Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
"Gak kuat, lapar." Demi menghindari pertanyaan maut, Ojan mengusap perut, meringis, berakting pura-pura kelaparan meski jelas tak mungkin dipercaya. Berjalan cepat meninggalkan Nisa, duluan ke foodcourt.
"Ojan!" Nisa berdecak, menghentakkan kaki ke lantai, lalu berjalan cepat menyusul Ojan.
"Mbak, kita makan steak ya. Bosan makan nasi terus." Ojan menarik tangan Nisa ke lapak steak hot plate.
"Dih, gaya, pakai bilang bosen nasi segala. Ngomong aja kalau pengen ditraktir yang mahal."
"Hehehe, tuh tau."
Ojan memesan dua porsi steak, satu cemilan kentang goreng, dan dua minuman. Setelah Nisa melakukan pembayaran, mereka mencari meja kosong, lalu duduk disana.
Meski gak berkeliling, tapi lumayan lelah juga, karena toko tas yang mereka tuju tadi, ada di lantai 3.
"Jan, kamu belum jawab." Nisa masih penasaran.
"Jawab apaan?"
"Yang tadi. Darimana kamu dapat banyak duit?"
Bukannya menjawab, Ojan malah mengedarkan pandangan, melihat-lihat makanan apa saja yang tersedia di foodcourt.
"Ojan!" Nisa berdecak kesal.
"Iya, iya." Ojan tersenyum kecut sambil mengusap tengkuknya. "E... aku anak CEO."
"Tuh kan."
"Kamu udah menebak kesana, Mbak?" mata Ojan membulat sempurna. Mungkin wajah dan penampilannya emang gak cocok jadi orang miskin.
"Anak CEO yang lagi nyamar kan?" Nisa menatap wajah pias Ojan. "Ish!" Ia melotot, mengangkat kepalan telapak tangannya, pengen nggetok kepala manusia halu di hadapannya itu. "Aku gak hobi nonton dracin CEO CEO an, jadi gak usah bikin narasi konyol kayak gitu."
"Ko, konyol ya?" Ojan garuk-garuk kepala, tersenyum sekaligus pengen nangis. "Aku nabung, Mbak. Aku bukan generasi sandwich, aku gak punya saudara, anak tunggal, anak kesayangan, jadi duitku ngojek utuh."
"Gitu ya." Nisa manggut-manggut. "Enak ya Jan, jadi anak tunggal."
"Gak enak!" jawab Ojan cepat.
"Kenapa gak enak? Tuh duit kamu banyak."
"Ya kalau soal uang sih emang enak, kasih sayang juga, tapi... gimana ya, gak bisa dijelaskan dengan kata-kata lah."
Obrolan mereka terhenti saat makanan datang. Tampilan steak daging yang menggoda, dan aroma wanginya, membuat tak bisa untuk di tunda mesk sesaat untuk menikmati.
Ojan yang aslinya memang lapar, terlihat begitu menikmati sekali steak daging traktiran Nisa. Makan gak tolah toleh, sampai beberapa menit saja, makanannya sudah ludes.
"Mbak, nambah lagi boleh gak?" bertanya dengan wajah polos biar dikasihani. "Masih belum kenyang."
"Kamu sih, sok sok an bosan nasi, gak kenyangkan?"
"Gak boleh ya?" Ojan membuang nafas kasar, mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Boleh kok, pesen aja." Nisa tersenyum, yang barusan sebenarnya hanya ngerjain Ojan saja. Mana mungkin setelah dibelikan tas 5 juta, ia masih perhitungan soal makanan. Jangankan minta nambah 2 kali, 3 kali pun ia tak keberatan. Ia mengambil uang di dalam tas, memberikan pada Ojan agak cowok itu membeli sendiri.
Ojan memesan satu porsi lagi, tapi kali ini steak ayam, lalu kembali ke mejanya dan Nisa. Ia meletakkan uang kembalian di depan Nisa.
"Jan, aku masih gak nyangka loh, kalau hasil ngojek itu banyak ternyata."
"Itulah Mbak, makanya kita gak boleh menyepelekan kerjaan orang. Orang yang kerjanya terlihat remeh, jualan pinggir jalan, kadang hasilnya malah lebih banyak dari kerja kantoran. Eh Mbak, kamu kondangan hari apa? Butuh temen gak? Aku siap loh nemenin kamu."
Nisa tersenyum melihat gaya Ojan menawarkan diri. "Maaf, aku udah janjian sama teman."
"Cowok?" Mata Ojan membulat sempurna. "Parah kamu Mbak, aku yang udah daftar duluan jadi pacar kamu, tapi kamu malah nerima cowok lain."
Nisa tertawa cekikikan. "Apaan sih, temen aku cewek."
"Oh, cewek ya. Alhamdulilah." Dia mengelus dada.
"Mbak, pacaran sama aku yuk." Ajaknya dengan gaya bicara yang amat sangat santai, kayak ngajak seseorang beli seblak.
Nisa mengerutkan kening, lalu tertawa pelan. "Enggak ah, gak mau pacaran sama driver ojol."
"Kenapa?" Ojan mengernyit.
Nisa hendak menjawab, namun tertunda karena pelayan datang mengantarkan pesanan Ojan, steak ayam.
"Kenapa?" Ojan kembali bertanya sambil mulai memakan porsi keduanya.
"Gak kuat."
"Hah!" Ojan yang sedang memotong chicken krispi, seketika berhenti, menatap Nisa.
"Bukan masalah duit, tapi hati," Nisa memegang dada. "Gak kuat nahan cemburu karena tiap hari boncengin cewek berbeda, mana cantik-cantik."
Ojan tak bisa menahan tawa. "Ya nanti aku kasih pembatas deh di tengah-tengah, atau kalau gak gitu, aku tempelin tulisan di punggung. Jangan nempel-nempel, sudah ada yang punya."
Nisa auto tertawa cekikikan, demikian pun dengan Ojan.
"Gimana Mbak, mau gak?" Ojan masih mendesak.
"Huft!" Nisa meletakkan garpu dan pisaunya. "Maaf ya Jan, aku belum pengen pacaran lagi."
"Yah, tega kamu, Mbak." Seketika, Ojan tertunduk lesu.
"Jan, tasnya diminta balik gak?"
"Buang aja ke got!" Ojan mendengus kesal, tapi Nisa malah menahan tawa.
Sebagai wanita, Nisa bisa merasakan jika Ojan menyukainya, tapi ia sedang belum siap untuk berkomitmen lagi, masih trauma. Untuk saat ini, ia lebih suka dan lebih nyaman, dengan status berteman saja.
...----------------...
Habis magrib, Nisa dan Dinda dandan bersama di kamar Nisa. Pulang kerja tadi, Dinda langsung ikut Nisa ke rumahnya. Mereke akan berangkat bersama menggunaan taksi.
Sejak tiga hari yang lalu, Nisa belajar make up dari internet, berharap skill make up nya meningkat. Jika dibanding Naina, skill make up nya jelas kalah jauh, demikian pun dengan alat make up, punya Naina jauh lebih lengkap, tapi karena malam ini ditambah make up punya Dinda, jadilah lengkap sekali peralatan make up mereka meski rata-rata yang harganya murah.
Malam ini, Nisa memakai rok lilit polos, inner kutung senada, dan dipadukan dengan outer warna senada pula. Dinda diam-diam punya bakat jadi tukang salon, dia lihai sekali menyanggul rambut Nisa, sehingga menyempurnakan penampilan gadis itu.
"Tas baru, Nis?" Dinda salfok dengan tas yang baru dikeluarkan Nisa dari almari.
"Bagus gak?" Nisa memamerkannya.
Mulut Dinda menganga melihat brand tas tersebut. Brand yang di pakai beberapa staf di kantor tempat mereka kerja, brand yang lumayan terkenal mahal.
Nisa mulai memasukkan barang-barang yang akan dia bawa ke dalam tas tersebut. Tak pernah punya tas semahal itu, menarik resleting saja, dia hati-hati banget, kayak benar-benar menjaga.
"Nis, berapa kamu beli?"
"Kepo?"
"Nis, aku beneran tanya," rengek Dinda. "Sumpah, bagus banget. Ini KW atau asli? Berapa harganya, aku pengen beli juga. Sumpah." Dinda memegang tas tersebut, memperhatikan detailnya. "Kayak asli, Nis."
"Dih, kayak asli, emang asli woyy!"
"Halah, sekelas kamu aja punya tas ori. Aku tahu Nis, kamu itu orangnya irit banget, kalau gak penting-penting amat, gak mungkin beli. Apalagi tas mahal, gak mungkin."
Nisa tersenyum kecut. "Serah kamu lah, Din."
Setelah siap, Dinda langsung memesan taksi online. Karena rumah Nisa di gang kecil, dia meminta taksi menunggu di depan gang.
"Mau kondangan dimana ini, cantik-cantik sekali," puji Bu Wiwik saat keduanya pamit. "Kamu jarang make up, jadi sekalinya make up, cantik banget, Nis."
"Siapa dulu dong ibunya," Nisa tersenyum, merangkul lengan ibunya.
"Hati-hati dijalan, jangan keluyuran setelah acara, langsung pulang." Pesan Pak Bambang.
Kamar Naina terbuka, gadis itu juga hendak berangkat.
"Kamu juga mau berangkat sekarang, Nai?" tanya Bu Wiwik. "Kalian kondangan di tempat yang sama atau enggak sih?"
"Kayaknya enggak sih, Bu," jawab Naina. Sandi bilang, yang punya hajat adalah seorang manager, rasanya mustahil Nisa diundang. Karena itu juga, Sandi berani mengajaknya. Ia melihat kakaknya begitu cantik hari ini, tapi...ia salfok dengan tas yang dipakai. "Tas kamu baru, Mbak?"
"Iya." Nisa memamerkan tasnya.
"Bagus." Naina melihat lebih dekat saat merasa jika modelnya familiar. Benar, ini tas yang minggu lalu ia lihat di mall, tas incarannya, tapi masih nunggu gajian bulan depan untuk membelinya. "Kamu beli dimana, Mbak?" Kok dia rasanya gak percaya Nisa beli tas semahal itu. Apa mungkin, ada versi KW nya?
"Di_"
"Eh Nis, taksinya udah deket nih, kasihan nanti kalau harus nunggu lama, kita kan harus jalan dulu." Dinda memotong ucapan Nisa.
"Kami berangkat dulu ya." Nisa dan Dinda buru-buru keluar. Mereka jenis orang yang tak suka menyusahkan orang. Membuat driver taksi menunggu lama, itu termasuk menyusahkan beliau. Yang harusnya udah bisa segera menyelesaikan orderan, dan lanjut orderan berikutnya, jadi ketunda.
Benar saja, saat mereka tiba di depan gang, sudah ada mobil menunggu disana. Saat Dinda mengkonfirmasi, ternyata itu memang taksi pesanan mereka. Namun saat hendak memasuki taksi, langkah Nisa terhenti. Ada mobil putih berhenti di belakang taksi. Mobil putih yang familiar, bahkan ia hafal nomor platnya. "Kak Sandi," gumamnya pelan. Untuk apa Sandi kesini?
🤣🤣🤣