NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyaman

Ketukan palu terakhir Hakim Agung masih terngiang di telinga Aurora, namun suaranya terasa jauh, seolah dia sedang tenggelam di dasar lautan. Ruang sidang mulai dikosongkan. Petugas membawa Moltemer yang masih berteriak murka, dan Bella—yang dibawa pergi dengan bahu merosot dan isak tangis yang tak lagi mampu menyentuh hati Aurora.

Di koridor pengadilan yang megah dengan pilar-pilar marmer yang dingin, Adrian Morel mendekat. Ia merapikan jasnya, wajahnya tampak puas.

"Kita berhasil, Nyonya Valehart," ujar Adrian sambil mengulurkan tangan secara profesional. "Nama Anda bersih sepenuhnya. Dokumen rehabilitasi nama baik akan segera diproses."

Aurora hanya menatap tangan itu selama beberapa detik sebelum menyambutnya dengan lemah.

"Terima kasih, Tuan Morel. Anda melakukan pekerjaan yang... luar biasa."

Suara Aurora datar, nyaris tanpa emosi. Tidak ada binar kemenangan di matanya. Adrian menyadari itu, namun ia tetap menjaga sikap profesionalnya. Ia kemudian beralih ke arah Lucien yang berdiri tegak di samping Aurora seperti bayangan yang tak tergoyahkan.

"Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Valehart. Bukti dari Bank Swees itu benar-benar kunci penutupnya," ucap Adrian sambil menjabat tangan Lucien.

Lucien membalas jabat tangan itu dengan singkat, cengkeramannya kuat namun dingin.

"Aku hanya memastikan apa yang menjadi milikku tidak dicemari oleh orang-orang amatir. Kirimkan tagihanmu ke kantorku."

Setelah Adrian berpamitan dan melangkah pergi, keheningan yang menyesakkan segera menyelimuti pasangan itu. Aurora masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap lantai koridor yang berkilat.

"Kau tidak ingin merayakannya?" suara rendah Lucien memecah keheningan.

"Kau menang. Semua orang yang menghancurkanmu sekarang sedang menuju sel penjara."

Aurora tidak menjawab.

Ia hanya mengeratkan pegangan pada tas kecilnya.

Menang? Secara hukum, mungkin iya. Tapi secara batin, ia merasa seperti baru saja kehilangan segalanya lagi.

Dunianya yang kecil—yang ia pikir aman karena ada Bella di sana—ternyata hanyalah sebuah panggung sandiwara yang dirancang dengan sangat rapi.

"Ayo pulang," ujar Lucien lagi, kali ini nadanya sedikit lebih pelan, meskipun tetap tanpa kelembutan yang nyata.

Lucien meletakkan tangannya di punggung Aurora, bermaksud membimbingnya jalan, namun Aurora sedikit tersentak menjauh. Ia mulai berjalan lebih dulu menuju mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Langkahnya pelan, namun setiap detak sepatu hak tingginya di lantai marmer seolah meneriakkan rasa sakit yang tak terucap.

Di luar, para wartawan sudah menunggu, kilatan kamera mulai menyambar-nyambar seperti petir di siang bolong. Namun Aurora tetap diam, wajahnya tertutup rapat di balik topi kecilnya, membiarkan Lucien menembus kerumunan itu dan melindunginya masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu.

Di dalam mobil, Aurora hanya menatap ke luar jendela, melihat gedung pengadilan yang perlahan menjauh. Ia tidak menangis. Ia hanya merasa... kosong.

Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota, keheningan terasa begitu berat, hampir mencekik.

Aurora masih terus menatap ke luar jendela, namun pandangannya kosong. Dadanya terasa sesak, seolah ada bongkahan es yang membeku di sana.

Lucien, yang duduk di sampingnya, sejak tadi memperhatikannya melalui sudut mata. Ia bisa melihat betapa kaku bahu istrinya itu.

"Berhenti memikirkan wanita itu. Dia tidak layak mendapatkan setetes pun simpatimu," suara Lucien terdengar dingin di tengah kesunyian mobil.

Aurora tidak menyahut.

Ia ingin membalas, ingin berteriak bahwa ini bukan hanya soal Bella, tapi soal dunianya yang runtuh seketika. Namun, kata-katanya tertahan di tenggorokan. Rasa pening yang hebat tiba-tiba menghantam kepalanya, membuat dunianya seolah berputar.

Tiba-tiba, sesuatu yang hangat mengalir turun dari lubang hidungnya.

Aurora awalnya mengira itu hanya cairan biasa karena suhu mobil yang dingin, namun saat cairan itu melewati bibirnya, ia merasakan bau karat yang tajam. Ia menyentuhnya dengan ujung jari yang gemetar.

Merah.

Darah segar itu menetes cepat, mengotori sarung tangan putihnya yang bersih.

"Aurora?"

Suara Lucien yang tadinya dingin kini berubah tajam dengan nada waspada. Pria itu langsung berbalik sepenuhnya ke arah Aurora. Saat melihat darah yang mengucur deras dari hidung istrinya, mata Lucien membelalak.

"Hentikan mobilnya!" perintah Lucien keras kepada sopir.

"Aku... aku tidak apa-apa," bisik Aurora lirih.

Ia mencoba menghapus darah itu dengan tangannya, namun noda merah itu justru semakin berantakan di wajahnya yang pucat. Tubuhnya mulai gemetar hebat—sebuah reaksi fizikal akibat stres melampau yang akhirnya mencapai titik pecah.

Lucien tidak peduli dengan penolakan itu. Dengan gerakan cepat, ia menarik sapu tangan dari saku jasnya dan mendekat. Tangannya yang besar kini terasa hangat saat ia memegang dagu Aurora agar wajah wanita itu mendongak.

"Jangan banyak bicara," desis Lucien.

Suaranya tidak lagi menghina, melainkan penuh dengan ketegangan yang tertahan. Ia menekan sapu tangan itu ke hidung Aurora dengan hati-hati, mencoba menghentikan pendarahan yang tidak kunjung berhenti itu.

Aurora hanya mampu menatap mata Lucien dari jarak sedekat itu. Ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri di mata gelap Lucien—seorang wanita yang hancur, namun masih berusaha memegang sisa-sisa harga dirinya di tengah badai pengkhianatan.

Di dalam ruang sempit mobil itu, hanya ada suara napas mereka yang menderu, di antara bau darah dan aroma parfum maskulin Lucien yang tajam.

Mobil hitam itu berhenti dengan decitan halus di depan pintu utama mansion Valehart yang megah.

Pelayan sudah berdiri bersiap untuk menyambut, namun suasana di dalam mobil masih terasa mencekam. Pendarahan di hidung Aurora sudah sedikit mereda, namun wajahnya masih sepucat kapas dengan noda kemerahan yang tersisa di sekitar bibirnya.

Aurora bergerak ingin membuka pintu, tangannya yang gemetar masih memegang sapu tangan Lucien yang kini sudah basah oleh darah.

Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh gagang pintu, Lucien sudah lebih dulu keluar dari sisi lain.

Pintu di samping Aurora terbuka lebar.

Sinar matahari pagi yang masuk membuat mata Aurora perih, namun sosok tinggi Lucien yang menghalangi cahaya itu jauh lebih mengintimidasi.

"Aku bisa jalan sendiri, Luci—"

Belum sempat Aurora menyelesaikan kalimatnya, Lucien membungkuk. Dengan satu gerakan yang sangat cepat dan bertenaga, ia menyusupkan satu lengannya di bawah lutut Aurora dan lengan lainnya di punggung wanita itu.

Aurora tersentak, napasnya tertahan di kerongkongan.

"Lucien! Apa yang kau lakukan?"

Lucien mengangkat tubuh Aurora dengan mudah, seolah berat badan istrinya itu tidak lebih dari sehelai bulu.

Aurora yang kaget secara refleks melingkarkan tangannya di leher Lucien agar tidak jatuh, membuat wajah mereka kini berada dalam jarak yang sangat dekat.

"Kau terlihat seperti mayat berjalan," suara Lucien bergetar rendah di dekat telinganya, dingin namun ada nada otoritas yang tak terbantahkan.

"Aku tidak akan membiarkanmu pingsan di depan para pelayan dan merusak reputasiku sebagai tuan rumah yang baik."

"Turunkan aku... ini memalukan," bisik Aurora dengan sisa kekuatannya.

Wajahnya yang tadinya pucat kini sedikit merona karena kaget dan malu. Para pelayan yang berdiri berbaris hanya bisa menunduk dalam, tidak berani menatap pemandangan langka di mana tuan mereka yang dingin itu sedang menggendong istrinya.

Lucien tidak membalas.

Ia justru mempererat dekapannya, memastikan Aurora tidak punya ruang untuk memberontak. Ia melangkah masuk ke dalam mansion dengan langkah panjang dan tegas, menaiki tangga marmer menuju kamar utama tanpa sedikit pun rasa lelah.

Aurora bisa merasakan detak jantung Lucien yang stabil dan kuat di balik jas mahalnya. Aroma maskulin pria itu kembali memenuhi indra penciumannya, memberikan rasa aman yang aneh di tengah rasa sakit hati yang ia rasakan.

Untuk sesaat, Aurora berhenti melawan. Ia menyandarkan kepalanya yang berdenyut di bahu Lucien, menutup matanya rapat-rapat, membiarkan dirinya dibawa pergi dari kenyataan pahit hari itu.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!