Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.
Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.
Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.
Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.
Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...
Maka pertanyaannya kini adalah...
Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Di Ujung Ego
[KEDIAMAN JEON]
Jam dinding di ruang tengah sudah menunjuk pukul dua siang. Jovina duduk gelisah di sofa ruang tengah. Matanya terus melirik ke arah pintu utama. Dia sedang menantikan kepulangan kedua putranya yaitu Judika Pratama dan Chandra Wiguna.
Ya, Chandra Wiguna. Bukan Chandra Pratama. Karena sejak lama, Chandra memilih menggunakan marga ibunya sebagai bentuk penghormatan dan dukungan bagi Jovina.
"Kenapa Chandra dan Judika belum pulang juga?" gumam Jovina lirih. Matanya menyiratkan kekhawatiran. "Apalagi Chandra. Biasanya jam segini dia sudah sampai rumah dan menyapaku dengan ceria."
Belum selesai Jovina merenung, tiba-tiba bel pintu berbunyi nyaring memecah keheningan.
TING..
TONG..
"Itu pasti mereka! Putra-putraku sudah pulang!" seru Jovina dengan wajah berbinar.
Jovina segera bangkit dari duduknya dan berjalan tergesa menuju pintu depan.
CKLEK..
Pintu terbuka, namun senyum di wajah Jovina seketika luntur seketika. Hanya sosok putra sulungnya yang berdiri di sana sendirian. Tak ada tanda-tanda keberadaan putra bungsunya di belakangnya.
Melihat ibunya terdiam dengan raut wajah yang perlahan basah oleh air mata. Hati Chandra seketika terasa perih. Dia tahu persis apa yang membuat ibunya sedih.
"Ibu," panggil Chandra lembut. Lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap bahu wanita yang sangat ia cintai itu.
"Ach, Chandra."Jovina tersentak dari lamunannya.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah mewah itu. Chandra menuntun ibunya duduk kembali, lalu bertanya dengan nada khawatir.
"Ada apa, Bu? Kenapa Ibu sampai menangis begitu?"
"Adikmu belum pulang, Chan," jawab Jovina dengan suara bergetar. "Tadi saat bell berbunyi, ibu langsung berlari membukakan pintu. Ibu yakin sekali kalian pulang bersama. Tapi ternyata dugaan ibu salah. Hanya kau yang ada di depan sana..."
Tangis Jovina semakin pecah membuat Chandra ikut merasakan sesak di dadanya.
"Sudahlah, Bu. Jangan menangis lagi," hibur Chandra sambil memeluk bahu ibunya. "Kita beri waktu dua jam lagi. Jika sampai jam itu Judika belum juga pulang, aku akan langsung mencarinya dan membawanya kembali ke sini, apa pun caranya."
"Baiklah, ibu percaya padamu," ucap Jovina lemah.
Chandra mengangguk, namun di dalam hatinya dia bergumam penuh kekhawatiran.
"Kau ada di mana, Judika? Apa kau benar-benar membenci kami sampai enggan pulang ke rumah ini?"
***
[KEDIAMAN HADITAMA]
Sementara itu, di kediaman Haditama, Judika masih betah duduk di ruang tengah. Sejak kemarin, dia memilih menginap di rumah Arjuna dan menolak pulang. Pikirannya masih dipenuhi rasa sakit hati yang mendalam terhadap kakaknya, Chandra, dan juga terhadap ibunya.
Setelah makan siang bersama keluarga Haditama membuat Judika merasa sangat nyaman di sini. Mereka semua memperlakukannya dengan hangat, seolah dia sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga besar ini.
"Hei, Dika."
Sapaan itu membuat Judika menoleh. Arjuna datang bersama kakak tertuanya, Herry Haditama. Keduanya kemudian duduk di sofa dengan Arjuna tepat di samping Judika, sedangkan Herry duduk berhadapan dengan mereka.
"Kau sudah cukup lama di sini," ujar Herry lembut namun serius. "Apa kau tidak berniat mengabari kakakmu atau Ibumu kalau kau aman dan ada di sini?"
Judika mendengus pelan. Wajahnya kembali dingin. "Untuk apa? Menurutku itu tidak perlu dan tidak penting. Lagipula, bagi aku mereka bukan siapa-siapa. Mereka hanya orang lain yang sekarang menumpang tinggal di rumah ayahku semata-mata karena rasa bersalah dan penyesalan mereka di masa lalu."
"Judika!" nada suara Herry meninggi sedikit membuat Judika refleks menatap tajam ke arahnya.
Namun Herry tak mundur. Dia justru menatap balik dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Dengarkan kakak," ucap Herry lembut namun tegas. "Kau sudah kakak anggap sebagai adik kandung kakak sendiri. Kasih sayang yang kakak berikan pada Juna, persis sama besarnya dengan apa yang kakak berikan padamu. Kalian berdua sama berharganya."
Herry menjeda ucapannya, memastikan Judika menyimak.
"Kakak tahu semua masalahmu dengan Chandra dan Ibumu. Kakak juga paham betul rasa kecewa yang kau pendam, karena Juna sudah menceritakan semuanya. Tapi tolong, Dika. Maafkan kesalahan mereka. Berikan mereka kesempatan untuk memperbaiki segalanya dan kembali dekat denganmu. Kau pernah kehilangan mereka begitu lama, dan sekarang Tuhan mengembalikan mereka tepat di sampingmu. Jangan sampai kau melewatkan kesempatan ini. Ayahmu sekarang sudah tenang di atas sana, dia pasti bahagia melihat kalian bisa berkumpul kembali. Di dunia ini, hanya merekalah satu-satunya keluarga kandung yang kau miliki. Memang kau punya kami dan saudara-saudara lain yang menyayangimu, tapi hak darah tetaplah hak mereka. Mereka berhak memilikimu, Dika."
"Tapi aku..." kalimat Judika terputus saat Herry mengangkat tangan, memotong ucapannya.
"Kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk langsung memaafkan dan melupakan semuanya," kata Herry lembut. "Paling tidak, buka sedikit saja celah di hatimu agar mereka punya jalan untuk mendekatimu lagi."
"Benar kata kak Herry," sambung Arjuna sambil tersenyum hangat, lalu mengelus puncak kepala Judika. "Tidak ada salahnya mencoba, Dika."
Judika hanya diam membisu. Dia bingung harus menjawab apa, terjepit di antara egonya dan nasihat tulus dari dua orang yang sangat dia hormati ini. Arjuna dan Herry pun paham. Mereka tidak ingin memaksa, tapi mereka yakin sekali bahwa jauh di lubuk hati terdalam Judika, rasa rindu itu masih ada. Hanya saja, rasa gengsi dan sakit hati yang menutupinya rapat-rapat.
Judika menatap wajah kedua kakak di depannya. Mulutnya sedikit terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu. Arjuna dan Herry saling pandang, lalu tersenyum gemas melihat ekspresi bingung itu.
"Ada apa? Katakan saja," bujuk Arjuna lembut.
"Aku... Aku..." Judika masih ragu, wajahnya mulai memerah menahan malu.
"Apa kau ingin kakak mengantarmu pulang sekarang?" tebak Arjuna dengan senyum penuh arti.
"Tapi..." lirih Judika, kepalanya menunduk.
"Pulanglah," sela Herry menenangkan. "Pasti saat ini mereka sedang menunggu dan mengkhawatirkanmu setengah mati. Percayalah! Semuanya akan berjalan baik-baik saja."
Akhirnya Judika menghela napas panjang lalu mengangguk pelan.
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi nanti malam saja."
Arjuna dan Herry tersenyum lega. Tidak masalah jika Judika akan pulang malam. Yang terpenting adalah keputusannya untuk kembali itu sudah lebih dari cukup.
"Tak masalah," jawab mereka serempak.
"Ya, sudah. Kau istirahatlah di sini saja," kata Arjuna. "Hari ini kau tidak usah ikut latihan. Biar kakak saja yang pergi sendiri."
"Terserah kau saja, kak. Ini kan rumahmu, dan aku hanya tamu yang wajib menuruti tuan rumah," celetuk Judika sambil menyeringai menggoda.
"Ya, iyaaa. Dasar nakal!" balas Arjuna pura-pura kesal.