Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Jangan Turun!
Langkah kaki Selena yang tadinya menggebu-gebu mendadak melambat, lalu berhenti total di balik pilar besar koridor menuju suite mereka. Dari jarak sepuluh meter, pemandangan di depannya terasa lebih menyakitkan daripada tamparan fisik.
Di sana, di balkon yang menghadap laut, Biru tidak lagi tampak pucat. Ia berdiri tegak, dan di hadapannya ada seorang wanita cantik dengan gaun backless sutra yang sangat seksi. Wanita itu tertawa kecil, tangannya menyentuh lengan Biru dengan gerakan yang sangat akrab, hampir posesif. Biru tidak menepisnya. Mereka berbicara dengan nada rendah yang terdengar sangat intens, seolah ada dunia rahasia yang hanya milik mereka berdua.
Selena meremas buku catatannya hingga kertasnya lecek. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan emosi yang bercampur aduk.
“Jadi ini alasannya?” batin Selena perih. “Dia menyuruhku memakai baju tertutup dan menyebutku memalukan, hanya agar dia bisa bebas bermesraan dengan wanita yang sesuai dengan 'standar' dunianya?”
Cibiran gadis-gadis di pantai tadi bergema kembali di telinganya: “Ngaca! Penampilan kayak gembel gini?!”
Selena menunduk, menatap gaun maxi longgarnya yang kini terasa seperti kain kafan bagi harga dirinya. Ia merasa bodoh. Ia merasa seperti karakter figuran yang malang dalam novel yang ia tulis sendiri—wanita yang disembunyikan karena dianggap memalukan oleh sang protagonis pria.
"Baiklah," bisik Selena, suaranya bergetar namun tajam. "Aku hanya istri kontrak satu tahun yang dibayar mahal. Tugasku adalah akting, bukan baper."
Ia mencoba memaksakan tawa sinis, meski ada rasa sesak yang menghimpit ulu hatinya—rasa cemburu yang ia sangkal mati-matian dengan logika integritas kontraknya. Ia berbalik, menjauh dari pemandangan itu sebelum air matanya sempat jatuh.
"Simpan saja duniamu yang mewah itu, Biru Hermawan," gumamnya sambil melangkah menuju kamarnya sendiri. "Aku akan kembali ke duniaku. Dunia tulisan di mana aku bisa mengatur siapa pun, termasuk menghapus pria sepertimu dari daftar kebahagiaanku."
Selena membanting pintu kamar, langsung menguncinya dari dalam. Ia melemparkan tasnya ke sembarang arah dan langsung duduk di depan laptop. Jemarinya menari liar di atas keyboard, mengubah rasa sakitnya menjadi kata-kata tajam.
Tanpa ia sadari, ia sedang menulis bab paling emosional dalam novelnya: Tentang pengkhianatan di balik jubah kaku seorang penguasa.
Sementara itu, di balkon, Biru sebenarnya sedang menahan napas. Ia tidak mendengarkan satu kata pun dari wanita di depannya—rekan bisnis keluarganya yang memaksa bicara.
Matanya terus melirik ke arah lorong, mencari sosok gaun longgar Selena yang sejak tadi ia tunggu kepulangannya dengan rasa cemas yang mulai memicu nyeri di dadanya lagi. Ia tidak tahu bahwa detik itu, ia baru saja kehilangan kepercayaan dari satu-satunya wanita yang membuat jantungnya berdetak terlalu cepat.
"Aku sudah menikah. Kamu tahu itu kan? Jadi menjauh dari ku agar istriku tidak salah paham!" ucap Biru dengan nada dingin.
Suara Biru terdengar seperti desis pisau yang membelah udara, tajam dan mematikan. Ia menarik lengannya dengan kasar dari sentuhan Rebeca, seolah kulit wanita itu adalah bara api yang mencemari integritasnya.
"Menikah?" Rebeca tertawa sumbang, matanya berkilat tidak percaya. "Biru, jangan bercanda. Selera kamu itu bukan gadis rumahan yang kaku. Aku tahu pernikahan itu cuma rumor untuk menyenangkan kakekmu—"
"Istriku bukan rumor," potong Biru, matanya yang sedingin es kini memancarkan amarah yang tertahan. "Dia nyata, dan dia jauh lebih berharga daripada semua drama yang ingin kamu ciptakan di sini. Pergi sebelum aku kehilangan kesabaranku."
Cakra melangkah maju, tubuh tegapnya menciptakan bayangan yang mengintimidasi di depan Rebeca. "Nona Rebeca, mobil jemputan Anda sudah siap di lobi. Saya sangat menyarankan Anda untuk pergi sekarang, atau saya sendiri yang akan memastikan izin akses Anda ke seluruh properti Hermawan Group dicabut selamanya."
Rebeca mendengus, menghentakkan kakinya dengan kesal sebelum akhirnya melangkah pergi dengan wajah merah padam.
Begitu Rebeca menghilang dari pandangan, Biru langsung mencengkeram pagar balkon. Napasnya pendek-pendek. Ketegangan barusan, ditambah rasa bersalah karena telah membentak Selena pagi tadi, membuat jantungnya terasa seperti diremas tangan tak kasat mata.
"Tuan, nadi Anda..." Cakra segera mendekat, tangannya sudah siap dengan botol obat.
"Aku tidak apa-apa, Cakra," desis Biru, suaranya parau. "Di mana Selena? Apa dia sudah kembali?"
"Nyonya sudah kembali ke kamar, Tuan. Tapi... dari cara beliau membanting pintu, sepertinya beliau melihat percakapan Anda dengan Nona Rebeca tadi."
Wajah Biru yang sudah pucat kini bertambah pias. Sial. Ia ingin melindungi Selena dari pandangan liar laki-laki dengan menyuruhnya berganti pakaian, tapi malah berakhir membuat istrinya melihatnya bersama wanita lain.
Biru melangkah cepat menuju pintu kamar mereka, mengabaikan rasa nyeri yang mulai menjalar ke lengan kirinya. Ia mencoba memutar kenop pintu, namun terkunci rapat dari dalam.
Tok! Tok! Tok!
"Selena? Buka pintunya. Aku perlu bicara," panggil Biru, suaranya mencoba terdengar setenang mungkin meski dadanya bergemuruh hebat.
Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara ketikan keyboard yang sangat cepat dan keras dari dalam, seolah sang penulis sedang menumpahkan amarahnya lewat setiap huruf yang ia tekan.
Biru bersandar di pintu, memejamkan mata rapat-rapat. Ia tahu, di dalam sana, Selena sedang menyusun narasi kebencian untuknya, sementara di luar sini, jantungnya sedang bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan satu kesempatan menjelaskan kebenaran.
*
Sore harinya, Biru tiba di sebuah gubuk bambu mewah yang dikelilingi taman tropis yang rimbun. Sang terapis, seorang pria tua dengan aura tenang bernama Wayan, menyambut mereka dengan senyum yang tulus.
"Jantung Anda tidak sakit karena fisiknya, Tuan," ujar Wayan setelah memeriksa denyut nadi Biru selama beberapa menit. Ia menuangkan ramuan beraroma harum ke dalam cangkir tanah liat. "Jantung Anda sedang mencoba menampung sesuatu yang lebih besar dari kapasitasnya selama ini. Anda telah menguncinya begitu lama dalam kedinginan, dan sekarang, kehangatan itu datang secara tiba-tiba."
Biru terdiam, menyesap ramuan itu perlahan.
"Aku hanya ingin tetap hidup, Pak Wayan. Aku punya tanggung jawab besar."
"Hidup bukan hanya tentang memastikan detak itu tetap ada, tapi tentang untuk apa detak itu berbunyi," sahut Wayan bijak. "Ramuan ini akan membantu menguatkan katupnya, namun Anda sendiri yang harus mengendalikan aliran emosinya. Jangan melawan perasaan itu, tapi belajarlah untuk mengalirkannya dengan tenang."
Satu jam sesi terapi itu membuat Biru merasa jauh lebih bugar. Beban di dadanya terasa melonggar secara signifikan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Begitu Biru kembali ke vila, ia mendapati suasana yang kacau. Beberapa staf vila tampak berlarian menuju area pantai pribadi.
"Ada apa ini?" tanya Biru pada salah satu staf dengan nada otoriter.
"Tuan... itu... Nyonya Hermawan," lapor staf itu dengan napas tersengal. "Beliau terjebak di antara karang saat air laut mulai pasang. Sepertinya kakinya terluka dan dia tidak bisa naik kembali ke tebing!"
Darah Biru mendadak berdesir hebat. Rasa tenang yang baru saja ia dapatkan dari ramuan Wayan menguap seketika. Tanpa memedulikan teriakan peringatan Cakra, Biru berlari menuju tebing.
Di bawah sana, di antara deburan ombak yang mulai ganas, ia melihat sosok Selena. Gaun longgar yang tadi siang ia hina kini basah kuyup, memberat, membuat Selena sulit bergerak. Wanita itu tampak meringkuk memegangi pergelangan kakinya, wajahnya pucat karena ketakutan saat ombak besar menghantam batu karang tempatnya bersandar.
"Selena!" teriak Biru, suaranya parau melawan suara angin.
Jantungnya mulai memberikan sinyal peringatan. Deg-deg-deg. Iramanya mulai kacau lagi. Adrenalin yang meledak karena rasa takut kehilangan Selena menjadi serangan yang lebih mematikan daripada gairah mana pun.
"Tuan! Jangan turun! Biar tim penyelamat yang melakukannya!" Cakra menahan lengan Biru dengan kuat.
***
jin ouch jin sentuh itu selena...