Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INKUBATOR
Tania kembali menangis kali ini sampai sesenggukan, karena ternyata sang bayi harus masuk inkubator. Wajar belum waktunya lahir sehingga lahir premature, Salman sampai memeluk Tania, bukan mengambil kesempatan, tetapi karena tak tega saat suster menjelaskan tentang si bayi yang terus ditanyakan keberadaannya oleh Tania.
Mungkin Tania akan diberi tahu saat kondisinya sudah pulih, nyatanya dia terus mendesak suster dan juga Salman di mana sang bayi. Begitu diberitahu kondisi si bayi, tubuh Tania kembali bergetar, dia sangat merasa bersalah sekali, karena tak bisa menjaga emosi sampai dia merasakan kontraksi sebelum waktunya.
Setelah tenang, Tania pun diantar Salman ke ruang perawatan bayi, dia kembali menangis saat sang bayi dipasang alat bantu dan terlihat badannya sangat kecil. "Saya jahat banget ya, dok! Di awal dia hampir saja saya buang, dan begitu lahir dia kembali menderita sampai dipasang alat begitu," sesal Tania sembari menangis.
Salman menepuk pundak Tania, menguatkan perempuan itu agar tidak terlalu terpuruk. "Dia kuat, karena ibunya juga kuat!" ucap Salman memotivasi Tania. Perempuan itu menoleh pada dokter ganteng tersebut.
"Saya harus berbuat apa agar dia segera saya gendong dan keluar dari ruangan ini?" tanya Tania sendu. Jiwa keibuannya keluar, dan dia menjadi orang nomor satu yang ingin melindungi sang putri.
"ASI! Kamu bisa memberi ASI pada dia," saran dokter Salman, karena dengan mendapat asupan ASI yang cukup, berat badan bayi akan naik.
"Gimana caranya?" tanya Tania semangat, seolah ada harapan baru yang bisa ia lakukan agar sang putri segera ia dekap.
"Kita kembali ke kamar, biar nanti perawat yang akan menjelaskan," ucap Salman, dan Tania mengangguk lemah. Sebelum kembali ke kamar ia menyempatkan memotret sang bayi.
Begitu sampai di kamar, Salman memanggil perawat dan memintanya untuk mengajari Tania memerah ASI, Salman memberikan waktu pada mereka berdua, dan dia pamit pulang.
"Suster ada rekomendasi alat pumping yang bagus?" tanya Tania karena ia tidak punya tenaga untuk searching.
"Sekarang banyak jenis alat pumping Bu, mau yang manual elektrik ataupun handsfree, kalau saya sarankan handsfree saja, agar ibu bisa pumping sambil melakukan aktivitas lain, lebih gampang untuk dipakai mobilitas sehari-hari," ujar sang perawat. Tania mengangguk, dan langsung memesan via kurir untuk mencarikan alat pumping sesuai saran sang perawat, tak lupa plastik ASIP juga dan pipet bayi.
Tania juga berpesan untuk memberikan alatnya di IGD saja, karena sang perawat yang akan membantunya mengambil. Pembayaran via transfer dan mulai malam ini Tania akan memerah ASInya. "Adik berjuang untuk tumbuh sehat, mama akan berjuang untuk memberi ASI buat adik," ucap Tania menatap alat pumping yang sudah datang dan penggunaannya diajari oleh perawat itu lagi.
"Bagus, Bu Tania, memang ya harga mahal kualitasnya juga bagus," puji sang perawat yang melihat Tania mulai pumping setelah disterilkan oleh sang perawat.
"Kuning banget, Sus, gak pa-pa nih?" tanya Tania saat melihat hasil pumpingnya sebelum dimasukkan ke plastik.
"Enggak pa-pa, Bu. Itu malah bagus, kolostrumnya keluar," puji sang perawat. Tania pun diajarkan untuk cara penyimpanannya. Sang perawat juga memberikan tips agar ASI keluar dengan deras, salah satunya mengonsumsi makanan sehat sayur dan double protein serta serat.
Tania mengumpulkan ASI perah dengan sangat telaten demi sang buah hati, perahan pertama masih sedikit sekitar 75 ml, ia pun dengan semangat memberikan pada suster penjaga di ruang sang putri.
"Bu Tania kondisinya masih belum pulih betul, ke sini tidak harus tiap jam, nanti ada penghangat ASI di sini, Bu Tania bisa menyimpannya di kulkas kamar dulu," saran sang perawat, dan Tania hanya mengangguk saja.
Sebagai ibu tentu dia ingin dekat dan sang putri, bahkan kalau diperbolehkan tidur di bawah alat itu, maka Tania akan melakukannya. Matanya berkaca-kaca saat sang suster memberikan ASI perahnya pada sang putri lewat suntikan, Tania pun izin memotretnya. Ia mengunggah ke status WA.
Kita berjuang bersama ya, Nak ❤️.
Tak disangka, status itu dibaca oleh Siska dan juga Yovi. Siska langsung mengomentari status tersebut.
Sudah lahiran, Tan. Lahiran di mana?
Tania tak membalas. Sedangkan Yovi menunjukkan status WA Tania pada Lingga, kebetulan mereka sedang ngopi bareng.
"Terus?" sindir Lingga dengan sok cuek, Yovi hanya mencibir.
"Sok-sok an cuek, aslinya kepo kan sama keadaannya? Aku jadi heran deh, Ngga. Kenapa kamu sebrengsek ini, padahal kalian tinggal bersama selama 4 tahun dan kamu bisa sebar aib Tania di media sosial. Apa kamu gak kasihan kalau pekerjaan dia, jualan online bisa kena imbas?" Yovi masih punya hati, tak sekejam itu pada Tania. Bukan berniat membela hanya saja, kalau punya masalah jangan sampai mematikan rezeki orang.
"Bukan urusanku!" jawab Lingga ketus.
"Kamu bisa semena-mena begini jangan sampai menyesal, siapa tahu suatu saat nanti Tania akan membalas kamu, dengan mengungkap kehidupan kalian."
"Dia mana berani, dan aku yakin dia gak setega itu," jawab Lingga arogan. Yovi sampai menggelengkan kepala, tak menyangka sang adik bisa sebrengsek ini.
"Kamu yakin itu bukan anak kamu?" tanya Yovi lagi.
"Bukan, sejak awal aku memakainya dia sudah siap dan selalu minum pil KB!" jawab Lingga lagi.
"Yakin?"
"Iya. Dia mana mau punya anak sama aku, maunya sama cowok yang memberikan kepastian lah, dia sadar kok dia tidak akan direstui oleh keluarga kita," jawab Lingga kembali kekeh.
"Yakin kamu tak mau memastikan?"
"Enggak."
"Oke. Jangan pernah merebut anak itu dari Tania bila suatu saat nanti terbukti bahwa itu anak kamu. Karena sejak awal kamu sudah tidak mengakuinya," ucap Yovi memperingatkan, karena sebagai atasan Tania, Yovi masih yakin kalau Tania adalah perempuan baik-baik.
Tania sendiri tak menggubris chat Siska, kalau rekan kerjanyanya itu masih tanya, jangan salahkan Tania untuk tega memblokirnya. Mengabaikan chat, Tania lebih memilih pumping kembali, meski belum dua jam. Kata perawat tadi, semakin sering dikosongkan, maka produksi ASI akan semakin banyak.
Ia juga merekam saat menuangkan hasil perahannya ke kantong plastik, setiap moment akan ia abadikan, agar kelak saat sang putri sudah besar, dia tahu perjuangan Tania merawatnya, meski harus dipisahkan dengan inkubator.
"Kavya Arunika," sebut Tania pada sang bayi. Ia memberi nama pada sang bayi, berharap sang putri terlahir sebagai puisi terindah bagi kehidupan Tania dan bercahaya layaknya sinar matahari saat pagi hari.
"Sehat ya anakku Sayang, mama nanti sore pulang, tapi mama akan tiap hari akan ke sini, jenguk kamu dan kasih ASI, sehat selalu Sayang. Mama cinta banget sama kamu," ucap Tania sembari menatap sang putri sebelum kembali ke kamar.
GO go Tania semangat