang.
"Hukummu hanyalah mainan bagi mereka yang takut pada kegelapan," ucap Han Jian.
Saat bola api pertama menghantam dadanya, ledakan besar terjadi. Namun, dari balik kobaran api, Han Jian muncul tanpa luka sedikit pun. Kulitnya yang diperkuat oleh Tulang Perak Langit bertindak sebagai konduktor panas yang sempurna; energi api itu justru diserap dan disalurkan ke dalam kerangkanya, membuat pendar perak di tubuhnya semakin terang.
Han Jian mengangkat tangan kanannya dan menangkap bola api kedua dengan telapak tangan kosong. Ia meremasnya hingga pecah seperti gelembung sabun.
"Apa?!" Liu membelalak. Sembilan Matahari Menghunjam adalah teknik andalannya, namun Han Jian memperlakukannya seperti percikan api lilin.
Sebelum Liu sempat melepaskan serangan berikutnya, Han Jian sudah berada di depannya. Kecepatan Langkah Bayangan Tulang telah mencapai tingkat di mana ia seolah-olah berpindah tempat secara instan.
KLANG!
Han Jian menghantamkan tinjunya langsung ke sisi pedang perak Utusan Liu. Suara benturan logam itu begitu nyaring hingga telinga para penjaga yang menyaksikan di luar aula mulai mengeluarkan darah. Pedang pusaka itu melengkung tajam sebelum akhirnya patah menjadi tiga bagian.
"Pedangmu patah. Begitu juga dengan hukummu," bisik Han Jian.
Ia meluncurkan tendangan ke arah dada Liu. Sang Utusan mencoba menangkis dengan sisa gagang pedangnya, namun kekuatan fisik Han Jian melampaui segala bentuk pertahanan Qi. Liu terlempar ke belakang, menabrak pilar-pilar besar aula, dan akhirnya terkapar di dekat singgasana Han Borong dengan tulang dada yang amblas.
Tetua Agung Han Borong gemetar hebat di atas singgasananya. "Utusan Liu... kalah? Mustahil... ini pasti mimpi buruk!"
Han Jian berjalan mendekati singgasana. Setiap langkahnya membuat lantai marmer aula retak dan hancur. Para pengawal pribadi klan mencoba menghalanginya, namun Han Jian hanya melambaikan lengannya, menciptakan gelombang tekanan udara yang melemparkan mereka seperti daun-daun kering.
"Sekarang, tinggal kita berdua, Tetua Agung," Han Jian berdiri tepat di depan tangga singgasana. "Atau haruskah aku memanggilmu... pembunuh ibuku?"
"Kau... kau tidak punya bukti!" Han Borong berteriak parau, wajahnya pucat pasi. "Ibumu mati karena komplikasi kelahiran! Aku merawatmu selama enam belas tahun!"
"Kau merawatku sebagai peringatan bagi orang lain untuk tidak menentangmu," Han Jian mencengkeram leher Han Borong dan mengangkatnya dari singgasana emasnya. "Aku bisa merasakan sisa Racun Pemutus Akar di tangamu. Kau menyimpannya, bukan? Sebagai trofi kemenanganmu atas ayahku?"
Han Jian menghantamkan tubuh Han Borong ke kursi singgasana dengan kekuatan sedemikian rupa hingga kursi emas itu hancur berantakan. Namun, saat kursi itu hancur, sebuah mekanisme rahasia terpicu. Lantai di bawah singgasana bergeser, menyingkapkan sebuah tangga spiral yang menuju ke kedalaman bumi yang gelap.
Hawa dingin yang sangat pekat dan aroma tanah purba menyeruak dari dalam lubang tersebut. Fragmen tulang hitam di telapak tangan Han Jian berdenyut liar, lebih kuat dari sebelumnya.
"Itu dia... Inti Giok Hitam ada di bawah sana," suara kuno itu berbisik penuh gairah. "Hancurkan penghalang terakhir, dan kau akan melihat kebenaran yang disembunyikan klan ini selama ribuan tahun."
Han Borong, yang tergeletak lemas di reruntuhan kursinya, tertawa terbahak-bahak dengan mulut penuh darah. "Kau pikir kau bisa mengambilnya? Hahaha! Inti itu dilindungi oleh Formasi Segel Darah Leluhur! Tanpa darah garis keturunan utama yang murni, kau hanya akan hancur menjadi debu!"
Han Jian menatap Han Borong dengan kasihan. "Garis keturunan utama yang murni? Kau lupa bahwa aku adalah putra Han Shuo. Darahku jauh lebih murni daripada darah busuk yang mengalir di tubuhmu."
Han Jian tidak membunuh Han Borong. Ia mematahkan kedua kaki sang Tetua Agung agar ia tidak bisa melarikan diri, lalu menyeretnya menuju tangga spiral tersebut. "Kau akan ikut denganku. Kau akan melihat bagaimana semua yang kau bangun runtuh di depan matamu."
Mereka menuruni tangga yang seolah tak berujung. Semakin dalam mereka masuk, semakin terang cahaya hijau gelap yang memancar dari dinding-dinding gua. Di dasar tangga, mereka sampai di sebuah ruangan berbentuk kubah raksasa. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah bongkahan giok hitam sebesar rumah, yang berdenyut layaknya jantung raksasa.
Inilah Inti Giok Hitam. Energi yang dipancarkannya begitu padat hingga membentuk kabut cair di lantai gua. Namun, yang membuat Han Jian membeku adalah apa yang tertanam di dalam giok tersebut.
Bukan hanya energi, tetapi ribuan kerangka manusia yang terperangkap di dalam kristal giok itu. Mereka semua berada dalam posisi meringkuk, dan dari tulang punggung mereka, benang-benang energi dialirkan menuju permukaan—menuju setiap sudut kediaman klan Han.
"Ini... ini bukan sumber energi alami," Han Jian tertegun, suaranya bergetar karena amarah. "Ini adalah penjara energi! Kalian menggunakan tulang para leluhur dan anggota klan yang 'hilang' untuk memberi tenaga pada formasi klan?"
Han Borong merangkak, wajahnya menunjukkan kegilaan. "Kejayaan membutuhkan pengorbanan, Han Jian! Tanpa Inti Giok ini, Klan Han hanyalah klan kecil kelas tiga! Kami menjadi penguasa karena kami berani mengambil apa yang orang lain takutkan!"
Han Jian melepaskan aura peraknya secara maksimal. Cahaya perak itu bertabrakan dengan aura hijau gelap dari giok hitam, menciptakan percikan energi yang menghancurkan dinding-dinding gua.
"Jika kejayaan dibangun di atas penderitaan ribuan jiwa, maka kejayaan itu tidak layak untuk ada," ucap Han Jian.
Ia berjalan menuju Inti Giok Hitam. Penghalang energi yang disebutkan Han Borong mulai bereaksi, mencoba membakar daging Han Jian dengan api hijau. Namun, Tulang Perak Langit Han Jian justru bersinar semakin terang. Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke permukaan giok dingin itu.
"Seni Transmutasi Tulang: Reabsorbsi Inti!"
Han Jian tidak menghancurkan giok itu. Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih gila: ia mulai menghisap seluruh energi giok hitam—bersama dengan kepedihan ribuan jiwa di dalamnya—langsung ke dalam kerangkanya.
Seluruh gunung tempat klan Han berdiri mulai bergetar hebat. Gempa bumi berkekuatan dahsyat melanda permukaan. Di atas, para murid klan berhamburan ketakutan saat melihat bangunan-bangunan megah mulai runtuh satu per satu.
Di dalam gua, tubuh Han Jian mulai berubah. Warna perak pada tulangnya perlahan-lahan terkikis, digantikan oleh warna emas yang sangat pekat dan bercahaya. Sumsum tulangnya mendidih, memurnikan energi giok yang kotor menjadi kekuatan murni.
"TIDAK! HENTIKAN!" teriak Han Borong. "Kau akan meledakkan tempat ini! Kita semua akan mati!"
Han Jian tidak mendengar. Ia sedang berada dalam trans evolusi. Suara-suara dari ribuan jiwa yang terperangkap di dalam giok itu berbisik padanya, bukan dengan kutukan, tapi dengan rasa terima kasih. Mereka memberikan sisa kekuatan mereka kepada Han Jian sebagai alat untuk menghancurkan penjara mereka.
KRAAAAAKKKK!
Bongkahan Inti Giok Hitam itu retak, lalu hancur menjadi debu halus. Cahaya emas meledak dari tubuh Han Jian, menembus lapisan tanah hingga mencapai langit malam, menciptakan pilar cahaya emas yang bisa dilihat dari seluruh benua.
Han Jian berdiri di tengah reruntuhan gua. Tulang-tulangnya kini sepenuhnya berwarna emas—Tulang Emas Abadi. Ia telah melampaui batas manusia dan memasuki ranah legenda.
Han Borong menatap sosok emas di depannya dengan ketakutan yang mutlak. "Dewa... kau adalah dewa..."
Han Jian menatap tangannya yang kini memancarkan wibawa yang tak tertandingi. "Aku bukan dewa. Aku adalah pembalasan dendam mereka yang kau lupakan."
Dengan satu lambaian tangan, seluruh ruangan bawah tanah itu runtuh, mengubur Han Borong hidup-hidup di bawah reruntuhan kejayaan palsunya. Han Jian melesat ke permukaan, siap untuk menghadapi dunia yang kini akan gempar karena kebangkitan Sang Kaisar Tulang.