Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 9 : CAKRAWALA DAN CANGGUNG DI KELAS SATU
Pagi buta di Jakarta biasanya diwarnai oleh kabut tipis dan udara yang masih menyisakan sisa hujan semalam. Di depan mansion Arkatama, sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus. Anya Clarissa berdiri di lobi rumah, menatap tumpukan koper di depannya dengan perasaan seolah ia sedang bersiap untuk dikirim ke pengasingan, bukan ke surga tropis Maldives.
Ia mengenakan setelan traveling yang simpel namun elegan—celana kulot linen berwarna krem dan atasan tanpa lengan yang dibalut kardigan rajut tipis. Rambutnya diikat kuda tinggi, memperlihatkan lehernya yang jenjang tanpa polesan perhiasan berlebih, kecuali cincin berlian pemberian Papa Arkatama yang terasa berat di jari manisnya.
"Sudah siap, Nyonya Arkatama? Atau kamu masih ingin berpamitan dengan setiap pot tanaman di halaman ini?" suara bariton Devan memecah keheningan pagi.
Anya menoleh, menemukan Devan yang tampil sangat santai namun tetap terlihat sangat mahal. Pria itu mengenakan celana chino pendek dan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Kacamata hitam sudah bertengger di pangkal hidungnya, menyembunyikan mata elangnya yang tajam.
"Lucu sekali," balas Anya datar. "Aku hanya sedang berpikir, bagaimana bisa aku terjebak seminggu penuh dengan pria yang bahkan tidak tahu bedanya mawar dan melati."
"Bedanya mudah," jawab Devan sambil melangkah menuju mobil. "Mawar punya duri seperti mulutmu, dan melati punya bau yang disukai Mama. Sekarang masuklah, kita tidak boleh terlambat atau Papa akan mengirim helikopter untuk menjemput kita."
Perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta berlangsung dalam keheningan yang tegang. Anya menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalanan yang mulai padam satu per satu seiring terbitnya matahari. Di sampingnya, Devan sibuk dengan tabletnya, jemarinya bergerak lincah di atas layar, membalas email-email bisnis yang seolah tidak pernah ada habisnya.
Sesampainya di bandara, suasana berubah drastis. Sebagai keluarga Arkatama, mereka tidak melalui jalur biasa. Seorang petugas layanan VIP sudah menunggu di depan terminal, membungkuk hormat seolah-olah mereka adalah anggota keluarga kerajaan.
"Selamat pagi, Tuan Devan, Nyonya Anya. Silakan lewat sini, barang-barang Anda sudah kami urus," ucap petugas itu dengan nada sangat sopan.
Anya merasa sangat risih dengan perlakuan berlebihan itu. Namun, ia teringat kata-kata Mamanya semalam melalui telepon: "Anya, jaga nama baik keluarga Arkatama. Di bandara pasti banyak mata yang melihat."
Dan benar saja, saat mereka berjalan menuju lounge keberangkatan, beberapa orang mulai berbisik-bisik sambil mengarahkan ponsel mereka. Kabar pernikahan "sang CEO Dingin" dan "sang Arsitek Hijau" memang sedang menjadi topik hangat di kalangan sosialita Jakarta.
"Tersenyumlah sedikit, Anya. Kamu terlihat seperti sedang menuju ruang interogasi polisi," bisik Devan sambil tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang Anya, menarik wanita itu lebih dekat ke arahnya.
Anya tersentak, mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman tangan Devan sangat kuat. "Lepaskan, Devan. Di sini tidak ada Mama."
"Tapi ada kamera, Sayang," balas Devan dengan nada mengejek yang disamarkan sebagai bisikan mesra. "Ingat kontrak pasal tiga? Menjaga citra di depan publik. Sekarang, letakkan kepalamu di bahuku atau aku akan menciummu di depan orang-orang ini agar mereka punya berita yang lebih bagus."
Anya menggeram pelan, namun ia tidak punya pilihan. Ia menyandarkan kepalanya dengan kaku di bahu Devan yang keras. Harum parfum wood and citrus milik Devan kembali menyerang indra penciumannya. Untuk sesaat, ia merasa aman di sana, sebuah perasaan yang segera ia tepis jauh-jauh.
Kejadian lucu terjadi saat mereka berada di dalam pesawat kelas satu. Pesawat itu hanya memiliki dua kursi di setiap baris, yang bisa diubah menjadi tempat tidur sepenuhnya. Karena ini adalah penerbangan bulan madu, pihak maskapai telah menghias area mereka dengan kelopak bunga dan sebotol sampanye mahal.
"Aduh, Tuan Devan, selamat atas pernikahannya! Ini adalah hadiah kecil dari maskapai kami," ucap seorang pramugari cantik dengan senyum yang sangat manis—terlalu manis menurut Anya.
Anya memperhatikan bagaimana pramugari itu menatap Devan dengan tatapan memuja. Hal yang wajar, mengingat Devan adalah pria paling berpengaruh di industri logistik. Namun, rasa kesal tiba-tiba muncul di hati Anya. Bukan karena cemburu, pikirnya, tapi karena ia benci melihat wanita bersikap lemah di depan pria sombong seperti Devan.
"Terima kasih. Istri saya sangat suka sampanye, tolong tuangkan untuknya yang banyak agar dia berhenti mengoceh," ucap Devan sambil melirik Anya dengan senyum miring.
Anya membalas dengan senyuman yang sangat lebar—senyuman yang dipaksakan. "Oh, Sayang... kamu tahu kan aku tidak bisa minum alkohol di pagi hari? Nanti aku jadi terlalu... agresif padamu di pesawat ini. Kita tidak mau membuat heboh, kan?"
Wajah Devan sedikit berubah. Ia berdeham, mencoba mengalihkan pembicaraan. Pramugari itu pun segera pergi dengan wajah yang sedikit kecewa.
Saat pesawat lepas landas, ketegangan kembali muncul. Kursi kelas satu yang sangat luas itu tiba-tiba terasa sempit saat Devan mencoba menyesuaikan posisi tidurnya. Kursi mereka bersebelahan tanpa sekat yang tinggi.
"Anya, jangan mengambil selimutku," gerutu Devan saat mereka sudah berada di ketinggian 30.000 kaki.
"Aku tidak mengambilnya! Kakimu yang terlalu panjang itu yang terus menendang wilayahku!" balas Anya sambil menarik selimutnya kuat-kuat.
Mereka pun terlibat dalam aksi tarik-menarik selimut yang kekanak-kanakan di tengah kemewahan kelas satu. Hingga akhirnya, seorang pramugari lain lewat dan tersenyum simpul melihat tingkah mereka. "Pasangan baru memang selalu bersemangat, ya," bisiknya pelan yang membuat Anya langsung melepaskan selimutnya dan pura-pura tertidur.
Namun, di tengah penerbangan yang panjang itu, rasa kantuk yang nyata akhirnya menyerang Anya. Tanpa sadar, saat ia terlelap, kepalanya jatuh dan terkulai di atas bahu Devan. Devan, yang awalnya ingin mendorong kepala itu menjauh, mendadak mengurungkan niatnya saat melihat wajah Anya yang terlihat sangat damai ketika tidur.
Tidak ada lagi tatapan tajam, tidak ada lagi kata-kata pedas. Hanya ada seorang wanita dengan napas yang teratur dan raut wajah yang sedikit kelelahan. Devan memperhatikan bulu mata Anya yang lentik dan bibirnya yang sedikit terbuka. Untuk pertama kalinya, Devan merasakan sebuah dorongan yang sangat aneh di dalam dadanya—sebuah keinginan untuk melindungi, bukan untuk menguasai.
Perlahan, Devan memperbaiki posisi bantal Anya dan menyelimuti wanita itu dengan hati-hati. Ia sendiri kemudian menyandarkan kepalanya di atas kepala Anya, memejamkan mata, dan ikut terhanyut dalam mimpi di atas cakrawala biru.
Di sana, di antara awan dan langit, untuk sementara waktu, kontrak dan hutang terlupakan. Hanya ada dua orang yang, tanpa mereka sadari, mulai menemukan kenyamanan di tengah kebencian yang mereka ciptakan sendiri.
Namun, kejutan sesungguhnya menunggu mereka saat mendarat di bandara internasional Velana, Maldives. Seorang pria tampan dengan gaya casual chic sudah menunggu di area kedatangan, memegang papan nama bertuliskan "Anya Clarissa".
Anya membeku saat melihat pria itu. Wajahnya memucat. "Raka?" bisiknya lirih.
Devan merasakan perubahan sikap Anya. Ia menatap pria asing itu dengan tatapan mengintimidasi. "Siapa dia?" tanya Devan dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan posesif.
"Dia... dia masa laluku," jawab Anya hampir tak terdengar.
Konflik baru baru saja dimulai. Selamat datang di Maldives, di mana rahasia masa lalu dan cemburu yang tak terduga akan menjadi badai yang lebih besar daripada petir semalam.