NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Cemburu

Senin pagi di SMA 1 Nusa Bangsa selalu dimulai dengan rutinitas yang sama yaitu barisan siswa yang rapi, derap langkah tim Paskibra, dan terik matahari yang mulai menyengat kulit. Namun bagi Cinta, Senin kali ini terasa jauh lebih berat dari biasanya. Sejak menginjakkan kaki di gerbang sekolah, matanya sibuk menyapu koridor, antara berharap dan cemas menunggu kemunculan motor besar yang knalpotnya ia hafal di luar kepala.

Cinta berdiri di barisan kelas XI MIPA 1, tepat di posisi tugasnya sebagai sekretaris kelas yang harus memastikan absensi barisan. Di sebelahnya, Sarah menyenggol lengannya dengan nakal.

"Cie, yang hari Minggunya sarapan bareng tamu istimewa," bisik Sarah pelan, nyaris tak terdengar di tengah riuh rendah siswa yang menyiapkan barisan. Ya, sebelumnya Cinta cerita tentang hal ini kepada Sarah.

Wajah Cinta memanas seketika. "Ssst! Sarah, jangan kencang-kencang! Mamah cuma kasihan karena hujan, tidak ada yang istimewa."

"Tapi pipimu bilang hal yang berbeda, Cin," goda Sarah lagi.

Cinta segera mengalihkan pandangannya ke arah lapangan upacara. Ia tidak mungkin menceritakan tentang kejadian di teras, tentang kepulan asap rokok yang berakhir dengan pengakuan jujur dan sebuah ciuman. Mengingatnya saja sudah membuat fokus Cinta buyar.

Tak lama kemudian, Rian muncul. Ia berjalan santai menuju barisan XI MIPA 1. Saat melewati Cinta untuk menuju barisan belakang, langkahnya melambat sebentar. Ia melirik Cinta, memberikan senyum tipis yang hanya bisa ditangkap oleh mata gadis itu, lalu berbisik singkat tanpa menghentikan langkah. "Pagi, Sekretaris."

Cinta hanya bisa menunduk, pura-pura sibuk memeriksa papan jalan yang berisi daftar absensi kelas.

Skip

Upacara dimulai. Suasana menjadi hening saat Kepala Sekolah, Pak Broto, naik ke atas podium. Setelah membicarakan masalah kedisiplinan, Pak Broto berdeham, menandakan ada pengumuman penting.

"Anak-anak sekalian, dalam rangka melatih kemandirian, sekolah akan mengadakan kegiatan PERSAMI yaitu Perkemahan Sabtu Minggu," suara Pak Broto menggema.

Gumam riuh mulai terdengar. "Kegiatan ini bersifat sukarela. Bagi siswa yang ingin berpartisipasi, silakan mendaftarkan diri melalui pengurus kelas masing-masing. Saya sangat menyarankan kalian untuk ikut demi pengalaman," lanjut Pak Broto.

Cinta mencatat poin penting itu. Sebagai sekretaris, ia tahu tugas mendata peserta akan jatuh kepadanya. Begitu upacara selesai dan barisan dibubarkan, para siswa berbondong-bondong masuk ke kelas.

...****************...

Di dalam kelas XI MIPA 1, suasana langsung gaduh. Cinta duduk di bangkunya, dan tak lama kemudian Rian duduk di sebelahnya Cinta. Kehadiran Rian yang begitu dekat membuat Cinta kembali teringat kecanggungan di meja makan kemarin.

"Jadi, Sekretaris Kelas mau mendata sekarang?" tanya Rian sambil mengeluarkan buku dari tasnya.

Cinta berdeham, mencoba bersikap profesional. Ia mengeluarkan daftar nama siswa. "Iya. Maya tadi bilang datanya harus masuk sebelum jam istirahat kedua."

Cinta mulai bertanya pada teman-teman di barisan depan. Mayoritas anak perempuan ragu-ragu, sementara anak laki-laki hampir semuanya setuju. Setelah berkeliling sebentar, Cinta kembali ke bangkunya untuk mencatat namanya sendiri dan menanyakan keputusan teman sebangkunya.

"Rian, bagaimana? Kamu ikut atau tidak?" tanya Cinta tanpa berani menatap mata cowok itu terlalu lama.

Rian tidak langsung menjawab. Ia memutar pulpen di jarinya, lalu menopang dagu dengan tangan kiri, menatap Cinta dengan intensitas yang membuat gadis itu salah tingkah. "Menurutmu aku harus ikut atau tidak?"

Cinta mengernyitkan dahi. "Kok tanya aku? Itu kan terserah kamu."

Rian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat menggoda. "Begini saja. Kalau kamu ikut, aku juga ikut. Kalau kamu tidak ikut, untuk apa aku menginap di sekolah yang dingin ini sendirian?"

Wajah Cinta memanas. "Rian, jangan bercanda. Ini pendataan resmi."

"Aku tidak bercanda, Cinta," ucap Rian dengan nada rendah yang mantap. "Pilihannya ada di tanganmu. Kamu ikut, namaku ada di daftar itu. Kamu absen, namaku juga coret saja."

Cinta menggigit bibir bawahnya. Belum sempat ia membalas, Rio yaitu teman sekelas mereka yang duduk di barisan sebelah tiba-tiba menyahut. Rupanya sedari tadi Rio memasang telinga lebar-lebar mendengarkan percakapan dua orang yang duduk bersebelahan itu. Rio tahu betul kalau Rian sedang mencoba mencari kesempatan.

"Wah, ada yang lagi main syarat-syaratan nih?" goda Rio dengan suara yang cukup keras.

Cinta menoleh ke arah Rio. "Rio, kamu sendiri bagaimana? Ikut tidak?"

Rio melirik Rian yang memberikan tatapan tajam padanya, tatapan yang seolah memberi peringatan agar tidak ikut campur. Namun, Rio yang memang dasarnya jahil justru melihat ini sebagai kesempatan emas untuk meledek Rian yang terlihat sangat protektif.

"Aku?" Rio memasang wajah serius yang dibuat-buat, meniru gaya bicara Rian tadi. "Kalau dipikir-pikir... kalau Cinta ikut, aku juga ikut deh! Kan seru kalau ada Cinta, nanti kalau aku takut pas jurit malam, aku bisa lari ke tenda panitia tempat Cinta jaga."

Maksud Rio sebenarnya murni untuk meledek Rian, seolah-olah mengatakan, "Eh, aku juga bisa loh ngomong kayak gitu." Rio ingin melihat reaksi Rian yang biasanya dingin itu meledak karena cemburu.

Dan benar saja. Rahang Rian mengeras seketika. Sorot matanya yang tadi terlihat santai saat menatap Cinta, kini berubah menjadi tajam dan dingin saat beralih ke arah Rio. Ia tidak suka mendengar nama Cinta dikaitkan dengan laki-laki lain dalam konteks seperti itu.

"Rio, mending kamu urus saja urusanmu sendiri," potong Rian dengan nada suara yang berat dan penuh penekanan.

Rio yang menyadari umpannya dimakan, justru semakin tertawa. "Loh, kok marah, Bro? Kan tadi kata Pak Broto sukarela. Hak aku dong mau ikut kalau ada siapa. Ya kan, Cin?" Rio mengedipkan sebelah matanya ke arah Cinta.

Cinta mulai merasa suasana berubah menjadi tidak enak. Ia bisa merasakan aura permusuhan yang tiba-tiba memancar dari sampingnya. "Sudah, sudah. Rio, aku catat namamu ikut ya. Rian, kamu... aku anggap belum memutuskan."

"Hapus nama Rio," ucap Rian tiba-tiba.

Cinta tertegun. "Apa?"

"Hapus nama Rio dari daftar kalau dia ikut cuma karena ingin mengganggumu," tegas Rian. Ia kini sedikit memperbaiki posisi duduknya, menatap Rio dengan tatapan menantang.

Rio mengangkat kedua tangannya ke udara, masih dengan cengiran lebarnya. "Waduh, santai, Rian. Aku cuma bercanda. Tapi kalau soal ikut Persami, aku beneran ikut kok."

Rian tidak menanggapi tawa Rio. Ia kembali menatap Cinta, namun kali ini tatapannya penuh dengan tuntutan. Ia merasa kesal karena Rio seolah-olah menyamakan levelnya dengan Rian yang jelas-jelas punya perasaan sungguhan pada Cinta.

"Aku ke kantin dulu," ucap Rian singkat. Ia berdiri dan berjalan keluar kelas dengan langkah lebar, meninggalkan Cinta yang kebingungan.

"Aduh, galak banget sih teman sebangkumu itu," keluh Rio sambil tertawa.

Cinta menghela napas panjang. "Rio! Kamu kenapa sih pakai bilang begitu? Rian jadi salah paham."

"Yah, Cin... habisnya dia sok keren banget pakai syarat-syaratan segala. Aku kan cuma mau lihat gimana reaksinya kalau ada saingan. Ternyata beneran cemburu buta. Lucu tahu lihat orang dingin kayak dia bisa kebakaran jenggot cuma gara-gara omonganku," Rio tertawa puas.

"Lucu menurutmu, tapi repot menurutku!" seru Cinta frustrasi.

...****************...

Jam istirahat tiba. Cinta tidak langsung ke kantin. Ia duduk di bangkunya dengan gelisah. Daftar peserta Persami di tangannya sudah hampir penuh, namun kolom di sebelah namanya yaitu kolom untuk Rian masih kosong.

Ia tahu Rian salah mengartikan maksud Rio, tapi ia juga tidak bisa memungkiri kalau ada rasa sedikit senang melihat Rian cemburu. Namun, tetap saja, ia ingin Rian ikut bukan karena cemburu, tapi karena kemauannya sendiri.

Cinta akhirnya memutuskan untuk mencari Rian. Ia menemukan cowok itu di taman belakang sekolah, duduk sendirian di kursi.

Cinta mendekat perlahan. "Rian..."

Rian melirik Cinta, lalu beralih kembali menatap lapangan. "Sudah selesai mendatanya?"

Cinta duduk di sebelah Rian, memberi jarak sedikit. "Rian, soal Rio tadi... dia cuma bercanda. Dia memang suka meledek orang. Dia cuma mau melihat reaksimu saja."

Rian memalingkan wajahnya. "Aku tidak peduli dia bercanda atau tidak. Aku hanya tidak suka dia bicara seolah-olah kamu itu alasan tambahan untuk dia ikut."

Cinta tersenyum tipis. "Tapi bukannya kamu tadi juga bilang begitu?"

Rian terdiam. Ia tersentak, menyadari kalau ia baru saja melakukan hal yang sama dengan Rio, bedanya hanya pada keseriusan perasaannya.

"Aku sudah memutuskan. Aku ikut Persami," ucap Cinta tenang. "Sebagai sekretaris kelas, aku harus ada di sana. Jadi... bagaimana dengan teman sebangkuku? Mau membiarkan kursinya kosong?"

Mendengar itu, perlahan-lahan gumpalan es di hati Rian mencair. Ia menoleh ke arah Cinta. "Tulis namaku."

"Beneran?"

"Iya. Tapi jangan harap aku akan membiarkan Rio mendekatimu," tegas Rian.

Cinta tertawa kecil. "Posesif sekali."

"Aku menyebutnya waspada," sahut Rian.

Suasana tegang itu menguap. Meskipun ada kecanggungan sisa kejadian semalam, setidaknya di taman ini, Cinta merasa aman.

"Terima kasih, Rian," bisik Cinta.

"Untuk apa?"

"Karena sudah memutuskan untuk ikut. Aku... aku rasa aku akan merasa lebih tenang kalau ada kamu di sana."

Kalimat singkat itu sukses membuat Rian terpaku. Ia menatap Cinta yang kini tersenyum manis ke arahnya. Kali ini, giliran Rian yang merasa wajahnya memanas.

"Sial! kamu ini benar-benar tahu cara membuatku tidak bisa berkutik," gumam Rian pelan sambil tersenyum lebar.

1
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!