Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menelusuri Jejak Pembunuh Ayah Kaivan
Ketenangan yang dirasakan setelah perjalanan dengan Ducati merah di pesisir Palermo ternyata hanyalah jeda singkat sebelum badai yang sebenarnya datang. Selama bertahun-tahun, kematian Don Lorenzo Vittorio—ayah Kaivan—dianggap sebagai akibat dari penyergapan klan Moretti yang gagal. Namun, sebuah fragmen ingatan gaib yang muncul saat ritual kutukan tujuh turunan kemarin membuka sebuah pintu rahasia yang selama ini terkunci rapat di benak Kaivan.
Pagi itu, suasana di kantor pribadi Kaivan sangat berat. Tidak ada tawa jenaka dari Gendis. Di atas meja kerja, tersebar dokumen-dokumen lama yang sudah menguning, foto-foto tempat kejadian perkara dari sepuluh tahun yang lalu, dan sebuah jam saku perak yang berhenti berdetak tepat pada pukul 02.15 pagi—saat Don Lorenzo menghembuskan napas terakhirnya.
"Gendis, kau yakin dengan apa yang kau lihat di alam bawah sadar kemarin?" suara Kaivan terdengar parau, matanya merah karena kurang tidur.
Gendis mengangguk pelan, jemarinya mengusap permukaan jam saku tersebut. "Kak, saat kutukan itu ditarik, ada satu bayangan yang tertinggal. Dia bukan bagian dari keluarga penyihir itu. Dia adalah bayangan seorang pria yang mengenakan seragam keluarga Vittorio, tapi tangannya memegang belati dengan simbol singa bersayap—simbol yang tidak pernah saya lihat di mansion ini."
Kaivan terhenyak. "Singa bersayap... itu adalah simbol dari Garda Tua, unit elit yang dulu dibentuk khusus untuk menjaga keselamatan Ayah secara pribadi. Tapi unit itu seharusnya sudah hancur dalam penyergapan yang sama."
"Masalahnya, Kak," Gendis menatap Kaivan dengan tatapan yang sangat dalam, "arwah Ayah Kakak tidak pernah tenang bukan karena dia mati terbunuh musuh, tapi karena dia mati oleh tangan yang seharusnya dia percayai. Belati itu menusuknya dari belakang, tepat sebelum peluru Moretti datang untuk menutupi jejaknya."
Untuk mendapatkan bukti yang nyata, Kaivan tahu ia harus melakukan sesuatu yang sangat ekstrem—sesuatu yang selama ini ia hindari karena rasa hormatnya pada mendiang ayahnya.
"Aku ingin kau memanggilnya, Gendis. Aku ingin bicara dengan Ayah," ucap Kaivan tegas.
"Kak, itu nggak gampang. Memanggil arwah yang sudah lama pergi dan penuh dendam itu berbahaya buat energi Kakak dan saya," Gendis mencoba memperingatkan.
"Aku harus tahu kebenarannya, Gendis! Selama sepuluh tahun aku membangun kekuatan ini untuk membalas dendam pada Moretti, tapi ternyata musuh yang sebenarnya mungkin masih makan di mejaku atau tidur di barak pengawalku!" Kaivan menggebrak meja, emosinya yang biasanya terkendali kini meluap.
Gendis menghela napas panjang. Ia melihat luka yang begitu dalam di aura Kaivan. Luka seorang anak yang kehilangan sosok pahlawan dengan cara yang tidak adil.
"Siapkan ruangan bawah tanah yang paling sunyi. Jangan ada logam apa pun di sana kecuali jam saku ini," perintah Gendis.
Di dalam bunker bawah tanah yang kedap suara, Gendis menyiapkan sebuah lingkaran yang terbuat dari abu kayu jati dan garam kasar. Di tengahnya, Kaivan duduk bersila, memegang jam saku ayahnya. Gendis mulai membakar kemenyan putih, namun kali ini ia mencampurnya dengan sedikit minyak cendana untuk menenangkan suasana.
"Tutup matamu, Kak. Fokus pada kenangan terakhirmu dengan Ayah. Jangan bicara sampai saya suruh," bisik Gendis.
Gendis mulai melantunkan mantra pemanggil jiwa. Ruangan yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sangat dingin. Lampu-lampu minyak di sudut ruangan mulai meredup, menyisakan cahaya remang yang bergetar.
Tiba-tiba, asap kemenyan itu tidak lagi naik ke atas, melainkan berputar-putar di tengah lingkaran, membentuk siluet seorang pria tinggi tegap dengan garis wajah yang sangat mirip dengan Kaivan.
"Lorenzo Vittorio..." panggil Gendis dengan suara yang bergetar karena menanggung beban energi yang besar. "Putramu ingin tahu... siapa singa bersayap yang mematahkan sumpah setianya?"
Siluet asap itu bergetar hebat. Sebuah suara berat dan serak, seolah-olah datang dari kedalaman tanah, terdengar memenuhi ruangan.
"Cari... si tangan kidal... di antara mawar yang tidak pernah layu..."
Kaivan yang mendengar suara ayahnya hampir saja membuka mata, namun Gendis menekan bahunya dengan keras. "Tetap fokus, Kak! Jangan putus alirannya!"
"Dia tidak mati... dia adalah bayangan yang mengamatimu setiap hari... singa itu telah berganti bulu menjadi serigala..." asap itu perlahan memudar, meninggalkan satu bayangan visual di benak Gendis: seorang pria paruh baya dengan bekas luka bakar di pergelangan tangan kirinya.
Setelah ritual selesai, Kaivan terduduk lemas, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Gendis segera meminumkan air doa untuk memulihkan energinya sendiri dan energi Kaivan.
"Si tangan kidal... mawar yang tidak pernah layu..." gumam Kaivan berulang kali. "Gendis, kau lihat apa tadi?"
"Saya liat tanda lahir atau bekas luka bakar di tangan kirinya, Kak. Dan dia masih ada di sekitar Kakak," Gendis tampak sangat cemas.
Kaivan mendadak teringat sesuatu. "Mawar yang tidak pernah layu adalah sebutan untuk taman pemakaman pribadi klan Vittorio yang ditumbuhi mawar plastik perak—itu adalah tempat favorit Paman Bruno, kepala logistik klan yang juga veteran dari Garda Tua."
"Paman Bruno?" Gendis mengerutkan kening. "Pria tua yang selalu memberi saya permen cokelat itu? Tapi auranya selama ini sangat tenang, Kak."
"Itu masalahnya, Gendis. Penjahat yang paling berbahaya adalah dia yang bisa menyembunyikan getaran jiwanya di balik kebaikan yang sempurna," Kaivan berdiri, matanya berkilat penuh amarah yang dingin.
Malam itu juga, tanpa memberitahu Marco atau siapa pun, Kaivan membawa Gendis menuju area pemakaman pribadi keluarga Vittorio di pinggiran Palermo. Tempat itu sunyi, hanya suara angin yang berhembus melewati ribuan mawar perak yang berkilau di bawah cahaya bulan.
Di sana, mereka menemukan Paman Bruno sedang duduk di sebuah kursi taman tua, menatap nisan Don Lorenzo dengan tatapan kosong.
"Sudah kuduga kau akan datang, Kaivan," ucap Bruno tanpa menoleh. Suaranya terdengar lelah, bukan takut.
Kaivan menodongkan senjatanya tepat ke arah kepala Bruno. "Sepuluh tahun, Bruno. Sepuluh tahun aku menganggapmu sebagai ayah kedua. Kenapa?"
Bruno perlahan berdiri dan membalikkan tubuhnya. Di pergelangan tangan kirinya, yang biasanya selalu tertutup oleh lengan kemeja panjang, kini terlihat jelas bekas luka bakar yang sudah lama.
"Ayahmu ingin menghentikan bisnis narkotika, Kaivan. Dia ingin Vittorio menjadi klan yang bersih. Tapi Garda Tua tidak setuju. Kami butuh uang untuk pensiun, untuk keluarga kami. Moretti memberi kami pilihan: bunuh Lorenzo, atau kami semua mati kelaparan," Bruno bicara dengan nada datar, seolah-olah sedang menceritakan laporan logistik.
Gendis melangkah maju. "Bohong! Ayah Kaivan sudah menyiapkan dana pensiun yang lebih dari cukup buat kalian semua di rekening tersembunyi! Saya bisa liat arwahnya memegang dokumen itu sekarang!"
Bruno tertegun. Wajahnya yang tadinya tenang mendadak hancur. "Dokumen apa? Moretti bilang Lorenzo akan membuang kami seperti sampah!"
"Ayahmu mencintai kalian!" teriak Gendis. "Moretti memanipulasi kalian supaya kalian saling membunuh! Dan kau... kau yang menusuknya, kan?"
Bruno jatuh berlutut di tanah yang dingin. Ia mulai terisak. "Aku... aku tidak punya pilihan saat itu. Dia membelakangiku, dia tersenyum padaku sebelum peluru pertama meletus... aku menusuknya agar dia mati lebih cepat, agar dia tidak menderita karena peluru-peluru Moretti yang kotor..."
Kaivan melangkah mendekat, tangannya yang memegang pistol gemetar hebat. Kemarahan dan rasa dikhianati beradu di dalam dadanya. Pria di depannya ini adalah orang yang mengajarinya cara menembak, cara bertahan hidup, dan cara menjadi seorang Don.
"Kematian adalah hadiah yang terlalu mudah bagimu, Bruno," desis Kaivan.
"Bunuh aku, Kaivan. Akhiri ini semua. Aku sudah melihat bayangan Lorenzo di setiap mimpiku selama sepuluh tahun ini," Bruno memohon, menutup matanya.
Gendis menyentuh tangan Kaivan yang memegang senjata. "Kak, liat itu."
Di belakang Bruno, muncul arwah Don Lorenzo. Kali ini ia tidak tampak marah atau haus darah. Ia menatap Bruno dengan tatapan sedih, lalu menatap Kaivan. Sang ayah menggelengkan kepala pelan.
"Ayah Kakak nggak mau Kakak jadi pembunuh untuk membalas dendam," bisik Gendis. "Dia ingin pengkhianatan ini berhenti di sini. Jika Kakak membunuhnya sekarang, Kakak hanya akan mewarisi kegelapan yang sama."
Kaivan menatap arwah ayahnya, lalu menatap Bruno yang sudah hancur secara mental. Dengan sebuah gerakan cepat, Kaivan memukul tengkuk Bruno dengan gagang pistolnya hingga pria tua itu pingsan.
"Marco!" panggil Kaivan melalui radio panggilnya.
Beberapa saat kemudian, Marco dan tim elitnya tiba. Mereka semua terkejut melihat Bruno yang terikat.
"Bawa dia ke pengadilan klan. Berikan dia hukuman pengasingan di tambang sulfur bawah tanah seumur hidup. Pastikan dia tidak pernah melihat matahari lagi, tapi pastikan dia tetap hidup untuk merenungi dosanya," perintah Kaivan.
Setelah Bruno dibawa pergi, Kaivan dan Gendis tetap tinggal di pemakaman itu. Kaivan berdiri di depan nisan ayahnya, meletakkan jam saku perak yang kini entah bagaimana mulai berdetak kembali. Tik... tok... tik... tok...
"Terima kasih, Gendis," ucap Kaivan pelan. "Tanpamu, aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan memuja seorang pengkhianat."
Gendis menggenggam tangan Kaivan. "Sekarang Kakak sudah tahu kebenarannya. Ayah Kakak orang yang baik, Kak. Dia bangga sama Kakak."
"Aku merasakannya sekarang," Kaivan mengembuskan napas panjang, seolah-olah beban sepuluh tahun baru saja terangkat dari bahunya. "Ayo pulang. Tempat ini sudah terlalu penuh dengan masa lalu."
Saat mereka berjalan menuju mobil, Gendis menoleh ke belakang sekali lagi. Ia melihat arwah Don Lorenzo melambaikan tangan, lalu perlahan-lahan menyatu dengan cahaya bulan di atas mawar-mawar perak itu.
Jejak pembunuh ayahnya telah ditemukan. Bukan di markas musuh, bukan di medan perang, tapi di dalam lingkungan terdekatnya sendiri. Namun dengan bantuan Gendis, Kaivan berhasil melewati ujian terberat bagi seorang bos Mafia: memilih keadilan di atas dendam, dan memilih pengampunan yang dingin di atas pembunuhan yang panas.
"Kak," panggil Gendis saat di dalam mobil.
"Ya?"
"Nanti di rumah, jangan langsung tidur ya. Kita makan sup hangat dulu. Aura Kakak masih biru pucat, butuh nutrisi batin."
Kaivan tersenyum, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. "Apapun untukmu, Sang Penelusur Jejak. Apapun."
Malam itu, Palermo kembali sunyi. Namun kali ini, sunyinya berbeda. Ini adalah sunyi yang membawa kedamaian, sunyi yang menandai berakhirnya sebuah bab gelap dalam sejarah klan Vittorio. Di samping sang Raja Mafia, seorang gadis indigo duduk dengan tenang, siap menjadi kompas bagi jiwanya yang kini telah menemukan jalan pulangnya yang sesungguhnya.
Dan jam saku di nisan itu terus berdetak, mengiringi langkah baru Kaivan menuju masa depan yang tidak lagi dibayangi oleh rahasia berdarah ayahnya.
aku like banget
seribu jempol
aku like...