_
When npc fallin love?
Gadis remaja cantik kini terduduk menggaruk keningnya yang tak gatal, pikirannya selalu berkhayal jika npc seperti dia jatuh cinta pada pemain utama di dunia nyata?
Ah, pasti seru!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sapiluv Mprits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acuh
Hujan rintik-rintik di malam hari, ayya terlihat sedang menikmati suasananya dengan membaca buku di balkon, bersama yaya si puddle kesayangannya yang turut tiduran di kakinya.
Tampias air hujan cukup rendah hingga membua suasana menjadi sendu, terlebih dengan membaca novel tentang percintaan anak remaja.
" Siapa itu?"
" Itu ayya bukan?"
Willy dan Louis tak sengaja melihat keberadaan ayya di atas balkon samping rumahnya.
Galih pun datang dari dalam dengan membawa beberapa snack dan gitar kesayangannya, namun melihat willy dan Louis yang tengah mendongak membuatnta berdecak keheranan.
" Ngapain kalian berdua begitu?" Tanyanya sambil terduduk.
" Eh bang leo, tetanggaan sedekat ini lo jadi sering tau kegiatan ayya dong." Ucap louis berjalan kembali ke kursinya.
Galih pun menggeleng. " Nggak pernah dan ga kepo kayak kalian." Sindirnya.
Willu masih menatap ayya di atas sana, lalu kembali menoleh pada galih.
" Kalo kita panggil sekarang, apa dia mau join sama kita disini?"
" Ga tau, belum pernah manggil sih.." Ucap galih yang mulai memainkan gitarnya.
Hum, willy mendengkur melihat berapa cueknya sikap galih.
" Gini nih satu sirkel sama cowok kulkas, nonchalant prideeeee.." Cibirnya diselipi tawa.
Hmm...
Waktu terus berlalu, roy akhirnya datang ditengah asyiknya mereka bertiga main konser-konseran di teras samping.
Memang sirkel plenger, ke-empat pemuda itupun mulai menggila bersama, bernyanyi, tertawa, menari, gelut, dan bahkan saling roasting satu sama lain, padahal besok jadwal mereka setor lagu ke beberapa produsen musik.
Sirkel bukan sembarang sirkel, mereka adalah sekumpulan anak muda yang terobsesi dengan musik dan terciptalah sebuah band setelah musik-musik ciptaan mereka menjadi viral di sosmed, dan karena itulah kini mereka berempat banjir tawaran produksi lagu.
Sementara itu, ayya merasa risih saat mendengar keriuhan di bawah sana, taman samping rumah tetangga yang dimana terlihat samar empat orang tengah tertawa terbahak-bahak.
" Udah malem malah makin rame aja mereka? Temen temen kak galih kah? apa ada Louis juga?"
" Kalo iya sih ga bener si Louis, harus diingetin."
Usai mengacuhkan pesan Louis, sang ibu berseru memanggilnya dari luar kamar.
Dengan malas-malasan ayya berjalan dan membuka pintu kamarnya.
Cklek..
" Kenapa bunda? Udah jam 8 malem, ayya mau tidur.." Ucap ayya.
Sela pun melempar senyum pada putrinya itu.
" Ada anak pak Felix, itu loh si Louis temen SD kamu dulu ayy, turun gih.."
Ayya menggeleng. " Bunda aja dah, bilang aja ayya udah tidur, tenang di surga.."
" Heh! apa-apaan sih ayya ngomongnya gitu? ga baik!" peringat sela kesal.
Ayya pun terkekeh, " Becanda bunda, tapi plis deh bund tolong ayya sekali ini aja, si Louis tuh mau ngerusuh doang, tadi dia udah teriak-teriak konser gajelas sama kak Galih dan temen-temennya di rumah eyang anna."
" Iya, bunda udah dijelasin tadi sama temen Louis, willy namanya." Ucap sela membuat ayya mengernyit heran.
" Si willy juga ikutan jir? Usir aja bund, udah malem ga tau waktu malah bertamu.."
Sela reflek menggaruk kening, " Iya juga sih, tapi anak-anaknya sopan semua sama bunda."
" Terus kalo sopan kenapa? Kan udah basic manner manusia normal, bunda.."
" Hemm, bener juga sih.. Jadi bunda usir nih mereka berdua?" Tanya sela memastikan lagi.
Ayya pun mengangguk girang hingga akhirnya sang bunda pun keluar lagi untuk menemui louis dan willy di ruang tamu.
~
Kembali ke rumah eyangnya galih, roy dan Galih langsung menoleh, melihat raut Louis dan willy menjadi kecut membuat mereka berdua menahan tawanya.
" Kenapa ditekuk muka kalian? Diusir?" Tanya roy.
Willy mengangguk, namun Louis menggelengnya cepat-cepat dan menyangkal.
" Ayya udah tidur katanya, padahal mau gue ajak kesini biar ga sendirian mulu tuh anak." Ucap Louis.
Galih pun menoleh. " Ga bakal mau."
Roy dan willy serempak menatapnya.
" Sok tau deh.." Cibir willy.
" Ga percaya yaudah." Galih melengos lanjut bermain gitarnya.
_
Keesokan paginya-
Pagi ini ayya memaksa sekolah setelah subuh tadi sesak nafas nya kambuh, asma bawaan itu benar-benar menyiksa ayya tanpa aba-aba.
Untungnya durasi sesak cukup singkat karna ayya selalu siap dengan inhaler di sisinya.
" Ayya berangkat dulu ayah, bye!"
Ayya keluar rumah, berdiri di pelataran rumah sembari menunggu driver pesanannya.
Katanya kaya? kenapa tidak ada sopir? Sopir ada, tapi ayya lebih suka naik motor ojek driver, entahlah rasanya lebih bebas aja kata ayya, hihi.
Menunggu beberapa menit membuat ayya merungut tak sabar, kali ini jemputannya cukup lama dan ia takut terlambat ke sekolah.
Hingga tak lama kemudian dari rumah sampingnya terdengar suara mesin motor milik Galih yang baru saja di hidupkan.
" Huh? kak Galih juga belum berangkat??" Gumam ayya menoleh.
Begitu pandangannya tak sengaja ditatap balik oleh Galih, ayya reflek tersenyum dan menyapa.
" Pagi kak Galih.."
Galih hanya menganggukkan kepala, nampak acuh karena sibuk mengunci helm nya. kini ia menancap gas motor perlahan hingga membawanya keluar dari pelataran rumah eyangnya menuju jalan.
Melewati ayya, Galih memilih acuh tanpa menyapanya balik, motornya pergi berlalu meninggalkan jalan rumah mereka, termasuk meninggalkan ayya seorang di pinggir jalan.
Sungguh, ayya malah bersyukur saat keduanya tak bertegur sapa, untungnya driver ayya datang saat itu juga.
" Kak Galih beda banget dari pas MPLS, padahal dulu dia humble banget, sekarang malah jadi cowok nonchalant.. Udah kubilang apa? jaga image pasti, biar disukai adek kelasnya, cih! lagu lama.."
_
Skip jam istirahat-
Willy dan Louis hendak menghadang ayya dari lantai bawah, kania pun memergoki mereka.
" Ngapain kalian disini?" Tanyanya berkacak pinggang.
" Nunggu si ayu turun." Ucap willy membuat kania mengernyit.
" Ayu saha?"
" Ayu dya.. si ayya lah." Cetus Louis.
" Nunggu sampe istirahat selesai ga bakalan turun tuh anak, orang ayya lagi di perpus buat kerja kelompok dari tadi.." Tukas kania membuat Louis dan willy serempak menepuk jidat.
" emang ada apa kok sampe kak willy ikutan nunggu ayya? Kalo Louis kan emang biasa begini, ga heran gue mah.."
Willy dan Louis saling bertukar pandang, bukannya menjawab rasa penasaran kania, mereka justru merangkul kania untuk diajaknya ke kantin.
Kania pun terkejut karena pasti ia akan menjadi bahan pembicaraan semua warga sekolah jika dirinya yang masih anak baru tiba-tiba sudah dirangkul oleh kakak kelas.
_
Sementara itu, di kantin sudah ada Galih yang duduk menanti kedatangan willy dan louis. tanpa mereka berdua Galih memilih duduk sendiri sembari fokus pada ponselnya.
Teman-temannya pun menjadi segan untuk sekedar menyapa, apalagi para siswi yang sejak awal sudah memperhatikannya.
Aura Galih berbeda 180° dari saat MPLS, bukan dia yang berubah tapi memang itu sikap aslinya.
Begitu tiga orang kocak itu datang, senyum Galih mengembang lebar, namun ia mengernyit saat melihat Kania di samping mereka.
" Maaf kak Galih, aku diseret sama Louis dan kak Galih." Kania klarifikasi lebih dulu.
Galih pun mengangguk paham, lalu tanpa dipersilahkan Louis dan willy mengambil duduk di depannya.
Namun melirik pada sekitar membuat Kania cemas, terlebih saat banyak mata kakak kelas perempuan yang menyorotinya.
" Kenapa ga duduk? duduk aja ga usah malu." Ucap willy menepuk kursi di sampingnya.
Kania pun menggeleng. " Aku izin mau ke perpus ya kak, mau liat ayya udah engga kerja kelompoknya.."
Hmm, dengan senang hati Galih mengizinkannya pergi.
Tak lama bel masuk kelas kembali berdering, jam pelajaran silih berganti selama 3 kali pergantian sebelum akhirnya bel pulang menggaung di beberapa titik spot sekolah.
Langit sudah mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan hingga membuat para murid bergegas pulang, namun ada juga yang masih stay di sekolah karena masih ada keperluan disana.
Seperti Galih yang masih menjabat sebagai ketua OSIS, ia kembali disibukkan dengan rapat koordinator OSIS lainnya.
Sudah jam 4 sore, hujan pun turun tak sederas perkiraan, hanya rintik hujan yang semakin intens.
Break rapat sejenak, Galih yang tengah berdiri di depan papan tulis itupun melihat ke arah jendela dimana ayya tengah berjalan dengan beberapa temannya di koridor.
' Udah jam segini, ngapain masih di sekolah?' Batin galih memperhatikan ayya.
Sedangkan ayya baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok bersama tiga teman kelasnya, jam 4 lebih 15 menit ia langsung bergegas pulang.
Namun hujan semakin deras, bahkan lebat dan berkilat sehingga membuat ayya menunggu jemputan sembari berteduh.