Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 7: Daftar Hutang
Malam setelah hari wisuda itu, aku tidak tidur dengan baik.
Bukan jenis insomnia dramatis yang membuatmu berbaring menatap langit-langit sampai subuh dengan pikiran yang berputar seperti mesin cuci rusak. Tidurku lebih seperti tidur yang dangkal. Ia datang dan pergi dalam gelombang pendek, dan setiap kali kesadaranku hampir benar-benar tenggelam, ada sesuatu yang dengan paksa menarik kerah bajuku ke permukaan lagi.
Sesuatu yang berbentuk buku catatan bersampul merah dengan angka total yang digarisbawahi dua kali.
Aku terbangun jam empat kurang, ketika langit di luar jendela masih hitam pekat pekat dan suara selawatan dari corong masjid belum terdengar. Aku berbaring mematung selama beberapa menit, menatap langit-langit triplek yang gelap, lalu memutuskan bahwa tidak ada gunanya berpura-pura tidur kalau kantuknya menolak datang.
Aku duduk bersandar ke dinding. Meraih HP dari nakas.
Tidak ada notifikasi baru. Sari terakhir online jam sebelas malam mungkin sudah tertidur lelap, sebuah aktivitas normal yang seharusnya juga kulakukan.
Aku membuka aplikasi portal lowongan kerja.
Bukan karena aku tiba-tiba disuntik semangat membara untuk merintis karir di jam empat pagi. Tapi karena cahaya layar yang menyala dan daftar lowongan yang bisa di-scroll tanpa ujung ini memberikanku ilusi bahwa aku sedang melakukan sesuatu. Bahwa aku sedang memegang kendali. Bukan sekadar berbaring pasrah memikirkan deretan angka hutang bertinta hitam yang miring ke kanan.
Lowongan pertama yang muncul di beranda adalah posisi administrasi di sebuah perusahaan logistik di pusat kota.
Kualifikasi: Minimal S1, Fresh Graduate dipersilakan melamar, Gaji kompetitif sesuai pengalaman.
Aku mendengus pelan di dalam kamar yang gelap. Gaji kompetitif sesuai pengalaman adalah omong kosong korporat yang terjemahan jujurnya berarti: Kami tidak mau menyebut angka sebelum kalian duduk di depan kami dan sudah terlanjur sangat butuh pekerjaan ini.
Aku men-scroll ke bawah.
Marketing staff. Target bulanan. Lewati.
Customer service. Jam kerja shifting. Lewati.
Asisten manajer. Butuh minimal dua tahun pengalaman. Otomatis terlewat.
Content writer. Mungkin. Tapi gajinya tertulis transparan di sana, dan melihat nominalnya, otakku otomatis harus melakukan kalkulasi ulang; apakah angka itu cukup untuk memenuhi ekspektasi buku catatan merah Ibu sambil memastikan aku tetap bisa makan nasi tiga kali sehari? Jawabannya: tidak.
Aku meletakkan HP kembali ke nakas. Menatap langit-langit lagi.
Pagi akhirnya datang dengan cara yang tidak pernah meminta izin.
Matahari merangkak naik, suara azan subuh bergema, lalu disusul oleh suara Ibu di dapur suara panci aluminium yang dipindahkan, keran air yang dinyalakan, dan pintu kulkas yang dibuka-tutup dengan ritme yang sudah sangat familier di telingaku.
Aku turun dari kamar setelah mandi, dengan kantuk dan sisa-sisa kehancuran semalam yang kusembunyikan di tempat yang tidak terlalu terlihat.
Dapur berbau harum bawang merah dan minyak goreng panas. Ibu sedang menggoreng tempe dengan konsentrasi penuh, punggungnya menghadap ke arahku.
"Udah bangun?" sapanya tanpa menoleh.
"Iya, Bu."
"Duduk dulu, ini tempenya hampir matang."
Aku menarik kursi dan duduk di meja makan yang sama dengan kemarin siang. Kursi plastik hijau yang sekarang secara psikologis memiliki asosiasi mengerikan yang tidak pernah kuminta.
Sarapan terhidang beberapa menit kemudian. Nasi putih hangat, tempe goreng garing, dan sayur lodeh sisa kemarin yang dipanaskan ulang. Ibu duduk di seberangku, mengaduk teh hitam pekatnya.
Bapak sudah pergi. Sandal jepit karetnya di rak depan sudah tidak ada, yang artinya ia berangkat ke sawah jauh sebelum aku turun.
Seperti biasa. Jurus menghilangnya selalu on time.
Makan pagi itu berlangsung dengan suara yang lebih banyak datang dari denting piring dan sendok daripada dari mulut kami. Aku makan dengan kecepatan yang sangat terukur tidak terburu-buru seperti orang kelaparan, tapi tidak juga terlalu lambat memancing pertanyaan. Ibu meminum tehnya, sesekali membuang pandangan ke jendela dapur yang menghadap ke tembok kusam rumah tetangga.
Lima menit berlalu.
Enam menit.
"Nara."
"Iya, Bu."
"Lowongan kerja udah mulai dicari?"
"Sudah lihat-lihat tadi pagi, Bu. Ada beberapa yang mau aku apply hari ini."
"Ada yang cocok gajinya?"
"Masih dicari yang paling sesuai."
Ibu mengangguk pelan. Ia kembali meneguk tehnya. "Jangan kelamaan milih-milih, Ra. Nanti keburu diambil orang yang kerjanya lebih gesit."
"Iya, Bu. Aku serius nyarinya."
"Ibu tahu kamu serius." Ibu memberi jeda sejenak. Matanya kini menatapku lurus. "Tapi situasinya sekarang butuh kamu bergerak cepat."
Aku meletakkan sendokku perlahan ke atas piring.
Situasinya. Sebuah kata yang sangat menarik untuk mendeskripsikan sesuatu yang baru kemarin siang didefinisikan ulang kejelasannya menggunakan buku catatan merah dan garis bawah dua kali.
"Maksud Ibu?" tanyaku datar.
Ibu meletakkan cangkir tehnya. Ada sebuah gerakan repetitif dari tangannya yang sangat kukenal menyentuh tepian cangkir keramik itu, menggesernya sedikit ke kanan, lalu menariknya lagi ke posisi semula. Itu adalah sesuatu yang selalu ia lakukan setiap kali ia sedang menyiapkan peluru kata-katanya.
"Kemarin Ibu udah tunjukkin catatannya ke kamu. Kamu udah lihat sendiri angkanya."
"Sudah."
"Ibu nggak minta kamu bayar semuanya sekaligus, kemarin sudah Ibu bilang, kan?" Nada suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar sangat tenang. Bukan nada defensif, bukan juga menyerang. Melainkan ketenangan dari seseorang yang merasa posisinya mutlak benar. "Tapi Ibu minta kamu paham situasinya. Toko kita di pasar sekarang nggak seramai dulu, banyak saingan online. Bapakmu, sawahnya musim ini hasilnya banyak yang gagal panen. Kita perlu tambahan uang masuk."
Aku mendengarkan dalam diam. Menunggu punchline-nya.
"Jadi, kalau kamu udah dapat kerja nanti... Ibu minta kamu sisihkan tiga juta sebulan buat Ibu. Untuk sementara. Nanti kalau karirmu udah lebih mapan dan gajimu naik, bisa kita bicarakan lagi."
Tiga juta.
Aku tidak langsung merespons karena otakku butuh beberapa detik untuk memproses angka itu. Bukan karena angkanya tidak masuk akal secara absolut, tapi karena angka itu ditodongkan tanpa konteks.
Berapa standar gaji pertamaku nanti saja belum ada gambarannya. Berapa biaya pengeluaranku untuk ongkos belum terhitung. Apakah aku akan ngekos jika perusahaannya jauh atau tetap tinggal di sini, belum diputuskan. Tiga juta dari gaji UMR fresh graduate adalah irisan kue yang sangat masif.
Tapi, yang terasa jauh lebih besar dari semua hitungan matematis itu... ada sebuah pertanyaan mendasar yang sedang duduk menyangkut di tenggorokanku dan menolak untuk ditelan begitu saja.
Sejak kapan ini semua menjadi sebuah sistem penagihan?
"Bu," kataku memecah keheningan, dengan frekuensi suara yang kujaga mati-matian agar tetap wajar. "Boleh Nara tanya sesuatu?"
"Tanya aja."
"Buku catatan merah kemarin itu... Ibu udah mulai catat sejak kapan?"
Ibu tidak langsung menjawab. Telunjuknya memutar bibir cangkir tehnya sekali lagi.
"Sejak awal. Sejak kamu lahir."
"Dua puluh dua tahun yang lalu."
"Iya."
Aku duduk diam, membiarkan informasi itu meresap menghantam dinding kesadaranku selama beberapa detik.
Dua puluh dua tahun. Artinya, sebelum sel-sel kakiku punya kemampuan untuk membantuku berjalan, sudah ada baris pertama di buku itu dengan tanggal dan nominal hutang di sebelahnya. Sebelum pita suaraku bisa merangkai kata 'Ibu', sudah ada sistem pembukuan berjalan yang tersimpan rapi di saku celemek di rumah ini.
Seluruh hidupku ternyata sudah diformat ke dalam sebuah spreadsheet utang piutang bahkan sejak sebelum aku sadar aku hidup di dunia.
"Ibu dari awal emang udah berniat minta uang itu balik?" suaraku akhirnya sedikit bergetar.
"Bukan minta balik." Rahang Ibu mengencang. Matanya memicing tipis bukan tanda kemarahan meledak, tapi ada sesuatu yang tersinggung di sana karena diksi yang kupakai. "Ibu minta kamu berkontribusi sebagai anak. Itu dua hal yang beda, Nara."
"Apa bedanya, Bu?" tanyaku telak.
Sunyi turun menyergap meja makan kami.
Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang padat merayap terisi oleh dua orang perempuan yang sedang mengukur seberapa dalam mereka berani masuk ke dalam zona terlarang yang selama dua dekade ini selalu mereka hindari.
Ibu meletakkan kedua telapak tangannya rata di atas meja.
"Bedanya," katanya, dengan nada yang jauh lebih pelan, lebih tajam, dan lebih menyayat dari sebelumnya. "Ibu tidak menghilang. Ibu selalu ada di sini. Ibu yang sekolahkan kamu, Ibu yang kasih makan kamu, Ibu yang pusing bayar utang ini-itu selama dua puluh dua tahun supaya kamu bisa sarjana. Ibu tidak pernah pergi. Dan sekarang... Ibu cuma minta kamu ingat fakta itu."
Napasku tercekat. Kata-katanya menamparku tepat di ulu hati.
(Ibu tidak pernah pergi. Tidak seperti Bapak yang selalu lari bersembunyi di sawah dan di dalam kamar. Aku yang menanggung semuanya sendirian.)
Itu arti tersirat dari kalimatnya.
"Mengingat bahwa Ibu tidak pergi," ulangku pelan.
"Iya."
"Dan cara Ibu memintaku mengingatnya adalah dengan menagih tiga juta sebulan."
"Nara." Nada peringatan keluar dari bibir Ibu.
"Aku cuma mengklarifikasi, Bu."
Ibu menarik napas panjang melalui hidungnya. "Kamu itu anak yang pintar. Jangan gunakan kepintaranmu untuk mempersulit sesuatu yang seharusnya nggak perlu dipersulit."
Dan di sana di dalam kalimat itu aku menemukan sangkar besiku yang sudah sangat familier.
Jangan mempersulit yang tidak perlu dipersulit.
Itu adalah terjemahan langsung dari: Jangan banyak bertanya. Jangan diperiksa. Jangan dibongkar. Telan saja. Itu adalah kalimat pamungkas yang, dalam berbagai bentuk dan konteks selama belasan tahun ini, selalu berhasil menempatkan pertanyaan-pertanyaanku sebagai sumber masalah, bukan sebagai hak yang wajar untuk disuarakan.
Aku menarik napas panjang. Menunduk, menatap piringku yang masih menyisakan sedikit nasi dan separuh tempe yang tiba-tiba terlihat menjijikkan untuk dikunyah.
"Aku mengerti, Bu."
Karena ada waktu dan tempat untuk memulai sebuah perang terbuka. Dan meja sarapan pagi ini, dengan sayur lodeh yang masih hangat mengepul bukanlah salah satu arena yang tepat. Aku belum punya senjata apa-apa.
Ibu berangkat ke toko jam delapan pagi.
Sebelum benar-benar keluar, ia berhenti di ambang pintu depan kebiasaan baru yang terulang dari kemarin siang. Dan aku mulai menduga bahwa pintu depan adalah tempat favorit Sri Wahyuni untuk melemparkan kalimat-kalimat yang tidak berani ia pertanggungjawabkan jika diucapkan secara tatap muka di meja makan.
"Kalau ada lowongan yang bagus, langsung daftar. Jangan terlalu lama dipikir."
"Iya, Bu."
"Dan Nara"
"Iya?"
Ibu memunggungiku. "Ibu tidak pernah bermaksud membebani kamu."
Aku menatap punggung berbalut jaket lusuh itu dengan tatapan kosong.
Ada ribuan kata caci maki bercampur tangis yang ingin kulemparkan ke arah punggung itu. Ada banyak sekali bantahan. Tapi, pada akhirnya, yang keluar dari bibirku hanyalah pelumas kebohongan agar roda rumah ini tetap berputar:
"Aku tahu, Bu."
Pintu ditutup.
Aku duduk membeku di kursi meja makan selama lima menit penuh setelah suara deru motor Ibu menghilang dari pelataran teras.
Lalu, perlahan aku berdiri. Aku berjalan ke kamarku dan mengambil sebuah buku catatan berukuran sedang dari dalam laci meja belajar.
Buku catatanku bersampul biru, bukan merah. Buku itu kubeli di toko ATK dekat kampus saat semester pertama kuliah dulu, karena aku tipe manusia yang tidak bisa memproses benang kusut di kepalaku jika tidak menuliskannya ke dalam bentuk poin-poin yang logis.
Aku kembali ke meja makan, membuka halaman yang kosong, memegang pulpen, dan di bagian paling atas aku menulis dengan huruf kapital: SITUASI SEKARANG.
Lalu aku menuliskan faktanya apa adanya, satu per satu, menelanjangi realita seburuk apa pun bentuknya:
Baru lulus. Belum kerja. Belum punya penghasilan sepeser pun.
Ibu menuntut kontribusi Rp 3.000.000/bulan segera setelah dapat kerja.
Ada buku catatan hutang merah yang sudah diakumulasi sejak aku lahir.
Situasi keuangan rumah memang sedang tidak ideal (Fakta valid).
Aku tidak tahu bagaimana caranya melakukan semua yang diinginkan Ibu untuk melunasi hutang itu, sambil tetap bisa menemukan ruang untuk bernapas bagi diriku sendiri.
Poin nomor lima itu kutulis dengan tempo yang jauh lebih lambat dari keempat poin di atasnya.
Lalu, aku menggarisbawahinya.
Bukan dengan dua garis merah tegas seperti di buku catatan Ibu. Hanya satu garis tinta hitam biasa. Satu garis tipis, yang lebih terlihat seperti sebuah garis putus asa daripada sebuah kesimpulan.
Siang harinya, aku duduk mengurung diri di kamar dengan laptop menyala dan belasan tab browser yang terbuka.
Aku sudah mempersempit daftar lowongan kerja menjadi tujuh pilihan utama berdasarkan kriteria bertahan hidup yang kuciptakan pagi tadi: Lokasi yang masih bisa ditempuh angkutan umum, nominal gaji yang setidaknya mampu menutup tagihan 3 juta Ibu plus ongkos hidupku, dan job description yang masih masuk akal untuk dikerjakan fresh graduate jurusan Manajemen Bisnis sepertiku.
Tujuh lowongan. Tujuh perusahaan berbeda. Tujuh pintu keluar darurat yang bentuk pegangannya masih terlalu abstrak untuk kubayangkan.
Aku membuka tautan formulir lamaran pertama.
Nama. Tanggal Lahir. Alamat. Pendidikan terakhir. Pengalaman Kerja.
Pengalaman Kerja. Kursor mouse-ku berkedip-kedip mengejek di depan kolom itu. Aku punya beberapa pengalaman magang dua semester di dua start-up berbeda. Keduanya tidak terlalu berkesan luar biasa, tapi juga tidak buruk. Ada satu project freelance kecil mengurus data administrasi. Ada juga pengalaman organisasi BEM kampus yang kuikuti selama dua semester sebelum kuputuskan untuk keluar karena rapatnya terlalu banyak drama dan tidak efisien secara waktu.
Aku mengisi kolom itu dengan merangkai kata sebaik dan se-profesional yang bisa kulakukan.
Lalu, tanganku berhenti mengetik saat tiba di bagian esai pendek di bawahnya: Motivasi Melamar.
Kenapa Anda tertarik bergabung dengan perusahaan kami?
Aku menatap pertanyaan konyol itu lebih lama dari yang seharusnya.
Karena jawaban jujurnya, jelas bukanlah sesuatu yang bisa diketik secara harfiah di kolom lamaran kerja. Jawaban paling jujurnya adalah: Karena ada buku catatan bersampul merah di saku celemek ibuku dengan nominal ratusan juta yang digarisbawahi dua kali, dan aku butuh perusahaan Anda untuk membayarku cukup besar agar aku bisa mencicil nyawaku sendiri tanpa harus mati kelaparan.
Sayangnya, jawaban sejujur itu dijamin tidak akan pernah lolos screening HRD waras di belahan bumi mana pun.
Jadi, aku meredam sinismeku. Aku mulai mengetik kebohongan standar industri yang dibungkus dengan pita cantik: Tertarik berkontribusi... Ingin berkembang bersama perusahaan... Memiliki nilai-nilai yang sejalan dengan visi misi... dan blah blah blah. Selesai. Submit. Lanjut ke lowongan berikutnya.
Pada jam dua siang, empat berkas lamaran sudah sukses terkirim dan tiga sisanya masih dalam tahap revisi Cover Letter.
Aku menutup layar laptop. Berbaring telentang di atas kasur dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala sebagai bantal, menatap langit-langit kamarku yang membosankan.
Empat lamaran.
Kalau salah satu dari perusahaan itu secara ajaib meneleponku besok untuk di terima kerja sebuah skenario yang sangat sangat optimistis sekaligus tidak realistis tetap saja akan ada jeda gap beberapa minggu sebelum hari pertama masuk. Dan gaji pertama, apalagi jika masuk di pertengahan bulan, biasanya akan di-prorata alias tidak penuh.
Artinya, kontribusi tiga juta pertamaku itu, dalam perhitungan paling cepat, baru bisa kuberikan dua bulan dari sekarang.
Dua bulan hidup dalam kondisi menumpang dan belum menghasilkan apa-apa, tinggal di dalam rumah yang kini hawanya terasa sangat berbeda sejak buku merah itu dikeluarkan dari laci rahasianya.
Dua bulan adalah waktu kurungan yang sangat panjang untuk berdiam di dalam bom waktu yang waktu meledaknya sudah diatur.
Aku meraih HP-ku.
Chat dari Sari masih bertengger di posisi paling atas sejak tadi malam sebuah emoji pelukan virtual yang ia kirimkan sebelum tidur.
Aku membuka keyboard dan mengetik: "Sar, besok bisa ketemu?"
Balasannya masuk dalam waktu kurang dari dua menit.
Sari: Bisa dong! Jam berapa? Di mana? Mau aku jemput sekalian?
Nara: Nggak usah dijemput. Kafe biasa aja deket rumahmu. Jam sepuluh pagi?
Sari: Siap bos! Emang mau cerita apaan sih? Aku penasaran parah dari kemarin tau.
Aku berpikir sejenak, mencari cara bagaimana merangkum kehancuran fondasi hidupku selama dua dekade dalam satu gelembung pesan WhatsApp singkat.
Ternyata mustahil.
Nara: Panjang. Nanti aja ceritanya langsung.
Sari: Oke oke. Aku siapkan telinga dan kopi.
Nara: Satu kopi cukup.
Sari: Untuk manusia robot kayak kamu mungkin cukup. Kalau aku perlu dua gelas macchiato untuk level fokus yang optimal mendengarkan masalahmu.
Aku meletakkan HP ke dada. Sebuah senyum tipis yang kali ini tidak sepenuhnya kupaksakan terbit di bibirku.
Setidaknya, tidak semua hal di duniaku terasa seperti transaksi hutang piutang.
Sore itu, Ibu pulang dari toko sedikit lebih awal, jam lima lewat seperempat.
Wajahnya terlihat menanggung lelah dengan cara yang sangat kukenal. Bukan lelah yang baru didapat hari itu, melainkan lelah menahun yang terus ditumpuk dan ditambah sedikit demi sedikit setiap harinya. Ada guratan di sudut matanya yang terlihat makin dalam, guratan yang tidak pernah kulihat ada di foto-foto lama yang tersimpan di dalam album biru di rak buku ruang tamu kami.
Aku sedang berada di dapur, merebus air di panci kecil untuk membuat teh saat ia masuk lewat pintu belakang.
"Udah di rumah dari tadi, Ra?"
"Iya, Bu. Ngirim lamaran online dari siang."
"Dapat berapa yang dikirim?"
"Empat. Tiga lagi masih dirapiin CV-nya."
Ibu menaruh tas selempangnya ke atas kursi. Ia duduk merosot perlahan, dengan gaya khas orang tua yang sendi-sendi kakinya sudah menjerit minta diistirahatkan sejak dua jam yang lalu, tapi baru bisa menuruti permintaan tubuhnya sekarang.
"Bagus. Cepat geraknya."
"Aku usahakan, Bu."
Aku menuangkan air mendidih ke dalam dua cangkir satu kantong teh celup untuk Ibu, satu untukku. Aku membawanya ke meja. Ibu menerima cangkir bagiannya tanpa komentar, hanya memberikan satu anggukan kecil. Di dalam kamus Sri Wahyuni, itu adalah kalimat terima kasih yang paling tinggi.
Kami duduk berseberangan, membiarkan keheningan menguasai ruang dapur selama beberapa menit. Itu bukan diam yang canggung, tapi diam yang dipenuhi perhitungan.
"Bu," panggilku pelan, memecah sepi.
"Mm?"
"Kalau nanti Nara udah dapat kerja... nominal kontribusinya tetap dipatok tiga juta mutlak?"
Ibu berhenti meniup tehnya. Ia mempertimbangkan pertanyaanku.
"Ya... tergantung gajimu nanti berapa."
"Kalau gajiku yang approve cuma UMR empat juta?"
"Ya nggak mungkin Ibu ambil tiga juta dong, Ra." Ibu sedikit mengerutkan kening, merasa diremehkan logikanya. "Pasti disesuaikan. Ibu ini ibumu, Ibu tidak setega dan se-tidak masuk akal itu."
"Kalau misal gajinya lima juta?" kejarku.
"Dua setengah juta mungkin. Sisanya bisa buat kamu pegang."
Aku kembali melakukan kalkulasi mental di dalam kepala.
Lima juta. Dikurangi dua setengah juta untuk Ibu. Sisa dua setengah. Dikurangi ongkos commute transportasi sebulan, dikurangi uang makan siang di kantor, dikurangi biaya kebutuhan sehari-hari, kuota internet, dan dana darurat.
Angka akhirnya tidak sampai minus merah memang. Tapi saldonya juga tidak terlalu hitam untuk bisa disebut sebagai sebuah kehidupan mandiri yang layak. Aku hanya akan menjadi sapi perah yang disisakan rumput sekadar agar tidak mati kelaparan di keesokan harinya.
"Nara boleh tanya sesuatu lagi?"
"Tanya aja, mumpung Ibu lagi santai."
Aku menatap lurus ke sepasang mata Ibu yang kelelahan. "Sampai kapan, Bu?"
Ibu perlahan mendongak. Dahinya berlipat. "Maksudnya?"
"Kontribusinya. Sampai kapan aku harus bayar?"
Pertanyaan itu menggantung tegang di udara dapur kami. Udara sore mendadak terasa lebih berat untuk dihirup.
Itu bukanlah sebuah pertanyaan yang agresif aku sudah berusaha setengah mati menjaganya agar terdengar setenang mungkin. Tapi ada substansi di dalam kalimat itu yang menyentuh inti masalah dengan terlalu telanjang, membuat Ibu tidak bisa memberikan jawaban template dengan cepat.
Ia meneguk tehnya perlahan.
Meletakkan cangkirnya kembali ke alas piring.
"Sampai situasinya membaik," jawab Ibu akhirnya.
"Situasinya yang mana?"
"Keuangan keluarga. Toko. Utang-utang. Semuanya."
"Ada target waktu atau angka yang konkret?" paksaku.
"Nara." Nada suaranya mulai berubah.
"Aku cuma mau tahu kepastiannya supaya aku bisa merencanakan hidupku juga ke depannya, Bu."
"Nggak usah terlalu semuanya di-rencana-rencana, Ra." Nada suaranya kini sepenuhnya bergeser masih dikontrol agar tidak teriak, tapi riak ketidaknyamanan dan rasa tersinggung mulai naik ke permukaan. "Hidup itu fleksibel. Nggak kayak rumus matematika. Nanti dilihat aja keadaannya gimana."
Nanti dilihat aja.
Tiga kata pamungkas yang menyegel nasibku. Tiga kata yang terjemahan jujurnya adalah: Tidak ada garis finish. Tidak ada titik akhir di mana hutang ini dinyatakan lunas. Tidak akan pernah ada momen di mana aku akan mendengarmu berkata 'Sudah cukup, Nara, sekarang kau bebas hidup untuk dirimu sendiri'.
Aku mengangguk pelan. Mematikan perlawananku untuk hari ini.
"Oke, Bu."
Malam harinya, di bawah cahaya lampu meja belajar yang remang, aku membuka buku catatan biruku lagi.
Aku tidak sedang membuat daftar target lowongan perusahaan. Aku juga tidak sedang menulis kalkulasi persentase gaji.
Aku hanya menuliskan satu buah kesimpulan panjang yang selama bertahun-tahun ini berputar-putar tak bertuan di kepalaku, dan baru malam ini menemukan wujud konkretnya:
Ada perbedaan yang sangat besar dan mendasar antara membantu keluarga karena kamu MAU dan tulus, dengan membantu keluarga karena kamu DISANDERA dan tidak diberikan pilihan lain.
Aku menulis kalimat itu dengan pena hitam.
Membacanya ulang tiga kali.
Lalu, tepat di bawah kalimat itu, aku menambahkan satu baris lagi:
Masalahnya, aku belum tahu saat ini aku sedang berada di posisi yang mana.
Subuh keesokan harinya, aku terbangun dengan sendirinya pada pukul setengah lima.
Kali ini mataku terbuka bukan karena ditarik oleh mimpi buruk soal hutang tapi karena ada suara-suara ritmis dari arah dapur yang membangunkanku. Suara benturan ringan panci. Suara cetek pemantik kompor gas yang dinyalakan. Suara spatula yang beradu dengan wajan.
Ibu sudah bangun.
Aku berbaring miring di tempat tidurku, memejamkan mata dan mendengarkan suara-suara domestik itu mengalun di keheningan subuh.
Ada sesuatu yang terasa sangat menyedihkan sekaligus sangat familier dari bebunyian itu. Fakta bahwa ada seorang wanita paruh baya yang setiap hari memaksakan diri bangun sebelum matahari terbit untuk menyiapkan sesuatu, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang-orang di sekitarnya yang masih tertidur lelap tanpa dosa.
Aku tidak bisa membencinya atas buku catatan merah itu seratus persen.
Aku benar-benar tidak bisa.
Karena di sana di antara letupan minyak panas dan suara panci yang digeser ada bukti valid dari sesuatu yang tidak bisa disangkal oleh siapa pun: Pengorbanan Ibu itu nyata. Kelelahannya itu nyata. Keringat darahnya membesarkanku selama dua puluh dua tahun ini benar-benar nyata.
Satu-satunya hal yang tidak nyata di rumah ini atau setidaknya, yang logikaku tolak mentah-mentah untuk diwajarkan adalah kesimpulan fatal bahwa hanya karena semua pengorbanannya itu nyata, maka otomatis aku menjadi budak hutang yang harus membelinya kembali dengan kebebasanku.
Aku menyingkap selimut. Bangun. Berjalan turun ke dapur.
Ibu sedang berdiri di depan kompor dengan punggung menghadap ke arahku, sibuk mengaduk sesuatu yang wangi di dalam wajan kecil.
"Kenapa bangun, Ra?" tegurnya tanpa melihatku, seolah punya mata di belakang kepalanya.
"Nggak bisa tidur lagi, Bu."
"Tidur lagi sana. Ini masih subuh, udaranya dingin."
"Nggak ngantuk."
Ibu menoleh sebentar dari balik bahunya. Menatapku dengan ekspresi yang tidak langsung bisa kubaca ada sedikit guratan keheranan, dicampur dengan sesuatu yang lain yang letaknya bersembunyi jauh lebih dalam dari sekadar lelah.
"Ya udah, duduk sana kalau mau nemenin Ibu masak."
Aku menarik kursi kayu kecil di sudut dapur. Kursi yang usianya mungkin setara denganku, yang kaki kirinya sudah sedikit goyang, yang setiap tahun selalu masuk daftar barang yang "ingin diganti kalau ada uang lebih" tapi selalu kalah oleh kebutuhan beras dan SPP sekolah yang jauh lebih mendesak.
Kami berdua terdiam.
Hanya ada suara desis api kompor. Suara sutil yang menggesek dasar wajan. Suara jangkrik subuh dari kebun belakang yang belum sepenuhnya digantikan oleh hiruk-pikuk aktivitas tetangga.
Di antara hamparan keheningan itu, tanpa kurencanakan sebelumnya di skenario kepalaku semalam, bibirku tiba-tiba bergerak merangkai kalimat.
"Bu," panggilku datar. "Nara mau minta sesuatu ke Ibu."
Tangan Ibu tidak berhenti mengaduk. "Minta apa?"
"Beri Nara waktu buat cari kerja dulu dengan tenang. Tanpa ada tekanan tambahan, tanpa sindiran soal kontribusi." Suaraku memecah udara dingin dapur dengan ketegasan yang aku sendiri tidak tahu dari mana asalnya. "Nanti, kalau Nara udah resmi pegang kontrak dan dapat first salary kita duduk dan bicarakan lagi secara logis soal angka kontribusinya. Tapi untuk sekarang... biarkan Nara fokus melamar kerja dulu."
Sutil di tangan Ibu berhenti bergerak di udara.
Ibu tidak langsung menjawab. Punggungnya menegang kaku.
Aku tidak berusaha mengisi keheningan yang tak nyaman itu dengan penjelasan tambahan yang merendah. Kali ini, kubiarkan keheningan itu meluap terisi penuh karena mengisi kekosongan terlalu cepat hanya akan membuatku kembali tergelincir ke pola lamaku yang menyedihkan: Banyak memohon untuk mengurangi amarah Ibu.
Sepuluh detik berlalu.
Dua puluh detik berlalu. Angin subuh bertiup masuk dari ventilasi udara.
"Kamu butuh berapa lama?" Suara Ibu akhirnya keluar, berat dan parau.
"Satu bulan, Bu. Dua bulan paling lama."
Ibu menurunkan sutilnya perlahan, kembali mengaduk masakannya dengan ritme yang jauh lebih lambat dari sebelumnya.
"Oke."
Satu kata. Tiga huruf.
Tapi entah kenapa, pagi ini, satu kata itu terasa beribu kali lipat lebih berharga daripada satu kata 'bagus' yang ia ucapkan saat memuji nilai ujanganku di meja makan dua belas tahun yang lalu.
Karena kali ini, satu kata persetujuan itu adalah sesuatu yang aku rebut darinya bukan sesuatu yang pasrah diberikan kepadaku.
Pagi itu, aku memakan sarapanku dengan dada yang sedikit lebih ringan dari dua hari sebelumnya.
Bukan karena akar masalah utamanya lenyap begitu saja. Oh, tentu tidak. Buku catatan merah sialan itu masih mendekam nyaman di saku celemek Ibu. Angka-angka hutangnya tidak akan terhapus oleh waktu. Dan negosiasi alot mengenai tiga juta atau dua setengah juta rupiah masih akan menjadi badai realita yang harus kuhadapi dalam satu atau dua bulan ke depan.
Tapi, ada satu perubahan tektonik skala kecil yang terjadi hari ini, yang mengubah sudut pandangku.
Untuk pertama kalinya seumur hidup, di bawah atap ini, aku tidak hanya menunduk pasrah menerima keadaan.
Aku bernegosiasi. Aku meminta ruang suciku sendiri.
Dan meskipun itu hanyalah kemenangan super kecil hanya kelonggaran satu bulan untuk bernapas tanpa diomeli soal uang ada sesuatu dari tindakan memutus rantai ketakutan itu yang membuatku merasa... memegang kendali. Terasa seperti aku baru saja merebut kembali sepotong kecil kemudi hidupku yang selama dua dekade ini selalu didikte dan disetir oleh tangan orang lain.
Tepat jam sembilan pagi, aku selesai mandi dan bersiap. Mengenakan celana jeans biru pudar dan kemeja flanel kotak-kotak.
Jam sembilan lewat empat puluh lima menit, aku berpamitan kepada Ibu yang sedang sibuk mengepak plastik pakaian serian untuk dibawa ke toko.
"Mau ke mana jam segini, Ra? Katanya nyari kerjaan."
"Mau ketemu Sari sebentar, Bu. Ada yang perlu diurus."
Ibu mengangguk samar. Tidak menginterogasi lebih lanjut seperti biasanya. "Ya udah. Jangan kemalaman pulangnya."
"Iya, Bu."
Aku melangkah keluar.
Pintu depan tertutup merdu di punggungku. Dan di bawah naungan matahari pagi yang belum terlalu menyengat, dengan dompet yang isinya cukup menyedihkan, serta kepala yang masih disesaki oleh hitung-hitungan kalkulator yang belum menemukan solusinya... aku berjalan tegap ke arah halte bus.
Menuju sebuah kafe kecil di kawasan perumahan Sari.
Menuju sebuah sesi obrolan yang entah bagaimana logikanya sudah terasa seperti pelampung penyelamat yang sangat kubutuhkan, bahkan sebelum obrolan itu sendiri dimulai.
Sari sudah duduk stand by di meja pojok dekat jendela ketika aku mendorong pintu kaca kafe itu.
Di hadapannya, sudah tersaji dua gelas kopi dingin berembun. Satu cangkir americano murni untuknya, dan satu cangkir caramel macchiato ekstra manis untukku ia sangat hafal aku benci kopi pahit.
Dan di wajahnya, sudah terpasang ekspresi seseorang sahabat yang sudah mengosongkan jadwal satu harinya, siap mendengarkan semua hancur-hancuran duniaku selama apa pun waktu yang kubutuhkan.