"Suuut" lelaki itu membekap Garima dengan telapak tangan besarnya, mereka saat ini tengah berada gang kecil penuh dengan kupu - kupu malam yang dengan gamblang menjajahkan tubuhnya.
Tubuh Garima bergetar karena ketakutan, matanya menatap lelaki misterius didepannya itu dengan melotot "siapa dia ?, apa dia seorang penjahat ?" gumam Garima dalam hati.
"Tuhan tolong aku" jerit batin Garima kembali, tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang banyak membuat seluruh gang sempit dan kumuh itu menjadi ramai.
Para wanita yang sedang menjalankan pekerjaannya lari terbirit - birit karena kehadiran beberapa orang yang sedang mencari seseorang.
Lelaki itu mendorong tubuh Garima membuat rumah kecil milik Garima terbuka dan dia dengan sengaja mencium bibir Garima saat salah satu lelaki berambut gondrong memperhatikan mereka.
Garima terkejut dengan aksi lelaki didepanya itu hingga dia tidak bisa berkata apa - apa dan bingung akan melakukan apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukapena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Bima kembali
Loka menggandeng Rima melewati jalan setapak yang disamping kanak dan kiri penuh dengan ilalang serta rumput liar, Rima melihat sekeliling dengan takut.
"Lelaki ini sangat misterius" gumam batin Rima saat melihat punggung lebar milik Loka, tanpa mereka sadari seorang wanita tengah melihat mereka dari kejauhan dengan bingung.
"As darimana saja kau ?" Bima mencerca pertanyaan saat melihat Loka sudah berada didepan rumah tua didekat pabrik terbengkalai yang ditumbuhi banyak rumput liar dan ilalang.
"KAU" Rima dan Bima berteriak secara bersamaan saat mata mereka bertemu "bagaimana kalian bisa mengenal ?" Bima tersenyum mengejek Rima.
"Tentu saja kami kenal, dia temanku sedari kecil dan sekarang kami dalam satu" ucapan Bima terhenti saat Loka memberi kode lewat mata untuk tidak memberitahu pekerjaan mereka dahulu.
"Dan kau, bagaimana kau mengenal temanku Asmaraloka ?" tanya Bima sembari menunjuk Rima dan juga Loka, Rima menggigit bibir bawahnya karena bingung ingin menjawab bagaimana.
"As siapa dia ?" Hilda melihat Loka dan Rima dengan mengangkat satu alisnya, Loka menghela nafasnya sebelum menjawab kemudian dia melihat Rima yang berada disamping tubuhnya dengan menggenggam erat lengan miliknya.
"Teman" jawaban Loka membuat Rima merasakan kecewa didalam hati, dengan seketika Rima melepas pegangannya pada lengan Loka dan berdiri sedikit menjauh.
"Apa kalian sudah menemukan bukti disini ?" Hilda mengangguk kemudian memperlihatkan sebuah foto pada Loka, sementar Rima hanya menundukkan kepala dan diam "iya dia benar aku hanya teman baginya" Rima sibuk dengan hati dan pikirannya.
"Tunggulah disini dengan Bima" perintah Loka pada Rima dan hanya mendapat anggukan kepala oleh Rima, selagi Loka melihat kedalam rumah terbengkalai itu bersama denga Hilda.
Bima melihat Rima dan ingin sekali mencerca segala macam pertanyaan pada wanita itu "bagaimana kau bisa mengenal temanku ?" Rima melihat Bima sekilas kemudian mengendikkan bahu.
Bima sebenarnya sudah tahu bahwa Loka dan Rima sudah mengenal satu sama lain hanya saja Bima ingin mendengar cerita itu dari mulut Rima namun sepertinya wanita itu tidak berniat menceritakan semuanya pada Bima.
"Terima kasih tuan, berkat kau membantuku pagi itu aku bisa lari dari kejaran anak buah mucikari sialan itu" Bima melototkan kedua matanya mendengar Rima berbicara kasar.
"Jadi kau memilih untuk pergi ke kota ini saat aku antar ke terminal ?" Rima mengangguk mengiyakan "iya tuan" Bima memandangi Rima dengan teliti membuat Rima sedikit risih.
"Bagaimana kau bisa dikejar oleh mereka ? Apa kau memiliki hutang pada mereka ?" Rima menggelengkan kepala "apa orang tuamu yang berhutang pada mereka hingga kau dijual ditempat terkutuk itu ?" Rima menimbang antara bercerita atau tidak.
"Bukan, aku memang berasal dari sana" Bima terkejut mendengar jawaban dari Rima "aku terlahir digang sempit yang kau sebut terkutuk itu" Bima menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa tidak enak dengan Rima.
"Maafkan aku, bukan maksudku menghina tempat lahirmu" Rima tersenyum dan mengibaskan tangannya didepan Bima "tidak papa, memang gang itu sangat terkutuk dan jika aku bisa memilih aku tidak mau dilahirkan disana" Bima melihat Rima dengan pandangan kasihan.
Sementara Loka yang masih berada didalam benar - benar menyusuri setiap sudut ruangan, Loka memicingkan matanya saat melihat didekat pintu keluar rumah tua terbengkalai itu seperti ada yang berbeda.
Loka mendekati pintu tersebut dan benar saja didekat tumpukan barang bekas yang berserakan ada beberapa tulang yang kotor, Hilda menutup mulutnya yang terkejut dengan telapak tangan.
"As ini ?" Loka menatap Hilda kemudian mengangguk "ya tulang paha anak kecil" ucap Loka dengan sedikit ragu kemudian Loka mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang.