NovelToon NovelToon
Jebakan Hati Gadis Cupu

Jebakan Hati Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.

Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Lulu tidak ingat berapa lama ia jatuh pingsan di lantai koridor yang dingin. Sensasi terakhir yang ia rasakan hanyalah aspal parkiran yang membakar telapak tangannya dan punggung Arlan yang menjauh, meninggalkannya seperti sampah yang tak lagi berguna. Saat matanya perlahan terbuka, ia tidak menemukan dirinya di UKS dengan segelas teh hangat. Ia masih di sana, di sudut koridor, tersandar di tembok sementara siswa-siswi yang lewat hanya meliriknya dengan tatapan jijik atau tawa yang tertahan.

Kepalanya berdenyut hebat. Sisa alkohol semalam masih meninggalkan rasa pahit di pangkal lidahnya, bercampur dengan rasa asin air mata yang sudah mengering di pipi. Ia mencoba berdiri, namun kakinya gemetar hebat. Dunianya serasa berputar. Tidak ada tangan yang terulur. Tidak ada Arlan. Tidak ada siapa pun.

"Bangun, Lu. Jangan malu-maluin di sini," sebuah suara dingin terdengar dari atas kepalanya.

Lulu mendongak dengan harapan setitik iba. Itu Shinta. Gadis itu berdiri dengan tangan bersedekap, menatap Lulu seolah-olah ia sedang melihat serangga yang mengganggu.

"Shin... kenapa kamu bohong?" bisik Lulu parau. "Kamu bilang Arlan yang minta aku ke hotel. Kamu bilang itu kejutan..."

Shinta tertawa renyah, sebuah suara yang kini terdengar seperti lonceng kematian bagi Lulu. "Aduh, Lulu sayang. Kamu itu jenius di pelajaran, tapi kenapa bodoh banget soal cowok? Arlan nggak pernah minta apa-apa. Gue cuma pengen liat seberapa jauh cewek 'alim' kayak lo bisa jatuh kalau dikasih sedikit umpan. Dan ternyata? Gampang banget ya?"

"Tapi Arlan... Arlan pacarku..."

"Pacar?" Shinta berjongkok, mendekatkan wajahnya ke telinga Lulu. "Lu, denger ya. Arlan itu cuma butuh mainan. Dan lo adalah mainan paling lucu yang pernah dia punya. Lo pikir kenapa dia diem aja pas gue sebar foto itu? Karena dia yang kasih izin, bego!"

Kata-kata itu menghantam Lulu lebih keras daripada tamparan fisik mana pun. Arlan yang kasih izin. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Semua pengorbanannya—membakar buku catatan, membentak ayahnya, membohongi ibunya semalam—semuanya hanyalah bahan lelucon bagi pria yang ia puja sebagai penyelamat.

Lulu merangkak bangun, mencoba mengabaikan tawa Shinta. Ia berjalan gontai menuju kelasnya, hanya untuk menemukan mejanya sudah penuh dengan coretan spidol permanen: CEWEK HOTEL, MURAHAN, PEMABUK.

Ia duduk di kursinya, memeluk tas kecilnya yang kosong. Ia tidak punya buku untuk dipelajari, tidak punya catatan untuk dibaca. Ia benar-benar telah melumpuhkan dirinya sendiri demi seseorang yang kini menertawakannya dari kejauhan. Di tengah kesunyian kelas yang mencekam, pintu terbuka. Sisil berdiri di sana.

Sisil tidak bicara. Ia hanya berjalan menuju meja Lulu, meletakkan sebotol air mineral dan sepotong roti. Matanya merah, tanda ia baru saja menangis.

"Pergi, Sil," bisik Lulu tanpa menoleh. "Gue nggak butuh rasa kasihan lo."

"Gue nggak kasihan sama lo, Lu," suara Sisil bergetar. "Gue marah. Gue marah karena lo lebih milih percaya sama iblis itu daripada sama gue yang udah bareng lo dari kecil. Lo liat apa yang dia lakuin? Bu Sarah dipecat, Lu! Guru yang paling sayang sama lo, yang paling bela lo, sekarang harus kehilangan pekerjaannya karena Arlan nggak mau rahasianya terbongkar!"

Lulu menutup telinganya dengan kedua tangan. "Diem! Arlan cuma lagi marah! Dia bakal balik lagi ke aku!"

Sisil menarik tangan Lulu dengan paksa, memaksanya menatap kenyataan. "Buka mata lo, Lulu Adeara! Liat kalender itu!" Sisil menunjuk kalender di dinding kelas. "Bentar lagi tanggal 25 Juni. Lo tau nggak apa yang Reno bilang di kantin tadi? Dia bilang taruhannya bakal berakhir pas kenaikan kelas. Arlan bakal mutusin lo di depan semua orang pas pengumuman nilai, biar kehancuran lo sempurna!"

Lulu membeku. Taruhan. Kata itu terus bergema di kepalanya. Jadi selama ini hidupnya, perasaannya, dan masa depannya hanyalah sebuah angka di atas meja judi para lelaki kaya itu?

Sore harinya, Lulu pulang dengan kondisi yang lebih hancur dari sebelumnya. Ia berjalan melewati gerbang sekolah, melihat kursi kosong yang biasanya diduduki Bu Sarah di depan kantor guru. Ia merasa sangat berdosa. Karena kebodohannya, seorang guru yang baik harus menanggung akibatnya.

Sesampainya di depan rumah, ia melihat mobil Ayahnya sudah ada di sana. Perasaan takut yang luar biasa menyergapnya. Kebohongan "bau pembersih lantai" semalam pasti sudah terbongkar.

Lulu masuk ke rumah dengan sangat pelan. Di ruang tamu, Ayah dan Ibunya duduk berdampingan. Di atas meja, ada sebuah ponsel. Ponsel milik Ibunya yang menampilkan foto viral Lulu di hotel.

"Duduk, Lulu," suara Ayahnya terdengar sangat rendah, namun penuh dengan kekecewaan yang mendalam.

Lulu jatuh berlutut di depan orang tuanya. Ia tidak bisa lagi berkata-kata. Isaknya pecah seketika. "Ayah... Ibu... maaf..."

"Siapa laki-laki itu, Lu?" tanya Ayah, suaranya bergetar menahan amarah. "Ayah sekolahkan kamu tinggi-tinggi bukan untuk jadi bahan tontonan orang satu sekolah seperti ini. Kamu bohong soal Sisil. Kamu bohong soal belajar. Kamu pergi ke tempat seperti itu dengan laki-laki?"

"Lulu dijebak, Yah... Lulu nggak tahu..."

"Dijebak atau tidak, kamu sudah memilih untuk pergi ke sana!" bentak Ayahnya, membuat Lulu tersentak. "Mana Lulu yang dulu? Mana anak Ayah yang selalu bangga dengan prestasinya? Kenapa kamu jadi seperti ini hanya karena laki-laki yang bahkan tidak punya harga diri untuk melindungimu?"

Ibunya hanya menangis, menutupi wajahnya dengan kerudung. "Ibu percaya sama kamu, Lu... semalam Ibu doakan kamu pas kamu bilang mau belajar sama Sisil... tapi ternyata kamu..."

Lulu merasa hatinya benar-benar mati saat itu juga. Melihat kekecewaan di mata orang tuanya adalah hukuman yang lebih berat daripada dibully satu sekolah. Ia ingin menjelaskan tentang Arlan, tentang bagaimana Arlan mencuci otaknya, tapi ia sadar, tidak ada lagi yang akan percaya. Ia telah menghancurkan satu-satunya tempat ia bisa pulang.

Malam itu, Lulu mengurung diri di kamar. Ia tidak makan, tidak minum. Ia menatap kalender di mejanya. Tanggal 25 Juni dilingkari merah darah. Tinggal beberapa minggu lagi. Ia mengambil spidol hitam, lalu mencoret-coret tanggal itu sampai kertasnya sobek.

Ia meraih ponselnya yang masih terus bergetar. Sebuah pesan baru masuk dari nomor tak dikenal.

Pesan: Gimana rasanya jadi sampah, Lu? Masih mau nunggu Arlan jemput tanggal 25 nanti? Hahaha.

Lulu melempar ponselnya ke dinding sampai layarnya retak. Ia meringkuk di lantai, di tempat yang sama saat ia menangis semalam. Namun kali ini, tidak ada lagi parfum melati yang menutupi bau bir. Yang ada hanyalah aroma keputusasaan yang sangat pekat.

Ia kehilangan gurunya, sahabatnya, kehormatannya, dan kepercayaan orang tuanya. Dan yang paling menyakitkan, ia menyadari bahwa pria yang ia anggap sebagai dunianya adalah orang yang paling bertanggung jawab atas semua kehancuran ini. Lulu merasa jiwanya telah benar-benar terbakar menjadi abu, sama seperti buku catatannya yang hilang ditelan api di belakang sekolah tempo hari.

Malam semakin larut, namun Lulu tetap terjaga dalam kegelapan, menunggu tanggal 25 Juni yang kini bukan lagi sebuah harapan, melainkan sebuah gerbang menuju neraka yang ia ciptakan sendiri.

1
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Valent Theashef
bgus,liat coba end ny apakh mreka brsma ???
Siska Dores
😍
Valent Theashef
penuh tantangan suka deh film novel kyk gni,
Dewi Yanti
ko ada cowo ky reno yg jahat bgt
Siska Dores
next kak
Siska Dores
lanjutt kak
Siska Dores
next kak
Siska Dores
greget bngt
Siska Dores
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!