Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: MISI BALI DAN RAMUAN RAHASIA MBOK YEM
Bali menyambut mereka dengan aroma jepun yang manis dan udara lembap yang membawa rasa asin dari Samudra Hindia. Namun, bagi Ian, perjalanan ini bukanlah liburan. Rumah peristirahatan keluarga Kusuma di kawasan Uluwatu berdiri angkuh di atas tebing curam, seolah-olah menantang siapa pun yang berani membongkar rahasia di dalamnya.
Namun, sebelum misi berbahaya dimulai, ada sebuah keributan kecil yang terjadi di vila pribadi tempat mereka menginap sementara.
Di dapur vila yang mewah dengan pemandangan laut, Rhea sedang berusaha mencari air mineral. Namun, ia justru menemukan Mbok Yem sedang sibuk menumbuk sesuatu dengan ulekan batu yang entah bagaimana bisa lolos dari pemeriksaan bagasi bandara dan sampai ke Bali.
"Mbok, sedang buat apa?" tanya Rhea heran melihat dedaunan hijau misterius dan rimpang-rimpangan yang berserakan.
Mbok Yem menoleh dengan wajah serius, seolah sedang meracik ramuan untuk kaisar. "Ini, Nona Rhea. Jamu 'Macan Galak'. Mbok buatkan khusus buat Tuan Muda Ian."
Rhea nyaris tersedak air yang baru saja diminumnya. "Jamu apa, Mbok?"
"Macan Galak, Nona! Tuan Muda itu kalau di Bali bawaannya tegang terus, wajahnya ditekuk kayak cucian belum disetrika. Mbok khawatir staminanya turun karena kurang tidur mikirin brankas itu," bisik Mbok Yem penuh rahasia. "Ini resep turun-temurun dari simbah Mbok di desa. Sekali minum, mata langsung melek, otot langsung kencang!"
"Tapi Mbok, Ian itu tidak suka jamu pahit," Rhea mengingatkan, teringat betapa pemilihnya pria itu soal rasa.
Mbok Yem terkekeh, matanya yang berusia 58 tahun itu berkilat jenaka. "Nah, di situlah peran Nona Rhea! Kalau Mbok yang kasih, pasti dibuang. Tapi kalau Nona yang kasih sambil tersenyum manis... boro-boro dibuang, wadahnya pun mungkin dijilat sampai bersih."
Rhea menggeleng-gelengkan kepala. "Mbok, jangan ajarkan aku yang tidak-tidak."
"Ayo to, Nona. Ini demi kebaikan bersama! Masak Nona tega lihat Tuan Muda pucat terus?"
Akhirnya, dengan sedikit rasa bersalah bercampur geli, Rhea membawa segelas cairan berwarna cokelat keruh ke ruang kerja Ian. Di sana, Ian sedang menatap peta arsitektur rumah Pradikta bersama Yusuf.
"Ian, minum ini dulu," ucap Rhea sambil meletakkan gelas itu di meja.
Ian melirik gelas tersebut dengan tatapan curiga. "Aroma apa ini? Seperti bau tanah hutan yang baru disiram hujan."
"Ini... suplemen herbal dari Mbok Yem. Katanya bagus untuk konsentrasi," bohong Rhea, mencoba menahan tawa saat melihat hidung Ian yang berusia 31 tahun itu kembang kempis mencium aromanya.
Ian, yang ingin menunjukkan bahwa ia menghargai perhatian Rhea, langsung meminumnya dalam sekali teguk. Detik berikutnya, wajah Ian berubah warna. Dari pucat menjadi merah, lalu ungu, dan terakhir ia terbatuk-batuk hebat sampai Yusuf harus sigap menyodorkan tisu.
"Rhea... apa kau ingin meracuniku?" tanya Ian dengan suara serak, matanya berkaca-kaca menahan rasa pahit yang luar biasa.
"Katanya itu jamu Macan Galak, Ian," Rhea akhirnya tertawa lepas sampai memegangi perutnya.
"Macan galak?" Ian menoleh pada Yusuf. "Yusuf, apa Mbok Yem sedang mencoba menyindirku atau dia memang ingin aku berubah menjadi hewan?"
Yusuf hanya bisa memalingkan wajah, bahunya bergetar menahan tawa. "Saya rasa Mbok Yem hanya ingin Anda lebih... bertenaga, Tuan Muda."
Malam harinya, operasi dimulai. Ian, Yusuf, dan dua tim pengamanan elit Diningrat bergerak menuju rumah peristirahatan Pradikta. Rhea bersikeras ikut dan menunggu di dalam mobil komando yang diparkir di jarak aman, memantau melalui radar bersama Vier (melalui sambungan satelit dari Jakarta).
"Kak Ian, sistem keamanannya menggunakan sensor gerak termal," lapor Vier dari layar monitor. "Kalian harus bergerak lewat ventilasi udara di sisi timur. Itu satu-satunya titik buta."
Ian bergerak dengan ketangkasan yang luar biasa. Di usianya yang ke-31, fisiknya tetap terjaga berkat latihan militer rutin. Ia menyusup ke dalam ruang kerja Pradikta yang beraroma debu dan kemewahan yang mati. Di balik sebuah lukisan abstrak yang menggambarkan kekacauan, terdapat sebuah brankas baja dengan sistem biometrik.
"Yusuf, gunakan alat dekripsi yang dikirim Cansu," perintah Ian.
Proses itu memakan waktu sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh tahun. Di luar, suara ombak yang menghantam tebing terdengar seperti dentuman jantung yang gelisah. Saat brankas terbuka dengan bunyi klik yang halus, Ian menemukan apa yang ia cari: dokumen asli proyek pelabuhan dan daftar nama pejabat yang menerima suap dari Pradikta.
Namun, di dalam brankas itu juga ada sebuah kotak kecil berwarna biru beludru. Ian membukanya. Di dalamnya terdapat sepasang anting mutiara milik ibunya yang hilang bertahun-tahun lalu, yang ternyata diambil oleh Pradikta sebagai kenang-kenangan atas kemenangannya menjebak keluarga Diningrat.
"Pria itu benar-benar mengoleksi penderitaan orang lain," gumam Ian geram.
Tiba-tiba, lampu ruangan menyala terang.
"Mencuri di rumah orang lain adalah tindakan yang sangat tidak sopan, Adrian," sebuah suara yang sangat dikenal terdengar dari arah pintu.
Bukan Pradikta—pria itu masih di penjara—melainkan asisten pribadi Pradikta yang paling setia, seorang pria bernama Baron yang dikenal kejam. Ia berdiri dengan lima orang bersenjata.
"Serahkan dokumen itu, atau tunanganmu yang ada di mobil di bawah sana tidak akan pernah sampai ke Jakarta," ancam Baron.
Ian tetap tenang. Ia memberikan isyarat tangan rahasia ke arah kamera CCTV yang sudah diretas Yusuf.
Di mobil komando, Rhea melihat situasi melalui kamera tersembunyi di jas Ian. Jantungnya berdegup kencang. Ia melihat Ian dikepung.
"Yusuf! Lakukan sesuatu!" bisik Rhea panik.
"Nona, tenanglah. Tuan Muda sudah memprediksi ini," jawab Yusuf tenang sambil menekan sebuah tombol di dasbor.
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah atap rumah. Bukan bom penghancur, melainkan granat kejut dan gas air mata dosis tinggi. Di tengah kekacauan itu, Ian bergerak secepat kilat, melumpuhkan dua orang bersenjata dengan teknik bela diri yang brutal namun efisien.
Yusuf keluar dari mobil, menyambar senjata taktisnya. "Nona Rhea, tetap di sini dan kunci pintu!"
Pertempuran singkat terjadi di koridor rumah tersebut. Ian berhasil keluar membawa dokumen dan kotak perhiasan ibunya, sementara tim Yusuf mengamankan para pengawal Baron.
Saat Ian sampai di mobil, ia langsung disambut pelukan erat dari Rhea.
"Jangan pernah lakukan itu lagi tanpa memberitahuku detailnya!" omel Rhea dengan air mata di sudut matanya.
Ian menghela napas, mengusap kepala Rhea. "Maafkan aku. Tapi sekarang, kita punya semua yang kita butuhkan untuk mengakhiri ini selamanya."
Kembali ke vila, suasana ketegangan mereda berganti dengan rasa lega. Mbok Yem menyambut mereka dengan senyum lebar, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Gimana, Tuan Muda? Jamu Mbok manjur kan? Jalannya jadi gesit!" tanya Mbok Yem tanpa dosa.
Ian menatap Mbok Yem, lalu menatap dokumen di tangannya. Ia tidak tahu apakah kelincahannya tadi karena adrenalin atau memang karena ramuan aneh Mbok Yem.
"Mbok," panggil Ian serius.
"Iya, Tuan Muda?"
"Lain kali, tolong buatkan jamu yang rasanya lebih manusiawi. Aku hampir melihat leluhur kita saat meminumnya tadi."
Semua orang di ruangan itu tertawa, termasuk Yusuf yang biasanya kaku. Di usia mereka yang sekarang, di tengah bahaya yang terus mengintai, momen-momen konyol seperti inilah yang menjaga mereka tetap waras.
Namun, saat Ian membuka dokumen itu di depan semua orang, ia menemukan sebuah catatan kecil di halaman terakhir yang disisipkan oleh Cansu.
"Adrian, dokumen ini hanya setengah dari kebenaran. Setengahnya lagi ada pada ayah Nara. Jika kalian ingin menghancurkan akar Pradikta sepenuhnya, kalian harus meyakinkan pria itu untuk bicara sebelum 'mereka' menemukannya di persembunyiannya."
Ian menatap Rhea dan Yusuf. Misi di Bali sukses, namun babak final di Jakarta baru saja dimulai. Dan kali ini, nasib Nara dan Vier akan menjadi pusat dari segalanya.
"Kita pulang ke Jakarta besok pagi," ucap Ian mantap. "Siapkan klinik pribadi, Yusuf. Lindungi Nara dengan taruhan nyawa kita."
Kisah mereka di bab ini di tutup dengan pemandangan matahari terbit di ufuk timur Bali. Fajar yang indah, namun membawa tantangan yang lebih besar bagi keluarga Diningrat dan cinta mereka yang sedang diuji oleh sejarah.