Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Di Yacht
Sementara itu, di tempat yang sama sekali berbeda, Max Kingsford sedang duduk di kursi empuk di atas yacht mewah yang berlabuh di dermaga pribadi sebuah pulau.
Pria itu memegang gelas wine dengan es batu di dalamnya, menatap laut yang gelap serta seorang perempuan di sana.
Di sebelahnya, Julian tertawa terbahak-bahak bersama temannya yang lain. Di sudut yacht, Clarissa berdiri dengan gaun merah menyala, sengaja menatap ke arah lain meskipun dia tahu Max sedang melihatnya.
Max mendekati Clarissa setengah jam kemudian, setelah bosan dengan omongan beberapa temannya yang sudah mabuk.
"Kau sengaja tidak membalas pesanku," kata Max tanpa basa-basi.
Clarissa tersenyum manis. "Pesanmu yang mana? Yang Selamat malam atau Apa kabar? Atau yang Kapan kita ketemu lagi?"
"Kau … menghindariku?”
"Aku tidak menghindarimu." Clarissa mendekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Max. "Aku hanya ingin melihat apakah Max Kingsford bisa sedikit bersabar atau dia akan langsung berubah jadi pria brengsek seperti biasanya."
Max meraih pinggang Clarissa dan menariknya lebih dekat. "Kita berdua tahu bagaimana akhirnya, Clarissa. Aku tidak suka bersabar."
Clarissa tertawa pelan. Tapi di matanya, ada kepuasan, pria itu tidak bisa lepas darinya malam ini.
Malam itu, Max sama sekali tidak memikirkan pesta yang seharusnya dia datangi bersama Cassia.
“Kita berdansa saja, bagaimana?” tanya Clarissa dengan senyum penuh kemenangan karena merasa bisa menaklukkan Max.
“Oke,” jawab Max.
Max dan Clarissa menari dan tertawa bersama di atas yacht.
*
*
Lagu lambat bergantian dengan irama yang lebih cepat, namun Max dan Clarissa tetap berada dalam pelukan satu sama lain.
Tubuh Clarissa yang hangat ada dalam genggaman tangan Max di pinggangnya.
"Kau sangat cantik malam ini," bisik Max, napasnya menyentuh pelipis Clarissa.
Clarissa hanya tersenyum, tidak terburu-buru menjawab. Ia membiarkan Max menariknya sedikit lebih dekat, membiarkan pria itu merasakan detak jantungnya yang tidak berdebar kencang.
Sebab Clarissa sudah belajar, pria seperti Max hanya terobsesi pada apa yang tidak bisa dia miliki.
Beberapa lagu kemudian, suasana di yacht semakin larut. Teman-teman Julian mulai berpasangan, ada yang tertidur di sofa, ada yang asyik mengobrol di sudut kabin.
Max mengajak Clarissa ke ruang utama yang lebih privat, dengan ranjang ukuran king di tengah ruangan.
Max duduk di tepi ranjang, menarik tangan Clarissa agar duduk di sampingnya. "Kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," ujar Max dengan santai.
Clarissa tidak bergerak. Ia menatap Max, lalu berdiri kembali. "Kau pikir aku wanita murahan, Max?"
Max mengerutkan keningnya. "Aku tidak pernah bilang begitu.”
"Tapi kau memperlakukanku seperti itu. Semua wanita yang kau dekati, kau anggap sebagai pemanas ranjang." Clarissa menyilangkan tangan di dada. "Aku tidak seperti mereka. Kalau kau hanya ingin bercinta malam ini, cari saja wanita lain. Masih banyak di luar sana yang rela tanpa sebuah komitmen."
Max terdiam. Pria itu tidak terbiasa ditolak.
"Kau menolakku, Clarissa?”
"Aku hanya menjaga diri." Clarissa melangkah mundur menuju pintu. "Kalau kau benar-benar menginginkanku, buktikan bahwa kau bisa lebih dari sekadar pria brengsek yang hanya membutuhkan wanita untuk satu malam."
Mata Max menatapnya intens, tapi tidak marah. Clarissa telah berhasil melakukan apa yang tidak pernah dilakukan wanita lain, membuat Max menunggu.
"Mau menunggu atau tidak, itu pilihanmu," kata Clarissa sebelum berbalik dan meninggalkan Max sendirian di ruangan itu.
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭