Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NEGOSIASI SANG AYAH.
Lampu meja belajar di kamar Ghifari berpijar lembut, menerangi tumpukan buku yang tertata sangat rapi. Di sana, Fardan duduk dengan setia di samping putranya. Sebenarnya, Fardan sadar betul kehadirannya tidak benar-benar dibutuhkan secara teknis. Ghifari menyelesaikan soal-soal matematika dan logika hanya dalam hitungan menit tanpa kernyitan di dahi sedikit pun. Namun, bagi Fardan, setiap detik yang ia habiskan di samping anaknya adalah upaya menebus waktu enam tahun yang hilang.
Setelah Ghifari menutup buku tugasnya, Fardan meraih sebuah buku cerita dengan sampul berwarna-warni dari rak. "Nah, tugas sudah selesai. Bagaimana kalau Ayah bacakan dongeng tentang petualangan kancil yang cerdik sebelum tidur?"
Ghifari menoleh, menatap buku itu dengan dahi berkerut seolah sedang melihat tumpukan sampah digital. "Ayah, menurut data biologi, kancil tidak bisa berbicara dengan buaya apalagi menipu mereka dengan logika manusia. Dongeng itu hanyalah konstruksi kebohongan untuk menghibur anak kecil yang belum paham realita. Dan aku bukan anak kecil seperti itu."
Fardan terdiam, tangannya yang memegang buku perlahan turun. Rasa sedih terselip di hatinya. Ia hanya ingin menjadi ayah yang normal, yang membacakan cerita pengantar tidur dan melihat anaknya tertidur dengan imajinasi yang indah. Namun, Ghifari terlalu logis untuk sebuah fantasi.
"Baiklah, tidak ada dongeng malam ini," gumam Fardan sembari meletakkan buku itu kembali. Namun, ia tidak menyerah untuk mencairkan suasana. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan temanmu di sekolah tadi? Siapa namanya? Bella?"
Mendengar nama itu, gerakan tangan Ghifari yang sedang merapikan alat tulis mendadak kaku. "Dia hanya subjek interaksi sosial yang kooperatif, Ayah. Tidak ada yang spesial."
"Oh ya? Tapi Ayah lihat tadi kalian bergandengan tangan. Apakah kau menyukainya?" goda Fardan dengan senyum jahil.
Ghifari berdehem, wajahnya yang biasanya pucat kini menunjukkan semu merah di telinga. "Aku hanya melihatnya seperti adik saja. Dia butuh bimbingan karena kemampuan kognitifnya masih dalam tahap perkembangan standar."
Fardan menangkap peluang dari kata-kata itu. Ia mendekatkan wajahnya ke arah sang putra. "Adik, ya? Kalau begitu, apakah kau ingin memiliki adik perempuan asli? Yang bisa kau bimbing setiap hari di rumah ini?"
Ghifari tampak terdiam, mempertimbangkan ide tersebut dalam otaknya yang bekerja secepat superkomputer. "Adik sendiri? Jika dia memiliki lima puluh persen materi genetik darimu dan Bunda, mungkin dia akan lebih pintar dari Bella."
"Tentu saja! Dia akan sangat cantik dan pintar," sahut Fardan antusias. "Ayah bisa memberikanmu adik, tapi ada syaratnya."
Ghifari menyipitkan mata. "Syarat apa, Ayah?"
"Kau harus mematikan semua akses sistem pemantau, penyadap suara, atau sensor gerak yang kau pasang di kamar Ayah dan Bunda. Semuanya, Ghifari. Tanpa sisa. Jika Ayah merasa masih diawasi olehmu, proses pembuatan adik itu tidak akan pernah bisa terlaksana karena Ayah merasa tidak nyaman," tegas Fardan dengan ekspresi serius.
Ghifari tampak menimbang-nimbang. Baginya, mematikan akses ke kamar orang tuanya berarti kehilangan kendali atas keamanan pusat rumah. Namun, keinginan memiliki "subjek" baru untuk diajari jauh lebih menarik. "Baiklah. Aku akan memutuskan semua jalur enkripsi dan mematikan sensor di area privat kalian selama delapan jam setiap malam. Itu kesepakatannya."
"Sepuluh jam! Dan pastikan semua rekaman sebelumnya dihapus," tawar Fardan lagi.
"Setuju. Transaksi selesai," ucap Ghifari sembari mengetuk beberapa perintah di jam tangannya. "Sistem dipadamkan. Sekarang, pergilah ke kamar Bunda. Aku akan tidur agar prosesnya bisa segera dimulai."
Fardan hampir ingin tertawa melihat betapa seriusnya anak itu membahas hal tersebut. Setelah memastikan Ghifari benar-benar memejamkan mata dan menarik selimut, Fardan melangkah keluar kamar dengan perasaan menang. Ia segera menuju kamarnya sendiri dengan langkah ringan.
Di dalam kamar, Alisha tampak sedang bersandar di kepala ranjang yang empuk. Cahaya dari layar laptop di pangkuannya menerangi wajahnya yang tampak serius menatap laporan keuangan Henry Corp. Fardan menutup pintu dengan perlahan, lalu menguncinya.
"Belum selesai juga pekerjaannya, Sayang?" tanya Fardan sembari berjalan mendekat.
Alisha mendongak dan tersenyum tipis. "Sedikit lagi, Fardan. Ada beberapa pengeluaran di cabang yang tidak sinkron. Kau sendiri kenapa tersenyum seperti baru memenangkan tender besar?"
Fardan duduk di tepi ranjang, lalu perlahan menutup layar laptop Alisha dan meletakkannya di meja samping. "Aku baru saja menyelesaikan negosiasi paling berat dengan putra kita. Dan kabarnya sangat baik."
Alisha mengernyitkan dahi. "Negosiasi apa?"
"Ghifari setuju untuk memberikan kita privasi total malam ini. Dia secara resmi meminta seorang adik perempuan untuk diajak bermain," bisik Fardan sembari menarik tangan Alisha ke dalam genggamannya.
Wajah Alisha seketika merona merah. Ia mencoba menghindari tatapan intens suaminya. "Fardan, jangan mengada-ada. Ghifari masih kecil, mana mungkin dia bicara seperti itu."
"Dia serius, Alisha. Dia bahkan sudah mematikan semua sistem pengawasannya di kamar ini demi mendapatkan adik. Dia merasa butuh seseorang untuk ia bimbing agar tidak sebodoh teman-temannya di sekolah," goda Fardan lagi dengan suara yang semakin rendah.
Alisha tertawa kecil, meski jantungnya mulai berdegup kencang. "Anak itu memang ada-ada saja. Tapi, apakah kau yakin sudah siap? Kita baru saja kembali bersama, Fardan."
Fardan membawa tangan Alisha ke bibirnya, memberikan kecupan hangat di sana. "Justru karena kita sudah kembali bersama, aku ingin memenuhi rumah ini dengan tawa anak-anak kita. Aku ingin menebus semua tahun yang hilang dengan kebahagiaan baru. Bagaimana? Apakah istriku yang cantik ini bersedia mewujudkan keinginan putra kita?"
Alisha menatap mata Fardan yang penuh dengan ketulusan dan cinta. Segala keraguan yang sempat tersisa di hatinya menguap begitu saja. Ia mengangguk pelan, memberikan izin yang selama ini dinantikan oleh suaminya.
"Jika itu memang keinginan Ghifari, dan keinginanmu juga, maka aku bersedia," jawab Alisha dengan suara lembut.
Fardan tersenyum sangat lebar, perasaan bahagia membuncah di dadanya. Ia perlahan mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur yang temaram. Malam itu, di balik pintu yang terkunci rapat dan tanpa pengawasan dari teknologi canggih putra mereka, Fardan dan Alisha ingin merajut kembali harapan baru untuk masa depan keluarga mereka.
Suasana hening malam Jakarta seolah menjadi saksi bisu kembalinya cinta yang sempat terpisah jarak dan waktu. Di kamar sebelah, Ghifari tertidur lelap dengan mimpi tentang kode-kode rumit yang perlahan berubah menjadi bayangan seorang gadis kecil yang mengejarnya di kotak pasir. Kehidupan keluarga Raffansyah benar-benar telah memulai babak baru yang lebih manis.
ga adab thor,alisha udah solehah harus manggil suami dgn panggilan yg beradab